| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
MENJELANG
akhir tahun 1993 pada permukaan bola dunia (globe) di mana-mana banjir.
Betapa tak berdayanya kebudayaan manusia dengan teknologinya yang
canggih itu terhadap banjir. Sungai melimpah, bendungan bobol, air
menerjang tanpa ampun mendera bangunan bergelimpangan, menyapu menggenangi
daerah Sejauh mata memandang. Pupuslah sudah jerih payah para pemikir,
para perencana dan para pelaksana pembangunan, yang diupayakan bertahun
tahun sebelumnya. Bangunan-bangunan itu telah remuk berserakan secara
acak menjadi puing puing, bungkahan, serpihan dan sampah. Itu baru
banjir, belum lagi kekeringan yang menghanguskan, belum lagi gempa
yang merontokkan, belum lagi angin ribut, topan, angin puting beliung
yang mengobrak, menerbangkan, memuntir.
Mengapa jauh-jauh sebelumnya para pemikir dan para perencana itu tidak
mengumpul data sebanyak-banyaknya supaya dapat mengantisipasi dan
mempersiapkan diri secara matang untuk menghadapi banjir itu?
Ilmu Pengetahuan tentang cuaca yang datanya hanya sebatas atmosfer
bumi dan hanya berdasar atas gejala saja sama sekali tidak berguna
untuk dapat mengantisipasi iklim yang akan datang. Sebabnya ada dua.
Pertama, ulah manusia yang bersifat global, seperti membabat hutan
dan menutup muka bumi dengan bangunan dan jalan. Penyebab kedua dari
angkasa luar. Bumi ini yang mengikuti matahari mengedari pusat Milky
Way, sewaktu-waktu masuk ke dalam daerah badai hujan sinar kosmik
(lihat Seri 014). Maka pada saat itu iklim tidak teratur. Ada kalanya
kemarau panjang sekali, atau sebaliknya musim hujan panjang sekali.
Data tentang hujan kosmik ini sangat jauh dari jangkauan instrumen.
Apalah artinya Explorer yang hanya sebatas daerah tata-surya yang
kecil ini.
***
Risalah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad RasuluLlah SAW dengan segera
menyebar ke dalam semua lapisan masyarakat. Dan kalangan elit yang
laki-laki dan perempuan seperti Abu Bãkar dan Khadijah, yang
remaja seperti 'Ali, yang pemberàni seperti 'Umar, yang berpunya
seperti Utsman sampai kepada lapisan bawah yaitu budak berkulit hitam
sepenti Bilal. Biasanya dalam sejarah pendekatan yang mula-mula diterapkan
oleh penguasa dalam menghadapi arus yang dianggapnya membahayakan
stabilitas kekuasaannya ialah dengan cara pendekatan satu arah, yaitu
kekenasan, intimidasi, terror dan penyiksaan. Pendekatan satu arah
ini dipakai pula oleh penguasa Quraisy, tetapi ternyata tidak berhasil.
Maka para penguasa Quraisy itu menempuh pendekatan dua arah yaitu
pendekatan politik: memberi dan nenerima.
Konsep pendekatan itu terdiri atas dua diktum. Pertama, demi persatuan
dan kesatuan penduduk Makkah, penguasa bersedia bersama-sama dengan
ummat Islam menyembah Allah. Inilah kategoni memberi. Kedua, caranya
berselang-seling waktunya, kalau hari ini bersama-sama menyembah Allah,
maka hari berikutnya bersama-sama pula menyembah berhala yang ada
di sekitar Ka'bah. Inilah kategori menerima.
Tawaran politik penguasa Quraisy itu merupakan Asbabun Nuzul (sebab-sebab
turunnya) tiga surah secara berbaringan. Tawaran politik itu dijawab
dalam tiga tahapan. Pertama, menolak dengan tegas: Qul ya-ayyuha IKaafiruwn.
Laa A'budu Maa Ta'buduwna. Katakanlah, hai orang-orang kafir. Tidak
kusembah apa yang kau sembah (S. Al Kafiruwn, I-2). Kedua. menyegarkan
kembali ingatan kaum kafir Quraisy penguasa Makkah itu tentang penistiwa
hancurnya tentera bergajah Abrahah yang ingin meruntuhkan Ka'bah.
Faja'alahum ka'Asfin Ma'kuwlin. Maka jadilah mereka itu (pasukan bergajah)
rontok ibarat daun dimakan ulat. (S. Al Fiyl, 5). Sejak penistiwa
itu suku Quraisy disegani oleh suku-suku lain di Jazirah Arabiyah,
sehingga mereka dapat membawa kafilah dagang haik di musim dingin
maupun di musim panas, sepanjang tahun, karena disegani sehingga tidak
diserang oleh suku-suku lain, sepertL dinyatakan dalam S. Quraisy
2. Maka tidak benarlah menyembah patung-patung itu, karena bukanlah
patung itu yang menyebabkan suku Quraisy disegani. Ketiga, gayung
bersambut menggugah penguasa Quraisy dengan tawaran aqiedah dalam
S. Quraisy 3: Falya'budu Rabba Ha-dza iBayti. Maka sembahlah Tuhan
Pemilik Rumah in (bukan menyembah berhala yang mengotori Ka'bah).
***
Di zaman modern mi ada duajenis berhala, yaitu berhala tradisional
dan berhala modern. Berhala tradisional adalah seperti yang disembah
oleh orang Quraisy dahulu dan bangsa-bangsa penyembah patung berhala
Iainnya. Adapun berhala modern adalah otak manusia. Penyembah berhala
modern ini menyangka bahwa semua masalah dapat dipecahkan dengan otak
manusia. Wahyu tidak penlu, mereka itu tidak percaya kepada wahyu,
atau sekurang-kurangnya walau pun percaya akan wahyu, namun melecehkan
wahyu. Agama adalah urusan akhirat semata. Urusan dunia seluruhnya
adalah daerah kerajaan akal. Ini yang disebut sekuler. Jadi pada hakikatnya
sikap sekuler ini adalah identik dengan menyembah berhala modern.
***
S.Quraisy ditutup dengan ayat: Alladziy Ath.amahum Min Juw'in wa A-manahum
Khawfin. Yaitu (Allah, bukan berhala berhala itu). Yang memberi makan
sehingga terbebas dari kelaparan dan memberi rasa tenteram dari segala
macam kekhawatiran. Maka sadarlah kita bahwa Yang membebaskan kita
dari kelaparan bukanlah berhala tradisional dan bukan pula berhala
modern yang berupa otak itu. Sebab bagaimanapun cemerlangnya para
pakar yang menggunakan metode mutasi paksa dengan penyinaran untuk
mendapatkan bibit unggul, kalau kemarau panjang, sawah akan kering,
padi-padian mati kekeringan. Sebaliknya jika musim hujan panjang sekali,
bagaimanapun hebatnya konstruksi bendungan karya pakar teknik sipil,
tidak akan membawa hasil. Bendungan akan bobol padi-padian akan mati
lemas tergenang air, karena banjir, banjir, banjir. WaLla-hu a'lamu
bisshawab.
*** Makassar, 9 Januari 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|