| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Telah
berulang kali baik dalam media cetak, maupun dalam forum seminar,
simposium, diskusi dan da'wah, saya tampilkan bahwa sains itu tidak
polos, melainkan memihak kepada faham atheist, agnostik, sekuler,
yaitu faham yang bersikap tidak percaya, tidak mau tahu, dan tidak
mengindahkan wahyu. Tidak terkecuali ilmu sejarah dan kebudayaan yang
menempatkan agama dalam posisi menjadi bagian dari kebudayaan. Adapun
yang percaya kepada wahyu membagi agama itu dalam dua jenis, yaitu
agama wahyu yang akarnya non-historis yang bersumber dari wahyu Allah
SWT dan jenis agama kebudayaan yang akarnya historis. Agama wahyu
bukanlah bagian dari kebudayaan, agama wahyu memberikan warna dan
nuansa pada kebudayaan. Contohnya kebudayaan Islam adalah kebudayaan
yang bernuansa dan diwarnai oleh nilai-nilai al Furqan dalam Syari'at
Islam. Sedangkan jenis agama kebudayaan yang akarnya historis adalah
produk kebudayaan suatu bangsa. Agama kebudayaan adalah bagian dari
kebudayaan. Contohnya agama Mesir Kuno adalah produk budaya Mesir
Kuno.
Dalam seri 112 ini akan ditunjukkan perbedaan antara hasil analisis
pendekatan sejarah (historical approach) antara orang yang tidak percaya,
tidak mau tahu, tidak mengindahkan wahyu dengan hasil analisis orang
yang percaya kepada wahyu yang mempergunakan pendekatan konprehensif
(sejarah dan kitabiyah, historical and scriptural). Akan saya kemukakan
illustrasi kasus seperti dalam judul di atas, yaitu antara Mazmur
Nabi Daud AS dengan syair pujaan Fir'aun Akhenaton, yang menyangkut
visi tentang matahari.
Para pakar sejarah dan budaya yang diikat oleh disiplin ilmu sejarah
dan budaya yang tidak mengindahkan wahyu, berpendapat karena zaman
Akhenaton lebih tua dari zaman Daud, dengan sangat mudahnya berkesimpulan,
bahwa Mazmur 104 itu mendapatkan inspirasi bahkan ada yang berpendapat
hasil "plagiat" dari hymn Akhenaton kepada Aton. (Lihat
misalnya: A.Powell Davis. "The Ten Commandements", The New
American Library, New York, 1956, halaman 40).
Analisis saya ini yang memakai pendekatan konprehensif dapat diikuti
seperti berikut. Firman Allah: Wa a-ta-hu Lla-hu lmulka wa lhikmata
(s. Al Baqarah, 251), Dan Allah memberikan kerajaan dan hikmah kepadanya
(Daud). Raja/Nabi Daud AS yang semula hanya menjadi raja di Israel
bahagian selatan yaitu kerajaan Yahuza, kemudian menjadi raja seluruh
Israel, setelah menaklukkan Jeruzalem (DaarusSalaam) yang terletak
di tengah-tengah antara kerajaan selatan dengan utara. Sebagai seorang
Nabi, Allah SWT menurunkan Kitab Suci Zabur (Mazmur) kepada Nabi Daud
AS.
Akhenaton adalah salah seorang Fir'aun ke-9 di antara 11 Fir'aun dari
dinasti XVIII. Akhenaton, yang sebelumnya bernama Amun Hotep (Amenophis)
IV, adalah seorang Fir'aun yang mengadakan pembaharuan (modernisme)
dalam agama Mesir Kuno, seorang monotheist. Dia memperkenalkan Tuhan
yang satu-satunya harus disembah, bernama Aton. Untuk itulah mengapa
ia mengubah namanya dari Amun Hotep, yang bermakna dewa Amun puas,
menjadi Akhenaton, yang artinya bersama di dalam Aton. Dewa Amun adalah
bagian tiga-serangkai Amun - Ra - Osiris, pencipta, pemelihara, pembinasa.
Ajaran monotheist Akhenaton melebur Amun - Ra - Osiris ke dalam Aton
yang menjelma menjadi Ra atau matahari. Sedangkan dalam agama lama,
Ra yang hanya oknum kedua dari tiga serangkai Amun - Ra - Osiris itu
menitis ke dalam setiap Fir'aun yang memerintah Mesir.
Agar jelas mengapa para pakar sejarah dan kebudayaan itu berpendapat
bahwa Mazmur 104:24-27 dari Nabi Daud AS itu berasal dari dari akhenaton's
Hymns to the Aton, maka berikut ini akan dipaparkan ikhtisar secara
khronologis tahun-tahun kejadian sebelum Miladiyah, yang erat hubungannya
dengan substansi ini.
3000 - 2700, Dinasti Fir'aun di Mesir
2000 - 1500, Emigrasi besar-besaran ke seluruh daerah subur bulan
sabit.
1700 - 1550, Dinasti Hyksos (Raja Gembala), dari Kan'an (turunan kaum
'Aad Jadid ummat Nabi Shalih AS yang beremigrasi dari Hijaz ke Kan'an,
yang luput dari hukuman Allah berupa hujan deras disertai angin topan
puting beliung) yang menguasai Mesir, setelah menyingkirkan dinasti
Fir'aun. Insya-Allah akan ditulis nanti kaum 'Aad Qadim dan Jadid
ini. Raja Gembala menerima kedatangan Nabi Ibrahim AS, mengawinkannya
dengan Hajar puteri Istana (jadi bukan budak seperti termaktub dalam
Bijbel). Tiga generasi kemudian dinasti Hyksos memberi izin menetap
kepada orang-orang Ibrani (Habiru, = 'Ibriyyah) di delta s. Nil (Goschen)
atas upaya Nabi Yusuf AS, Raja Muda Mesir.
1500 - 1200, Dominasi Mesir atas tetangga-tetangganya setelah, setelah
mendesak Hyksos keluar Mesir (1550). Orang-orang Ibrani mulai ditekan,
kemudian diperbudak.
1337 - 1360, Periode pemerintahan Fir'aun Akhenaton.
1370, Hymn dari Akhenaton ditulis di atas kepingan (lahwah, tablet)
dari tanah liat, didapatkan di Tell el Amarna (Tell = sejenis bukit
yang terjadi dari reruntuhan bangunan).
1232 - 1224, Periode pemerintahan Fir'aun Merne Ptah, Fir'aun terakhir
dari dinasti Fir'aun XIX. Bangsa Ibrani keluar dari Mesir dipimpin
oleh Nabi Musa AS. Merne Ptah yang mengejar robongan bangsa Ibrani
itu ditenggelamkan Allah SWT di Laut Merah. Sepeninggal Merne Ptah,
Mesir kacau, yakni terjadi anarkhi selama 24 tahun. Sekitar 1004 Nabi
Daud AS menjadi raja bagian selatan dari Palestina, yaitu Kerajaan
Jahuza. 998 Nabi Daud AS menjadi raja atas seluruh Palestina, setelah
menaklukkan Jerusalem dan menjadikannya ibu-kota kerajaan.
***
Dengan pendekatan historis para pakar sejarah dan budaya yang tidak
percaya wahyu (deist, agnostik, atheist) dengan enaknya secara gampangan
berceroboh menyimpulkan, karena Nabi Daud AS hidup 4 abad sesudah
Akhenaton, maka Mazmur Daud adalah hasil plagiat dari hymn Akhenaton
ini. Bangsa Ibrani meninggalkan Mesir dengan dikejar-kejar oleh Fir'aun,
tidak mungkin membawa dokumen ke-fir'aunan Mesir. Artinya Nabi Daud
AS mempunyai jarak space and time yang tidak memungkinkan berkomunikasi
dengan kebudayaan ke-fir'aunan Mesir. Dokumen ke-fir'aunan Mesir termasuk
yang menyangkut hymn Akhenaton, secara historis tidak mungkin sampai
kepada Nabi Daud AS. Maka menjadi fakta sejarah lahwah hieroglyph
Akhenaton tempat hymn itu dituliskan terpendam dalam reruntuhan yang
menjadi bukit dan baru didapatkan pada abad ke-20 ini. Maka kesimpulan
para pakar sejarah dan budaya itu bahwa Mazmur Daud adalah hasil plagiat
dari hymn Akhenaton ini, adalah sungguh-sungguh kecerobohan, sama
sekali tidak ilmiyah, itu adalah hasil imajinasi yang bernuansa fitnah.
Demikanlah dengan semata-mata pendekatan historis tidaklah mungkin
dapat menjelaskan mengapa terdapat kemiripan antara Zabur dengan hymn
itu.
Namun dengan pendekatan historis yang mengindahkan wahyu perkara itu
dapat dicerahkan. Nabi Daud AS adalah seorang Nabi, sehingga terjauh
dari sifat tercela memplagiat. Lalu mengapa terdapat kemiripan Zabur
dengan hymn itu? Itulah gunanya pendekatan historis dengan mengindahkan
wahyu.
Kita mulai dahulu dengan pendekatan historis. Dari mana Akhenaton
mendapatkan konsep monotheist itu? Coba lihat catatan khronologi persitiwa
di atas itu. Tiga abad sebelum Akhenaton, Nabi Yusuf AS menjabat Raja
Muda Mesir dalam dinasti Hyksos. Pastilah Akhenaton mendapatkan ajaran
monotheist itu dalam dokumen ke-firaunan Mesir yang berasal dari dokumen
ke-hyksosan, yang di antaranya terdapat pula catatan ajaran Nabi Yusuf
AS dalam gaya puisi. Dasar Akhenaton yang ditempa dalam alam agama
Mesir Kuno, maka Akhenaton mencoba menyatukan ketiga oknum Amun -
Ra - Osiris, menjadi satu di dalam Aton. Ajaran Nabi Yusuf AS yang
dituliskan dalam gaya puisi sempat pula dibaca oleh Akhenaton, sehingga
terjadi kemiripan di antara keduanya.
Dengan pendekatan wahyu dapat pula dijelaskan bahwa gaya puisi dari
ajaran Nabi Tusuf AS yang bersumberkan wahyu, mengapa terdapat kemiripan
dengan Zabur Nabi Daud AS, ialah karena bersumber dari Sumber yang
sama yaitu dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Yusuf dan Nabi Daud
'AlayhimasSalaam. Alhasil kemiripan itu secara historis dari Nabi
Yusuf AS ke Akhenaton dan secara pendekatan wahyu ialah Nabi Yusuf
AS dan Nabi Daud AS masing-masing memperolehnya dari Sumber yang sama
melalui wahyu. Jadi sama sekali tidak ada hubungan historis antara
Fir'aun Akhenaton dengan Nabi Daud AS.
Marilah kita lihat isi Zabur dan hymn itu (dalam terjemahan Inggris)
yang mengandung kata MATAHARI. Dalam hymn Akhenaton tertulis: "Thou
risest beautifully in the horizon. Thou art Ra and bringest them all."
Dalam Mazmur 104: Thou hast made the moon to mark the season; (and
made) the sun knows its time for setting.
Di sini kelihatan perbedaan asasi antara hymn Akhenaton dengan Zabur
(Mazmur) Nabi Daud AS. Akhenaton menganggap tuhan yang bernama Aton
itu memanifestasikan dirinya sebagai matahari (Ra). Sedangkan Mazmur
karena berasal dari wahyu Allah SWT, maka bersih dari syirk. Matahari
itu tak lain adalah makhluq ciptaan Allah. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 16 Januari 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|