| WAHYU
DAN AKAL - IMAN DAN ILMU Kolum tetap harian fajar - 124
|
|||||||||||||||
|
Biar Lambat Asal Selamat, Takkan Lari Gunung Dikejar |
|||||||||||||||
| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM "Buat apa peribahasa itu dimunculkan kembali dari tumpukan perbendaharaan lama yang kelihatannya sudah ketinggalan zaman? Yang sudah tidak relevan lagi dengan nilai kekinian? Berpacu dengan waktu, atau waktu itu uang! Kita ini sekarang harus bertindak cepat, karena cepat berarti efisien." Itulah penggalan-penggalan kalimat yang sempat saya dengar pada waktu duduk di antara para penunggu pengantin laki-laki. Rupanya telah terjadi diskusi kecil-kecilan sebelum saya datang bergabung di kelompok itu. Biar lambat asal selamat, takkan lari gunung dikejar diucapkan sekadar untuk menghibur para penunggu itu untuk mengisi kekosongan dan kebosanan karena rombongan"raja sehari" yang ditunggu itu belum kunjung datang jua. Sepintas lalu penggalan-penggalan kalimat yang sempat saya dengar itu kelihatannya ada benarnya. Apapula jika diperhadapkan pada untaian kata dalam Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia: dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Maka pepatah: Biar lambat asal selamat ini, tidak perlu diungkit-ungkit lagi, bukan lagi masanya sekarang ini untuk bersikap demikian, cuma menghabiskan waktu saja untuk dibicarakan, tidak efisien. Demikianlah logikanya. Tunggu dahulu! Apa yang dikutip dari untaian kata dalam Proklamasi itu didahului oleh: dengan cara saksama. Apa maknanya itu! Ini mengandung nilai yang masih relevan hingga kini, yaitu nilai ketelitian, kecermatan. Orang tua yang banyak pengalaman kelihatannya lamban, tidak tergesa-gesa, karena ia itu teliti, sudah banyak makan garam kehidupan yang serba getir, tidak mau seperti keledai, terantuk pada patok yang sama untuk kedua kalinya. Orang muda yang masih kurang pengalaman, belum makan garam kehidupan yang getir, memandang hidup ini dari segi romantika cemerlangnya saja, semangat meledak-letup, rasa optimisme yang berlebihan, maka ia itu bertindak serba cepat, tergesa-gesa. Kedua nilai cermat dan cepat ini perlu dijadikan satu sistem, yaitu saling membingkai. Cermat diberi berbingkai cepat dan cepat berbingkai cermat. Artinya orang tua yang lamban karena ingin cermat, ditarik oleh orang muda supaya mempercepat langkah. "Hai Pak, yang cepat sedikit". Sebaliknya jika orang muda terlalu cepat, berakselerasi, orang tua menahan, menarik kebelakang. "Hai anak muda, jalan licin berjurang, perlambat langkah". Ini namanya kerja sama antara generasi tua dengan generasi muda dalam arti yang sebenarnya. Pepatah di atas itu
tidak berlaku secara umum, yakni situasional dan Dalam
kenyataan hidup sehari-hari dari dahulu hingga sekarang dan insya-Allah
untuk masa yang akan datang tidaklah selamanya mesti cepat. Ada yang
sengaja diperlambat. Artinya cepat dan lambat itu situasional. Agar
jelas inilah contohnya. Ilmu yang sangat bermanfaat dalam mengelola
proyek adalah Network Planning. Apabila hasil monitoring pada kegiatan
kritis menunjukkan terjadi penyimpangan, yaitu apa yang dicapai dalam
pelaksanaan ternyata lebih lambat dari menurut jadwal, maka harus
segera diadakan kontrol. Caranya ialah dengan mempercepat kegiatan
kritis yang berikutnya. Perlu pengerahan sumber daya dari unit-unit
kegiatan lain yang tidak kritis. Perhatikanlah waktu!(*) Jadi
menurut ajaran Islam dalam hal waktu bukanlah soal cepat ataupun lamban
yang menjadi perhatian utama. Yang penting adalah memanfaatkan waktu
untuk berbuat kebajikan, berkomunikasi dengan sesama manusia untuk
meneruskan nilai-nilai wahyu dan dalam berkomunikasi itu tidak ceroboh,
tidak tergesa-gesa, melainkan harus cermat, dan untuk itu perlu kesabaran,
karena *** Makassar, 24 April 1994 [H.Muh.Nur Abdurrahman] (*) Wa dalam permulaan ayat (1) S. Al'Ashr tersebut menyatakan sebuah qasm, semacam "sumpah", namun tidak cocok untuk dibahasa-Indonesiakan dengan"demi". Sebab dalam bahasa Indonesia "demi" itu menyatakan penguatan yang ditumpukan kepada sesuatu yang lebih "tinggi", yaitu Allah. Sedangkan qasm itu semacam "sumpah" untuk menegaskan di mana yang "bersumpah" kedudukannya itu lebih "tinggi". Jadi Wa l'Ashri tidak cocok di-Indonesia-kan dengan"demi waktu", melainkan "perhatikanlah waktu", karena yang berqasm di sini adalah Allah SWT. |
||||||||||||||
| hmna | |||||||||||||||
| hak cipta terpelihara HMNA |
|||||||||||||||