| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Sehubungan
dengan Seri 136 tentang peramal I Jingkiri', telah saya terima rentetan
pertanyaan: Bagaimana tentang ramalan bintang. Bagaimana dengan ilmu
nujum dari para ahli nujum (kalau berdiri sendiri dibaca: ahlu nujum).
Bagaimana ini menurut Al Quran. Ada juga yang menanyakan tentang adanya
kepercayaan bahwa jika di langit terlihat peristiwa istimewa akan
mempengaruhi kehidupan manusia baik orang seorang maupun pergolakan
sejarah ummat manusia pada umumnya. Seperti misalnya kepercayaan lama
yang mengatakan bahwa kalau ada sulo ba'bara', yaitu suluh yang menyala
di langit yang cukup terang (meteor?, -HMNA-) alamat seorang raja
atau sekurang-kurangnya orang penting di istana akan meninggal dunia.
Demikian pula kepercayaan adanya hubungan antara bintang yang muncul
bersinar cemerlang (komet?, -HMNA-), ataupun gerhana, lebih-lebih
gerhana matahari penuh, dengan perjalanan hidup, kelahiran, ataupun
kematian orang-orang istimewa. Terakhir peristiwa langka komet Shoemaker-Levy
9 yang bertumbukan dengan Jupiter, tidak sunyi dari ramainya ramalan
yang bermacam-macam dari para peramal.
Dalam Al Quran tidak ada ajaran ilmu nujum (bentuk jamak dari bintang:
nujuwm) dalam konteks hubungan antara keadaan maupun posisi benda-benda
langit dengan jalan hidup atau nasib manusia dan bangsa-bangsa di
permukaan bumi ini. Jadi ramalan bintang menurut Al Quran adalah nonsense.
Yang ada dalam Al Quran adalah isyarat perlunya ilmu nujum untuk pedoman
arah di darat, utamanya di padang pasir dan di laut. Marilah kita
baca S. Al An'am 97:
Wa Huwa lLadziy Ja'ala laKumu nNujuwmu liTahtaduw biHa- fiy Zhuluma-ti
lBirri wa lBahri, Dan Dialah yang menjadikan bagimu nujum (bintang-bintang)
untuk menjadi pedoman dengannya dalam kegelapan malam baik di darat
maupun di laut.
Dalam tarikh tercatat bahwa pernah terjadi gerhana matahari penuh
di zaman RasuluLlah SAW. Pada waktu gerhana penuh tersebut, Ibrahim
meninggal dunia. Adapun Ibrahim yang meninggal itu adalah putera RasuluLlah
SAW, dari isteri beliau yang bernama Sitti Maria al Qibth. Maka ramailah
perbincangan dari mulut ke mulut dalam kalangan penduduk Madinah,
yang mengaitkan antara peristiwa gerhana matahari penuh itu dengan
meninggalnya Ibrahim. Bahkan dalam kalangan penduduk Madinah yang
belum Islam (Arab dan Yahudi) terbit rasa kagum: "Memang Muhammad
itu bukan orang biasa, anaknya meninggal lalu terjadi gerhana matahari
penuh." Sebenarnya dari segi politik, inilah kesempatan baik
bagi Nabi Muhammad SAW untuk berkampanye menarik pengikut dari kalangan
masyarakat Madinah yang belum Islam. Namun setelah RasuluLlah SAW
mendengar bahwa gerhana itu dikaitkan dengan kematian Ibrahim, maka
di depan khalayak Madinah beliau menyatakan bahwa tidak ada hubungannya
antara gerhana matahari penuh itu dengan kematian Ibrahim.
Ada pula hal yang dapat kita simak dalam hal pernyataan yang tegas
dari RasuluLlah SAW tersebut. Bahwa memelihara aqiydah ummat jauh
lebih penting dari kemenangan politik. Bahwa politik itu tak dapat
dilepaskan dari nilai moral yang paling tinggi, yaitu tawhid.
Syahdan, itulah jawaban terhadap rentetan pertanyaan di atas itu.
Ajaran Islam yang bersumberkan Al Quran dan Hadits tidak mengenal
ilmu nujum dalam hubungannya dengan ramalan bintang. Ajaran Islam
menolak adanya kaitan antara kejadian di bola langit dengan nasib
manusia khususnya, sejarah bangsa-bangsa umumnya. Al Quran menegaskan
bahwa ilmu nujum itu hanya berhubungan dengan pedoman arah di darat
maupun di laut.
Pada waktu ingin menutup uraian dalam kolom ini, tiba-tiba terbetik
dalam ingatan saya sebuah tulisan berisikan kritik terhadap ramalan
bintang dengan gaya spesifik, namun berbeda dengan gaya spesifik dari
folklore I Jingkiri'. Lalu saya sejenak berhenti menulis dan membalik-balik
perbendaharaan lama, arsip pribadi saya. Maka saya temukanlah tulisan
itu dalam Madjalah Bulanan Mahasiswa DIAGNOSA, Bandung, No.9/10 Tahun
I, 1964, izin Deppen No.819/SK/UPPG/SIT/1964. Sekadar bernosatalgia
saya kutip dalam ejaan aslinya, yaitu sebelum Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD). Tidak seluruhnya saya kutip.
DJANGAN MAU PERTJAYA. COSMOLOOG: DAENG BALLE
GEMINI (22 Mei - 20 Djuni)
Anda tjukup punja bakat badut, kere dan pelajan. Tetapi kalau mandi
dengan hanja menjiram kepala sadja djangan dianggap sebagai membadut.
Kesehatan: Anda bakal kena penjakit kulit pada bagian siku, tetapi
tidak usah pergi berobat kedokter penjakit kulit dan kelamin, sebab
salah2 orang jang melihat anda duduk dikamar tunggu bisa punja penafsiran
lain. Penjakit kulit disiku bukan disebabkan oleh W.R. jang positif,
melainkan karena anda kena kualat: Mengambil kembali benda jang telah
dihadiahkan kepada orang lain. Maka pulangkan benda itu dan penjakit
anda djadi sembuh.
VIRGO (23 Agustus - 23 September)
Kalau mandi gosok ketiak baik2, demi mendjaga ketenteraman umum. Lain
kali djangan minum es tengah malam, nanti anda tak bisa njanji dikamar
mandi. Asmara: berdjalan lantjar selama patjar anda belum tahu bahwa
scooter jang selalu anda pakai duaan adalah barang pindjaman. Hari
baik: tergantung dari date anda. Permata: buah badju.
SCORPIO (24 Oktober - 23 Nopember)
Bintang anda bulan nanti sangat terang bahkan meledak. Itu tandanja
rahasia yang anda pendam selama ini akan terbongkar sampai pada akar2nja.
Itu salah anda sendiri, tidak dapat menguasai diri terhadap air api
dan minum sampai mabuk pada waktu achir2 ini. Namun demikian tak usah
hal itu dirisaukan benar, sebab ada djuga baiknja buat anda. Tekanan
djiwa akibat memendam rahasia mendjadi hilang lenjap. Asmara: sangat
bertjabang. Arah: hindari gedung bioskop jang memutar gala.
Catatan ejaan dan peristilahan:
ch=kh, dj=j, j=y, nj=ny, tj=c, 2=simbol perulangan kata.
Cosmoloog, maksudnya Astrolog. Sebuah analogi dari cosmonaut (penjelajah
kosmos) = astronaut (penjelajah bintang).
Daeng Balle = Tuan pendusta.
W.R.= Wassermann Reactie, suatu metode untuk mengungkap penyakit kotor
dalam darah. Kalau reaksinya positif berarti mengidap salah satu di
antaranya: penyakit kotor raja-singa, atau
frambusia, kalau di bibir disebut poge' (bhs Makassar).
Air api = ungkapan orang Indian untuk minuman keras
WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 31 Juli 1994 [H.Muh.Nur
Abdurrahman]
|
|