| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Abu
alHasan 'Ali alAsy'ari (873 - 935) peletak dasar Ilmu Kalam (theology)
golongan Ahlussunnah membangun metode pendekatan beralatkan mata pisau
analisis yang mengerat substansi dan fenomena ke dalam tiga klasifikasi:
wajib, mungkin, mustahil. Kita akan meminjam pisau analisis Asy'ari
tersebut dalam pembahasan judul di atas, untuk memenuhi janji akan
membahas manuver Enterprise tahap kedua pada hari ini.
Adapun tahap kedua manuver Enterprise adalah memanfaatkan medan gravitasi
yang sangat kuat dari dawai (tali halus) kosmis. Menurut Teori Relativitas,
rentang waktu tergantung pula pada medan gravitasi. Dengan demikian
manuver kedua ini tujuannya memperlambat waktu untuk menghemat pemakaian
bahan bakar. Dawai kosmis ini adalah suatu benda hipotesis yang diciptakan
Allah pada saat dimulaiNya penciptaan alam syahadah. Menurut pakar
fisika nuklir dan kosmologi George Gamow (1904 - ?) pada saat permulaan
penciptaan itu terjadi "big bang", ledakan dahsyat. Maka
terlemparlah jutaan gumpalan kabut plasma (dukhan) yang akan menjadi
galaxy. Turut pula terlempar benda hipotesis dawai tersebut. Teori
big bang dan dawai ini dalam klasifikasi menurut pisau analisis Asy'ari
termasuk dalam kategori mungkin. Dengan demikian kita dapat melangkah
setapak dengan asumsi. Yaitu diasumsikan jika dawai itu ada, maka
itulah yang menjadi penyebab terjadinya black hole (lubang gelap)
yang telah ditangkap oleh teleskop. Apa saja yang melintas dalam kawasan
medan gravitasinya, termasuk cahaya, akan disedotnya, sehingga dalam
kawasan medan gravitasinya menjadi gelap, yang dideteksi oleh teleskop
sebagai lubang gelap.
Lubang gelap yang akan dituju oleh Enterprise itu letaknya nun jauh
di sana, di luar galaxy Milky Way tempat tata-surya bermukim, di luar
super galaxy Local Group tempat Milky Way bermukim. Lubang gelap itu
jauhnya jutaan tahun cahaya. Maka Enterprise akan diperhadapkan pada
dua pilihan: menghemat bahan bakar dengan kelajuan jauh di bawah laju
cahaya, atau memperlambat waktu dengan kecepatan mendekati laju cahaya.
Pilihan yang pertama membawa konsekwensi jutaan tahun baru sampai
ke tujuan, yang berarti astronaut itu sudah mati semua. Pilihan yang
kedua tidak lain adalah manuver tahap pertama seperti yang telah dibahas
hari Ahad yang lalu, astronaut akan mengecil secara tidak proporsional
yang akan membawa ajalnya, dan pula Enterprise akan kehabisan bahan
bakar. Maka walaupun dari segi adanya dawai itu termasuk kategori
mungkin, akan tetapi manuver tahap kedua Enterprise termasuk kategori
mustahil.
Dalam kategori manakah lorong waktu itu berada menurut klasifikasi
Asy'ari? Menurut spekulasi imajinatif, apabila orang melaju di atas
laju cahaya ia akan menembus lorong waktu kembali ke masa silam. Secara
experimental laju cahaya adalah limit laju benda di alam syahadah
ini. Dalam pengertian matematis limit adalah batas yang didekati namun
tak pernah menyentuh batas itu. Rumus E = mc2 yang telah dibuktikan
secara experimental itu diturunkan Einstein dari pemekaran transformasi
Lorentz terhadap massa, yaitu massa akan bertambah apabila lajunya
bertambah. Artinya massa akan mendekati tak terhingga besarnya jika
lajunya mendekati laju cahaya telah dibuktikan secara tidak langsung.
Jadi menurut klasifikasi Asy'ari jenis materi di alam syhadah ini
yang dapat melaju di atas kecepatan cahaya termasuk kategori mustahil.
Louis Finkelstein (1895 - ?) berteori pula tentang zarrah hipothesis
yang disebutnya tachyon. Kalau laju tachyon di bawah laju cahaya (c)
massanya dalam keadaan maya (imajiner), tidak berada dalam alam syahadah.
Barulah tachyon itu hadir di alam syahadah apabila lajunya di atas
laju cahaya. Jadi zarrah tachyon lain sekali sifatnya dari zarrah
yang menyusun tubuh manusia dan materi lainnya di alam syahadah ini.
Zarrah tachyon ini dalam klasifikasi Asy'ari tergolong dalam kategori
mungkin. Namun hingga kini zarrah tachyon ini belumlah terdeteksi
oleh instrumen.
Terdapat kesulitan dalam mendeteksi tachyon ini. Sebuah benda terdeteksi
oleh mata ataupun instrumen karena sinyalnya yang berupa gelombang
medan elektromagnet menyentuh mata ataupun instrumen. Sinyal medan
itu tidak lain adalah cahaya. Karena benda itu semuanya bergerak di
bawah laju cahaya, maka sinyal medan akan lebih dahulu menyentuh mata
atau instrumen, barulah kemudian menyusul bendanya. Lain halnya tachyon.
Zarrah ini lebih dahulu menyentuh instrumen baru sinyal medan. Karena
kesulitan mendeteksi tachyon ini maka tetaplah ia dalam kategori mungkin
menurut klasifikasi Asy'ari.
Mempercayai adanya lorong waktu dapat merusak aqidah. Coba bayangkan,
Richard Gott yang sangat gandrung terhadap lorong waktu, dalam umur
50 tahun menembus lorong waktu mundur 40 tahun, maka ia akan bertemu
dengan dirinya sendiri yang masih berumur 10 tahun. Pertanyaan sekarang
ruh Gott ada di mana waktu ia berjabat tangan dengan dirinya sendiri.
Pada tubuh yang berumur 50 tahun atau yang 10 tahun? Manusia akan
mati jika ruhnya sudah dicabut dari tubuhnya oleh malakulmaut. Jadi
kalau ruhnya pada 50 tahun, tubuh yang 10 tahun mesti mati, demikian
pula sebaliknya. Mempercayai lorong waktu berarti mempercayai orang
bertemu dengan dirinya sendiri dalam keadaan kedua-duanya hidup, berarti
tidak mempercayai adanya ruh dalam diri manusia. Ini merusak aqidah.
Jadi menurut klasifikasi Asy'ari, lorong waktu masuk dalam kategori
mustahil.
Lalu bagaimana dengan membaca buku atau melihat film tentang science
fiction, apa ada gunanya? Pertanyaan ini sama jawabannya dengan pertanyaan,
adakah gunanya membaca dongeng? Tentu ada manfaatnya, karena dongeng
tradisional dan dongeng modern (baca science fiction) dapat saja mengandung
pesan-pesan nilai yang bermanfaat, seperti misalnya kritik sosial
dalam bentuk dongeng tentang kerajaan binatang. Hanya harus ingat
bahwa dalam membaca itu harus menyadari bahwa kejadian aneh-aneh,
seperti binatang bercakap-cakap seperti manusia, Bramakumbara menunggang
rajawali yang setengah dewa, to beam down from Enterprise dll tidak
boleh mempercayainya bahwa itu benar-benar terjadi demikian, karena
kalau percaya menjadilah tahyul dan itu merusak aqidah. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
*** Makassar, 18 September 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|