| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Modernisme
berakar pada pencerahan (Aufklarung), artinya pencerahan adalah cikal
bakal modernisme yang berintikan prinsip reasoning, yaitu empirisme
dan positivisme. Pencerahan yang mendominasi The Age of Reason adalah
sebagai reaksi dan dikhotomi dari The Age of Believe dalam kurun waktu
sebelumnya yaitu kurun waktu berlangsungnya dominasi gereja terhadap
alam pikiran dan sikap berpikir manusia di barat.
Kalau dominasi gereja dianggap sebagai pengungkungan individu dalam
berpikir, maka modernisme melakukan pula hal yang sama. Yaitu menjagal
kreasi potensi manusia di luar empirisme, oleh karena modernisme menyebarkan
kekuatan-kekuatan rasional bukan hanya dalam kawasan yang empiris
dan pembangunan material, namun menjangkau pula ke dalam kawasan yang
bersifat etis.
Post-modernisme yang tidak rasional (tanpa konsep dan tanpa bentuk
yang pasti), liar, heterogen, bahkan campur aduk, menyerang modernisme,
yang sudah dianggap mapan oleh para penganutnya, secara sengit dan
bersemangat (enthusiast). Ini nyata betul dalam gagasan dan kreasi-kreasi
seni dan arsitektur, tidak terkecuali sikap urakan yang menonjol dalam
kalangan hippis yang muak atas gaya hidup masyarakat barat produk
modernisme. Dalam kesustraan Indonesia semangat menyerang secara liar
itu, terlihat dalam sanjak(*) Chairil Anwar: "Aku".
..............
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
.............. (**)
Kalaupun sikap Chairil Anwar itu belum dapat digolongkan dalam semangat
post-modernisme, maka sekurang-kurangnya semangat binatang jalang
yang meradang, menerjang, dapatlah dianggap sebagai prolog semangat
post-modernisme di Indonesia. Maka pendapat sebagian orang yang mengatakan
bahwa di Indonesia ini tidak perlu post-modernisme ini dihiraukan,
karena kita mempunyai kebudayaan dan keperibadian sendiri, itu adalah
pendapat yang tidak bijaksana. Kebudayaan barat, yang antara lain
modernisme dan post-modernisme, sifatnya sangat agresif karena didukung
oleh penguasaan teknologi komunikasi dan organisasi.
Ajaran Islam tidak menolak empirisme. Yang ditolak adalah empirisme
tanpa kendali nilai Tawhid. Kata Nazhara (waLtanzhur, faNzhuruw, faNzhur)
dalam ketiga ayat yang dikutip berikut ini sudah cukup untuk menunjukkan
empirisme yang berkendali nilai Tawhid itu:
Ya-ayyuha- Lladziyna A-manuw Ittaquw Lla-ha waLtanzhur Nafsun ma-
Qaddamat liGhadin waTtaquw Lla-ha Inna Lla-ha Khabiyrun bima- Ta'lamuwna.
Hai orang-orang beriman taqwalah kepada Allah dan mestilah setiap
diri menilik apa yang lalu untuk hari esok dan taqwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah memonitor apa yang engkau kerjakan (S.AlHasyr,18).
Fasiyruw fiy lArdhi faNzhuruw kayfa Ka-na 'A-qibatu lMukadzdzibiyna.
Maka menjelajalah di bumi dan tiliklah bagaimana akibat orang-orang
yang mendustakan (Allah) (S.Ali'Imra-n,137).
FaNzhur ilay A-tsa-ri Rahmati Lla-hi kayfa Yuhyi lArdha ba'da Mawtiha-
Maka tiliklah produk (output) rahmat Allah bagaimana (Dia) menghidupkan
bumi sesudah matinya (S.ArRuwm,50).
Positivisme yang mempersempit wawasan hanya sebatas alam syahadah
(physical world), yaitu yang hanya dapat dideteksi oleh pancaindera
dan instrumen, tidak menghiraukan Wujud Allah (agnostik) atau tidak
mempercayai Wujud Allah (ateis) atau percaya akan Tuhan tetapi tidak
percaya adanya whyu (deis) sudah tentu ditolak oleh ajaran Islam.
Pengasuh kolom WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU ini merasa bertanggung-jawab,
sekurang-kurangnya sebagai penjaga gawang aqidah terhadap pengaruh
modernisme dan post-modernisme terhadap ummat Islam, utamanya bagi
para remaja Muslim yang sikap berpikirnya belum mapan. Modernisme
dan post-modernisme adalah ibarat setali tiga uang, tidak ada bedanya,
yaitu gerakan orang-orang yang tidak percaya akan adanya wahyu (deis,
agnostik, dan ateis).
Para intelektual Muslim yang ber-Iqra Bismi Rabbika hendaklah menjadi
penjaga gawang dari serbuan agresif budaya barat modernisme dan post-modernisme
ini. Bahwa sampai pada yang teknispun para intelektual Muslim hendaklah
senantiasa mengisinya dengan nilai Tawhid. Sebagai contoh, berikut
ini akan saya kutip sekelumit dari materi yang saya sajikan dalam
Pendidikan-Pelatihan Teknologi Reparasi Mesin Kapal Tingkat Supervisor
bagi Perusahaan Industri Perkapalan se Indonesia yang diselenggarakan
atas kerjasama Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin dan Elektronika
Departemen Perindustrian dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan
Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja, dalam permulaan bulan September
ini. Materi yang saya sajikan adalah Working Procedure and Schedule
Quality. Inilah kutipan itu:
Critical Path Scheduling (CPS), yang merupakan bagian dari Network
Planning, yang terbukti merupakan alat yang efektif dalam menata-laksana
proyek-proyek konstruksi yang besar, dapat pula sangat efektif jika
diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan overhaul, perawatan (maintenance)
mesin-mesin. Dengan CPS ini orang memungkinkan melihat kegiatan-kegiatan
itu secara menyeluruh, dan secara khusus orang dengan mudah melihat
bagaimana keterkaitan hubungan kegiatan-kegiatan itu. Jadi berbeda
dengan alat yang lama yaitu Diagram Balok (Gantt Chart) yang hanya
memungkinkan orang melihat waktu start dan waktu selesai setiap kegiatan,
sedangkan bagaimana keterkaitan hubungan kegiatan itu, tidak nampak
dalam Diagram Balok tersebut. Sungguhpun demikian Diagram Balok masih
berguna untuk para mandur (foreman), oleh karena kesederhanaannya,
sedangkan CPS diperuntukkan bagi level manajemen pengawas (supervisor)
ke atas. Oleh karena itu tindak lanjut dari CPS adalah membuat Diagram
Balok bagi para mandur.
Di samping keperluan Diagram Balok bagi para mandur seperti telah
diterangkan di atas, Diagram Balok berguna pula untuk keperluan monitoring.
Monitoring ini perlu dilakukan, oleh karena hasil kemajuan pekerjaan
di lapangan belum tentu sesuai dengan perencanaan penjadwalan (scheduling).
Das Sein pada umumnya tidak sesuai benar dengan das Sollen, oleh karena
Manusia berencana, namun Allah SWT Yang menetapkan. Perencanaan manusia
yang dianggapnya baik baru terkabul, apabila rencana manusia yang
bersifat mikro sinkron dengan Rencana Makro dari Allah SWT. WaLlahu
a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 25 September 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
-------------------------------
(*) sanjak = kesusastraan yang berbentuk puisi
(**) huruf miring dari saya
|
|