| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Baru-baru
ini (14 September 1994) keluarga besar Ikatan Masjid Mushalla Indonesia
Muttahidah (IMMIM), yaitu Yayasan Dana Islamic Center IMMIM (YASDIC),
Persatuan Jamaah Wanita Islam Indonesia (PERMAWI), Ikatan Alumni Pesantren
IMMIM (IAPIM) dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia
(BKPRMI), di bawah Koordinasi DPP IMMIM memperingati Mawlud Nabi Besar
Muhammad SAW. Pada waktu konsep undangan disodorkan kepada saya oleh
Drs. M.Saiful, Seketaris IMMIM, ada kata yang saya coret. Yaitu kata
iman dalam kalimat: Dalam rangka meningkatkan kualitas iman dan taqwa.
Namun setelah undangan itu usai dicetak, kata iman tetap ada. Saya
tegur Saiful mengapa kata itu tidak jadi dicoret, dengan nada merasa
bersalah berucap: Biarlah ustadz, sudah terlanjur, mereka yang mengetik
naskah undangan di percetakan itu sudah terbiasa dengan rangkaian
kata-kata iman dan taqwa.
Kata penghubung dan menghubungkan kata ataupun penggalan kalimat yang
termasuk dalam kategori skala nominal (nominal scale) dan kategori
skala ordinal (ordinal scale). Dalam skala nominal yang dihubungkan
itu sederajat, seperti misalnya skala nominal jenis kelamin: laki-laki
dan perempuan, skala nominal profesi: guru, dan pedagang, dan petani,
menurut kelaziman dipendekkan menjadi guru, pedagang dan petani, skala
nominal peternakan: sapi, kerbau, domba dan lain-lain. Sedangkan dalam
skala ordinal yang dihubungkan itu tidak sederajat melainkan berjenjang
naik bertangga turun, seperti misalnya skala ordinal kepangkatan:
dalam jajaran ABRI: overste, mayor dan kapten, dalam jajaran pemerintahan:
gubernur, bupati dan camat, skala ordinal topografi: gunung, bukit,
lembah dan ngarai. Itu dalam bahasa Indonesia.
Dalam bahasa Al Quran skala ordinal di samping yang disebutkan di
atas, kata WA dapat pula menyatakan skala ordinal dalam kategori proses,
yaitu berarti TSUMMA (lalu).
Maka di sinilah terjadi salah kiprah, karena dalam bahasa Indonesia
kata DAN tidak pernah menyatakan skala ordinal dalam kategori proses,
maka dalam bahasa Indonesia kata DAN tidak pernah berarti LALU. Sehingga
rangkaian iman dan taqwa disalah-kiprahkan dalam skala nominal, artinya
salah kiprah iman difahamkan sederajat dengan taqwa.
Ayat-ayat di bawah menunjukkan kata WA yang menyatakan skala ordinal
dalam kategori proses, artinya bermakna TSUMMA (=LALU).
Fankihuw maa taaba lakum mina nnisaai matsna- wa tsula-tsa wa ruba-'a
(S. An Nisaau, 3), maka nikahilah apa yang baik bagimu dari perempuan
berdua, lalu bertiga, lalu berempat. Dalam ayat itu jelas WA menunjukkan
skala ordinal dalam kategori proses. {Namun ada pula sedikit ulama
antara lain almarhum Kiyai H. Maksum, Menteri Agama DII/TII Sulawesi
Selatan yang memahamkan kata WA dalam skala nominal, sehingga mereka
tambahkan: 2 + 3 + 4 = 9).
Walaw annahum a-manuw wattaqaw lamatsuwbatun min 'indiLla-hi khayrun
law kaanuw ya'lamuwn (S. Al Baqarah, 103. Kalau mereka beriman lalu
bertaqwa, sesungguhnya pahala dari sisi Allah lebih baik, jika mereka
mengetauinya (2:103). Yang perlu menjadi perhatian rangkaian iman
dengan taqwa dengan kata WA dalam kategori ordinal proses, maka selalu
diucapkan wattaqaw (qaf didhamma U), bukan wattaquw (qaf difatah A).
Contoh lain:
Walaw anna ahla lkita-bi a-manuw wattaqaw lakaffarnaa annahum sayyia-tihim
waladkhana-hum janna-tin na'iym (S. An Nisaau, 65), Kalau sekiranya
orang-orang ahli kitab beriman lalu bertaqwa, niscaya Kami tutup kesalahan
mereka dan Kami masukkan mereka ke dalam surga keni'matan (5:65).
Adapun rangkaian iman dengan taqwa tanpa diselingi kata WA, maka itu
menyatakan kategori ordinal maqam (derajat, posisi), maka itu selalu
diucapkan ittaquw, tattaquwn, seperti contohnya:
Ya-ayyuha- lladziyna a-manuw ittaquw Lla-ha (S. Al Haysr, 18), hai
orang-orang beriman taqwalah kepada Allah (59:18).
Ya-ayyuha- lladziyna a-manuw kutiba 'alaykumu shshiya-mu kama- kutiba
'ala lladziyna min qablikum la'allakum tattaquwna, hai orang-orang
beriman diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu supaya kamu bertaqwa (2:83).
Menilik ayat (59:18) seruan untuk bertaqwa itu tidak ditujukan kepada
manusia pada umumnya (bukan Ya-ayyuha nNa-s), melainkan hanya dibatasi
kepada orang-orang beriman saja. Artinya untuk dapat bertaqwa persyaratannya
harus beriman dahulu. Jadi bertaqwa lebih tinggi derajatnya dari beriman,
sehingga kedua kata itu tidak termasuk dalam kategori skala nominal,
melainkan skala ordinal. Skala ordinal itu akan lebih jelas jika kita
tilik ayat (2:183). Orang-orang beriman diseru untuk berpuasa agar
mencapai derajat taqwa. Artinya taraf iman seseorang dapat ditingkatkan
ke taraf taqwa dengan jalan berpuasa.
Rangkaian iman dengan taqwa dalam kategri ordinal dapat pula dengan
jelas dalam ayat-ayat S. Baqarah yang berikut:
Alif Lam Mim (1). Dza-lika lkita-bu laa rayba fiyhi hudan lilmuttaqiyna
(2). Alladziyna yu'minuwna bilghaybi wa yuqiymuwna shshala-ta wa mimmaa
razaqna-hum yunfiquwna (3). Waladziyna yu'minuwna bimaa unzila ilayka
wamaa unzila min qablika wabil.a-khirati hum yuwqinuwna (4).
(1)Alif Lam Mim. (2)Itulah Al Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya
menjadi petunjuk orang-orang yang taqwa. (3)Yaitu yang beriman kepada
Yang Ghaib, dan mendirikan shalat, dan dari sebagian yang Kurezekikan
kepada mereka, dikeluarkannya untuk fungsi sosial (4). Dan mereka
yang beriman kepada apa yang kuturunkan kepadamu dan kepada apa yang
Kuturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan hari akhirat.
Skala ordinal dapat dijelaskan dengan baik melalui pendekatan matematis,
yaitu secara aljabar kelas (algebra of classes). Dengan diagram Venn
orang-orang beriman dilambangkan dengan lingkaran X, orang-orang bertaqwa
dilambangkan dengan lingkaran Y. Lingkaran Y seluruhnya terletak dalam
lingkaran X. Semua titik dalam lingkaran Y menjadi anggota sekali
gus dari Y dan X, artinya tiap-tiap orang bertaqwa sekali gus beriman.
Sedangkan titik-titik dalam lingkaran X di luar lingkaran Y, adalah
orang-orang beriman yang belum bertaqwa. Kesimpulannya, jika menyebutkan
bertaqwa, tidaklah perlu diikutkan pula kata beriman, oleh karena
beriman sudah tercakup dalam bertaqwa, kecuali jika itu dalam skala
ordinal proses.
Jadi yang betul bukanlah meningkatkan iman dan taqwa, melainkan meningkatkan
iman untuk menjadi taqwa. Akan tetapi jika dikatakan memperingati
Mawlud ataupun Isra Mi'raj RasuluLlah SAW dalam rangka meningkatkan
iman untuk menjadi taqwa, itupun juga tidak benar, karena yang benar
menurut ayat (2:183), untuk meningkatkan iman menjadi taqwa adalah
dengan jalan berpuasa.
Khatimah:
Dalam Al Quran ada dua jenis rangkaian iman dengan taqwa, yaitu pertama
dalam kategori ordinal proses, dengan dua ciri, yaitu dihubungkan
oleh kata DAN dan dibaca wattaqaw (qaf difatah A), dalam hal ini WA
(DAN) berma'na TSUMMA (LALU), dan kedua skala ordinal tidak dihubungkan
dengan kata DAN, dibaca / ditulis Ittaquw / Tattaquwn (qaf didhamma
U). WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 2 Oktober 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|