| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
International
Confrence on Population and Development (ICPD), Konferensi Internasional
Kependudukan dan Pembangunan, pada 5 - 13 September 1994 di gedung
Cairo International Conventio Center sangat kontroversial, membangkitkan
protes beberapa negara seperti Arab Saudi, Sudan, Libanon, Irak, Nauru,
Lichtenstein dan Maroko, karena mengandung materi jahiliyah modern,
yaitu: legalisasi abortus, legalisasi perkawinan sejenis (homo-lesbian),
legalisasi hubungan sex pranikah dan pemasyarakatan kondom. Abortus,
perkawinan sejenis, hubungan sex pranikah dan pemasyarakatan kondom
dianggap sebagai mekanisme pengendalian kelahiran (birth control).
Walaupun upaya penggunaan mekanisme pengendalian kelahiran yang diperinci
di atas itu dapat digagalkan dalam arti tidak mesti dilaksanakan oleh
negara-negara anggota peserta konfrensi tersebut, namun telah membuka
mata kita, bagaimana derasnya arus nilai jahiliyah modern dalam badan
dunia PBB tersebut. Upaya pemanfaatan badan dunia PBB oleh para penganut
jahiliyah modern tersebut dalam menyebarkan virus jahiliyah modern
itu, niscaya tidaklah berhenti setelah ICPD di Kairo itu, dan ini
perlu diwaspadai, karena virus tersebut lebih dahsyat daya rusaknya
ketimbang virus penyebab penyakit AIDS.
Tak jemu-jemunya kita kemukakan peringatan Allah dengan FirmanNya
dalam S.Al Anfa-l 25:
Wattaquw Fitnatan la- Tushiybanna Lladziyna Zhalamuw Minkum Kha-shshatan
...., hindarkanlah bencana dahsyat (parahara) yang tidak hanya secara
khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Sudah saya jelaskan
dalam Seri 137 mengapa ittaquw tidak saya terjemahkan dengan takutlah,
dan mengapa fitnah tidak saya terjemahkan dengan cobaan, oleh karena
tiga pertimbangan.
Pertama, Ittaquw berasal dari akar kata yang dibentuk oleh ketiga
huruf: waw, qaf, ya yang artinya menjaga diri sehingga terhindar,
terpelihara. Yang kedua, terhadap orang zalim tidak ada cobaan. Yang
ketiga, kata fitnah dalam bahasa Indonesia tidak sama pengertiannya
dengan fitnah dalam bahasa Al Quran. Fitnah dalam bahasa Indonesia
bermakna menyebarkan isu tentang ucapan ataupun perbuatan orang yang
sesungguhnya tidak diucapkan dan tidak dilakukan oleh orang itu. Upaya
yang dilancarkan oleh para penganut jahiliyah modern dalam badan dunia
PBB di Kairo, itulah antara lain contoh yang dimaksud dengan bahasa
Al Quran: fitnah.
What next? Pertanyaan dalam judul di atas itu kita tujukan kepada
negeri-negeri belahan bumi bagian selatan, yang biasa disebut dengan
Dunia Ketiga (the 3rd World). Mengapa? Karena negeri-negeri Selatan
sangat patut menuntut keadilan kepada negeri-negeri Utara. Dalam ICPD
di Kairo itu, huruf P itu ditujukan kepada negeri-negeri Selatan.
Tidakkah terpikir oleh negeri-negeri Selatan untuk juga melancarkan
kampanye dalam badan dunia PBB itu tentang hal pengendalian "penduduk"
budak-budak tenaga (energy slaves population) dalam kalangan negeri-negeri
Utara?
Birth control on energy slaves ini di negeri-negeri Utara tidak kurang,
bahkan lebih penting dari pengendalian penduduk di negeri-negeri Selatan.
Pertumbuhan "penduduk" budak-budak tenaga yang berupa mesin-mesin
konversi tenaga di negeri-negeri Utara sudah dalam taraf kritis, bahkan
lebih kritis dari pertambahan penduduk di negeri-negeri Selatan.
Pencemaran udara dalam wujud pencemaran thermal (panas) oleh CO2,
yang menaikkan suhu global, berasal dari kotoran budak-budak tenaga
itu. Bahan makanan yaitu bahan bakar konvensional yang berupa bahan
bakar fosil (minyak bumi) yang dimakan oleh budak-budak tenaga itu
menjadi penyebab ketegangan dunia, bahkan meledak menjadi peperangan,
seperti perang teluk yang dahsyat beberapa tahun yang lalu.
What next? Setelah IPCD di Kairo itu, maka perlu pula tindak lanjut
berupa International Confrence on Energy Slaves Explotion Control.
Barangkali Indonesia dapat aktif memprakarsai terwujudnya ICESEC itu.
Ada dua hal pertimbangan mengapa Indonesia elok rasanya aktif menjadi
pemrakarsa: Pertama, Indonesia mengaplikasikan strategi teknologi
tepat guna dalam pembangunan seperti tercantum dalam Garis-garis Besar
Haluan Negara. Dengan teknologi tepat guna dapat dicapai titik optimum
dari dua kriteria yang bertentangan, yaitu kebutuhan mesin-mesin konversi
tenaga untuk pertumbuhan ekonomi pada pihak yang satu, yang bertolak
belakang dengan pencemaran CO2 yang ditimbulkan oleh mesin-mesin konversi
tenaga itu pada pihak yang lain. Yang kedua, Indonesia adalah ketua
Negara-negara Non-Blok. Maka, BismiLlah!, wajarlah apabila Indonesia
menjadi pemrakarsa ICESEC. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 9 Oktober 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|