| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Pernah
suatu hari tangan saya ditarik cucu saya ke depan televisi sambil
mengatakan namanya disebutkan lagi dalam televisi, yang waktu itu
sedang menyiarkan lagu-lagu. Memang cucu saya itu yang masih duduk
di kelas nol besar TK ABA Cabang Tallo' biasa mendengarkan namanya
disebut dalam warta berita, karena namanya Yasser Arafat. Selama ini
apabila namanya disebut dalam warta berita, tidak pernah Yasser menarik
tangan saya ke depan televisi, karena saya selalu menyempatkan diri
mendengarkan warta berita. Demikian pula Yasser selalu tertarik pada
warta berita yang disiarkan di luar jam tidurnya, karena ingin mendengar
apakah namanya disebutkan lagi. Apa yang terjadi, bukanlah Yasser
Arafat yang sedang menyanyi, melainkan nyanyian itu berjudul I swear,
yang di telinga Yasser kedengarannya sebagai yasser.
Pada waktu perpeloncoan di Makassar ini tidak jarang kita dengar perintah
kepada pelonco untuk kengkreng. Saya tetap memakai istilah pelonco
ini oleh karena apapun istilah yang dipakai yang dipoles ataupun dikemas
dengan beberapa peristilahan dari tahun ke tahun, pada hakekatnya
tetaplah perpeloncoan. Istilah kengkreng berasal dari bahasa Belanda
kikkeren, yang artinya berlaku seperti kikker (kodok), lompat katak.
Kalau adil dari bahasa Arab menjadi adele' dalam bahasa Makassar,
maka itu adalah penyesuaian lidah. Namun apabila kikkeren diubah menjadi
kengkreng itu bukanlah penyesuaian lidah, melainkan salah dengar,
akibat proses awal penyerapan kata asing itu berlangsung secara lisan,
tak ubahnya seperti bunyi I swear yang didengar oleh cucu saya sebagai
yasser.
Salah dengar I swear menjadi yasser wajar-wajar saja, karena yang
salah dengar itu murid TK. Namun dalam proses lahirnya kengkreng karena
salah dengar itu, sesungguhnya merupakan salah satu petunjuk kurangnya
minat tulis-baca dalam lingkungan kampus. Maka eloklah kiranya diadakan
penelitian seberapa jauh minat tulis-baca dalam kalangan masyarakat
akademis kita.
***
Al Quran artinya yang dibaca. Ayat yang mula-mula diterima oleh RasuluLlah
SAW, yaitu Iqra Bismi Rabbika, bacalah atas nama Maha Pengaturmu (S.Al'Alaq,1).
Untuk dapat dibaca haruslah dituliskan, sehingga Al Quran disebut
pula Al Kitab, artinya yang ditulis: Dza-lika lKita-bu La- Rayba fiyhi
Hudan li lMuttaqiyna, itulah Al Kitab tak ada keraguan dalamnya petunjuk
bagi orang-orang yang taqwa (S.AlBaqarah,2). Dalam teknis pelaksanaannya
bagimana RasuluLlah mengkomunikasikan wahyu yang diterimanya kepada
ummatnya, dapat kita simak dalam Hadits: "Janganlah kamu menulis
tentang aku selain Al Quran, dan barang siapa yang menulis tentang
aku selain Al Quran, maka hendaklah dihapusnya." Ada dua hal
penting yang dapat disimak dari Hadits tersebut.
Pertama, larangan RasuluLlah untuk menuliskan dari beliau selain Al
Quran, menghindarkan tercampurnya wahyu dengan ucapan RasuluLlah yang
tidak bersumber dari wahyu. Dengan demikian tidak ada yang bukan wahyu
yang diselipkan dalam Al Quran dan sebaliknya tidak ada wahyu yang
diterima RasuluLlah yang luput dituliskan dalam Al Kitab.
Kedua, bahwa Al Quran itu dikomunikasikan kepada ummat secara tertulis,
dengan demikian menghindarkan menyimpangnya pesan-pesan wahyu baik
dari segi maknanya, maupun dari segi redaksionalnya, bahkan sampai
kepada sistem ejaannya. Memang ada sebagian kecil ummat Islam penghafal
Al Quran, namun mereka itupun tetap memerlukan Al Quran yang tertulis.
Ustadz Drs H. Hasnawi Marjuni, guru Pesantren Putera Pendidikan Al
Quran, IMMIM Tamalanrea, penghafal Al Quran, setiap hari menyediakan
waktu khusus untuk upaya tetap dapat memelihara hafalannya, dan untuk
itu ia memerlukan Al Quran yang tertulis.
Pesan yang disampaikan dapat pula berubah dari maknanya yang asal,
apabila pesan itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Itulah
sebabnya diharuskan jika orang menuliskan terjemahan ayat Al Quran,
hendaklah senantiasa menyertakan kutipan ayat dalam wujud bahasa aslinya
yang otentik, yaitu bahasa Al Quran. Hal ini sangat penting untuk
dapat mengetahui apabila terjadi perubahan makna dalam terjemahan
itu.
Seperti misalnya dalam terjemahan Al Quran yang dikeluarkan oleh Departemen
Agama. Dengan segera tampak kesalahan terjemahan S. Baniy Isra-iyl,1:
al Bashiyr diterjemahkan dengan Maha Mengetahui, semestinya Maha Melihat.
S.Al Anbiya-,33: Kullun fiy Falakin Yasbahuwna, diterjemahkan dengan
masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. Terjemahan
itu menambah materi, yaitu menyisipkan penggalan kalimat: dari keduanya
itu. Yasbahuwna, bentuknya jama', sehingga fa'il (pelaku, subyek)
jumlahnya tiga ke atas. Seperti diketahui dalam bahasa Arab terdapat
3 tingkat ordinal
dalam hal jumlah, yaitu: mufrad-mutsanna-jama', (tunggal, dual, jamak).
Tidak seperti dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman yang hanya mempunyai
2 tingkat: singular-plural (Inggeris), enkelvoud-meervoud (Belanda).
Penambahan embel-embel sisipan dari keduanya itu dalam terjemahan,
merupakan suatu kesalahan oleh karena 2 tidak termasuk dalam rentang
(range) 3 ke atas. Tanpa menyertakan ayat yang asli pada terjemahan
tidaklah akan dapat ketahui terjadinya penyisipan yang salah.
Hendaknya Departem Agama Republik Indonesia yang bertanggung jawab
atas publikasi Al Quran dan Terjemahannya membetulkan terjemahan Al
Bashiyr dan membuang sisipan dari keduanya itu! Menuliskan kutipan
ayat sebaiknya dalam huruf aslinya. Namun jikalau terbentur dalam
kesulitan teknis, maka dipakailah huruf Latin dengan mengikuti sistem
ejaannya, seperti misalnya Dza-lika lKita-bu, bukan Dzalikal Kitabu.
*** Makassar, 16 Oktober 1994
[H.Muh.Abdurrahman]
|
|