| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Tersebutlah
seorang teknisi yang membuat ujicoba yang mubadzdzir. Ia melihat gampangnya
saja. Ia merasa sudah cukup dengan melihat data input tekanan fluida
kerja dan data daya output yang dikonversikan oleh sebuah turbin air.
Ia kemudian membuat turbin uap dengan data input dan output yang sama
dengan data input dan output pada turbin air itu. Ia mempergunakan
material turbin uap yang sama dengan material turbin air itu, sebab
ia pikir data input dan outputnya sudah sama.
Apa yang terjadi, setiap selesai membuat turbin uap kemudian mengadakan
ujicoba, hasilnya selalu gagal, sudu-sudunya patah menyusul porosnyapun
patah. Apabila konstruksi turbin uap yang demikian itu disodorkan
kepada seorang yang mengerti, yaitu sarjana teknik mesin, ia tidak
akan mau mengadakan ujicoba. Kalau sarjana teknik mesin itu tahu sedikit
tentang sastera, ia akan
mengatakan:
Arang habis, besi binasa.
Tukang bekerja, penat saja. Atau dengan bahasa Al Quran: Mubadzdzir.
Ini dilarang Allah:
.....wa la- Tubadzdzir Tabdziyran, ..... dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(tenaga, pikiran dan dana) secara boros (S.Isra-,26).
Mengapa ujicoba itu selalu gagal? Ada dua kondisi yang luput dari
pemikiran sang teknisi. Pertama, turbin uap itu akan mengalami tegangan
termal (thermal stress), sedangkan pada turbin air tidak, oleh karena
keduanya beroperasi dalam kondisi suhu yang berbeda. Yang kedua, putaran
poros turbin air rendah, pada turbin uap tinggi, sehingga kondisi
berputar poros turbin air
tidak dalam daerah putaran kritis, jadi tidak akan patah. Sedangkan
perputaran poros turbin uap berada dalam daerah putaran kritis, maka
patahlah poros itu.
***
Nilai mutlak bersumber dari Yang Maha Mutlak. Nilai relatif bersumber
dari akal budi manusia yang disebut nilai budaya. Setiap bangsa mempunyai
nilai budaya sendiri. Dalam rentang waktu yang lama nilai budaya itu
itu berproses berkristal menjadi nilai utama. Nilai utama itu diperkaya
dengan nilai-nilai instrumental dan nilai-nilai operasional.
Nilai-nilai instrumental lebih diarahkan ke dalam, yaitu diambil dari
nilai-nilai budaya daerah. Seumpama nilai siri' sangat berguna dijadikan
sebagai nilai instrumental dari kemanusiaan dan nilai pacce menjadi
nilai instrumental untuk persatuan bangsa.
Nilai-nilai operasional lebih diarahkan keluar, diambil dari negara-negara
maju, seumpama nilai operasional kinerja (performance) dalam organisasi
dan teknologi. Salah satu jenis nilai kinerja dalam organisasi ialah
lima hari kerja. Oleh karena nilai kinerja itu diambil dari luar,
maka belumlah tentu sesuai benar dengan kondisi kita. Maka haruslah
diujicoba dahulu.
Namun dalam hal ujicoba lima hari kerja di bidang pendidikan tidak
ubahnya dengan perumpamaan di atas: turbin air dan turbin uap. Ujicoba
lima hari kerja di bidang pendidikan yang dijalankan sekarang, ternyata
tanpa perhitungan cermat lebih dahulu, ibarat ujicoba yang dikerjakan
oleh sang teknisi di atas tadi. Anak-anak didik itu tak ubahnya sebagai
material pada turbin itu. Yaitu anak-anak didik pada negara maju ibarat
material pada turbin air. Anak-anak didik kita ibarat material pada
turbin uap. Anak-anak didik kita mengalami thermal stress, karena
ruang belajarnya tidak ber-AC. Anak-anak didik kita ibarat poros turbin
uap yang putarannya tinggi, intensitas belajarnya menjadi 8 + 2 jam
sehari, jadi memikul beban yang lebih berat ketimbang rekan-rekannya
di negara maju. Mengapa? Sehabis sekolah mereka masuk Madrasah Diniyah,
atau sekurang-kurangnya belajar mengaji Al Quran, ataupun membantu
orang tuanya mencari nafkah. Ibarat turbin uap yang patah porosnya,
anak-anak kita akan berhenti masuk Madrasah Diniyah, atau berhenti
mengaji, atau berhenti membantu orang tuanya mencari nafkah. Tanpa
ujicoba kita sudah
dapat memperhitungkan, turbin uap itu akan patah porosnya!
Maka sesungguhnya tidaklah perlu mengadakan ujicoba, seperti sikap
sarjana teknik mesin yang disodorkan padanya turbin uap dengan material
yang sama dengan turbin air. Sebab insya Allah akan gagal, seperti
gagalnya ujicoba yang dikerjakan oleh teknisi di atas itu. Ujicoba
baru ada artinya apabila diadakan pengkondisian lebih dahulu: Ruangan
belajar yang sejuk dan kurikulum sekolah negeri yang dapat menampung
apa yang telah diberikan oleh Madrasah Diniyah, atau oleh guru-guru
mengaji.
Mampukah kita menjadikan semua ruang belajar anak-anak kita ber-AC?
Mampukah kita menampung di dalam kurikulum sekolah negeri apa yang
dapat diberikan oleh Madrasah Diniyah dan guru-guru mengaji itu dalam
rentang waktu lima hari kerja, untuk dapat menempa anak-anak didik
kita menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas seperti yang dikehendaki
oleh tujuan pendidikan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, yaitu
manusia yang bertaqwa?
Kita bergembira membaca di koran (Fajar, 19 Oktober 1994, halaman
5) dengan judul berita: Ujicoba Lima Hari Sekolah Dihentikan. Kakandep
Dikbud Terima Telepon Kakanwil dan Laporan dari Sekolah. AlhamduliLlah,
ujicoba yang menguras tenaga, pikiran dan dana ekstra dari orang tua
murid untuk ongkos makan siang telah dihentikan. Sebab menguras tenaga,
pikiran dan dana untuk hal yang sebenarnya tidak perlu, termasuk Tubadzdzir
Tabdziyran.
*** Makassar, 23 Oktober 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|