| WAHYU
DAN AKAL - IMAN DAN ILMU Kolum tetap harian fajar - 203
|
|||||||||||||||
|
Burung dan Semut |
|||||||||||||||
| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM Syahdan, tersebutlah konon Nabi Sulaiman AS ingin berangin-angin dalam tamannya. Tatkala beliau baru saja akan melangkahkan kakinya di ambang pintu, beliau tertegun sejenak. Di atas bubungan tangga istana terdengar olehnya dua ekor burung sedang bersilat kata. Dua ekor burung, burung besar (BB) dan burung kecil (BK). Inilah silat kata yang sempat terdengar oleh Nabi Sulaiman AS di ambang pintu.
BB: Kasihan badanmu sekecil itu. Belum sempat BB menyuruh BK membuktikan kata-katanya, Nabi Sulaiman AS melangkah keluar memperlihatkan dirinya, kemudian beliau memanggil kedua burung itu. Ternyata burung besar pengecut, ia terbang menjauh. Burung kecil datang dan hinggap di bahu Nabi Sulaiman AS. NS: Betulkah engkau dapat merubuhkan istana beta? BK: Mana mungkin tuanku, patik cuma menggertak saja. BB itu tidak memandang sebelah mata kepada patik.
NS: Tidak terpikir olehmu BB memintamu membuktikan kata-katamu? Nabi Sulaiman AS tersenyum, mengelus-elus kepala BK, kemudian beliau menyuruhnya pergi terbang. BB memperhatikan dari jauh. Setelah BK hinggap di ranting pada pohon tempat BB bertengger, BB datang mendekat.
BB: Apa yang kau percakapkan dengan Nabi Sulaiman? Arkian, Nabi Sulaiman AS meneruskan langkah menuju pohon rindang, lalu duduk pada bangku. Tangannya menggenggam sekepal gandum untuk burung dara. Sebutir gandum jatuh dari tangannya. Beliau sempat memperhatikan sebutir gandum itu bergerak. Seekor semut (Sm) menyeret sebutir gandum itu menuju sarangnya.
NS: Hai semut, dengan gandum segenggam ini berapa lama engkau habiskan? Hatta, setelah selang setahun berlangsung kesepakatan itu, maka Nabi Sulaiman AS datang ke sarang semut itu lalu membukanya. Ternyata semut masih hidup, masih ada gandum yang tersisa.
NS: Hai semut, beta lihat masih ada gandum tersisa tidak kau habiskan. Itulah salah satu dari beberapa cerita-cerita yang yang dikisahkan nenek saya menjelang tidur semasa kecil yang masih sempat saya rekam dalam ingatan saya. Barulah kelak kemudian hari saya tahu bahwa itu adalah cerita-cerita Israiliyat. Walaupun itu hanya cerita-cerita Israiliyat, akhirnya saya menyadari bahwa cerita-cerita Israiliyat, dan dongeng-dongeng pada umumnya tampaknya komunikatif bagi pendidikan anak-anak. Mereka anak-anak kecil itu dapat menangkap muatan nilai dalam cerita-cerita itu. Sehabis nenek bercerita seperti cerita di atas misalnya, maka saya membayangkan diri saya seperti Nabi Sulaiman AS yang menyayangi binatang, memperhatikan binatang sampai kepada binatang yang sekecil semutpun. Saya membayangkan diri seperti burung kecil itu, tidak merasa rendah diri kepada yang lebih besar, tidak merasa takut namun penuh hormat kepada orang besar. Membayangkan diri seperti semut itu, bagaimana cara berhemat, tegar tidak berputus asa. Bersikap hormat dalam bertutur-sapa, tetapi berani menggurui Nabi Sulaiman AS, bahawa walaupun beliau itu seorang Nabi, tetapi bukanlah dan tidak boleh disamakan dengan Allah, tidak boleh mempertuhankan seorang Nabi. Sehingga kelak kemudian hari terasa gampang menghayati dan mendalami penjelasan guru mengaji saya tentang makna: Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahadun (S.Al Ikhla-sh, 4). Dan tidak ada suatupun yang seperti Dia (112:4). Cerita-cerita Israiliyat itu yang pada mulanya hanya untuk anak-anak, kemudian diperluas sebagai cerita-cerita penglipur lara, bahkan diperluas lebih lanjut untuk konsumsi bagi para ibu di majelis-majelis ta'lim. 'Ala kulli hal, pada sisi lain perlu dipertanyakan benarkah dalam kejadian sesungguhnya Nabi Sulaiman AS dapat bercakap-cakap dengan burung dan semut? Untuk menjawab pertanyaan itu pembahasan akan dilanjutkan nanti Insya-Allah hari Ahad yang akan datang. WaLlahu A'lamu bi shShawab. *** Makassar, 19 November 1995 [H.Muh.Nur Abdurrahman] |
||||||||||||||
| hmna | |||||||||||||||
| hak cipta terpelihara HMNA |
|||||||||||||||