WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU Kolum tetap harian fajar - 205
Apakah dalam Kejadian Sesungguhnya Nabi Sulaiman AS Dapat Bercakap-cakap dengan Burung dan Semut?
 
 
 
 
 

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

Saya akan membahas pertanyaan dalam judul di atas untuk memenuhi janji saya dalam seri 203 dua pekan yang lalu. Pembahasan dimulai dengan mengemukakan enam ayat dalam S. AnNaml:
Wa Qa-la Ya-ayyuha- nNa-su 'Ullimna- Manthiqa thThayri. Berkata (Sulaiman): hai manusia, telah diajarkan kepada kami logika burung (27:16).
Wa Husyira liSulaimana Junuwduhu mina lJinni wa lInsi wa thThayri Fahum Yuwza'uwna. Dan telah berkumpul bersama Sulaiman pasukannya yang terdiri dari jin, manusia dan burung-burung dalam formasi tempur (22:17).
Hattay idza- Ataw 'alay Wa-di nNamli Qa-lat Namlatun Ya-ayyuha- nNamlu Dkhuluw Masa-kinakum. Sehingga tatkala mereka sampai ke lembah "semut", berkata "seekor semut", hai "semut" masuklah ke dalam tempat tinggalmu (27:18).
Fatabassama Dha-hikan min Qawliha-. Maka (Sulaiman) tersenyum oleh ucapan ("semut") itu (27:19).
Faqa-la Ahatthu Bima- Lam Tuhith Bihi wa Ji'tuka min Sabain binabain Yaqiynin. Maka berkata (Hudhud): saya meliput apa yang engkau tidak liput dan saya sampaikan kepadamu informasi yang meyakinkan dari Saba (27:22).
Qa-la Sananzhuru Ashadaqta Am Kunta mina lKa-dzibiyna. Berkata (Suliman): Akan kami perhatikan apakah benar katamu atau engkau dusta (27:27).
Ada dua pendapat.
Pendapat yang pertama yaitu pendapat jumhur (main stream) mufassirin (para ahli tafsir). Mereka menafsirkan bahwa Manthiqu thThayri adalah bahasa burung. Mereka menafsirkan Wa-di nNamli, Namlah dan Ya-ayyuha- nNamlu dengan lembah semut, raja semut dan hai sekalian semut (Mahmud Yunus), Valley of the Ants, an ant dan o, ants (Muhammad Marmaduke Pikckthall). Mengenai Hud-hud jumhur mufassirin berpendapat bahwa itu betul-betul burung, salah seekor pengintai dari pasukan burung. Kesimpulannya jumhur mufassirin berpendapat bahwa dalam kejadian sesungguhnya Nabi Sulaiman AS betul-betul bercakap-cakap dengan burung. Perlu dicatat bahwa ayat 19 hanya menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman AS tersenyum mendengarkan semut itu berbicara kepada sesamanya semut, artinya Nabi Sulaiman AS tidaklah bercakap-cakap dengan semut.

Pendapat kedua dari kalangan mufassirin pencilan, yang pendapatnya terpencil, tersendiri, tidak masuk dalam pendapat kelompok besar. Guru saya Allahu Yarham DR S.Majidi termasuk di antaranya. Perihal pasukan Nabi Sulaiman AS yang terdiri atas jin, manusia dan burung, saya ingat betul ucapan almarhum kepada ketiga orang muridnya dimulai dengan kalimat tanya: Apa Pasukan Garuda yang dikirim Pemerintah RI ke Kongo terdiri atas burung, paham? Pada waktu itu di Kongo sedang terjadi perang saudara, dan Pemerintah RI mengirimkan pasukan perdamaian ke sana, yaitu Pasukan Garuda. Menurut almarhum pasukan burung Nabi Sulaiman AS adalah kavaleri. Adapun ketiga murid almarhum tersebut adalah: Prof.DR H.A Rahman Rahim (mantan atase kebudayaan RI di Arab Saudi), Prof.DR H.Halide (atase kebudayaan RI di Arab Saudi) dan saya sendiri. Ada pula yang menafsirkan pasukan burung adalah regu-regu yang membawa burung untuk komunikasi. Perintah dari induk pasukan ataupun laporan ke induk pasukan diikatkan pada kaki burung.

Almarhum menjelaskan bahwa kata-kata yang dibentuk oleh huruf-huruf jim, nun, nun, mempunyai pengertian terlindung, terhalang, terisolasi dan terasing. Jinn adalah makhluk yang tidak kelihatan, terlindung dari pandangan mata manusia, dan dapat pula berarti suku terasing. Jannah, taman, adalah tempat yang terlindung dari matahari oleh bayangan pohon, mujannah, perisai, penghalang dari tebasan musuh, janin, bayi yang masih terlindung dalam rahim ibu, majnun, orang gila, orang yang pikirannya kabur seakan-akan terhalang oleh kabut, tidak dapat membedakan antara bayangan dengan kenyataan.

Adapun jin dari pasukan Nabi Sulaiman AS, bukanlah jin dalam pengertian yang pertama, oleh karena kalau begitu menurut almarhum yang diperlukan tidak usah sepasukan, cukup sejin saja (tentu tidak benar kalau dikatakan seorang jin). Menurut penafsiran pencilan ini, yang dimaksud dengan pasukan jin Nabi Sulaiman AS adalah legiun asing. Dapat pula berarti mata-mata atau semacam pasukan kolone ke-5, yaitu tentara yang terlindung dari penglihatan musuh karena tidak berpakaian seragam untuk penyamaran.

Nabi Sulaiman AS mengerti mantiq burung, yakni memahami makna kicau, gerak-gerik dan perangai serta kebiasaan burung. Sekarang ini ada sebuah disiplin ilmu yang disebut ethology (jangan dikacaukan dengan ecology), yaitu ilmu yang berhubungan dengan perangai binatang (animal behavior), terutama yang berhubungan dengan habitatnya.

Almarhum selanjutnya berpendapat bahwa "semut" dalam ayat 18 dan 19 yang dikutip di atas itu, bukanlah semut yang sebenarnya, akan tetapi manusia biasa dari "puak semut". Berikut dikemukakan dua terjemahan pencilan dari anNaml:
- M.H.Syakir dari World Organization For Islamic Services (WOFIS), Tehran, Iran, dalam tafsirnya menterjemahkan the valley of the Naml, a Namlite dan O Naml. Dari tafsir Maulana Muhammad Ali, Pakistan, Soedewo menterjemahkan de vallei van den Naml, een Namliet dan O Naml.

Dari kedua terjemahan itu Naml tidak diterjemahkan. Sedangkan Namlah diterjemahkan dengan a Namlite (Inggeris) dan een Namliet (Belanda), seorang Namlit. AnNaml bukanlah nama spesi binatang melainkan nama diri dari suatu puak atau suku.

Itulah tiga orang mufassirin pencilan, dari Indonesia (SM), dari Pakistan (MMA) dan dari Iran (MHS), yang pendapat mereka memencil dari jumhur mufassirin.

***

Qa-lat Namlatun Ya-ayyuha- nNamlu Dkhuluw Masa-kinakum.

AL NML => tunggal, (mufrad, singular)
ADKHLWA => jamak (jama', plural)
MSAKNKM => jamak (jama', plural)

Kalau AL NML dianggap betul-betul semut, maka orang akan menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke bahasa lain yang mengenal pembedaan bentuk kata tunggal (mufrad, singular) dengan jamak (jama', plural), yaitu seperti berikut:

an ant said: O, ant, enter your dwellings. Maka perhatikan ant itu tunggal, ADKHLWA dan MSAKNKM adalah jamak. Sayang dalam bahasa Inggris orang tidak membedakan dalam bentuk imperative singular dengan plural, tetap enter, tetapi dalam bahasa Arab dibedakan ADKHL (tunggal) dengan ADKHLWA (jamak).

Untuk mengelakkan kesalahan gramatikal, apabila anNamlu dianggap betul-betul semut, maka Mohammed Marmaduke Pikthall menterjemahkannya dengan:

an ant exlaimed, O ants! Enter your dwellings. Jadi M.M.Pikthall "terpaksa" menjamakkan ants untuk menyesuaikannya dengan dwellings (Masa-kinakum). Maka akibat mengelakkan kesalahan gramatikal, ia salah dengan menjamakkan ants yang sesungguhnya tunggal (mufrad), yaitu anNamlu.

Akan tetapi jika anNamlu difahamkan sebagai nama diri (a proper name) dari sebuah puak, yaitu puak Semut, maka ayat itu terjemahannya, sebagaimana diterjemahkan oleh M.H.Shakir, Iran, seperti berikut:

a Namlite said: O Naml ! enter your houses.

Kesimpulannya: Jika dianggap anNamlu itu betul-betul semut, maka orang akan tertumbuk pada kesulitan gramatikal dalam menterjemahkan ayat itu kedalam bahasa yang mengenal pembedaan bentuk kata yang singular dengan piural. Kalau difahamkan anNamlu adalah nama diri dari suatu puak bangsa manusia, yaitu puak Semut, maka itu maa fi lmas.alah, no problem, tidak ada kesulitan gramatikal, sebab walaupun anNamlu itu singular, sesungguhnya ia plural, sekelompok bangsa manusia yang mengelompokkan diri dalam sebuah qaum, yaitu mereka namakan dirinya puak Semut.

***

Dari penafsiran yang jumhur, bahwa anNamlu itu betul-betul semut, dikembangkanlah menjadi karya sastra, yaitu imajinasi berupa cerita-cerita Israiliyat. Tujuannya semula untuk menyampaikan pesan nilai, mendidik anak-anak, yang kemudian melebar menjadi cerita-cerita penglipur lara, yang umumnya disenangi ibu-ibu dalam majlis ta'lim. WaLlahu A'lamu bi shShawab.

*** Makassar, 3 Desember 1995 [H.Muh.Nur Abdurrahman]

 
hmna

hak cipta terpelihara HMNA