| WAHYU
DAN AKAL - IMAN DAN ILMU Kolum tetap harian fajar - 205
|
|||||||||||||||
|
Apakah dalam Kejadian Sesungguhnya Nabi Sulaiman AS Dapat Bercakap-cakap
dengan Burung dan Semut? |
|||||||||||||||
| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM Saya
akan membahas pertanyaan dalam judul di atas untuk memenuhi janji
saya dalam seri 203 dua pekan yang lalu. Pembahasan dimulai dengan
mengemukakan enam ayat dalam S. AnNaml: Pendapat kedua dari kalangan mufassirin pencilan, yang pendapatnya terpencil, tersendiri, tidak masuk dalam pendapat kelompok besar. Guru saya Allahu Yarham DR S.Majidi termasuk di antaranya. Perihal pasukan Nabi Sulaiman AS yang terdiri atas jin, manusia dan burung, saya ingat betul ucapan almarhum kepada ketiga orang muridnya dimulai dengan kalimat tanya: Apa Pasukan Garuda yang dikirim Pemerintah RI ke Kongo terdiri atas burung, paham? Pada waktu itu di Kongo sedang terjadi perang saudara, dan Pemerintah RI mengirimkan pasukan perdamaian ke sana, yaitu Pasukan Garuda. Menurut almarhum pasukan burung Nabi Sulaiman AS adalah kavaleri. Adapun ketiga murid almarhum tersebut adalah: Prof.DR H.A Rahman Rahim (mantan atase kebudayaan RI di Arab Saudi), Prof.DR H.Halide (atase kebudayaan RI di Arab Saudi) dan saya sendiri. Ada pula yang menafsirkan pasukan burung adalah regu-regu yang membawa burung untuk komunikasi. Perintah dari induk pasukan ataupun laporan ke induk pasukan diikatkan pada kaki burung. Almarhum menjelaskan bahwa kata-kata yang dibentuk oleh huruf-huruf jim, nun, nun, mempunyai pengertian terlindung, terhalang, terisolasi dan terasing. Jinn adalah makhluk yang tidak kelihatan, terlindung dari pandangan mata manusia, dan dapat pula berarti suku terasing. Jannah, taman, adalah tempat yang terlindung dari matahari oleh bayangan pohon, mujannah, perisai, penghalang dari tebasan musuh, janin, bayi yang masih terlindung dalam rahim ibu, majnun, orang gila, orang yang pikirannya kabur seakan-akan terhalang oleh kabut, tidak dapat membedakan antara bayangan dengan kenyataan. Adapun jin dari pasukan Nabi Sulaiman AS, bukanlah jin dalam pengertian yang pertama, oleh karena kalau begitu menurut almarhum yang diperlukan tidak usah sepasukan, cukup sejin saja (tentu tidak benar kalau dikatakan seorang jin). Menurut penafsiran pencilan ini, yang dimaksud dengan pasukan jin Nabi Sulaiman AS adalah legiun asing. Dapat pula berarti mata-mata atau semacam pasukan kolone ke-5, yaitu tentara yang terlindung dari penglihatan musuh karena tidak berpakaian seragam untuk penyamaran. Nabi Sulaiman AS mengerti mantiq burung, yakni memahami makna kicau, gerak-gerik dan perangai serta kebiasaan burung. Sekarang ini ada sebuah disiplin ilmu yang disebut ethology (jangan dikacaukan dengan ecology), yaitu ilmu yang berhubungan dengan perangai binatang (animal behavior), terutama yang berhubungan dengan habitatnya.
Almarhum selanjutnya berpendapat bahwa "semut" dalam ayat
18 dan 19 yang dikutip di atas itu, bukanlah semut yang sebenarnya,
akan tetapi manusia biasa dari "puak semut". Berikut dikemukakan
dua terjemahan pencilan dari anNaml: Dari kedua terjemahan itu Naml tidak diterjemahkan. Sedangkan Namlah diterjemahkan dengan a Namlite (Inggeris) dan een Namliet (Belanda), seorang Namlit. AnNaml bukanlah nama spesi binatang melainkan nama diri dari suatu puak atau suku. Itulah tiga orang mufassirin pencilan, dari Indonesia (SM), dari Pakistan (MMA) dan dari Iran (MHS), yang pendapat mereka memencil dari jumhur mufassirin. *** Qa-lat Namlatun Ya-ayyuha- nNamlu Dkhuluw Masa-kinakum.
AL NML => tunggal, (mufrad, singular) Kalau AL NML dianggap betul-betul semut, maka orang akan menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke bahasa lain yang mengenal pembedaan bentuk kata tunggal (mufrad, singular) dengan jamak (jama', plural), yaitu seperti berikut: an ant said: O, ant, enter your dwellings. Maka perhatikan ant itu tunggal, ADKHLWA dan MSAKNKM adalah jamak. Sayang dalam bahasa Inggris orang tidak membedakan dalam bentuk imperative singular dengan plural, tetap enter, tetapi dalam bahasa Arab dibedakan ADKHL (tunggal) dengan ADKHLWA (jamak). Untuk mengelakkan kesalahan gramatikal, apabila anNamlu dianggap betul-betul semut, maka Mohammed Marmaduke Pikthall menterjemahkannya dengan: an ant exlaimed, O ants! Enter your dwellings. Jadi M.M.Pikthall "terpaksa" menjamakkan ants untuk menyesuaikannya dengan dwellings (Masa-kinakum). Maka akibat mengelakkan kesalahan gramatikal, ia salah dengan menjamakkan ants yang sesungguhnya tunggal (mufrad), yaitu anNamlu. Akan tetapi jika anNamlu difahamkan sebagai nama diri (a proper name) dari sebuah puak, yaitu puak Semut, maka ayat itu terjemahannya, sebagaimana diterjemahkan oleh M.H.Shakir, Iran, seperti berikut: a Namlite said: O Naml ! enter your houses. Kesimpulannya: Jika dianggap anNamlu itu betul-betul semut, maka orang akan tertumbuk pada kesulitan gramatikal dalam menterjemahkan ayat itu kedalam bahasa yang mengenal pembedaan bentuk kata yang singular dengan piural. Kalau difahamkan anNamlu adalah nama diri dari suatu puak bangsa manusia, yaitu puak Semut, maka itu maa fi lmas.alah, no problem, tidak ada kesulitan gramatikal, sebab walaupun anNamlu itu singular, sesungguhnya ia plural, sekelompok bangsa manusia yang mengelompokkan diri dalam sebuah qaum, yaitu mereka namakan dirinya puak Semut. *** Dari penafsiran yang jumhur, bahwa anNamlu itu betul-betul semut, dikembangkanlah menjadi karya sastra, yaitu imajinasi berupa cerita-cerita Israiliyat. Tujuannya semula untuk menyampaikan pesan nilai, mendidik anak-anak, yang kemudian melebar menjadi cerita-cerita penglipur lara, yang umumnya disenangi ibu-ibu dalam majlis ta'lim. WaLlahu A'lamu bi shShawab. *** Makassar, 3 Desember 1995 [H.Muh.Nur Abdurrahman] |
||||||||||||||
| hmna | |||||||||||||||
| hak cipta terpelihara HMNA |
|||||||||||||||