| WAHYU
DAN AKAL - IMAN DAN ILMU Kolum tetap harian fajar - 212
|
|||||||||||||||
|
Menebus Dosa dan
Memahami Puasa Dengan Pendekatan Input Proses Output |
|||||||||||||||
| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM AlhamduliLlah kita dipanjangkan umur oleh Allah SWT, sehingga Insya-Allah besok kita sempat pula tiba pada tonggak sejarah perjalanan hidup kita yaitu bulan Ramadhan. Umur kita bertambah dari tahun ke tahun dan setiap tahun kita melintasi tonggak sejarah yang berwujud sebulan penuh merenungkan diri dengan Ihtisaban, introspeksi diri, seperti sabda RasuluLlahi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: Man Sha-ma Ramadha-na Iymanan waHtisa-ban Ghufiralah Ma- Taqaddama min Dzanbihi. Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan introspeksi diampuni dosanya yang lalu. Setelah meliwati bulan
Ramadhan dengan kesungguhan berpuasa dan introspeksi diri, Allah SWT
menjanjikan pengampunan dosa, sehingga setelah melampaui tonggak sejarah
itu, mereka yang Laha- Ma- Kasabat wa 'Alayh- Ma- Ktasabat (S. AlBaqarah, 286), baginya (pahala kebajikan) yang diusahakannya, dan atasnya (dosa kejahatan) yang diperbuatnya (2:286). *** Selanjutnya tulisan ini mencoba untuk memberikan pemahaman tentang puasa kepada orang-orang yang bergelimang dalam bidang-bidang ilmu-ilmu exakta. Dalam Teknik Mengatur dikenal sebuah diagram (gambar) aliran input, proses, output seperti berikut: [kalau gambarnya kocar-kacir, copy-paste ke MS Word, pakai font courier new] +--------+ Banyak sekali yang dapat dijelaskan dengan diagram di atas itu. Gambar itu menunjukkan aliran mulai dari panah masuk (input, masukan), selanjutnya kotak proses, kemudian panah keluar (output, luaran). Kalau gabah yang menjadi input, diproses oleh mesin penggiling padi, maka yang menjadi output adalah beras. Gabah itu diberi nilai tambah oleh mesin penggiling padi. Dengan teknologi penggiling padi, gabah diberi nilai tambah menjadi beras. Teknologi alu dan lesung juga dapat memberikan nilai tambah pada gabah untuk menjadi beras. Mesin penggiling padi lebih tinggi mutunya ketimbang kombinasi alu dengan lesung. Itu berarti makin canggih proses makin tinggi pula nilai tambah yang dihasilkan. Contoh itu dapat digeneralisasikan, sehingga kita
dapat memberikan pemahaman tentang teknologi yang lebih jelas. Teknologi
adalah suatu proses yang memberikan nilai tambah pada Itu dari segi lahiriyah (substantial). Sumberdaya manusia itu bukan hanya dilihat dari segi lahiriyah, akan tetapi yang lebih penting adalah dari segi ruhaniyah. Berfirman Allah SWT dalam Al Quran: Ya-ayyuha- Lladziyna Kutiba 'Alaykumu shShiya-mu Kama- Kutiba 'alay Lladziyna min Qablikum La'allakum Tattaquwna (S. AlBaqarah, 183). Hai orang-orang yang beriman telah ditetapkan atasmu berpuasa seperti telah ditetapkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa (2:183). Ada tiga kata yang kita garis bawahi, iman, puasa dan taqwa. Iman adalah input, puasa adalah proses dan taqwa adalah output, seperti diperlihatkan dalam diagram berikut: [kalau gambarnya kocar-kacir, copy-paste ke MS Word, pakai font courier new] +--------+ Iman diberi nilai tambah menjadi taqwa dengan melalui proses puasa. Artinya bertaqwa lebih tinggi nilai ruhaniahnya ketimbang beriman. Menurut Al Quran, iman adalah salah satu komponen dari taqwa: Alif, lam, mim. Dzalika lKita-bu La- Rayba Fiyhi
Hudan lilMuttaqiyna. Alladziyna Yu'minuwa bilGhaybi waYuqiymuwna
shShala-ta wa Mimma- Razaqna-hun Qunfiquwna (S. AlBaqarah, 1-3). Alif,
lam, mim. Inilah Al Kitab tidak ada keraguan di dalamnya petunjuk bagi
orang-orang taqwa. Yaitu yang beriman kepada yang Ghaib, mendirikan
shalat dan dari sebagian dari apa yang Kami Menurut ayat di atas itu
jelaslah bahwa iman, shalat dan zakat merupakan komponen-komponen yang
membentuk taqwa. Artinya taqwa mempunyai nilai ruhaniyah yang lebih
tinggi ketimbang iman. Walhasil, dalam ungkapan kalimat yang sering kita dengar: meningkatkan iman dan taqwa, kata penghubung dan harus diganti dengan untuk menjadi, sehingga ungkapan kalimat itu seharusnya menjadi: meningkatkan iman untuk menjadi taqwa. Kalaupun ingin dihubungkan kata meningkatkan dengan kata taqwa, maka dikatakanlah: Meningkatkan taqwa menjadi sebenar-benarnya taqwa, sesuai dengan ayat: Ya-ayyuha- Lladziyna Amanuw Ittaquw Llaha Haqqa Tuqa-tihi (S. Ali 'Imra-n, 102). Hai orang-orang beriman taqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa (3:102). Orang-orang beriman meningkatkan dirinya menjadi taqwa dan orang-orang bertaqwa meningkatkan dirinya menjadi sebenar-benarnya taqwa. Ungkapan sebenar-benarnya taqwa adalah penyataan kualitatif yang tidak bertepi, sebatas kemampuan manusiawi. WaLlahu A'lamu bi shShawab. *** Makassar, 21 Januari 1996[H.M.Nur Abdurrahman] |
||||||||||||||
| hmna | |||||||||||||||
| hak cipta terpelihara HMNA |
|||||||||||||||