Pada waktu saya masih
kecil saya telah mendapatkan informasi bahwa Al Quran terdiri atas 31
Juz di kalangan Syi'ah. Juga menurut keyakinan penganut Syi'ah, Jibril
sebagai pembawa wahyu dari Allah SWT, semestinya membawa wahyu itu
kepada Bagenda Ali, akan tetapi Jibril salah alamat, ia membawa wahyu
itu kepada Nabi Muhammad SAW.
Hal itu saya tanyakan kepada ayah saya dan mendapat jawaban bahwa Jibril
itu malaikat sangat tidak masuk akal jika melakukan kesalahan yang
begitu besar. Kemudian ayah saya menambahkan lagi bahwa wahyu itu ada
sebagian dengan perantaraan Jibril dan sebagian pula diterima Nabi
Muhammad SAW secara langsung. Sehingga tambah tidak masuk akal lagi jika
Jibril memang salah alamat, lalu selanjutnya wahyu yang diturunkan
secara langsung itu diubah pula alamatnya oleh Allah SWT dari Bagenda
Ali kepada Nabi Muhammad SAW, mengikuti kesalahan alamat Jibril.
SubhanaLlah, Maha Suci Allah dari pebuatan yang serupa itu.
Tentang hal Al Quran yang 31 Juz itu ayah saya menjelaskan bahwa dalam
Al Quran terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah menjaga kemurnian Al
Quran, Wa Inna- Lahu Lahafizhuwn, sehingga tidaklah mungkin dalam
kalangan Syi'ah terdapat 31 Juz. Sebab kalau demikian berarti Al Quran
sudah tidak terjaga lagi kemurniannya, berhubung sudah ada dua jenis Al
Quran, ada yang 30 Juz dan ada yang 31 Juz.
Di kemudian hari tatkala saya sudah dewasa saya sempat membaca
Mahabharata. Dewasa ini bahkan sudah pernah ditayangkan sebagai cerita
bersambung malalui televisi. Dalam cerita Mahabharata itu tersebutlah
seorang utusan dewa yang salah alamat. Dia menyerahkan bingkisan
(senjata ampuh) yang dibawanya kepada Karna, pada hal bingkisan itu
semestinya diserahkankan kepada Harjuna. Apakah cerita yang rancu
tentang Jibril yang salah alamat itu tidak bersumber dari cerita
Mahabharata ini? Perihal cerita Al Quran yang 31 Juz dalam kalangan
Syi'ah itu, di perpusatakaan pribadi saya sekarang ini ada sebuah Al
Quran terdiri atas 30 Juz, 114 Surah, cetakan Teheran, ibu kota Iran,
sebuah Negara Islam Mazhab Syi'ah Itsna 'Asyariyah.
Informasi yang saya dapatkan pada waktu anak-anak tentang hal Al Quran
yang 31 Juz, bersumber dari tangan kedua. Dikatakan dari tangan kedua
oleh karena informasi itu tentang Syi'ah yang sumbernya dari kalangan
yang bukan Syi'ah. Sedangkan informasi yang saya dapatkan sekarang yaitu
Al Quran cetakan Teheran adalah dari tangan pertama, yaitu Al Quran yang
dicetak oleh kalangan Syi'ah sendiri.
Saya pernah pula mendapatkan informasi dari tangan kedua, yaitu sebuah
informasi yang bersumber dari sebuah buku yang ditulis oleh penulis yang
bukan dari Jama'ah Tabligh mengenai Jama'ah Tabligh dalam uraian yang
cukup pendek. Dalam buku itu diinformasikan bahwa golongan Jama'ah
Tabligh dalam shalat tidak membaca Al Fatihah. Sepintas lalu kelihatan
rasa-rasanya informasi itu mengandung kebenaran, oleh karena anggota
Jama'ah ini kalau datang di mesjid tidak bersedia menjadi imam shalat.
Bahwa ketidak sediaan menjadi imam itu boleh jadi dengan tujuan untuk
menyembunyikan, bahwa mereka itu tidak membaca Al Fatihah. Karena sumber
informasi tentang tidak membaca Al Fatihah itu bersumber dari tangan
kedua, maka tentu lebih bijak untuk memperoleh informasi dari tangan
pertama. Pada waktu ada rombongan Jama'ah Tabligh dari Pakistan
berkunjung ke Masjid Syura bersilaturrahim, tatkala tiba waktu shalat
'Isya, saya persilakan ketua rombongan menjadi imam. Pada mulanya ia
menolak, akan tetapi akhirnya ia maju ke depan menjadi imam. Dan ia
membaca Al Fatihah. Jadi menurut apa yang disaksikan sesungguhnya dari
tangan pertama, anggota Jama'ah Tabligh membaca Al Fatihah dalam shalat.
Tentulah tidak wajar kita bersikap curiga bahwa orang Pakistan itu
terpaksa membaca Al Fatihah karena menjadi imam. Suatu hal yang mustahil
mereka yang menzakatkan waktunya untuk pergi berda'wah antar negara akan
main-main dengan shalat.
Coba dibayangkan membaca tentang ajaran Islam dari buku yang ditulis
oleh orientalis yang bukan Islam. Saya pernah mempunyai buku Pelajaran
Agama Islam yang ditulis oleh Kramer. Saya katakan pernah, karena buku
itu sekarang sudah tidak ada pada saya. Buku itu dipinjam oleh paman
saya, kemudian dibakar olehnya. Paman saya itu marah kepada saya, buat
apa buku semacam itu disimpan-simpan, bagaimana kelak jika beristeri apa
pula kalau sudah mempunyai anak (saya waktu itu masih bujang) lalu
mereka mebacanya. Banyak kesalahan terdapat di dalamnya dari yang kecil
sampai yang besar. Kesalahan besar dari buku itu menaikkan amarah orang
Islam yang membacanya, sehingga tidak perlu saya kemukakan di sini
kesalahan besar itu. Yang saya kemukakan hanya sebuah contoh kesalahan
yang terhitung paling kecil dalam buku itu. Bahwa kata Islam berasal
dari Isa, Subuh, Lohor, Asar, Magrib. Sedangkan hurufnya saja sudah
salah, hanya M dari Maghrib yang benar, yang lain salah semua. Isa bukan
alif melainkan 'ain, Subuh bukan sin melainkan shad, Lohor bukan lam
melainkan Zha dan Asar bukan alif dan sin melainkan 'ain dan shad.
Menulisnya saja sudah salah, apatah pula terlebih lagi arti dari Islam
itu sudah sangat jauh menyimpang dari arti yang sesungguhnya.
Sumber Rujukan Informasi dari tangan pertama sangatlah penting untuk
mendapatkan kesimpulan yang proporsional. Kalau mau mengetahui tentang
Islam, maka sumber rujukannya adalah nash, yaitu Al Quran dan Hadits
Shahih. Kalau mau mengetahui tentang pemahaman Ahlu Sunnah bacalah
tulisan ulama-ulama besar dari golongan Ahlu Sunnah. Kalau mau
mengetahui faham Mu'tazilah bacalah pendapat yang dikemukakan oleh
ulama-ulama besar golongan Mu'tazilah. Kalau mau tahu tentang pemahaman
Syi'ah bacalah tulisan ulama-ulama besar Syi'ah. Dengan demikian
timbullah rasa saling menghargai antara satu golongan dengan golongan
yang lain, terhindarlah sikap curiga antara satu dengan yang lain,
sehingga terbinalah rasa Ukhuwah Islamiyah, rasa persaudaraan
berdasarkan ajaran Islam dalam kalangan Ummat Islam sedunia. WaLlahu
a'lamu bishshawab.