| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Orang sekarang, utamanya para remaja mempunyai idola. Bahkan ada
beberapa psikolog yang berpendapat bahwa orang pada umumnya dan remaja
khususnya memerlukan seseorang sebagai idolanya untuk menimbulkan
motivasi baginya untuk meniru idolanya itu. Generasi saya sewaktu masih
remaja dahulu belum mengenal apa yang disebut idola ini. Paling-paling
yang ada adalah bintang faforit, bintang kesayangan, apakah itu bintang
ilmuan, bintang olah raga, bintang film dan bintang-bintang yang lain.
Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu dalam suatu diskusi di Islamic
Centre (IMMIM), Husni Jamaluddin pernah pula menyatakan bahwa sewaktu
remajanya tidak ada yang disebut idola-idolaan. Yang ada ialah Nabi
Muhammad SAW yang dijadikan tokoh panutan.
Sesungguhnya apa yang disebut idola itu? Kata asalnya dari idol, berasal
dari bahasa Inggeris, yang berarti: an image as a statue or other
material object, worshiped as a deity, patung berhala atau obyek materi
yang lain yang disembah sebagai tuhan, dan di dalam Bible kata idol
berarti: a deity other than God, tuhan selain Allah. Idolater berarti: a
worshiper of idols, hero worshiper, penyembah patung-patung berhala,
penyembah pahlawan. Oleh sebab itu pendapat para psikolog yang
mengatakan para remaja perlu mempunyai idola, dan trendi para remaja
yang memuja orang yang di-"image"-kan sebagai idolanya perlu diluruskan,
karena ini menyangkut aqidah.
Salah satu thema sentral ceramah-ceramah Mawlid atau Mawlud Nabi
Muhammad SAW adalah ayat:
Laqad Ka-na Lakum fiy RasuwliLlahi Uswatun Hasanatun (S. Al Ahza-b, 21),
sesungguhnya pada Rasul Allah adalah ikutan yang baik bagimu (33:21).
(Catatan: di atas dituliskan Mawlid atau Mawlud, artinya kata Mawlid
tidak sama betul pengertiannya dengan Mawlud. Di mana dan bilamana
mawlidnya? Siapa yang mawlud?)
Jadi para remaja kita itu janganlah meng-"image"-kan orang sebagai
idolanya (baca berhala dalam wujud orang), melainkan jadikanlah
RasuluLlah SAW sebagai ikutan atau panutannya. Bahkan RasuluLlah SAW
tidak boleh dipuja sebagai idola. Untuk menghindarkan RasuluLlah SAW
diangkat menjadi idola, maka di belakang RasuluLlah SAW selalu ditambah
ucapan salawat atas beliau: ShallaLlahu 'Alayhi wa Sallam (SAW), salawat
dan salam atasnya. Mengucapkan salawat atas Nabi Muhammad SAW adalah
perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman. Perintah Allah SWT ini
sifatnya unik, karena Allah SWT melakukan sendiri dahulu, baru
memerintahkan kepada hambaNya untuk melakukannya pula: InnaLlaha wa
Malaikatahu Yusalluwna 'Alay nNabi. Ya-ayyuha- Lladziyna A-manuw Shalluw
'Alayhi, sesungguhnya Allah dan para malaikatya salawat atas Nabi. Hai
orang-orang beriman salawatlah atasnya. Pahala shalawat kita limpahkan
atas Nabi Muhammad SAW, namun karena RasuluLlah saw ibarat "bejana" yang
penuh dengan pahala, maka pahala yang kita limpahkan atas beliau,
akhirnya terpantul kepada kita kembali. Jadi ada dua manfaat yang kita
petik, pertama kita mendapatkan pantulan pahala yang kembali kepada kita
dan kedua kita terhindar dari mengidolakan atau mengkultuskan beliau,
karena kita melimpahkan pahala shalawat atas beliau.
Sesungguhnya dalam hal apa kita jadikan RasuluLlah SAW sebagai panutan
seperti ayat (33:21) yang dikutip di atas itu? Yang harus kita teladani
dari Nabi Muhammad SAW adalah akhlaq beliau. Pernah seorang sahabat
bertanya kepada Sitti 'Aisyah RAmengenai akhlaq beliau. Maka Sitti
'Aisyah RA menjawab bahwa akhlaq Nabi Muhammad SAW adalah Al Quran.
Hakikat ucapan Sitti 'Aisyah RA itu adalah akhlaq RasuluLlah SAW
dibentuk oleh nama-nama Allah SAW yang terbaik, Al Asma-u lHusnay.
Berikut ini sejumlah 9 di antara 99 Al Asma-u lHusnay yang akan kita
kemukakan. (Nomor yang dituliskan di belakang ism di bawah ini adalah
nomor urutnya dalam tata-susunan asma-asma Allah yang 99 itu).
Ar Rahman, ism (no.2) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW mengasihani
hamba-hamba Allah yang lalai dengan memalingkan mereka dari jalan
kelalaian kepada jalan Allah serta membantu kesulitan-kesulitan yang
mereka hadapi.
Ar Rahiym, ism (no.3) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW suka
menolong orang-orang miskin dan bersikap belas kasihan terhadap
hamba-hamba Allah semuanya, baik yang taat maupun yang tidak taat.
Al Ghaffa-r, ism (no.15) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW
merahasiakan aib orang.
Al 'Adl, ism (no.30) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW senantiasa
adil dalam menghukum, berprilaku dan bersikap.
Al Lathiyf, ism (no.31) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW
senantiasa bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba Allah SWT, bersikap
ramah dalam menyeru kepada jalan Allah, memberi petunjuk tanpa
merendahkan, tanpa bersikap kasar dan tanpa bertengkar.
Al Haliym, ism (no.33) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW bersikap
sabar dan suka memaafkan kesalahan orang lain dan membalas kejahatan
orang dengan kebaikan.
Al 'Azhiym, ism (no.34) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW bersikap
rendah hati dan merasa selalu butuh kepada Allah SWT.
Al Syakuwr, ism (no.36) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW
senantiasa bersyukur atas ni'mat yang telah dianugerahkan Allah SWT.
Al Mujiyb, ism no.(45) ini membentuk akhlaq Nabi Muhammad SAW menyambut
segala yang diperintahkan Allah SWT, menyambut hamba-hamba Allah SWT
dengan memenuhi semua permintaan orang-orang yang meminta sesuai dengan
kemampuan beliau dari semua yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada
beliau. Dan menolak permintaan orang dengan kata-kata halus apabila
tidak mampu memenuhi permintaan orang yang minta tolong kepada beliau.
Itulah sebahagian akhlaq Nabi Muhammad dalam Al Quran yang terbentuk
oleh 9 yang kita kemukakan di antara 99 Al Asma-u lHusnay, asma-asma
Allah yang terbaik.
Hendaknya pendidikan agama atas anak-anak kita oleh guru-guru dan
dosen-dosen agama difokuskan pada menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai
teladan dari segi akhlaq. Mengarahkan terhapusnya dalam benak mereka
model trendi beridola kepada sesama manusia. Sehingga diharapkan
anak-anak remaja kita terhindar dari perbuatan negatif, seperti menyiksa
Maba, tawuran, mengekstasi, menarkotik, serta tingkah-laku negatif
lainnya. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 1
September 1996
|
|