| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Di kamar tamu
dalam rumah saya terpampang di dinding gambar Sitti Hawa sedang
berbaring berisitrahat di dalam taman, hasil sulaman isteri saya
berukuran 150 x 90 cm. Baru-baru ini seorang tamu mempermasalahkan
gambar itu, mengapa dalam taman itu terdapat tiga ekor menjangan.
Bukankah binatang tidak mempunyai ruh, sehingga di dalam surga atau
taman Firdaus tidak ada binatang? Hemat saya jawaban pertanyaan yang
saya berikan kepadanya perlu saya tulis di kolom ini supaya tersiar
lebih meluas, oleh karena memang pada umumnya orang berpendapat bahwa
Adam dan Hawa mula-mula berada dalam taman Firdus atau surga di
akhirat yang kelak akan ditempati oleh hamba-hamba Allah yang selamat.
Artinya yang mula-mula di tempati oleh kakek dan nenek kita adalam di
dalam Jannah, dan itu tidaklah di atas muka bumi ini.
Jannah, akar katanya dari tiga huruf: jim, nun, nun, yang arti
dasarnya tidak dapat ditangkap mata, terlindung, terhalang. Suatu
waktu tatkala saya masuk ke dalam rumah guru saya Allahu Yarham Al
Ustadz DR S. Majidi, waktu itu beliau masih hidup, di papan tulis
tertera tulisan jim, nun, nun dengan beberapa kata turunannya: Jinn,
Jannah, Mujannah, Janin, Majnun. Jinn artinya makhluk yang tak dapat
ditangkap oleh mata kasar, Jannah artinya tempat yang
terlindung/teduh, yaitu taman, Mujannah alat yang melindungi diri dari
tebasan pedang musuh, perisai, Janin yaitu makhluk yang akan menjadi
manusia yang masih terlindung di dalam rahim, Majnun, orang yang
pikirannya terhalang dari dunia nyata, orang gila.
Apa yang dimaksud Jannah dalam Al Quran?
Walladziyna A-manuw wa'Amiluw shShaliha-ti Ula-ika Ashha-bu lJannati
Hum Fiyha- Kha-liduwna (S. Al Baqarah 82), artinya: Orang-orang yang
beriman dan beramal salih mereka itu penghuni al Jannah, mereka kekal
di dalamnya (2:82). 'Indaha- Janntu lMa'wa- (S. AnNajm, 15), artinya:
Dan di dekatnya Jannah tempat diam.
Dalam ayat di atas itu al Jannah dan Jannah berarti surga di akhirat
kelak.
Selanjutnya marilah kita perhatikan ayat yang berikut:
Wa Matsalu Lladziyna Yunfiquwna Amwa-lahumu bTigha-a Mardha-ti Llah wa
Tatsbiytan min Anfusihim kaMatsali Jannatin biRabwatin Asha-baha-
Wa-bilun (S. Al Baqarah, 265), artinya: Umpama orang-orang yang
menafakahkan hartanya, karena mengharapkan ridha Allah dan menetapkan
(keimanan) dirinya, seperti Jannah di dataran tinggi yang ditimpa
hujan lebat.
Dalam ayat di atas Jannah berarti taman atau kebun di permukaan bumi
ini.
Jadi menurut Al Quran yang dipergunakan sebagai kamus, Jannah dapat
berarti surga di akhirat, atau dapat pula berarti taman di permukaan
bumi ini, sesuai dengan konteks ayat itu masing-masing.
Selanjutnya marilah kita perhatikan ayat yang berikut:
Wa Qulna- yaAdamu Skun Anta wa Zawjuka lJannata lJannatu wa Kula-
Minha- Raghadan Haytsu Syi'tuma- wa La- Taqraba- Hadzihi sySyajarata
Fatakuwna- mina zhZhalimyn (S.Al Baqarah 35). Kami berfirman, hai Adam
tinggallah engkau bersama isteri engkau dalam Jannah dan makanlah
buah-buahan dengan senang yang engkau sukai dan janganlah engkau
berdua dekati pohon kayu ini nanti kamu termasuk orang-orang yang
aniaya.
Selanjutnya akan dikutip ayat yang berikut:
Fa Azallahuma sySyaythanu 'Anha fa Akhrajahuma Mimma- Ka-na fiyhi wa
Qulna- hbithuw Ba'dhukum liBa'dhin 'Aduwwun wa Lakum fiy lArdhi
Mustaqarrun wa Mata-'un ilay Hiynin (S.Al Baqarah 36), artinya: Maka
keduanya diperdayakan setan lalu keluarlah keduanya dari apa yang
telah dialaminya tadi dan Kami firmankan turunlah kamu, sebahagian
menjadi musuh dari sebahagian yang lain dan bagi kamu kediaman dan
kesenangan di dunia hingga seketika (S.Al Baqarah 36).
(Sedikit catatan tambahan yang tidak berhubungan dengan pokok
pembahasan kita. Yaitu bahwa Adam ditipu setan bukanlah atas pengaruh
isterinya seperti yang diceritakan dalam Israiliyat. Jelas ayat itu
mengatakan bahwa Fa Azallahuma sySyaythanu, Maka keduanya diperdayakan
setan).
Manusia mulai dalam alam arwah, lalu arwah itu ditiupkan ke dalam
janin dalam alam rahim ibu. Kemudian lahir ke luar ke alam syahadah.
Seterusnya ruh dicabut berpindah ke alam barzakh, menunggu berbangkit
dengan jasad yang baru pada hari berbangkit, lalu diadili, kemudian ke
alam akhirat yang kekal. Dari hasil pengadilan itu yang selamat masuk
jannah atau surga yang celaka masuk neraka (*).
Kalau kakek dan nenek kita Adam dan Sitti Hawa mula-mula tinggal dalam
jannah atau surga yang sesungguhnya di akhirat kelak, maka ada enam
keberatannya, dengan alasan 'aqliyah (rasional) dan naqliyah
(scriptural).
== Keberatan pertama, Adam dan Sitti Hawa ibarat dalam cerita science
fiction menerobos waktu berjalan mundur dari akhirat ke alam dunia.
(alasan 'aqliyah)
== Keberatan yang kedua surga di akhirat itu diharamkan setan masuk di
dalamnya. Dalam ayat di atas itu setan menipu keduanya dalam jannah.
(Fa Azallahuma sySyaythanu, setan menipu keduanya). (alasan 'aqliyah
dan naqliyah)
== Keberatan ketiga, kalaulah jannah itu surga di akhirat, mengapa
masih ada larangan bagi Adam dan Hawa untuk mendekati pohon itu
(Janganlah engkau berdua dekati pohon kayu ini). (alasan 'aqliyah dan
naqliyah)
== Keberatan keempat, Adam dibuat dari tanah, "Engkau jadikan aku
(iblis) dari api dan Engkau jadikan dia (Adam) dari tanah" (S. Al
A'ra-f, 12). Karena Adam dijadikan dari tanah, maka ia dibuat di bumi
ini. Tidak ada keterangan dalam Al Quran dan Hadits bahwa Adam dan
Siti Hawa di"mi'raj"kan ke surga. (alasan 'aqliyah dan naqliyah)
== Keberatan kelima, kalau itu surga yang sesungguhnya di akhirat,
mengapa ada matahari di dalamnya: "Sesungguhnya engkau tiada lapar di
dalamnya dan tiada pula bertelanjang. Dan sesungguhnya tiada engkau
haus di dalamnya dan tiada (merasa panas) waktu matahari naik" (S.
ThaHa, 118 - 119). (alasan 'aqliyah dan naqliyah)
== Keberatan keenam: seperti ayat (S.Al Baqarah 36) yang telah dikutip
di atas: "Qulna- hbithuw Ba'dhukum liBa'dhin 'Aduwwun", artinya:
turunlah kamu, sebahagian menjadi musuh dari sebahagian yang lain.
Adapun makna perintah Allah ihbithuw, turunlah, tidaklah seperti
bidadari turun dari kayangan dalam dongeng. Kata turun, habatha, dalam
Al Quran dipakai untuk pengertian air yang meluncur turun (S.Al
Baqarah 74), Nabi Nuh AS turun dari kapalnya (S. Huwd 48) dan Banie
Israil disuruh turun ke kota, go down town (S.Al Baqarah 61). Jadi
perintah Allah ihbithuw, turunlah dalam pengertian topogarifs, dari
tempat ketinggian di permukaan bumi ke tempat yang lebih rendah.
Dengan demikian taman yang ditempati oleh Adam dan Hawa berada di
sebuah dataran tinggi. (alasan naqliyah)
Walhasil jannah yang dimaksud tempat Adam dan Hawa bersenang-senang
kemudian keduanya ditipu setan bukanlah dalam taman Firdaus, melainkan
taman di tempat yang ketinggian di muka bumi ini. Lalu jangan terlena,
ketiga ekor menjangan dalam gambar hasil sulaman isteri saya itu dapat
dipertanggung-jawabkan. Perlu diketahui bahwa designer lukisan itu
adalah saya sendiri. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 8 September 1996[H.Muh.Nur Abdurrahman]
--------------------
(*)
Firman Allah SWT:
Kayfa takfuru-na biLla-hi wa kuntum amwa-tan faahya-kum tsumma
yumi-tukum tsumma yuhyi-kum tsumma ilayhi turja'u-n. Kuntum amwa-tan
dalam keadaan mati, belum berjasad (alam arwah) - faahya-kum
janin ditiupkan ruh dihidupkan (alam rahim), lahir ke dunia (alam
syahadah) - yumi-tukum, dimatikan, ruh berpisah dari jasad, jasad hancur
menjadi tanah ruh pindah ke alam barzakh, yuhyi-kum, dihidupkan, ruh
menempati jasad baru yang permanen (bukan dari tanah lagi) lalu bangkit
(qa-ma, qiya-mun = berdiri, berbangkit). Iniliah yang disebut yawmu
lqiya-mah, hari berbangkit. Bila tibanya hari berbangkit, atau hari
kiamat itu? Secara kuantitatif, 10.000 tahun lagi, 100.000 tahun lagi?
Itu rahasia Allah SWT. Namun secara kualitatif ialah apabila semua ruh
di alam arwah sudah semuanya dituiupkan Allah ke dalam janin manusia,
artinya apabila semua arwah di alam arwah sudah pindah semuanya ke alam
syahadah menjadi manusia, dan semua manusia itu sudah menjalani
kehidupan di alam syahadah, semua arwah sudah masuk alam barzakh, maka
itulah saatnya yawmu lqiya-mah, hari kiamat. Adapun prolog hari kiamat
ialah gempa global, seperti dalam Surah al Zilzal (silakan baca surah
tersebut). Menyusul hari kiamat, atau hari berbangkit ialah semuanya
dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk diadili, inilah yang disebut dengan
yawmu ddi-n, hari pengadilan, ini selalu kita baca pada waktu shalat:
Maliki yawmi ddi-n, Allah adalah Raja atau Pemilik Hari Pengadilan.
Sesudah diadili yang selamat masuk surga, yang tidak selamat masuk
neraka, itulah Hari Akhirat yang kekal.
|
|