| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Untaian kata
pengembangan teknologi mengandung muatan nilai, oleh karena mestilah
dijawab pertanyaan untuk apa dan ke arah mana pengembangan itu? Bahkan
pengertian teknologi itu sendiri tidak luput dari muatan nilai.
Teknologi adalah suatu proses pengolahan barang atau komoditi.
Bagaimana mengolahnya? Jawaban pertanyaan bagaimana ini bermuatan
nilai, yaitu secara tradisional yang padat karya, atau secara lebih
maju (advanced) yang seimbang antara padat karya dengan padat modal,
atau secara canggih (sophisticated) yang padat modal.
Diolah untuk apa? Jawaban pertanyaan untuk apa ini juga bermuatan
nilai, yang dalam hal ini nilai kegunaan dan nilai ekonomis. Komoditi
itu diolah untuk mendapatkan nilai tambah. Jadi teknologi adalah
proses pengolahan komoditi untuk memperoleh nilai tambah. Contohnya:
Logam diolah secara tradisional menjadi kompor minyak tanah. Hasil
pengolahan berupa kompor munyak tanah ini mempunyai nilai tambah
ketimbang logam yang belum diolah. Dengan teknologi yang lebih maju
logam itu dapat diolah menjadi kompor gas. Kompor gas nilai tambahnya
lebih tinggi dari kompor minyak tanah. Logam itu dapat diolah dengan
teknologi canggih menjadi pesawat terbang. Nilai tambah pesawat
terbang jauh lebih tinggi dari kompor gas. Makin canggih teknologi
dikembangkan, makin tinggi pula nilai tambah yang diperoleh, sehingga
ada kecenderungan untuk mengembangkan terus kecanggihan teknologi
dalam suatu negara, oleh karena hal itu akan meningkatkan Gross
National Product dari negara yang bersangkatan.
Maka timbul pertanyaan: Apakah pengembangan teknologi ada batasnya?
Dan kalau ada apakah yang membatasinya?
***
Perintah membaca: Iqra biSmi Rabbika (S. Al 'Alaq, 1), bacalah atas
nama Maha Pengaturmu (96:1), bermakna perintah untuk mengkaji Al Quran
(ayat-ayat Qawliyah) dan alam syahadah (ayat-ayat Kawniyah), haruslah
didahului dengan Basmalah. Dengan sistem pendidikan kita sekarang yang
menempatkan kedua jenis ayat itu dalam posisi dua kutub yang terpisah,
membawa akibat apabila orang Islam membaca Al Quran didahului dengan
Basmalah, akan tetapi kalau membaca alam syahadah tidaklah didahului
dengan Basmalah. Adalah suatu kenyataan, pada umumnya guru dan murid,
dosen dan mahasiswa tidaklah mengingat nama Allah SWT tatkala mengajar
dan belajar di kelas pada lembaga pendidikan umum sewaktu mengkaji
alam semesta. Ini adalah suatu kenyataan yang pahit dari segi
pendidikan yang harus kita akui, yaitu kurangnya kesadaran akan nilai
akhlaq dalam mengkaji ayat Kawniyah.
Manusia dalam statusnya sebagai khalifah Allah SWT di atas bumi ini
akan berurusan dengan ayat-ayat Kawniyah yang dapat distratifikasikan
sebagai: alam sekitar (surronding), sumber-daya alam (natural
resources) dan lingkungan hidup (biosphere).
Alam sekitar adalah ayat Kawniyah yang belum dijamah manusia, kecuali
untuk sumber informasi bagi ilmu pengetahuan. Tetapi itu tidak berarti
bebas nilai, oleh karena sudah menyentuh keinginan manusia, yaitu
dipilih sebagai sumber informasi untuk ilmu pengetahuan. Jadi sejak
semula ilmu pengetahuan itu tidaklah bebas nilai. Awan di udara adalah
alam sekitar, sumber informasi, dipelajari dalam ilmu fisika bagaimana
terjadinya hujan. Tidak bebas nilai oleh karena dipilih untuk dikaji,
yang menghasilkan teknologi menabur awan guna kepentingan manusia.
Sumber-daya alam adalah ayat Kawniyah yang sudah sarat dengan nilai,
dengan keinginan manusia untuk memanfaatkannya. Awan yang
bergumpal-gumpal di udara yang ditabur dengan es kering atau iodida
perak adalah sumber-daya alam. Hasil menabur awan itu adalah hujan
yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air manusia.
Lingkungan hidup adalah ayat Kawniyah yang mempunyai ciri yang disebut
hidup, sehingga sangat sarat bermuatan nilai. Pengertian hidup di sini
jangan dikacaukan dengan makna hidup yang hakiki. Sangat sederhana
pengertiannya, yaitu makhluk Allah yang dapat makan (termasuk minum
dan bernafas), mengeluarkan kotoran, bertumbuh dan berkembang biak.
Maka termasuklah di dalamnya tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia.
Makin canggih teknologi dalam proses pengolahan akan membutuhkan
energi yang lebih banyak. Kebutuhan energi secara global makin
meningkat. Sumber energi berupa bahan bakar fosil dan panas bumi
ditambah dengan energi matahari, angin, arus laut,
ombak, energi pasang-surut sudah mulai tidak memadai lagi untuk
melayani pertumbuhan industri. Bahkan persediaan minyak bumi sudah
semakin menipis, sehingga digalakkan sekarang pemakaian batu-bara.
Maka orang menoleh kepada bahan bakar nuklir, yakni sumber energi yang
terkandung dalam mikro-kosmos, ke dalam inti atom, yang secara populer
dikenal dengan ungkapan tenaga nuklir.
Memenuhi kebutuhan energi oleh dunia industri dengan mempergunakan
bahan bakar nuklir baru diterima orang dengan sikap enggan, tidak
sepenuh hati. Trauma kebocoran di PLTN Chernobyl beberapa tahun lalu
di Uni Sovyet sehingga terjadi pencemaran radiasi pada daerah yang
luas sekelilingnya, masih dirasakan orang ibarat monyet di punggung.
Dalam waktu-waktu yang akan datang jika PLTN ini makin mengglobal,
maka globa kita ini makin terbebani oleh sampah nuklir, dan
pengembangan teknologi tertumbuk pada krisis energi.
Maka pertanyaan apakah pengembangan teknologi ada batasnya, dan kalau
ada apakah yang membatasinya, terjawablah sudah. Ada tiga batasnya.
Pertama, dibatasi oleh kondisi sosiologis yaitu teknologi canggih yang
padat modal menghemat tenaga manusia sehingga meningkatkan jumlah
pengangguran. Kedua, dibatasi oleh
kemampuan dari globa untuk memikul beban pencemaran utamanya sampah
nuklir. Ketiga, dibatasi oleh krisis energi.
Alhasil mengkaji ayat Kawniyah umumnya, mengembangkan teknologi
khususnya, tidaklah berbeda dengan mengkaji ayat Qawniyah, haruslah
berangkat dari Basmalah: Iqra biSmi Rabbika, supaya timbul kesadaran
akan nilai akhlaq berupa amanah Allah SWT kepada manusia sebagai
kahlifahNya, yaitu dalam memanfaatkan sumber-daya alam, selalu ingat
akan persyaratan tidak boleh sekali-kali melupakan tanggung jawabnya
untuk memelihara lingkungan hidup. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 6 Oktober 1996
|
|