| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Adapun yang dimaksud dengan postpower syndrome adalah suatu gejala
penyakit kejiwaan menyusul sirnanya kekuasaan yang pernah dipegang oleh
seseorang. Kekuasaan yang pernah dipegangnya itu diberikan oleh suatu
jabatan yang pernah didudukinya, ataupun oleh kekayaan yang pernah
dimilikinya.
Terkenal dalam tarikh Islam, Jenderal Khalid ibn Walid diturunkan
pangkatnya oleh Khalifah 'Umar ibn Khattab RA menjadi prajurit biasa.
Alasan-alasan Khalifah menurunkan pangkat Khalid dari jenderal menjadi
prajurit biasa telah dikemukakan dalam seri 108 pada 19 Desember 1993
yang berjudul: Dialog antara Kahalifah dengan Panglima Perangnya. Selang
beberapa hari setelah Khalid menjadi prajurit biasa terjadi pertempuran
melawan musuh. Dalam kontak senjata itu Khalid masih memperlihatkan
kesungguhannya dalam bertempur. Sehabis pertempuran Khalid mendapat
pertanyaan dari teman prajuritnya:
- Hai Khalid,
mengapa engkau masih begitu bersungguh-sungguh
bertempur?
Dengan singkat Khalid menjawab:
- Saya berjihad untuk Islam, bukan untuk 'Umar.
Kemudian Khalid dimutasikan oleh Khalifah ke front timur menjadi
komandan regu. Pasukan Islam yang dipanglimai oleh Jenderal Sa'ad di
front timur ketika itu terhambat karena menghadapi pasukan kavaleri
gajah-gajah perang orang Parsi. Sebagai komandan regu Khalid bertempur
dengan penuh kesungguhan. Bahkan ia menyumbangkan taktik bertempur
melawan pasukan bergajah. Yaitu bukan gajahnya yang dipanah melainkan
penunggangnya. Setelah penunggang yang mengendalikan gajah itu tewas
baru gajahnya dipanah. Akibatnya gajah perang itu berbalik dan menginjak
mencerai-beraikan pasukan infantri Parsi dibelakang barisan kavaleri
gajah itu.
Itulah sebuah contoh dalam sejarah orang yang tidak dihinggapi penyakit
postpwer syndrome.
Pernah diberitakan oleh harian-harian mengenai adanya beberapa anggota
DPR yang tidak datang (malas?) menghadiri sidang berhubung nama mereka
tidak ada lagi dalam daftar Caleg. Gejala
ini adalah suatu pertanda jika kelak telah berhenti menjadi anggota DPR
niscaya akan ditimpa penyakit postpower syndrome. Gejala penyakit
kejiwaan itu dengan tepat tergambar seperti apa yang dinyatakan oleh
baris kedua dan ketiga dalam bait ketiga dari syair lagu di bawah ini,
karya almarhum Madong Lubis dalam buku yang berjudul Taman Kesuma, yaitu
buku nyanyian untuk anak-anak.
Jikalau orang senang hidupnya,
martabat tinggi banyak hartanya.
Banyaklah orang datang padanya,
meminta tolong barang kadarnya.
Tiada ubah kayu yang rindang,
baik di hutan maupun di ladang.
Banyaklah burung datang bertandang,
mengambil buah telah terhidang.
Jikalau buah habis semua,
habis dimakan habis dibawa.
Tinggallah pohon sangat kecewa,
tiada suka lagi tertawa.
Bercorak ragam sikap dan tingkah laku yang menggejala dari penyakit
postpower syndrome itu.
Ada yang seperti pohon yang sudah tidak berbuah lagi seperti dalam syair
lagu di atas itu. Kerjanya duduk bermuram durja, tiada suka lagi
tertawa, mengingat kejayaannya di masa silam (tempo doeloe) yang kini
sudah sirna, cuma tinggal kenangan. Orang-orang peranakan Indo-Belanda
turunan orang-orang Belanda pemilik-pemilik onderneming (perkebunan
karet, teh, dll) yang pernah jaya sebelum kemerdekaan Indonesia termasuk
dalam golongan ini. Termasuk dalam jenis ini orang-orang pribumi bekas
pegawai Hindia Belanda yang telah hilang jabatannya pada waktu revolusi
kemerdekaan. Hal ini digambarkan dengan tepat dalam film Bandung Lautan
Api yang pernah ditayangkan di televisi baru-baru ini. Seorang ayah yang
menderita penyakit postpower syndrome ini dengan sinis menyentil anaknya
dan para pejuang lainnya dengan mengatakan bahwa kok mengurus kelurahan
saja tidak becus apalagi mau merdeka mengurus negara.
Ada pula yang tidak mau menerima, atau belum sadar akan kenyataan bahwa
ia sudah dalam keadaan pascakuasa (postpower), sehingga sikap dan
tingkah lakunya masih meneruskan kegiatan yang biasanya ia lakukan pada
waktu masih menjadi "sebagai" terhadap orang-orang dekatnya. Ada seorang
mantan dekan fakultas setiap hari keranjang tempat membuang
kertas-kertas sampah dalam kamar yang dianggapnya kamar kerja penuh
berisi dengan nota-nota instruksi kepada anak isterinya bahkan kepada
pembantunya di rumah.
Ada seorang mantan wali kota selalu dihantui oleh keinginan tahu apakah
ia masih tetap dikenal oleh mantan penduduk kotanya, walaupun telah
berhenti jadi wali kota. Ia menelusuri jalan-jalan menahan abang-abang
becak untuk menanyai mereka itu apakah mereka masih mengenal bekas wali
kotanya. Selama ia menjabat wali kota memang ia menonjol karena
kreativitasnya yang unik dan kontroversial. Ia berhasil mengembangkan
kotanya dalam arti pembangunan fisik dengan penuh dinamika, walaupun
pada waktu itu pemerintah pusat menempuh kebijakan keuangan ketat (tight
money policy).
Dalam konteks penyakit Postpower Syndrome ini, bacalah Firman Allah:
Wa Tilka lAyya-mu Nuda-wiluha- bayna nNa-si (S. Ali 'Imra-n, 140).
Hari-hari kejayaan itu dipergilirkan di antara manusia (3:140).
Kejayaan yang dipergilirkan, itulah SunnatuLLah yang harus diimani
kebenarannya oleh orang-orang beriman. Menghayati Aturan Allah SWT
tentang kejayaan yang dipergilirkan itu, adalah terapi yang paling
mujarrab atas penyakit kejiwaan Postpower Syndrome. WaLlahu A'lamu bi
shShawab.
*** Makassar, 13
Oktober 1996[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|