| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Dalam pelaksanaan ibadah haji disyari'atkan antara lain bahwa bila dalam
keadaan ihram orang tidak boleh membunuh binatang dan tidak boleh
memetik tumbuh-tumbuhan. Ini mengisyaratkan dua hal yang penting.
Pertama, pada zaman RasuluLlah SAW padang 'Arafah itu gersang tidak ada
tumbuh-tumbuhan. Maka dengan disyari'atkannya tidak boleh orang memetik
tumbuh-tumbuhan itu berarti suatu isyarat bahwa kelak di kemudian hari
padang Arafah akan tumbuh tanam-tanaman. Dan itu sudah menjadi fakta di
zaman kita ini, padang Arafah sudah menghijau oleh pohon-pohonan. Inilah
salah satu mu'jizat yang terkandung dalam tata-cara ibadah haji tentang
hal pekabaran bagi mereka dahulu bahwa di Arafah akan tumbuh
pohon-pohonan kelak. Isyarat yang kedua ialah manusia itu tidak boleh
seenaknya saja membunuh binatang dan menebas pohon-pohonan. Adapun
tulisan ini ruang lingkupnya di batasi dalam hal isyarat yang kedua ini,
yaitu manusia harus memelihara lingkungannya. Hal ini dipertegas oleh
Firman Allah dalam S. Al Baqarah, 30: Wa Idz Qa-la Rabbuka li lMalaikati
Inny Ja-'ilun fiy lArdhi Khaliyfah ...., dan ingatlah tatkala Maha
Pengaturmu berkata kepada para malaikat sesungguhnya Aku jadikan
khalifah di bumi. Biasanya kalimah Rabb diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia dengan kata Tuhan. Terjemahan itu kurang mengenai sasaran,
oleh karena kalimah Rabb itu adalah salah satu dari Asma-u lHusna,
Nama-Nama Yang Terbaik, yang jumlahnya 99, yang setiap Nama itu
mengandung makna spesifik. Ar Rabb berarti Maha Pengatur.
Demikianlah ayat di atas itu mengandung makna bahwa manusia yang
diangkat menjadi khalifah mempunyai amanah dan wewenang dari Yang Maha
Pengatur untuk mengatur sesamanya makhluq di bumi ini. Apabila Ar Rabb
diterjemahkan dengan Tuhan, maka jelas terjemahan itu terlalu umum,
sehingga kita tidaklah dapat menangkap dengan jelas makna yang spesifik
dari terjemahan dengan istilah Tuhan itu.
Manusia dalam statusnya sebagai khalifah di atas bumi ini akan berurusan
dengan alam yang dapat distratifikasikan sebagai: Alam Sekitar
(surrounding, Umwelt), Sumberdaya Alam (natural resources,
Rohstoffquellen) dan Lingkungan Hidup (biosphere, Biosphare). Alam
Sekitar (AS) adalah alam yang belum dijamah manusia, kecuali untuk
sumber informasi bagi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Tetapi itu tidak
berarti bebas nilai, oleh karena sudah menyentuh keinginan manusia,
yaitu dipilih sebagai sumber informasi untuk IPA. Jadi sejak semula IPA
itu tidaklah bebas nilai. Awan di udara adalah AS, sumber informasi,
diungkapkan oleh IPA bagaimana terjadinya hujan. Tidak bebas nilai oleh
karena dipilih untuk dikaji. Di sini ada aliran informasi dari AS ke IPA
(aliran 1-2) yang hasilnya adalah pengungkapan SunnatuLlah. Selanjutnya
aliran 3-4 dari IPA ke Teknologi (Tek) bermakna bahwa luaran IPA berupa
pengungkapan SunnatuLlah menjadi masukan Tek untuk meningkatkan
efisiensi, unjuk-kerja dan kekuatan konstruksi. Misalnya pengungkapan
SunnatuLlah termodinamika dan pengantar kalor dapat meningkatkan
efisiensi mesin-mesin kalor serta unjuk-kerja mesin-mesin pendingin;
ilmu logam dan metalurgi dapat meningkatkan daya tahan konstruksi
terhadap beban mekanis maupun beban kalor. Sumberdaya Alam (SA), adalah
alam yang sudah sarat dengan nilai, dengan keinginan manusia untuk
memanfaatkannya. Awan yang bergumpal-gumpal di udara yang ditabur dengan
es kering atau iodida perak adalah SA, hujan dimanfaatkan untuk
kebutuhan air manusia. Di sini terjadi aliran pemanfaatan (8-9) dari SA
ke Sistem Sosial (SS), atau lengkapnya Sistem Politik Ekonomi Sosial
Budaya Pertahanan Keamanan (Poleksosbudhankam).
+---+
+---+
|IPA|3----->4 |Tek|
+---+
+---+
2
5
| |
| |
| | +---+ | |
| +--7|SS|6--+ |
| +---+
|
| 9
|
| |
|
| |
|
--1-------8------ 10--
AS SA
LH
Diagram SISTEM DUNIA
AS = Alam Sekitar
SA = Sumberdaya Alam
LH = Lingkungan Hidup
IPA = Ilmu Pengetahuan Alam
Tek = Teknologi
SS = Sistem Sosial
1-2 = informasi untuk IPA
3-4 = SunnatuLlah untuk Tek
5-6 = pelayanan untuk SS
7-2 = pemberian nilai pada IPA
8-9 = pemanfaatan untuk SS
5-10= dampak negatif pada LH
Lingkungan Hidup (LH), adalah alam yang mempunyai ciri yang disebut
hidup. Pengertian hidup di sini jangan dikacaukan dengan makna hidup
yang hakiki. Sangat sederhana pengertiannya, yaitu makhluk Allah yang
dapat makan (termasuk minum dan bernafas), mengeluarkan kotoran,
bertumbuh dan berkembang biak. Maka termasuklah di dalamnya
tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Di sini terjadi aliran dampak
negatif, perusakan, dari Tek ke LH (aliran 5-10). Perusakan itu berupa
pencemaran antara lain misalnya seperti pencemaran udara oleh hasil
pembakaran yaitu CO2, yang mengakibatkan efek rumah kaca, yaitu
terperangkapnya panas matahari dalam ruang antara permukaan bumi dengan
lapisan CO2 itu, ibarat terperangkapnya panas dalam rumah kaca. Ini
mengakibatkan suhu global naik, gumpalan es di Kutub Utara dan Kutub
Selatan mencair, yang dampak terakhirnya permukaan laut naik. Di samping
aliran-aliran yang disebut di atas, ada pula aliran pelayanan dari Tek
ke SS (aliran 5-6), yang bermakna mempermudah dan meningkatkan kwalitas
kehidupan material. Terdapat pula aliran pemberian nilai dari SS ke IPA
(aliran 7-2). Aliran terbalik dari SS ke Tek (aliran 6-5) yang sifatnya
mengubah Tek menjadi apa yang kita sebut Teknologi Tepat Guna (TTG).
Mengapa aliran 6-5 yang bermakna memodifikasi Tek agar menjadi TTG itu
perlu, oleh karena Tek itu dapat memberikan dampak negatif terhadap SS,
yaitu dapat menjadi penyebab terjadinya jurang antara perusahaan besar
dengan perusahaan kecil, yang besar tambah meraksasa, yang kecil makin
kerdil. Aliran terbalik dari Tek ke IPA (aliran 4-3) sifatnya sebagai
tekanan dari Tek terhadap IPA, artinya Tek membutuhkan pengungkapan
SunnatuLlah oleh IPA untuk efisiensi. Misalnya setelah ditemukannya
mesin uap oleh James Watt, dibutuhkan ilmu baru untuk efisiensi mesin
uap itu. Lalu didapatkanlah termodinamika dan pengantar kalor, yang
kemudian aliran berbalik pula dari 3 ke 4 seperti telah diterangkan di
atas itu. Aliran terbalik dari IPA ke SS (aliran 2-7), berupa pengaruh.
IPA yang maju dapat memberi pengaruh kepada masyarakat untuk menjadi
masyarakat ilmiyah. Makin maju IPA makin meningkat kecenderungan suatu
masyarakat menjadi masyarakat ilmiyah, minimal masyarakat kampus.
Demikianlah, dengan model di atas itu kita perkenalkan tiga macam
aliran. Pertama, aliran satu arah yang terbuka: AS ke IPA ke Tek ke LH
(1-2-3-4-5-10). Kedua, aliran satu arah yang tertutup: SA ke SS (8-9).
Ketiga, aliran tertutup yang melingkar: SS ke IPA ke Tek kembali ke SS
((7-2-3-4-5-6-7) dan arus baliknya dari SS ke Tek ke IPA kembali ke SS.
Diagram aliran dalam gambar dapat memberikan penjelasan yang lebih
terang.
Aliran-aliran itu saling berkorelasi, saling mempengaruhi. Contohnya,
makin terarah nilai yang diberikan oleh SS pada IPA, makin selektif
pemilihan materi AS yang dikaji oleh IPA, makin relevan jenis
SunnatuLlah yang diungkapkan untuk meningkatkan mutu Tek yang
dihasilkan, makin berguna Tek itu bagi SS dan makin kurang pula dampak
negatif Tek terhadap LH. Contoh ini menunjukkan korelasi aliran 7-2,
aliran 1-2, aliran 3-4, aliran 5-6 dan aliran 5-10. Makin serakah SS
menghabiskan SD yang berupa bahan bakar (termasuk balap mobil dalam olah
raga), makin menebal lapisan CO2, yang berakibat makin memuncaknya
globalisasi pencemaran thermal oleh efek rumah kaca, makin besar dampak
negatif Tek terhadap LH. Contoh itu memperlihatkan korelasi antara
aliran 8-9 dengan aliran 5-10. Di manakah letak manusia dalam model
Sistem Dunia di atas itu?
++Pertama, manusia menempati Alam Sekitar sebagai sumber informasi bagi
Ilmu Pengetahuan Alam. Misalnya pengkajian pembuahan sperma terhadap sel
telur di luar rahim manusia, yang menghasilkan teknologi bayi tabung.
++Kedua, manusia menempati Sumberdaya Alam, karena tenaga otak dan
ototnya dimanfaatkan untuk Sistem Sosial. ++Ketiga, manusia menempati
Lingkungan Hidup, karena manusia adalah makhluk hidup yang menderita
dampak negatif dari Teknologi. ++Keempat, manusia menempati Sistem
Sosial, karena manusia adalah anggota sistem tersebut. ++Dan yang
kelima, inilah yang terpenting, manusia menempati aliran tertutup yang
melingkar. Di situlah manusia yang Ulu lAlba-b, yang berdzikir dan
berpikir, berfungsi sebagai Khalifah Allah di atas permukaan bumi,
memberikan nilai pada aliran tersebut. Misalnya dalam pemilihan tentang
sumber informasi dari Alam Sekitar yang mana sajakah yang bernilai untuk
dikaji. Apakah ada nilainya pengkajian pembuahan sel telur oleh sperma
di luar rahim, yang menghasilkan Teknologi bayi tabung dan Teknologi
bank sperma. Sikap hidup yang bagaiamana yang harus dipilih sehingga
Sistem Sosial dapat berhemat Sumber Daya Alam. Teknologi yang bagaimana
yang harus diterapkan sehingga dampak negatifnya terhadap Lingkungan
Hidup dapat diperkecil sekecil-kecil mungkin. Adapun jawabannya sangat
sederhana, yaitu senantiasa mengacu pada nilai-nilai yang bersumber dari
wahyu, yang dibawakan oleh para Nabi dan Rasul, nilai kehidupan yang
diajarkan oleh Kitab Suci Al Quran, Risalah yang dibawakan oleh Rasul
yang terakhir, Nabi Muhammad RasuluLlah SallaLlahu 'Alaihi wa Sallama.
Catatan: Diagram aliran di atas itu saya pungut secara selektif(*) dari
diagram Fredric Vester dalam tulisannya yang berjudul: Kibernetisches
Denken in der Technologie. Karya Vester itu adalah salah satu dari 17
tulisan yang dikompilasikan dan diberi Muqaddimah (Einleitung) oleh
Heinrich von Nussbaum dalam buku yang berjudul DIE ZUKUNFT DES WACHTUMS,
Kritische Antworten zum "Bericht des Club of Rome", diterbitkan oleh
Bertelsmann Universitatverlag, Dusseldorf, 1973. Salah satu dari
kompilasi itu terdapat pula artikel tulisan Nussbaum sendiri yang
berjudul "Grenzstation" oder: Vom Untergang des Abendlandes. Yang kalau
saya terjemahkan bebas akan berbunyi "Pelabuhan-perbatasan" atau:
Perihal Redupnya Negeri-negeri Senja. Station saya terjemahkan dengan
pelabuhan, oleh karena pertumbuhan ekonomi, atau lebih luas,
perkembangan kebudayaan ummat manusia itu saya ibaratkan kapal yang
sedang dalam pelayaran menuju pelabuhan(**) terakhir. WaLlahu a'lamu
bishshawab.
*** Makassar, 15
Desember 1996[H.M.Nur Abdurrahman]
-------------------------------
(*)
Adapun yang dimaksud dengan memungut diagram Vester secara selektif,
adalah saya tidak menirunya bulat-bulat, melainkan sudah dimodifikasi
sesuai dengan pemikiran saya yang berlandaskan atas IQRA BISMI RABBIKA.
(**)
Orang Palembang menyebut tempat parker kendaraan darat dengan istilah
tempat berlabuh. Saya pikir tidak ada salahnya kalau istilah berlabuh
untuk parker itu dijadikan istilah baku dalam bahasa Inodonesia.
Maksudnya agar semangat kelautan bangsa yang sudah mulai redup ini dapat
bangkit kembali, untuk mengikuti semangat para leluhur kita. Bukankah
zaman dahulu kala disebut pula dengan zaman bahari (laut)?
|
|