| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Ada sebuah alat penggiling tradisional, terdiri atas dua susun
batu-giling, bagian atasnya diputar dengan tangan, mempunyai lubang
kecil tempat memasukkan butir-butir jagung. Alat itu dipakai untuk
anggiling tette'. Perputaran bagian atas menyebabkan butir-butir jagung
yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut tergiling pecah-pecah di antara
kedua batu giling itu. Tette' adalah jagung yang digiling dalam
butir-butir kecil sebesar butir beras. Tette' dari jagung pulut dimasak
bercampur beras, menghasilkan nasi yang aromanya sedap sekali saya rasa
hingga sekarang ini. Oleh-oleh yang paling berharga dari keluarga yang
datang dari kampung adalah tette' jagung pulut dan terasi Selayar, yang
diproduksi secara olahan tradisional di kampung nelayan Kahu-Kahu di
pulau Pasi', sebuah pulau kecil di depan Benteng, ibu kota Kabupaten
Selayar. Nelayan di kampung Kahu-Kahu sejak dahulu kala telah
melaksanakan tri-korisepsi butir ketiga: petik, olah, jual. Tangkap ebi
(udang kecil, ambaring), olah menjadi terasi, jual. Nelayan Kahu-Kahu
tidak pernah menjual ambaring, mereka menjual terasi. Terasi produksi
Kahu-Kahu ini tidak seperti terasi biasa yang pada umumnya dipakai
sebagal bumbu, melainkan terasi Kahu-Kahu ini berfungsi sebagai lauk.
Cara masaknya, attanakko minynya', tanaklah minyak, sesudah minyak
hampir jadi, masukkanlah terasi Kahu-Kahu ke dalamnya yang telah dilumat
bersama bumbu asam, lombok dan bawang. Sangat sedap jika dimakan dengan
nasi tette' jagung pulut dimasak bercampur beras, jauh lebih sedap dari
Kentucky ataupun California Fried Chicken.
Tertitip pesan kepada Pemda dan DPRD Selayar, agar industri rumah tangga
mengolah terasi dengan teknologi tradisional ini dijadikan cagar budaya,
dikukuhkan dengan Perda. Termasuk yang di-Perda-kan ialah lahan-laut
dicagar dan nelayan-nelayan pendatang yang mendesak nelayan setempat,
seperti liputan RCTI pada han Ahad pagi yang lalu, 22 Desember 1996.
Kalau di Jakarta ada cagar budaya di Condet, maka di Selayar juga elok
kiranya ada pula cagar budaya di Kahu-Kahu. Lokasi yang disarankan untuk
dijadikan cagar budaya itu dekat tempat benda-benda bersejarah gong
(nekara) perunggu raksasa, yang dahulu menjadi gaukang (arajang, atribut
kerajaan) dari Kerajaan Puta Bangung dan jangkar besar. Cagar budaya dan
benda bersejarah adalah obyek wisata-budaya. Di kepulauan Rajuni(Tijger
Eilanden) membentang taka' (tenumbu-karang) yaltu Taka' Bonerate, Taman
Laut Nasional yang masih luas, yang indah permai. Menurut siaran RCTI,
Taman Laut Taka' Bonerate lebih indah dari Taman Laut Bunaken di
Sulawesi Utara. Taman laut, adalah obyek wisata-rekreasi yang perlu pula
di-Perda-kan untuk mencagar daerah wisata itu dan kontaminasi pelacuran
terselubung yang biasa ikut nunut dalam dunia pariwisata.
***
Dalam ilustrasi di atas ada dua ungkapan kita temui: anggiling tette',
menggihing tette' dan attana' minynya', bertanak minyak. Dari kedua
ungkapan itu dapat kita simak pola pikir yang empunya bahasa, yaitu
berorientasi luaran (output oriented). Bukan pola pikir orang Selayar
saja yang demikian. Menanak nasi, mannasu nanre (Bugis), appallu kanre
(Selayar, Makassar), miapi ande (Mandar), mannasu bo'bo' (Toraja), masak
airpanas, appallu je'ne' bambang, mannasu wae pella, miapi wae loppa,
semua itu menunjukkan pola pikir yang berorientasi luaran. Pola pikir
ouput oriented ini seirama dengan gaya management by obejectives.
Mungkin ada yang menyanggah, bagaimana dengan rumah sakit, bukankah itu
berorientasi pada masukan (input oriented)?. Ungkapan rumah sakit,
bukanlah ungkapan asli Indonesia, melainkan ungkapan tersebut diserap
dari bahasa Belanda, zieken huis (ziek = sakit, huis = rumah): Jadi
semestinya kalau mau konsisten berpola pikir Indonesia, bukanlah rumah
sakit, melainkan rumah sehat. Orang sakit yang mulai masuk rumah sehat
secara psikologis sudah terobati dengan kata sehat.
Dari segi matematika bangsa Indonesia memakai sistem desimal (puluhan),
berdasar atas jumlah jari tangan. Hampir semua bangsa di dunia ini
memakai sistem puluhan, kecuali suku bangsa yang mendiami pulau-pulau di
selat Torres (antara Australia dengan Irian) yang dalam berhitung
memakai sistem duaan, berdasar atas jumlah tangan. Nama Torres ini
diserap oleh bidang hukum agraria, yaitu Sistem Torres, salah satu
sistem pendaftaran tanah. Komputer digital juga memakai sistem duaan
(binary sistem), berdasar atas menyala dan padam (on dan off). Dua
bilangan sebelum sepuluh menunjukkan pula pola pikir yang sama di antara
suku bangsa Indonesia. Angka 9 disebut tsikurieung (Aceh), artinya satu
kurangnya (dari sepuluh). Sembilan (Melayu, Indonesia) artinya
se-ambil-an, diambil satu (dari sepuluh). Salapan (Sunda), salapang
(Makassar), artinya se-alap-an, dialap satu (dari sepuluh). Alap sinonim
dari ambil, kelapa sinonim dengan kerambil kalau ditelusuri berasal dari
ke-alap dan ke-ambil. Dahulu bahasa surat kabar untuk pencuri sepeda
disebut alap-alap sepeda. Asera (Bugis), alai se'di, artinya ambil satu
(dari sepuluh), (fonem r dan d dalam kata-kata: sera, se' re, se'di
mempunyai makhraj (artikulasi) yang sama, yaltu ujung hidah ke
langit-langit, bandingkan gendang dengan ganrang). Kaassa (Selayar),
artinya yang keesa (sebelum sepuluh). Amessa (Mandar), alai mesa, ambil
satu (dari sepuluh). Kasera (Toraja), artinya yang kese're (sebelum
sepuluh). Angka 8 disebut delapan (Aceh, Melayu, Sunda), artinya
dua-alap-an, dialap dua, diambih dua (dari sepuluh), arua (Bugis,
Mandar)) artinya alai rua, ambil atau alap dua (dari sepuluh), karua
(Toraja, Selayar), artinya yang kedua (darisepuluh).
Demikianlah kita telah menyimak sekapur sirih dalam hal aktualisasi
nilai agama liTa'a-rafuw dalam ayat: wa Jaalnakum Syu'uwban wa Qaba-ila
liTa' a-rafuw (S. Al Hujura-t, 13), dan Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk sahing mengenal (49:13), dalam
konteks promosi daerah wisata dan memperkenalkan pola pikir suku-bangsa
Indonesia. Suatu cakrawala tersendiri dalam makna beragam suku bangsa
dalam kesatuan pola pikir: berorientasi luaran dan pernyataan bilangan 8
dan 9. Berhitung dan memasak adalah berpikir dan berbuat yang mendasar
dalam peradaban. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 29 Desember 1996 [H.Muh. Nur Abdurrahman]
|
|