| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Kosmologi berasal dari kata-kata cosmos (alam syahadah) dan logos
(ilmu). Artinya secara ma'nawi ialah cabang ilmu falak (astronomy) yang
menyangkut asal-usul alam syahadah (ayat Kawniyah yang nyata) dikaitkan
dengan materi, ruang dan waktu serta kausalitas.
Berdasar atas kenyataan hasil intizhar (observasi), alam syahadah ini
sedang dalam keadan berexpansi, yaitu semua galaxy yang jumlahnya jutaan
sedang bergerak saling menjauhi. Maka timbullah hingga dewasa ini dua
madzhab yang saling bertentangan dalam memberikan tafsiran atas obsevasi
tersebut, yaitu madzhab Alpher-Gamow yang bertitik tolak dari asas
penciptaan sekali jadi, dan madzhab Bondi-Gold-Hoyle yang bertitik tolak
dari asas penciptaan terus-menerus.
Menurut teori madzhab Alpher-Gamow alam syahadah tercipta dari
zarrah-zarrah (partikel-partikel) sub-atom seperti proton, neutron,
elektron dan zarah-zarrah sub-atom yang lain (jadi atom belum
terbentuk), dalam keadaan kerapatan dan suhu yang tinggi. Kemudian
terjadi peledakan dahsyat (big bang) sehingga secara bergumpal-gumpal
zarrah-zarrah sub-atom itu terlempar saling menjauhi. Sementara itu
gumpalan-gumpalan tersebut terpecah-pecah pula menjadi jutaan gumpalan
kecil-kecil. Kemudian setiap gumpalan kecil itu "mengembun" menjadi
plasma. Dari setiap gumpalan kecil plasma itu terbentuklah gugusan
bintang-bintang yang disebut galaxy. (Plasma adalah phase keempat dari
materi, phase pertama padat, kedua cair dan ketiga gas). Hasil intizhar
bahwa alam syahadah ini sedang dalam keadaan berekspansi, disebabkan
oleh peledakan dahsyat itu.
Teori Bondi-Gold-Hoyle berasumsikan bahwa alam syahadah ini homogen
dalam ruang dan waktu, tetapi tidak statis. Setiap saat muncul materi
berasal dari ketiadaan, kemudian materi yang baru muncul itu membentuk
galaxy baru, yang menggeser tempat galaxy yang sudah ada. Jadi gerak
galaxy yang saling menjauhi menurut teori ini disebabkan oleh
terciptanya materi secara sinambung.
Seperti berulang kali dikemukakan dalam kolom ini sifat ilmu pengetahuan
sekarang ini bersifat sekuler, tabu untuk membicarakan Allah SWT dalam
disiplin ilmu apapun juga, kecuali tentu dalam disiplin ilmu agama. Jadi
walaupun kosmologi itu menyangkut penciptaan, tetapi tidak lanjut ke
arah perbincangan mengenai Pencipta itu sendiri. Menurut pendekatan
ilmiyah yang sekuler seperti dewasa ini tidak mungkin menyatakan yang
manakah dari kedua madzhab itu yang benar, oleh karena menurut prosedur
ilmiyah, ialah observasi, kemudian penafsiran dan terakhir uji-coba
penafsiran secara eksperimen. Alam syahadah hanya dapat diobservasi,
ditafsirkan, tetapi tidak dapat diuji-coba, oleh karena manusia dengan
bantuan instrumennya tidak dapat menjangkau alam syahadah yang sangat
luas ini.
Maka pendekatan ilmiyah sekuler ala dewasa ini tidak mungkin dapat
menghakimi kedua madzhab itu, mana yang benar mana yang salah. Dalam
orasi ilmiyah yang saya sajikan dalam Milad ke-41 Universitas Muslim
Indonesia Makassar tahun 1995, saya telah menawarkan pendekatan ilmiyah
model baru, yaitu pendekatan ilmiyah yang Islami, yang saya namakan
METODE PENDEKATAN SATU KUTUB. Metode ini berlandaskan Tawhid; ayat
Qawliyah dan ayat Kawniyah menjadi sumber informasi; bertolak dari sikap
ragu terhadap pemikiran manusia; observasi; penafsiran; uji-coba
penafsiran yang dirujukkan pada sumber informasi ayat Qawliyah dan ayat
Kawniyah.
Maka untuk mengetahui yang mana di antara kedua madzhab itu yang benar,
haruslah teori yang bertentangan dari kedua madzhab itu diuji-coba
dengan merujukkannya pada ayat Qawliyah, oleh karena seperti yang telah
disebutkan di atas tidak mungkin manusia dengan instrumennya menjangkau
alam syahadah yang sangat luas ini.
Allah berfirman:
++ Inna Rabbkamu
Llahu Lladziy Khalaqa sSamawati walArdha fiy Sittati Ayya-min, tsumma
Staway 'alay l'Arsyi Yudabbiru lAmra (S. Yuwnus, 3). Sesungguhnya Maha
Pemeliharamu Allah yang telah menciptakan (benda-benda) langit dan bumi
dalam enam masa, kemudian ia menyengaja atas 'Arasy mengatur urusan
(10:3). ++ IStaway 'alay l'Arsyi terdapat dalam 7 ayat, yaitu: (7:54),
(10:3), (13:2), (20:5), (25:59), (32:4) dan (57:4). Dalam ke-7 ayat
tersebut dijelaskan setelah Allah SWT mencipta benda-benda langit dan
bumi, Allah SWT
menyengaja atas 'Arasy, Ia merajai atas daerah kekuasaanNya. Termasuk
dalam daerah kekuasaanNya adalah 'Arasy itu sendiri, waHuwa Rabbu
l'Arsyi l'Azhiymun (S. At Tawbah, 129), dan Dia Maha Pemelihara 'Arasy
Yang Maha Agung (9:129). Salah satu urusan Allah SWT di atas 'Arasy
adalah mengurus langit yang dipenuhinya dengan dukhan. ++ Tsumma Staway
ila- sSma-i waHiya Dukha-nun (S. Fushshilat, 11). Kemudian Ia menyengaja
kepada langit dan dia dukhan (41-11). Dalam ayat ini langit dinyatakan
dalam bentuk mufrad (tunggal, singular) asSama-u, ini bermakna bukan
benda-benda langit asSamawati yang jama', melainkan bermakna ruang antar
bintang-bintang (nujuwmun). Ruang inilah yang dipenuhi oleh Allah SWT
dengan dukhan dengan proses yang dinyatakan oleh ayat:
++Innama- Amruhu Idza- Ara-da Syayan an Taquwla lahu Kun faYkuwna (S.
Yasin, 82). Sesungguhnya urusanNya apabila Ia menghendaki sesuatu Ia
berkata baginya: jadilah, maka ia jadi (36:82).
Ada perbedaan antara penciptaan benda-benda langit dengan pengurusan
dukhan. Dalam penciptaan benda-benda langit dipakai kata Khalaqa, yaitu
dalam bentuk alFi'il alMa-dhiy (past tense), sedangkan dalam pengurusan
dari atas 'Arasy, termasuk mengurus dukhan, dipakai kata Yakuwna, yaitu
al Fi'il alMudha-ri' (present and future tenses). Jadi Allah telah
mencipta benda-benda langit dari tidak ada menjadi ada pada titik waktu
permulaan, sekali jadi, sedangkan setelah mencipta benda-benda langit,
Allah SWT mengurus dukhan menjadikan dukhan secara terus-menerus
(becoming), artinya setiap saat Allah SWT menjadikan dukhan dari tidak
ada menjadi ada.
Dengan merujukkan teori kedua madzhab itu kepada ayat Qawliyah, alhasil
kedua madzhab itu masing-masing mengandung separuh dari kebenaran.
Menurut Al Quran benda-benda langit diciptakan Allah SWT pada titik
waktu permulaan (beginning), sedangkan dukhan diurus Allah SWT dari
tidak ada menjadi ada secara terus-menerus, setelah Dia menciptakan
benda-benda langit dan bumi. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 12
Januari 1997[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|