| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Dalam bulan Ramadhan ini kolom WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU diisi
dengan uraian khas, yaitu aplikasi Pendekatan Satu Kutub (PSK) terhadap
materi baha san: kosmology (Seri 257), sejarah (Sen 258) dan Nuzulu
IQuran (Seri 259 ni). Materi Nuzulu IQuran sengaja dipilih oleh karena
kita sekarang dalam suasana memperingati Nuzulu IQuran. Berhubung ada
yang menanyakan melalui telpon tentang bagaimana PSK itu, maka akan
dijelaskan sedikit tentang pendekatan tersebut. PSK adalah lebih
melengkapkan pendekatan ilmiyah dengan menambahkan masuk unsur Tawhid
dan Ayat Qawliyah sebagal sumber informasi di samping Ayat Kawniyah
(kosmos). Juga melengkapi penafsiran Ayat Qawliyah yang selama ini hasil
penafsiran itu tidak dilakukan uji-coba. Jadi PSK berlandaskan Tawhid;
Ayat Qawliyah dan Ayat Kawniyah menjadi sumber informasi; bertolak dari
sikap ragu terhadap pemikiran manusia; observasi; penafsiran; uji-coba
penafsiran yang dirujukkan pada sumber informasi Ayat Qawliyah dan Ayat
Kawniyah.
Marilah kita bahas hasil penafsiran yang pada umumnya dianut di
Indonesia bahwa Nuzulu IQuran itu terjadi pada 17 Ramadhan, yaltu pada
waktu RasuluLlah mula pertama menerima wahyu (S. Al Alaq 1-6) yang
dibawa oleh Malaikat Jibril AS.
Menurut hasil observasi Ayat Qawliyah, mufassir memperoleh sumber
informasi tentang Nuzulu IQuran dari ketiga ayat yang berikut: ++ Syahru
Ramadhana lLadziy Unzila fiylli IQuran (S. Al Baqarah, 185, bulan
Ramadhan yaitu diturunkan di dalamnya Al Quran (2:185). ++ Innaa
Anzalna-hu fly Laylati lQadri (S. Al Qadr, 1). Sesungguhnya Kami
turunkan dia pada Malam Qadar (97:1). In Kuntum A-mantum biLla-hi wa Maa
Anzalnaa 'alay 'Abdinaa Yawma lFurqaani Yawma ITaqay lJam'an (S. Al
Anfaal, 41). Jika kamu beriman kepada Allah dan (beriman kepada) apa
yang kuturunkan kepada hambaku (Muhammad) pada Hari Al Furqan, hari
bertemunya dua pasukan (8:41).
Mufassir menafsirkan bahwa yang diturunkän Allah itu adalah Al Quran,
dan Hari Al Furqan, hari bertemunya dua pasukan adalah Perang Badar. Dan
menurut sumber informasi dari Ayat Kawniyah (catatan sejarah), Perang
Badar terjadi pada 17 Ramadhan. Jadi pada malam 17 Ramadhan RasuluLlah
SAW mula pertama menerima wahyu yang dibawakan oleh Malaikat Jibril AS,
itulah penafsiran Ibn Ishaq yang banyak pengikutnya di Indonesia.
Kemudian ditambahkan lagi bahwa Al Quran diturunkan pada Laylatu IQadr
sekali-gus di langit bumi, kemudian dari sana mulai diturunkan pada 17
Ramadhan dan selanjutnya secara berdikit dikit diturunkan ke dunia.
Dalam penafsiran ini ada 4 tahap pemikiran/perbuatan manusia. Tahap
pertama berupa pemikiran, bahwa maa/apa diartikan sebagai Al Quran.
Tahap kedua adalah juga pemikiran, yaitu Yawma ITaqay lJam'an bertemunya
dua pasukan adalah Perang Badar. Tahap ketiga adalah perbuatan, yaitu
pencatatan/ingatan sejarah, bahwa Perang Badar itu terjadi pada 17
Raniadhan. Tahap keempat
adalah pemikiran, yaitu diturunkan sekaligus dalam Laylatu lQadr,
kemudian dari sana ditununkan ke dunia dimulai pada 17 Ramadhan. Tahap
keempat ini diperlukan oleh karena adanya Hadits yang diriwayatkan oleh
Bukhani: Taharraw Laylata IQadri f I'Asyri lAwaakhir min Ramadhaani.
Carilah olehmu Malam Qadar pada sepuluh malam terakhir dalam bulan
Ramadhan. Tahap keempat ini merupakan kunci jalan keluar untuk
memecahkan permasalahan pertentangan antara 17 Ramadhan dengan sepuluh
malam tenakhir dalam bulan Ramadhan.
Penafsiran (pemikiran manusia) tahap keempat itu yang perlu diuji-coba,
dengan memperhadapkannya pada Ayat Qawliyah. Tidak mungkin uji-coba ini
dipenhadapkan pada Ayat Kawniyah, oleh karena wahyu yang diturunkan yang
disinggahkan dahulu di langit dunia baru turun ke dunia adalah sesuatu
yang tak dapat ditangkap oleh pancamndera.
Ada dua ayat yang dapat dipakai untuk rujukan penafsiran tahap keempat
ini. ++ Innahu Laqawlu Rasuwlin Kariymin (S. Al Haqqah, 40).
Sesungguhnyadia (Al Quran) ucapan pesuruh (Jibril) yang mulia (69:40).
++ Nazala biHi lRuwhu lAmiynu 'alay Qablika (S.Asy Syu'araa', 193).
Telah diturunkan oleh Ruh Amin (Jibril) ke dalam qalbu engkau (Muhammad)
(26:193).
Dalam kedua ayat itu tidak disebutkan bahwa Jibril singgah dahulu waktu
pertama kali mendatangi RasuluLlah SAW. Bahkan kalau disimak betul,
kedua ayat itu menunjukkan bahwa Jibril langsung mendatangi RasuluLlah
SAW. Perlu ditekankan pula bahwa ada wahyu yang langsung diterima
RasuluLlah SAW dan Allah SWT tanpa perantaraan Jibril. + Ahya-nan
Ya'tiyniy Mitsla Shalshalati IJarasi, ... waAhyaanan Yatamatstsalu Li
diwahyukan kepadaku laksana gemerincing lonceng ... dan terkadang datang
Malak (Jibril) dalam wujud orang laki-laki (H.R. Bukhari).
Untuk apa Allah SWT menyimpan wahyu itu dahulu buat sementara di langit
dunia kemudian dengan remote control Ia menurunkan wahyu ke dalam qalbu
RasuluLlah SAW. SubhanaLlah, Mahasuci Allah, Maha Sempunna Allah dari
penbuatan yang tidak efisien itu. Hasil uji-coba ini menunjukkan bahwa
pemikiran wahyu itu disinggahkan dahulu di langit dunia baru diturunkan
ke dunia, adalah pemikiran yang tenmasuk dalam kategori imajinasi yang
berbahaya bagi 'aqidah, karena menyangkut Allah Yang Maha Suci dan Maha
Sempurna.
Alhasil dalam upaya observasi ayat Kawniyah berupa catatan sejarah, yang
tidak ada orang tahu siapa pencatat sejarah ini, mengenai Perang Badar
itu 17 Ramadhan, terdapat kesalahan pen sejarah oleh manusia.
Lalu, tanggal berapakah Nuzulu IQuran itu? Jawabnya adalah itu menrpakan
rahasia Allah SWT. Pokoknya terjadi dalam salah satu malam diantara 10
malam terakhir dalam bulan Ramadhan, seperti Shahih Bukahni itu. Rahasia
Allah ini ada hikmahnya. Kita lebih intensif beribadah pada 10 malam
terakhir bulan Ramadhan, karena salah satu malam di antara 10 malam itu
adalah Laylatu IQadri, yang kalau kita beribadat padla waktu itu
nilainya lebih dari 1000 bulan, Khairun min Alfi Syahrin, lebih tinggi
nilainya dari 1000 bulan. Bayangkan, satu malam dinilal lebih dari 83,3
tahun. lnilah hikmahnya, yaitu meningkatkan kwalitas nilai ibadah kita,
seakan-akan umur kita diperpanjang menjadi lebih dari 83,3 tahun setiap
bulan Ramadhan, apabila kesempatan itu dapat kita pengunakan. WaLlahu
A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 26 Januari 1997
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|