| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Pada malam Sabtu, 21 Februari 1997, sahabat saya Fuad Rurni sementara a
mengaji Al Quran, terbaca olehnya sebuah ayat, lalu serta-merta setelah
mengaji ia menelepon saya, supaya saya menterjemahkan ayat tersebut dan
menyarankan puia agar saya tulis dalam kolom ini. Sebenarnya mi adalah
merupakan perpanjangan diskusitentang pemahaman ayat:
++ WaLlahu Yahdiy Man Yasya-u (S. Al Baqarah 213). Apabila fail (pelaku)
Yasya-u adalah Allah, maka tafsiran ayat itu: Allah menunjuki siapa yang
Allah kehendaki atau dikohendakiNya. Apatila pelaku Yasya-u adalah Man,
maka tafsiran ayat itu: Allah memberi petunjuk kepad siapa yang mau
(mendapat petunjuk).
Diskusi tersebut berlangsung di rumah sahabat saya AIwi Hamu untuk
mengisi waktu lowong menjelang dimulainya acara resmi Halal bi Halal
(baca: silaturrahim). Sebenarnya diskusi dengan materi yang samatelah
berlangsung pula menjelang akhir Ramadhan di Pesantren Putera Pendidikan
Quran IMMIM Tamalanrea. Al Ustadz Drs H.Saifullah (guru bahasa Arab) dan
Al Ustadz Drs H. Hasnawi Marjuni (hafiz, penghapal Al Quran) diskusi itu
berpendapat pelaku Yasya-u adalah Allah, sedangkan menu rut pendapat
saya pelaku Yasya-u adalah Man.
Menurut metode pendekatan Satu Kutub, dalam hal ada penafsiran yang
berbeda, maka perbedaan itu harus diujicoba. Karena hal ini murni
bersangkutan dengan Ayat Qawliyah, maka rujukannya tentulah juga
semata-mata pada Ayat Qawliyah pula. Marilah kita rujukkan kedua
penafsiran yang tidak sama itu terhadap ayat-ayat bawah mi:
++ Inna Lla-ha Laa Yughayyiru Maa biQawmin Hatta- Yughayyiruw Maa
biAnfusihim (Ar Ra'd 11). Allah tidak akan mengubah apa (yang ada) atas
suatu kaum, hir mereka itu mengubah apa (yang ada) atas dirinya.
(Kata mengubah ada yang menulis dengan merubah. Asal katanya ubah,
mendapat awalan me÷sengau ng menjadi mengubah, sedangkan rubah adalah
binatang sejenis keluarga anjing).
Ayatdi bawah lebih mempertegas yang dimaksud dengan apa tersebut:
++ Dzalika blAnna Lla Lamyaku Mu Ni'matan An'amaha- alay Qawmin Hatta
Yughayyiruw Ma- biAnfusthim (Al Anfal 53). Demjkianlah Allah tidak akan
membuat perubahan untuk memberi ni'mat atas suatu kaum, hingga mereka
mengubah apa (yang ada) atas dirinya. Jelas bahwa yang dimaksud dengan
apa adalah ni'mat Allah. Adapun ni'mat Allah dapat berupa petunjuk
seperti dalam S. Al Baqarah 213 di atas, ataupun berupa rezeki seperti
dalam S. Al Baqarah 212.
S. Ar Ra'd 11, dan S. Al Anfal 35, menolak pola pikir Madzhab Qadariyah
(Allah pasif, manusia aktif), juga menolak pola pikir Madzhab Jabariyah
atau Fatalist (Allah aktif, manusia pasif). Allah memberikan ni'mat yang
bersyarat. Syaratnya ialah siapa yang berusaha mencarinya untuk
mendapatkan ni'mat itu. Jadi Allah aktif, manusia juga aktif. Secara
aktif, nimat Allah diparicarkan oleh Allah tak putus-putusnya, ibarat
matahari yang memancarican sinarnya ke sekelilingnya. Pada pihak yang
lain manusia harus aktif pula berikhtiar untuk mendapatkan ni'mat Allah
yang dipancarkan Allah itu. Ibarat seorang manusia yang ada di dalam gua
yang gelap gulita, mana mungkin akan mendapatkan sinar matahari, apabila
orang itu tetap tinggal di dalam gua itu. Ia harus berikhtiar, keluar
dan gua untuk mendapatkan sinar matahari itu.
Ayat-ayat rujukan di atas itu berhubungan dengan makna ayat. Berikut mi
dikemukakan rujukan ayat mengenai pola redaksionalnya. Firman Allah
dalam S. Ar Ra'd 27:
++ Inna Lla-ha Yudhiflu Man Yasyaau, wa Yahdi Ilayhi Man Ataaba,
sesungguhnya disesatkan Allah orarig yang menghendaki (kesesatan) dan
membeni petunjuk kepadaNya siapa yang tobat. Pola secara redaksional ini
jelas. Man adalah pelaku perbuatan Yasyaau dan ataaba.
Adapun ayat yang dijiiaksud melaluitelepon Fuad Rumi seperti berikut:
++Inna Rabbaka Yabsuthu rRizqa liMan Yasyaau wa Yaqdiru Innahu Kaana
bi'lbaadihi- Khabiyran Bashiyran (S. Isray, 30).
Menurut hemat saya kalimah (kata) wa adalah untuk menghubungkan jumlah
(kalimat) Inna Rabbaka Yabsuthu rRizqa liMan Yasya-u dengari jurrilah
Yaqdiru Innahu Ka-na bi'lab-dihi Khabiyran Bashlyran. Kedua jumlah yang
dihubungkan itu mempunyai fa'il (pelaku) yang sama, yaitu Rabbaka.
Dengan demikian pelaku dan Yabsuthu dan Yaqdiru adalah Rabbaka dan
pelaku dan Yasyaau adalah Man. Sehingga seyogianya menurut hemat saya
ayat itu bermakna:
Sesung Maha Pengaturmu me!apangkan rezeki bagisiapa yang mau (Iapang
rezekinya) dan Maha Pengaturmu memberi ukuran (tertentu) sesungguhnya
Dia Maha Mengetahui dan Maha Me/That atas hambaNYa.
Alhasil penafsiran yang dikukuhkan oleh basil ujicoba di atas adalah
Allah aktif dan manusia aktif, yaitu pola pikir Ahlu sSunnah, seperti
yang dirujukkari pada S. Ar Ra'd,l 1 dan S. Al Anfal,35, dan pola
redaksional yang ditunjukkan oleh S. Ar Ra'd,27, sehirigga pola pikir
kita seyogianya seperti benikut:
Allah hanya berkenan memberikan petunjuk kepada orang yang berkeinginan
dan berikhtiar untuk mendapatkan petunjuk. Dan Allah hanya berkenan
memberikan rezeki kepada orang yang berkeinginan dan berikhtiar untuk
mendapatkan rezeki. Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk
menentukan pilihannya: Apa mau sesat di tempatyang gelap, atau
berikhtiar mendapatkan petunjuk,
++ Mina zhZhutumaati ila- nNuwri (2:257), dari kegelapan ke
terang-benderang. Dengan kebebasan memilih itu manusia memikul tanggung
jawab penuh atas hasil pilihan dan perbuatannya. Allah Maha Adil, Yang
menghukum manusia atas hasil pilihaannya itu. Manusia harus
mempertanggung-jawabkan hasil pilihannya itu kepada Pemilik Han
Keadilan).
Namun demikian untuk menghayati bahwa Al lah Maha Kuasa, sebelum berdoa
kepada Allah SWT, sebaiknya membaca:
++ Quli Lla-humma Malika IMulki Tu'tiya IMulka Man Tasyaa-u waTanzi'u
IMulka Mimman Tasyaau waTu'azzi Man Tasyaau waTudzillu Man Tasyaau
biYadika IKhayru Innaka 'ala- Kulli Syay.in Qadiyrun (S. Ali 'lmra-n,
26). Katakanlah, ya Allah yang. mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkau cabut kerajaan dari
siapa yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan slapa yang Engkau
kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki; di tangan
Engkaulah segala kebajikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas
tiap-tiap sesuatu (3:26). WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 2 Maret
1997[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|