| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
++ WatTiyni wazZaytuwni. WaThuwri Siyniyna. WaHadza lBaladi lAmiyna (S.
At Tiyn, 1-3) Perhatikanlah ara, perhatikanlah zaitun! Perhatikanlah
gunung Sina! Perhatikanlah negeri yang aman ini! (95:1-3).
Pohon Ara memperlambangkan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa
AS dan gunung Sina(i) adalah tempat mula-mula Nabi Musa AS menerima
wahyu. Zaitun memperlambangkan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan negeri yang aman yaitu al Makkah al Mukarramah adalah
tempat mula-mula Nabi Muhammad SAW menerima wahyu. Gunung Sina(i)
terletak di semenanjung Sina(i) dan negeri yang aman terletak di
semenanjung Arabia.
Di semenanjung Sina(i) dahulu kala bermukim bangsa Madyan. Bangsa ini
adalah turunan Madyan (bukan nabi) anak ketiga Nabi Ibrahim AS dari
isterinya yang ketiga Sitti Katurah. Kepada bangsa Madyan tersebut
diutuslah oleh Allah SWT Nabi Syu'aib AS, yaitu mertua Nabi Musa AS.
Waktu dijadikan menantu, Musa belum diangkat Allah menjadi nabi.
Nabi Syu'aib AS memperingatkan bangsa Madyan:
++ YaQawmi 'Buduw Lla-ha Maa laKum min Ilahin Ghayruhu- waLaa Tanqushuw
lMikyaala walMiyzaana (S. Huwd, 84), Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak
ada bagimu Tuhan selain daripadaNya dan janganlah kamu mengurangi
sukatan dan timbangan (11:84).
Bangsa Madyan kepala batu, tidak mau mendengarkan peringatan Nabi
Syu'aib AS, bahkan mereka mengancam Nabi Syu'aib AS: ++ waLaw Laa
Rahthuka Larajamna-ka waMaa Anta 'Alaynaa bi'Aziyzin (S. Huwd, 91), dan
sekiranya bukan karena keluargamu, kami niscaya merajammu, engkau itu
tidaklah berkuasa atas kami (11:91). Karena itu Allah menghukum kaum
Madyan tersebut.
++ waAkhadzati Lladziyna Zhalamuw shShayhatu faAshbahuw fiy Diyaarihim
Ja-tsimiyna (S. Huwd, 94), lalu orang-orang zalim itu disambar bunyi
menderu, maka mereka mati tersungkur di dalam rumahnya (11:94).
Peringatan itu patut pula kita perhatikan dewasa ini, jangan menyembah
apa saja selain Allah, jangan curang dalam sukatan (volume) dan
timbangan (berat). Dewasa ini sudah berbilang yang menyembah berhala
tradisional dan berhala modern. Berhala tradisional adalah patung-patung
berhala, saukang, sedangkan berhala modern adalah otak manusia. Sikap
sekuler, sikap yang semata-mata menghandalkan otak, sikap yang
melecehkan kaidah agama yang bersumber dari wahyu Allah SWT yang
diturunkan kepada para Nabi, adalah penyembah berhala modern. Curang
dalam sukatan dan timbangan berarti tidak berlaku adil, baik itu dalam
hal sukatan dan timbangan yang sebenarnya (baca: aktivitas berekonomi),
maupun itu dalam sukatan dan timbangan dalam arti kiasan (baca:
aktivitas berpemerintahan dan berpengadilan).
***
Telah berlalu bangsa Madyan yang dihukum Allah dengan Shayhah, bunyi
yang mendesah, menderu, melengking, teriakan, cry, kreet. Shayhah adalah
Ayat Kawniyah, sehingga untuk dapat mengetahui dengan baik shayhah ini,
kita perlu mengkaji Ayat Kawniyah mengenai bunyi. Bunyi itu adalah
gelombang udara yang dapat ditangkap oleh pancaindera kita melalui
selaput genderang telinga yang bergetar. Getaran itu diubah oleh
mekanisme dalam tubuh kita menjadi pulsa, kejutan listrik, kemudian
diteruskan ke otak oleh sel-sel saraf. Sel-sel saraf tidak bersentuhan.
Pulsa itu diteruskan dari sel ke sel melalui larutan elektrolit. Sel-sel
saraf dan larutan elektrolit membentuk jaringan elektrik di dalam tubuh
kita. Di otak oleh kesadaran kita, berkat adanya ruh dalam diri kita,
pulsa atau kejutan listrik itu diolah sehingga kita (baca: ruh)
mendengar bunyi yang berasal dari gelombang udara itu. Tidak semua
gelombang udara dapat kita dengar. Gelombang udara yang bilangan
getarnya tinggi di atas normal, ataupun yang bilangan getarnya rendah di
bawah normal tidak dapat kita dengar.
Bagaimana shayhah itu dapat membunuh manusia, sehingga jatuh tersungkur,
bahkan meretakkan bangunan, sampai merobohkannya? Pada tahun 1964 di
kota Marseille dibangunlah sebuah gedung untuk penelitian
elektroakustik. Lembaga penelitian itu dipimpin oleh Prof. Vladimir
Gavreau. Hanya beberapa hari para pakar peneliti itu bekerja dalam
gedung itu diserang sakit kepala. Yang dijadikan kambing hitam dalam
penyebab sakit kepala itu adalah sinar yang tak terkontrol dalam
laboratorum itu. Akan tetapi setelah disidik, diteliti dengan saksama,
tidak ada sama sekali sinar yang berdosa yang tak terkontrol itu.
Tuduhan terhadap sinar tak terkontrol itu dicabut kembali, berita acara
pemeriksan dibatalkan. Ternyata tersangka baru dapat diungkap.
Penyebabnya berasal dari ventilasi yang menyebabkan gelombang udara yang
berfrekuensi rendah, yang menyebabkan seluruh gedung beresonansi, ikut
bergetar dalam wujud infra-bunyi, bunyi yang tak kedengaran.
Mulailah diadakan penelitian infra-bunyi oleh tim peneliti dari
laboratorium elektroakustik itu. Hasilnya, dibuatlah di lab
elektroakustik di Marseille itu meriam bunyi, yang merupakan meriam
bunyi yang mula-pertama di dunia ini. Meriam bunyi itu sangat sederhana.
Pada sebuah lubang ventilasi dipasang 61 pipa yang ke dalamnya ditiupkan
udara kempa, sehingga menghasilkan gelombang udara dengan getaran 196
Hertz, yaitu batas terendah dari bunyi yang dapat didengar. Akibatnya
luar biasa, dinding bangunan yang masih baru itu retak, sedangkan para
personel laboratorium di dalamnya gemetar diserang nyeri tak terkira.
Meriam bunyi itu dilanjutkan dengan output frekuensi 37 Hertz. Namun
tidaklah sepenuhnya diuji-coba karena orang khawatir dapat merusak
gedung-gedung dalam ruanglingkar beberapa kilometer sekitar gedung
laboratorium itu.
Mungkin ada benarnya dalam cerita silat ada tiupan suling, petikan
kecapi, bunyi tertawa dapat mengakibatkan darah keluar dari telinga
ataupun mulut yang mendengarnya, yaitu apabila tiupan suling, petikan
kecapi, bunyi tertawa, menghasilkan gelombang udara dengan frekuensi 196
Hertz, yaitu batas terendah dari bunyi yang dapat didengar, ataupun
dengan frekuensi di bawah 196 Hertz yang berwujud infra-bunyi.
Dari hasil kajian Ayat Kawniyah, dapatlah kita mengerti dengan jelas
Ayat Qawliyah dalam hubungannya orang-orang mati tersungkur dalam
rumahnya yang dihukum oleh Allah dengan mengirim shayhah kepada mereka
itu.
Hukuman Allah melalui shayhah atas kaum yang melecehkan para Nabi dapat
kita baca dalam sebelas ayat yang berikut: 11:67, 11:94, 15:73, 15:83,
23:41, 29:40, 36:29, 36:49, 36:53, 38:15, 50:42, 54:31, dan 63:4.
WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 16
Maret 1997[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|