| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
ThaHa. Ma- Anzalna- 'Alayka lQura-na liTasyqay. Illa- Tadzkiratan liMan
Yakhsyay. Tanziylan mimMan Khalaqa lArdha wasSamawati l'Ulay (S. ThaHa,
1-4). ThaHa. Tidaklah Kami turunkan Quran kepadamu agar engkau susah.
Melainkan jadi peringatan bagi yang takut. Diturunkan dari Yang
menciptakan bumi dan benda-benda langit yang tinggi (20:1-4).
ThaHa yang terdiri atas dua huruf pada permulaan ayat, yang sekali-gus
menjadi nama Surah, adalah sebuah kode matematis: Jumlah huruf Tha + Ha
(disebut al Muqattha'a-t) dalam Surah Thaha adalah kelipatan sembilan
belas. Jumlah huruf Tha (26) + jumlah huruf Ha (202) = 26 + 202 = 228 =
12 x 19. Qaidah ini berlaku umum: Jumlah huruf al Muqattha'a-t dalam
Surah yang bersangkutan adalah kelipatan sembilan belas. Contoh: Dalam
S. Maryam terdapat lima huruf al Muqattha'a-t: Kef (137) + Ha (168) + Ya
(345) + 'Ain (122) + SHad (26) = 798 = 42 x 19.
Bilangan bulat 1 dan 9 adalah bilangan terendah dan tertinggi dalam
sistem desimal. Angka 19 adalah bilangan prima, tidak dapat dibagi habis
kecuali oleh 1 dan dirinya sendiri. Angka 19 adalah penjumlahan antara
jumlah hari (7) dengan jumlah bulan (12). Jadi Angka 19 bukanlah angka
keramat, melainkan murni matematis dan terkait pada sistem numerik dan
penanggalan.
***
Pada waktu Umar ibn Khattab (561? - 644) belum masuk Islam, ia termasuk
salah seorang yang sangat sengit menentang Islam. Umar adalah seorang
pemberani, pandai bermain pedang, fasih berpidato, perawakannya tinggi
dan besar. Ketika Umar menyaksikan bahwa walaupun ummat Islam mendapat
tekanan, penyiksaan, namun Islam tetap menyebar hari demi hari, maka
Umar memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Diambilnya pedangnya
dan keluar rumah untuk mencari Nabi Muhammad SAW. Di tengah perjalanan
Umar berpapasan dengan seorang penduduk Makkah yang bertanya kepadanya:
"Mau ke mana, hai Umar?"
"Mau pergi membunuh Muhammad!", jawab Umar dengan singkat.
"Untuk membunuh Muhammad? Tahukah engkau adikmu Fatimah dengan suaminya
telah memeluk agama baru itu? Lebih baik engkau urus dahulu keluarga
dekatmu! Lagi pula tidaklah semudah itu engkau seorang diri untuk
membunuh Muhammad, tentu sebelumnya niscaya engkau harus berhadapan
dahulu dengan para pengikutnya."
Dengan segera Umar menuju ke rumah iparnya. Ketika Umar mendekati rumah
adiknya, ia mendengar sayup sampai orang sedang membaca dalam rumah itu.
Khabbab, seorang guru sedang membacakan ayat Al Quran di dalam runah
itu. Ketika Fatimah melihat Umar mendekat, disuruhnya Khabbab
bersembunyi, kemudian ia sembunyikan lembaran yang bertuliskan ayat Al
Quran yang dibaca oleh Khabbab tadi. Begitu masuk Umar dengan geram
menatap adik perempuan dan iparnya kemudian membentak:
"Saya dengar kalian berdua telah memeluk agama baru yang dibawa
Muhammad, betulkah itu?"
Keduanya berusaha untuk meredamkan amarah Umar, akan tetapi Umar tidak
mau mendengarkan. Suasana kejiwaan Umar tidak memungkinkan untuk itu.
Amarah Umar yang dibawanya dari rumah, di tengah jalan disulut lagi oleh
sindiran supaya ia mengurus keluarga dekatnya dahulu. Umar menghunus
pedangnya langsung ditetakkannya pada iparnya. Secepat kilat Fatimah
melompat ke depan suaminya, sehingga pedang Umar menggores muka Fatimah,
darah mengalir membasahi wajahnya. Tanpa menyapu cucuran darah itu
Fatimah menatap tajam mata kakaknya dan berkata dengan tegar:
"Ya, kami sudah memeluk Islam dan akan tetap Islam. Berbuatlah
sesukamu."
Mendengar jawaban menantang yang berani dari Fatimah itu, Umar tertegun,
dan menyaksikan cucuran darah di muka adiknya, timbul dalam hati Umar
rasa iba, dan seketika itu juga api amarahnya padam. Umar meminta kepada
adiknya untuk memperlihatkan kepadanya lembaran yang bertuliskan ayat Al
Quran itu, akan tetapi Fatimah menolak. Ia khawatir jangan-jangan Umar
merobek-robeknya. Umar berjanji tidak akan berbuat demikian. Akan tetapi
Fatimah belum bersedia, sebelum Umar membersihkan dirinya. Setelah Umar
mandi, Fatimah mengambil lembaran bertuliskan Al Quran diserahkannya
kepada Umar. Ayat yang tertulis di atas lembaran itu, ialah seperti yang
telah dikutip pada pembukaan kolom ini.
Ayat-ayat itu betul-betul mengenai sasaran suasana kebatinan dan pola
pikir Umar. Selama ini ia menganggap bahwa ajaran Islam yang dibawakan
oleh Nabi Muhammd SAW menyusahkan (Tasyqay) saja, memecah kesatuan dan
persatuan rakyat negara kota Makkah. Dalam sekejap itu Umar memutuskan
untuk memeluk Islam.
Menyaksikan keadaan yang berbalik 180 derajat itu, Khabbab keluar dari
persembunyiaannya. Setelah mengucapkan salam kepada Umar ia berkata:
"Allah menjadi saksi bagiku, baru kemarin saya mendengarkan RasuluLlah
SAW berdo'a kepada Allah bermohon agar salah seorang di antaranya: Umar
atau Amr ibn Hisyam masuk Islam. Inilah hasil do'a RasuluLlah SAW."
Umar bertanya kepada Khabbab di mana Nabi Muhammad SAW dapat ditemui.
Khabbab memberi-tahukan markas tersembunyi RasuluLlah, yaitu di rumah
seorang sahabat yang bernama Arqam. Markas itu dikenal dalam tarikh
Islam sebagai Daru lArqam, pusat pengajaran, pendidikan, pembinaan SDM
kader-kader da'i. Daru lArqam menjadi pusat gerakan da'wah Islam dengan
taktik kampanye berbisik dari pintu ke pintu. Khabbab adalah salah
seorang di antara para kader tersebut.
Karena tergesa ingin menyatakan keIslamannya kepada RasuluLlah SAW, Umar
lupa menyarungkan kembali pedangnya. Ia menuju ke Daru lArqam dengan
pedang terhunus masih di tangan, bahkan darah Fatimah masih kentara pada
pedang itu. Tatkala Umar mengetuk pintu rumah Arqam, Nabi Muhammad SAW
sedang duduk dalam majelis dengan beberapa sahabat di antaranya Hamzah.
Beberapa orang mengintip keluar, lalu menyaksikan Umar berdiri di depan
pintu dengan pedang terhunus berbekas darah.
RasuluLlah SAW bersabda supaya Umar dibukakan Pintu. Setelah Umar masuk
ke dalam rumah, RasuluLlah bertanya:
"Apa yang membawamu ke mari, hai Umar?"
"Saya ke mari untuk menyatakan saya memeluk Islam"
"Allahu Akbar", semua sahabat secara serempak mengucapkan kalimah
Takbir.
Hingga saat itu ummat Islam masih melakukan shalat secara
sembunyi-sembunyi di belakang pintu. Sejak mulai saat itu ummat Islam
melakukan shalat secara terbuka. Perubahan sikap itu dimulai dengan show
of force. Dibentuk dua kelompok barisan asy Syabab (pemuda)
masing-masing dipimpin oleh Umar dan Hamzah berpawai keliling kota
Makkah dengan mengumandangkan Takbir: Allahu Akbar! WaLlahu A'lamu bi
shShawab.
*** Makassar, 13 April
1997[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|