| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Sang harimau berembuk dengan kaki-tangannya (baca: pembantu dekatnya),
yaitu sang serigala sebagai kaki dan sang musang sebagai tangan.
Perembukaan itu mengenai perihal pembagian hasil buruan: kerbau hutan,
kambing hutan dan ayam hutan. Pertama-tama sang harimau minta pendapat
sang serigala. "Menurut hemat saya, kerbau hutan untuk sampeyan, kambing
hutan untuk saya dan ayam hutan untuk saderek musang," sang serigala
mengemukakan pendapatnya. "Oh, begitu," kata sang harimau, dan bersamaan
dengan itu ia menampar kepala sang serigala. Dapat dibayangkan hasil
tamparan harimau, oleh karena apabila harimau menampar bukan hanya
sekadar dengan telapak kaki depan, melainkan bersamaan dengan layangan
tamparan itu, sepuluh kuku harimau tersembul keluar. Barangkali itulah
mengapa ada pepatah yang berbunyi: Ibarat harimau yang menyembunyikan
kukunya. Tadi pada waktu serigala masih mengeluarkan pendapatnya, kuku
harimau masih tersembunyi dalam jari-jemarinya. "Lalu bagaimana pendapat
sampeyan", ujar sang harimau kepada sang musang setelah selesai menampar
sang serigala. "Kalau menurut pertimbangan saya, kerbau jantan itu untuk
makan siang sampeyan, juga kambing hutan untuk makan malam sampeyan,
sedangkan ayam hutan adalah untuk sarapan pagi sampeyan pula, atau boleh
juga dijadikan sebagai kudap (makanan ringan, snoepjes) sampeyan. Adapun
untuk saderek serigala dan saya sudah cukup dengan melahap serpihan
sisa-sisa sampeyan." Dengan gembira sang harimau menerima saran sang
musang sambil berkata:
"Man 'Allamaka Hadza lFiqh? (Siapa yang mengajarkan sampeyan
fiqh ini?)". "Dari tamparan sampeyan atas kepala saderek serigala",
jawab sang musang tersipu-sipu.
Dari mana gerangan harimau itu belajar menyembunyikan kukunya dan
menampar? Menurut penuturan nenek saya kepada saya sewaktu masih kecil
(saya sering diantar tidur oleh nenek dengan dongeng- dongeng), harimau
itu belajar ilmu dan keterampilan berburu kepada kucing. Hampir semua
ilmu dan keterampilan kucing seperti menampar sambil mengeluarkan kuku
dari ujung jari, mengintai, mengendus, menerkam, mengejar, melompat
jauh, berlari dan melompat sambil mengogonggong mangsanya. (Kata
gonggong adalah homonim, bermakna ganda. Kalau pelakunya harimau dan
kucing, menggonggong bermakna memegang dengan gigi. Seperti misalnya
kucing menggonggong anaknya yang masih kecil, mengigit tengkuk anaknya
memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain. Kalau pelakunya anjing,
menggonggong sinonim dengan menyalak).
Kembali pada dongeng nenek perihal kucing yang menjadi guru harimau di
atas tadi. Harimau menuntut supaya semua ilmu dan keterampilan gurunya
itu diajarkan kepadanya, karena menurut harimau keterampilan memanjat
belum diajarkan kepadanya. Namun kucing tidak bersedia mengajarkannya.
Dengan terus terang kucing menjelaskan kepada muridnya itu, bahwa
bagaimanapun juga ia sebagai guru harus lebih pintar dari muridnya,
karena badannya kecil, tenaganya tidak sekuat harimau. Barangkali dari
segi inilah maka ada pepatah Belanda yang mengatakan: Wie niet sterk is,
moet slim zijn (dia yang tidak kuat, harus cerdik). Kucing harus lebih
cerdik dari harimau, karena tenaganya tidak sekuat harimau.
Maka marahlah harimau, ia melompat menerkam kucing. Namun dari tadi
kucing sudah mengantisipasinya, sehingga dengan gesit ia melompat ke
atas pohon menyelamatkan dirinya. Dengan geram harimau berkata: "Hai
kucing, ini bukan ancaman, melainkan janji, saya akan cari terus ke mana
engkau pergi untuk membunuhmu, bahkan kotoranmupun kalau kutemui akan
kubunuh pula." Itulah sebabnya maka hingga sekarang ini kucing menggali
lubang, membuang kotorannya ke dalamnya kemudian menimbunnya kembali
dengan tanah, khawatir kotorannya akan dibunuh kelak oleh harimau, murid
yang tak tahu di untung, murid yang tidak berterima kasih kepada
gurunya, murid yang tidak menghormati gurunya. Itulah sebabnya harimau
menjadi perlambang bagi orang yang perbuatannya jahat, yang dipaterikan
berupa peribahasa: Harimau mati meninggalkan belang. Kata belang dalam
peribahasa
mempunyai konotasi yang jelek: Sudah ketahuan belangnya.
Syahdan, sesungguhnya manusia dapat belajar pada kucing, yaitu menimbun
kotorannya. Sudah bertahun-tahun jawatan kesehatan mengkampanyekan
jamban keluarga di pelosok-pelosok pedesaan. Hasilnya, rakyat yang taat
pada pemerintah membuat jamban, namun hanya sebatas itu saja.
Teknologinya dilaksanakan, akan tetapi hasil teknologi belum
dimanfaatkan, karena membuang hajat di jamban belum membudaya. Teknologi
sebagai perangkat kasar belum dijiwai oleh perangkat halus, yaitu
kebudayaan. Jamban ada,
tetapi kebudayaan membuang hajat di semak-semak, pinggir sungai, pinggir
laut masih jalan terus. Jamban di rumah tidak dipergunakan, karena belum
ada perubahan pola pikir dalam berkada-hajat ini. Jamban hanya
dimanfaatkan jika kedatangan tamu dari kota.
Dalam mengkampanyekan pemanfaatan jamban ini, budaya malu yang masih
menjadi nilai anutan di pelosok-pelosok hendaknya dapat dijadikan
motivasi untuk perubahan pola pikir dari semak- semak, pinggir sungai
dan pinggir laut ke jamban keluarga. Sebagai manusia, tidakkah malu pada
diri sendiri melihat kucing menimbun kotorannya?
Itu dari segi positif yang dapat disimak dari dongeng-dongeng menyangkut
harimau dengan kucing tersebut. Sifat jelek harimau barangkali
wajar-wajar saja karena harimau itu memang binatang. Lalu sebagai
manusia apakah tidak malu berkelakuan sebagai binatang? Menerkam guru
dengan jalan menyunat gajinya, seperti harimau menerkam gurunya?
Mengaktualisasikan keadilan dalam wujud keserakahan harimau, mau melahap
sebanyak-banyaknya kue pembangunan? Ada baiknya kita mengemukakan
sedikit disini ucapan Menhankam Jenderal (purnawirawan) Edi Sudrajat
dalam Halaqah Nasional Wawasan Kebangsaan yang berlangsung di pondok
Pesantren Girikusuma Mranggen, Demak, seperti berikut: "Masalah keadilan
merupakan persoalan yang paling menonjol yang menjadi penyebab berbagai
kerusuhan yang terjadi. Tidak hanya masalah kesenjangan sosial. Yang
lebih parah," demikian beliau selanjutnya, "jika meraka tidak lagi
merasa bangga menjadi warga bangsa Indonesia, karena tidak lagi
merasakan adanya keharmonisan, kebersamaan dan keadilan."
Setiap Jum'at, Khatib menutup Khuthbahnya dengan ayat: Inna Llaha
Ya'muru bil'Adli walIhsa-ni (S. An Nahl, 90), Sesungguhnya Allah
memerintahkan melakukan keadilan dan kebajikan (16:90). WaLlahu A'lamu
bi shShawab.
*** Makassar, 20 April 1997
|
|