| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Pada hari Kamis, 17 April 1997, mahasiswa saya Jurusan Mesin Fakultas
Teknik UMI sebelum memulai kuliah Islam Disiplin Ilmu bertanyakan
seperti pertanyaan pada judul di atas, bahkan ditambah pula dengan
pernyataan, bahwa selama ini setelah Shalat 'Iyd, sesampai di rumah
beberapa jam kemudian menyaksikan siaran langsung Shalat 'Iyd di Al
Masjid Al Haram di Makkah. Pertanyaan itu menyangkut kinematika (ilmu
gerak) sehingga hemat saya karena relevan untuk Jurusan Mesin.
Sistem Penanggalan Hijriyah adalah sistem kombinasi syamsiyah (solar)
dengan qamariyah (lunar). Landasannya adalah Ayat Qawliyah:
Fa-liqu lIshba-hi waJa'ala Llayla Sakanan wasySyamsa walQamara Husba-nan
(S. Al An'am, 96). (Yang) membuka subuh dan menjadikan malam untuk
istirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan (6:96).
Inna 'Iddata sySyuhuwri 'Inda Llahi Tsna- 'Asyara Syahran (S. At Tawbah,
36). Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan (9:36).
Hitungan hari berdasarkan syamsiyah, pergantian hari ditentukan oleh
terbenamnya matahari. Misalnya hari ini hari Ahad, begitu matahari
terbenam hari berganti menjadi Senin, yaitu malam Senin disusul dengan
Senin siang. Hitungan bulan berdasarkan atas posisi matahari dan bulan
pada bola langit. Tatkala matahari terbenam bulan (qamar, moon) terletak
di atas ufuk maka terjadilah pergantian hitungan bulan (syahr, month).
Menurut ayat di atas itu bilangan bulan adalah 12 bulan, itulah yang
disebut 1 tahun. Itulah beda antara sistem penanggalan Hijriyah dengan
Miladiyah Masehi). Pada sistem Hijriyah 1 tahun dinyatakan oleh jumlah
bulan (bilangan bulat = 12), sedangkan pada sistem Miladiyah 1 tahun
ditentukan oleh jumlah hari (bilangan pecahan = 365,25 lebih sedikit,
sehingga dikoreksi setiap 100 tahun, bulan Februari tetap 28 hari,
walaupun 100 habis dibagi empat; dalam tahun 2000 nanti bulan Februari
tetap 28 hari).
Dalam kinematika (dan dinamika pada umumnya) yang penting mula-mula
harus menentukan kerangka rujukan (frame of reference) untuk menjadi
landasan gerak, yang disebut pusat sistem kordinat. Yakni semua titik
benda bergerak relatif terhadap pusat sistem koordinat. Dikatakan
relatif bergerak oleh karena di alam syahadah ini tidak ada yang diam
secara mutlak. Kullun fiy Falakin Yasbahuwna (S. Yasin 40), tiap-tiap
sesuatu berenang dalam falaknya (36:40).
Apabila matahari yang menjadi pusat sistem koordinat, maka lintasan bumi
yang bergerak mengelilingi matahari berbentuk elips. Untuk mempermudah
perhitungan dianggap lingkaran, karena kedua titik api elips itu relatif
dekat. Lintasan bulan yang sementara mengelilingi bumi bergerak pula
bersama-sama bumi mengelilingi matahari, sehingga lintasan itu ibarat
pegas yang dilingkarkan. Ternyata dengan memilih matahari sebagai pusat
sistem koordinat gerak bulan itu sangat ruwet dan matahari tidak
bergerak.
Maka dalam hal matahari dan bulan yang dijadikan sebagai perhitungan
waktu, orang memilih pusat sistem koordinat di titik tempat orang
mengamati matahari dan bulan pada permukaan bumi. Ini yang disebut
dengan sistem koordinat yang ikut bergerak (mee bewegende coordinaten
stetlsel). Karena bumi berpusing pada sumbunya, kita ikut juga
berpusing, maka kita lihat matahari dan bulan bergerak melingkar pada
bola langit, terbit di sebelah timur, terbenam di sebelah barat. Jadi
kita ibarat di tengah-tengah lapangan mengikuti gerak dua orang atlet
berlomba mengelilingi lapangan. Hanya bedanya balapan antara matahari
dengan bulan itu berlangsung terus menerus hingga hari kiamat.
Dalam perlombaan pada bola langit matahari lebih cepat dari bulan. Ini
sangat jelas bagi orang yang suka memperhatikan bulan baru pada bulan
Ramadhan. Pada bilangan bulan (syahr, month) satu Ramadhan bulan (qamar,
moon) sangat dengat ke ufuk, sedangkan pada hitungan bulan kedua
Ramadhan, bulan sudah agak tinggi dari ufuk, tiga Ramadhan lebih tinggi
lagi. Artinya bulan itu setiap saat ketinggalan dari matahari. Ibarat
motor dengan sepeda, sepeda makin lama makin jauh tertinggal di belakang
motor.
Karena yang dijadikan pusat sistem koordinat adalah titik tempat kita
berdiri pada permukaan bumi, maka pusat sistem koordinat di Makassar
berbeda dengan pusat sistem koordinat di Makkah. Pada hari Senin (=
malam Selasa) 2 pekan lalu, tatkala matahari terbenam di Makassar bulan
masih di bawah ufuk. Itu berarti tatkala Senin telah berganti dengan
Selasa, maka di Makassar masih akhir bulan DzulQa'dah. Akan tetapi
karena jarak antara Makassar dengan Makkah cukup jauh untuk matahari
dapat mengejar bulan, maka tatkala matahari terbenam di Makkah bulan
sudah di atas ufuk, artinya di Makkah pada waktu itu terjadi pergantian
bulan dari DzulQa'dah menjadi DzulHijjah, dengan perkataan lain malam
Selasa dan Selasa siang di Makkah sudah 1 DzulHijjah, Rabu 9 DzulHijjah
wuquf di 'Arafah, Kamis 10 DzulHijjah shalat 'Iyd di Al Masjid Al Haram.
Sedangkan kita di Makassar dan seluruh Indonesia, juga di Malaysia dan
Brunai hari Selasa baru akhir DzulQa'dah, maka 1 DzulHijjah baru jatuh
keesokan harinya yaitu pada hari Rabu, 10 DzulHijjah jatuh pada hari
Jum'at, kita shalat 'Iyd pada hari Jum'at.
Andaikata pada malam Selasa tatkala matahari terbenam di Makassar bulan
sudah di atas ufuk maka tentu kita akan shalat 'Iyd dalam hari yang sama
dengan Makkah. Bedanya ialah di Makassar pada 1 DzulHijjah malam Selasa
bulan (qamar, moon) sangat dekat ke ufuk, sedangkan di Makkah pada 1
DzulHijjah malam Selasa bulan agak tinggi dari ufuk, karena matahari
tatkala di Makkah sudah lebih jauh jaraknya meninggalkan bulan. Kalau
shalat 'Iyd di Indonesia sama harinya dengan di Makkah, maka tentu saja
kita di Indonesia lebih dahulu melaksanakan shalat 'Iyd karena kita
lebih ke Timur, matahari lebih dahulu terbit dari Makkah. Seperti
dikatakan di atas dalam hal pergantian hari hanya ditentukan oleh
terbenamnya matahari, sedangkan bulan tidak ikut campur dalam urusan
pergantian hari. Apabila di Indonesia orang shalat 'Iyd pada hari yang
sama dengan Makkah, maka pada waktu itulah sesudah shalat 'Iyd, tatkala
sampai di rumah beberapa jam kemudian kita saksikan siaran langsung di
televisi orang shalat 'Iyd di Al Masjid Al Haram di Makkah. WaLlahu
A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 27 April
1997[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|