|
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU Kolum tetap harian fajar - 272
|
|||||||||||||||
|
Hijrah
dan Sumber Daya Manusia |
|||||||||||||||
| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM 'Umar ibn al Khattab RA (581? - 644)M, Kahlifah kedua (12 -
22)H atau (634 - 644)M menerima surat dari salah seorang Amir
(Gubernur) yang menyebutkan bahwa surat itu adalah membalas surat
Khalifah yang tidak bertanggal. Hal itu mendorong Khalifah Umar
RA untuk membuat sistem penanggalan. Bangsa Arab di zaman pra-
Islam memakai patokan tahun bukan berupa bilangan, melainkan
topic of the year. Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut tahun
gajah, karena yang menjadi topic of the year pada waktu itu
adalah peristiwa hancurnya tentara bergajah Abrahah. Sistem ini
berlaku juga di zaman Islam, hingga zaman pemerintahan Khalifah
Umar RA. Para pakar dikumpulkan dan dalam perembukan itu ada tiga
konsep yang diusulkan, yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW, Nuzulu
lQuran dan Hijrah. Pilihan jatuh pada peristiwa Hijrah sebagai
patokan tahun seperti yang diusulkan oleh 'Ali bin Abi Thalib RA,
sehingga penanggalan ini disebut dengan Penanggalan Hijriyah.
Terpilihnya Hijrah sebagai patokan permulaan tahun
menunjukkan bahwa peristiwa Hijrah sangat penting dalam sejarah
Islam. Hijrah merupakan titik balik keadaan ummat Islam dari
maf'ulun bih (obyek) di Makkah menjadi fa'il (subyek) di Madinah.
Hijrah merupakan peralihan dari usaha pembinaan sumber daya
manusia di Makkah melanjut kepada pembinaan masyarakat Islam
melalui pembentukan Negara Islam dengan proklamasi yang dikenal
dengan Piagam Madinah.
Ayat-ayat Makkiyah banyak-banyak berhubungan dengan pembinaan
aqidah, sedangkan ayat-ayat Madaniyah bobotnya pada kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Peningkatan kualitas sumber daya
manusia di Makkah bobotnya pada keimananan yang menghasilkan
manusia yang berakhlaq tinggi. Penyiksaan dan pemboikotan ekonomi
(tahun 7 dari ke-Rasulan) menyebabkan mereka tabah (baca: tahan
uji dan tahan derita). Satu tahun delapan bulan sebelum hijrah
terjadi peristiwa penting yang menjadi kriterium standar untuk
evaluasi hasil pembinaan sumber daya manusia. Peristiwa penting
tersebut adalah Isra-Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Kriterium dari
standar evaluasi itu adalah menerima sepenuhnya akan kebenaran
Isra-Mi'raj dengan pendekatan imani, seperti sikap yang
dicontohkan Abu Bakar Ash Shiddiq RA. "Kalau Nabi Muhammad
mengatakan bahwa beliau Isra-Mi'raj, maka lebih dari itu saya
percaya," demikian ucapan Abu Bakar RA kepada Abu Jahal yang
menyampaikan kepadanya informasi tentang Isra-Mi'raj itu. Ummat
Islam pecah tiga dalam menyikapi peristiwa Isra-Mi'raj itu.
Kelompok pertama ialah yang bersikap seperti Abu Bakar RA.
Kelompok kedua bersikap ragu (agnostik) dan kelompok ketiga
kembali kafir. Terjadilah proses kristalisasi Ummat Islam.
Kelompok pertama itulah yang lulus dalam evaluasi yang menjadi
kaum Muhajirin, yang kemudian bersama-sama dengan kaum Anshar
membina kehidupan bermasyarakat dan bernegara dalam Negara Islam
Madinah.
Sumber daya manusia yang berakhlaq tinggi dan tabah sangat
diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak
terkecuali dalam Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.
Kinerja sumber daya manusia yang berakhlaq tinggi, dan tabah
sangat dibutuhkan dalam menanamkan disiplin nasional serta
menghindarkan korupsi dan kolusi, sehingga nilai praxis berjalan
lancar dalam pengertian nilai-nilai instrumen berupa peraturan
perundang-undangan dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata
dalam masyarakat.
Kinerja sumber daya manusia yang berakhlaq tinggi hanya dapat
dicapai dengan merenovasi kurikulum dan mengubah sistem proses
belajar-mengajar menjadi proses mendidik-mengajar. Pendidikan
nilai-nilai agama dalam kurikulum diperbanyak porsinya. Sillabi
ditekankan pada nilai-nilai, bukan pada fiqh dan bukan bersifat
hafalan. Bahkan pada setiap mata ajaran diwarnai oleh nilai
agama. Pilihan ganda (multiple choice) jangan dipakai dalam
sistem evaluasi.
Apa yang dapat diharapkan luaran anak didik dalam pembinaan
sumber daya manusia yang berkualitas dalam contoh ujian Agama
Islam seperti di bawah ini (diambil dari soal ujian Ebta dari
salah satu SMA yang sementara berlangsung sekarang):
Peristiwa kematian seseorang tidak dapat dipercepat atau
ditunda dinyatakan oleh ayat:
a) Al Zilzaal, 1
b) Al Baqarah, 72
c) Al Qaari'ah, 3
d) Al Jum'ah, 10
e) Ali 'Imraan, 185
Tanpa diberi kesempatan untuk membuka Al Quran (dalam ujian
agama itu tidak diperbolehkan membuka Al Quran), maka yang dapat
menjawab adalah guru yang bersangkutan, apabila ia seorang
penghafal Al Quran. Guru yang bersangkutan yang tidak hafal Al
Quran tentu membuat pertanyaan itu setelah membuka Al Quran.
Berikut ini sebuah contoh bagaimana menyampaikan nilai kepada
anak didik dalam hubungannya dengan pembinaan akhlaq, yang dapat
disimak dari ayat:
Waidz Qulna- lilMalaikati Sjuduw liAdama faSajaduw Illa-
Ibliysa Abay waStakbara waKa-na mina lKafiriyna (S. Al Baqarah,
34). Dan ingatlah tatkala Kami berkata kepada para malaikat
sujudlah kepada Adam, maka mereka sujud, kecuali iblis ia enggan
dan takbur dan termasuklah ia di antara yang kafir (2:34).
Mengapa Allah menyuruh para malaikat sujud kepada Adam, dan
mengapa iblis tidak mau, apa alasan iblis? Anak didik disuruh
membuka Al Quran dan terjemahannya, disebutkan kepada mereka
Surah dan ayat yang terkait, disuruh cari dan disuruh baca dalam
hati, untuk mendapatkan jawabannya.
Maka tentu mereka akan mendapatkan jawabannya. Allah menyuruh
malaikat sujud kepada Adam, sujud menghormat, karena Adam adalah
guru malaikat dalam hal materi mengenal nama-nama setiap benda
di atas bumi (yang perlu) diketahui. Nilai yang dapat disimak
ialah akhlaq bersikap hormat kepada guru. Adapun alasan iblis
tidak mau hormat kepada gurunya itu, oleh karena menurut hemat
iblis ia lebih mulia dari Adam. Penilaian iblis itu berdasar atas
asal-usulnya, api lebih mulia dari tanah. Nilai yang dapat
disimak di sini ialah seorang murid tidak boleh membanggakan diri
terhadap gurunya karena kedudukan orang tuanya (pejabat,
eksekutif yang kaya), karena sikap yang demikian itu adalah sikap
yang tercela, bersikap seperti iblis.
Di dalam SAP misalnya kepada anak didik diberikan beberapa
Surah dan ayatnya, disuruh kerja kelompok menyimak nilai-nilai
yang ada dalam ayat itu. Itulah sekapur sirih contoh dalam
meneruskan nilai Islami kepada anak didik yang berhubungan dengan
pembinaan akhlaq, peningkatan kualitas sumber daya manusia.
WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 11 Mei 1997 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
||||||||||||||
| hmna | |||||||||||||||
| hak cipta terpelihara HMNA |
|||||||||||||||