| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Demi keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam
kolom ini setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila
pembaca merasa "terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui,
langsung ke cara membacanya saja. Saya menerima tanggapan melaui telepon
yaitu bagaimana mungkin dalam kurikulum setiap mata ajaran dapat
diwarnai oleh nilai agama. "Ustadz, apakah mungkin disiplin ilmu teknik
mesin dapat diberi nilai agama?" Sayangnya penanya itu tidak menyebutkan
namanya. Tetapi menurut hemat saya dia itu dosen Jurusan Mesin, atau
sekrang-kurangnya mahasiswa Jurusan Mesin. Tanggapan itu sehubungan
dengan yang saya tulis pada hari Ahad yang lalu (Seri 272) dalam rangka
menyambut Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1418.
Saya kutip paragraf yang menyangkut materi tersebut: "Kinerja sumberdaya
manusia yang berakhlaq tinggi hanya dapat dicapai dengan merenovasi
kurikulum dan mengubah sistem proses belajar-mengajar menjadi proses
mendidik-mengajar. Pendidikan nilai-nilai agama dalam kurikulum
diperbanyak porsinya. Silabi ditekankan pada nilai-nilai Syari'ah, bukan
pada fiqh dan bukan pula bersifat hafalan. Bahkan pada setiap
mata-ajaran diwarnai oleh nilai agama. Pilihan ganda (multiple choice)
jangan dipakai dalam sistem ecaluasi." Sebenarnya pewarnaan nilai agama,
terkhusus nilai Tawhid terhadap disiplin ilmu eksakta telah pernah saya
kemukakan sejumlah beberapa kali dalam kolom ini. Khusus pewarnaan
nilai Tawhid terhadap disiplin ilmu teknik mesin telah saya bahas dalam
Seri 155 yang berjudul: "Aplikasi Hukum Themodinamika Kedua dalam
Cakrawala yang Lebih Luas daripada Iptek." Saya akan kutip bagian
esensial dari Seri 155 tersebut: "Fisika klasik maupun fisika
relativitas dengan gambaran dunia ruang waktu empat dimensi (four
dimensional picture of the world, space-time continuum) tidak mempunyai
ketegasan pengertian tentang arah waktu (time arrow).
Oleh karena itu ada saja pakar yang membuat postulat tentang arah waktu
sebaliknya, dari masa depan ke masa lalu. Postulat ini menimbulkan
inspirasi bagi penulis novel yang bersipat science fiction, mengarang
cerita tentang orang-orang yang menembus lorong waktu ke masa silam.
Sehubungan dengan arah waktu Allah berfirman: SBH ASM RBK ALA'ALY .
ALDZY KHLQ FSWY (S.
ALA'ALY, 1-2), dibaca: sabbihisma rabbikal a'la- .
alladzi- khalaqa fasawwa- (s. al.a'la-), artinya: Sucikanlah nama Maha
Pengaturmu Yang Maha Tinggi. Yaitu Yang mencipta lalu menyempurnakan
(87:1-2). Menyempurnakan dalam ayat (87:2) memberikan keterangan secara
tegas tentang arah waktu, yaitu dari masa lalu ke masa depan. Dalam
thermodinamika dikenal sebuah sunnatuLlah yang disebut Hukum
Thermodinamika Kedua dengan perumusan William Thomson Kelvin (1842 -
1907) dan perumusan Rudolf Clausius (1822 - 1888). Perumusan Kelvin
menjadi asa mesin-mesin kalor dan perumusan Clausius menjadi asas
mesin-mesin pendingin. Walaupun kedua perumusan itu secara verbal
berbeda, namun pada pokoknya ialah dalam setiap proses thermodinamis,
enropi akan naik. Secara keseluruhan entopi alam syahadah naik terus,
jangankan turun, berhentipun tidak pernah. Ini yang disebut dengan
irreversible. Dalam hal panas, kenaikan entropi itu sebenarnya suatu
kerugian dalam organisasi molekuler. Ungkapan organisasi molekuler ini
perlu penjelasan.
Sebuah bola baja yang jatuh jika dilihat secara mikroskopis, maka
molekul-molekul bola baja itu bergerak ke bawah dengan pertambahan
kecepatan yang sama dalam arti setiap saat besarnya dan arahnya sejajar
serta molekul-molekul itu mengalami pula pertambahan tenaga kinetis yang
sama besarnya. Dalam hal ini kita melihat dua hal, yaitu energi dan
organisasi energi. Setelah bola baja itu menghantam landasan beton, maka
sebagian dari molekul-molekul bola baja itu mengalami perubahan arah
secara acak (random), ibarat nyamuk-nyamuk beterbangan tak teratur.
Sebagian lagi molekul-molekul itu geraknya tetap teratur terorganiser,
yaitu kecepataannya tetap sejajar dan sama besarnya. Maka tenaga bola
baja itu terbagi dua. Tenaga molekul-molekul yang acak tak terorganiser
yang ibarat nyamuk-nyamuk beterbangan itu berubah wujud dari tenaga
kinetis menjadi tenaga panas. Di samping itu keacakan
molekul-molekul yang seperti nyamuk itu mempengaruhi struktur bola baja
itu dalam wujud perubahan bentuk menjadi "gepeng". Sedangkan tenaga
molekul-molekul yang tetap terorganiser itu tetap berwujud tenaga
kinetis yang menyebabkan bola baja itu "melenting" ke atas mengikuti
hukum mekanika yaitu bagian dari SunnatuLlah yang dapat diungkapkan oleh
Sir Isaac Newton (1642 - 1727) dalam bentuk rumus: Aksi = - Reaksi.
Makin tinggi keacakan molekul-molekul yang seperti nyamuk itu makin
besar pua kuantitas terjadinya tenaga panas. Tinggi rendahnya keacakan
itu tergantung dari sifat material itu. Benda yang plastis tinggi
keacakannya sedangkan benda yang elastis rendah keacakannya. Berubahnya
sebagian tenaga kinetis itu menjadi tenaga panas, itulah yang dimaksud
dengan kerugian organisasi molekulur seperti disebutkan di atas itu.
Karena memang didapatkannya ilmu thermodinamika itu untuk kepentingan
efisiensi dalam rancang bangun teknologi, sedangkan sifat Iptek
khususnya dan ilmu sekuler umumnya yang dipelajari orang hingga dewasa
ini
dibangun di atas paradigma empirisme yang bergandengan tangan erat
dengan filsafat posirtivisme dan utilitarianisme, maka pengkajian sudah
logis jika berhenti pada aplikasi Ip pada Tek. Yang logis belum tentu
benar. Sesungguhnya Iptek itu menurut Syari'ah harus dimerdekakan dari
kungkungan positivisme dan menjangkau di atas cakrawala yang lebih
tinggi dari utilitiarisme.
Iptek harus dibangun di atas landasan paradigma empirisme (ayat
kawniyah) yang bernilai Tawhid, dengan tidak mengabaikan kemanfaatannya.
Maka pemikiran logis tidak akan berhenti pada hanya aplikasinya dalam
rancang bangun mesin-mesin konversi tenaga belaka. Demikianlah pula arah
waktu dipertegas dalam ayat kawniyah yaitu bagian SunnatuLlah yang
disebut Hukum Thermodinamika Kedua yang irreversible seperti yang telah
diuraikan di atas itu. Hukum Thermodinamika Kedua tidaklah menyangkut
tabiat molekul secara individual, melainkan menyangku keseluruhan unusur
molekul yang acak dalam "masyarakat" molekul yang hiruk-pikuk (the
random element in the crowd). Keadaan molekul yang makin acak yang tidak
terorganiser itu menunjukkan arah waktu yang tegas dari masa lampau ke
masa depan, oleh karena molekul-molekul yang bergerak ibarat nyamuk itu
tidak dapat lagi kembali kepada keadaan semula. Keacakan ini adalah
harga yang dibayar oleh transformasi fisis, suatu prinsip umum
SunnatuLlah yang diungkap oleh Ludwig Boltzmann (1844 - 1906). Allah SWT
menyempurnakan hasil ciptaannya FSWY (fasawwa-) berupa transformasi
fisis alam syahadah di satu pihak, sedangkan di lain pihak Allah SWT
mengurangi persediaan tenaga. Begitu transformasi fisis sudah
disemuprnakan Allah SWT, entropi menjadi maximum, persediaan tenaga
habis, berhenti pulalah proses di alam syahadah ini, dan inilah akhir
alam syahadah, kemudian menyusullah hari kiamat (dari Qiya-m artinya
berbangkit), yaitu diri (nafs) manusia di alam barzakh bangkit dengan
tubuh yang baru, lalu menghadapi pengadilan Allah di Yawmuddin (Hari
Pengadilan), lalu masuk ke alam akhirat, surga bagi yang beruntung
karena tunduk pada Syari'ah, atau neraka bagi yang celaka karena tidak
tunduk pada Syari'ah baik karena membangkang ataupun karena kafir semasa
hidupnya di dunia. Dalam uraian di atas itu bukan hanya sekadar dibahas
pewarnaan nilai agama (axiology) terhadap disiplin ilmu thermodinamika,
tetapi juga menyangkut dengan epistemology (the origin of nature,
methods, and limits of human knowledge) dan ontology (the nature of
existence). WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.
*** Makassar, 18
Mei 1997[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|