| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Sebelum perang ada seorang muballigh keturunan Cina, sehingga ia lebih
dikenal dengan nama kehormatan Guru Baba'. Ia pergi seorang diri
bertabligh ke pelosok-pelosok, ke daerah-daerah rawan. Caranya
berkomunikasi mudah dipahami. Di suatu tempat di perbatasan Bone dengan
Camba, yang waktu itu masih rawan, ia menaklukkan seorang kepala rampok
dalam pertarungan fisik. Setelah perampok itu mengakui kekalahannya,
Guru Baba menjelaskan dengan cara sederhana tentang keterbatasan
manusia. Ia berkata kepada perampok itu: "Coba angkat kaki kirimu", kata
Guru Baba'. "Itu hal yang mudah," jawab perampok itu sambil dengan
segera mengangkat kaki kirinya. "Sekarang," kata Guru Baba', "coba
angkat kaki kananmu". Perampok itu menurunkan kaki kirinya, kemudian
mengangkat kaki kanannya. "Angkat kaki kananmu tanpa menurunkan kaki
kirimu," perintah Guru Baba'.
Taqdir dalam bahasa Indonesia biasanya diterjemahkan dengan nasib.
Sesungguhnya terjemahan itu tidak kena, terlalu simplistik. Taqdir
berasal dari akar kata yang dibentuk oleh tiga huruf, Qaf, Dal dan Ra,
QaDdaRa, yang berarti membuat sesuatu menurut ukuran ataupun kapasitas
tertentu. Firman Allah:
Sabbihi Sma Rabbika lA'lay. Alladziy Khalaqa faSawway. Walladziy Qaddara
faHaday (S. Al A'lay, 1-3). Sucikanlah Nama Maha Pengaturmu. Yaitu Yang
mencipta, lalu menyempurnakan. Yaitu Yang membuat menurut ukuran, lalu
memberi petunjuk (87:1-3). Wa Khalaqa Kulla Syayin faQaddarahu Taqdiyran
(S. Al Furqa-n, 2). Dan Dia menciptakan lalu menentukan ukuran tiap-tiap
sesuatu (25:2).
Allah menciptakan setiap benda langit, lalu menyempurnakan bentuknya.
Allah menjadikan setiap benda langit dalam ukuran tertentu, lalu
menunjukkan jalan benda-benda langit melalui medan gravitasi. Allah
membuat ukuran dan kapasitas tertentu dalam DNA setiap benda hayati.
(Untuk mengetahui apa itu DNA, silakan baca Seri 267, 6 April 1997, yang
berjudul Cloning). DNA adalah blue print yang mengandung program Allah
secara spesifik untuk setiap benda hayati. Apa akan menjadi pohon kurma,
atau lebah, atau manusia. Jadi setiap benda hayati telah ditaqdirkan
Allah sesuai program Allah dalam DNA. Allah telah mentaqdirkan lebah
dapat terbang (Qaddara), kemudian Allah menunjuki lebah itu dengan
naluri (faHaday) sehingga dapat membuat sarang yang indah dan
mengumpulkan madu bunga-bungaan yang sedap rasanya, minuman yang
berkhasiat menyembuhkan beberapa penyakit. Allah mentaqdirkan manusia
tidak dapat terbang seperti lebah, sehingga kepala perampok itu tidak
dapat mengangkat kaki kanannya sementara kaki kirinya tidak berjejak di
atas bumi, seperti yang diperagakan Guru Baba dalam diri perampok itu.
Setiap pohon kurma, setiap ekor lebah, setiap seorang manusia
ditaqdirkan Allah dengan program secara spesifik yang di"print" dalam
DNA-nya masing-masing. Itulah sebabnya tak ada seorang juapun yang sama
dan sebangun bentuk fisik manusia. Usia setiap manusia telah ditaqdirkan
Allah dalam ukuran tertentu. Kalau mengambil perumpamaan tabung gas,
maka setiap orang telah ditakdirkan Allah volume tabung gasnya. Apabila
gas dalam tabung telah habis terpakai maka sampailah pula pada saat
ajalnya.
Faidza- Ja-a Ajaluhum La- Yasta'khiruwna Sa-'atan wa La- Yastaqdimuwna
(S. Al A'ra-f, 34). Apabila datang ajal mereka itu, tidaklah dapat
mundur waktunya atau maju (7:34).
Ikhtiar manusia dalam bingkai Taqdir Allah terletak dalam hal
penghematan pengeluaran gas dari tabung. Orang yang hemat memakai gasnya
dalam arti hidup teratur, menjaga kesehatan, tidak hura-hura, tidak suka
balap, tidak mengobral sex, tidak minum XTC, heroin dan sebangsanya,
maka rentang waktu hidupnya panjang. Sedangkan sebaliknya orang yang
tidak berikhtiar menghemat gas kehidupannya, hidup tidak teratur,
berhura-hura, mengobral sex dan seterusnya, gasnya akan lekas habis,
rentang waktu hidupnya pendek. Artinya orang yang ditaqdirkan Allah
kecil tabung gasnya tetapi hemat memakainya, umurnya lebih panjang dari
orang yang ditaqdirkan besar tabung gasnya tetapi boros memakainya.
Besar kecilnya volume tabung adalah Taqdir Allah, sedangkan panjang
pendek rentang waktu hidupnya tergantung pada ikhtiar manusia.
Berbeda dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan, Allah memberikan ruh kepada
manusia, yaitu manusia mempunyai ruh dan jasmani. Hidup di didunia ini
ibarat pabrik, tempat manusia yang beriman untuk memproduksi kebajikan.
Allah memberikan kebebasan kepada ruh manusia untuk beriman ataupun
ingkar.
Wa Quli lHaqqu min Rabbikum faMan Sya-a falYu'min wa Man Sya-a fa
lYakfur (S. Al Kahf, 29). Katakanlah kebenaran dari Maha Pengaturmu,
siapa yang mau berimanlah, siapa yang mau kafirlah (18:29).
Allah mentaqdirkan manusia mempunyai ruh dan jasmani. Ruhnya diberi
kebebasan memilih untuk beriman atau kafir, sedangkan jasmaninya
diprogramkan Allah dalam DNA-nya.
Ikhtiar manusia yang dibatasi oleh Taqdir Allah dapat pula
diilustrasikan dalam Dinamika Teknik, khususnya dalam rancang bangun
otomotif. Manusia dapat berikhtiar merancang bangun kapasitas mesin
otomotif sekehendaknya. Namun bagaimanapun besar kapasitas mesin itu,
percepatan (dinyatakan dalam simbol a) yang dihasilkannya dibatasi oleh
Taqdir Allah yang berwujud koefisien
gesek antara ban dengan permukaan jalan (dinyatakan dalam simbol f) dan
percepatan gravitasi (dinyatakan dalam simbol g). Supaya lebih jelas
dikemukakan di bawah ini rumus yang menyatakan hubungan besaran-besaran
tersebut:
amaximum = fcg/(b-fh),
c = jarak antara titik berat mobil dengan titik tengah dari kedua ban
depan,
b = jarak antara titik tumpu ban belakang pada jalan dengan titik tumpu
ban depan pada jalan, dan
h = tinggi titik berat mobil di atas jalan.
Bagaimanapun besarnya gaya dorong (F) mesin mobil, percepatan yang
dihasilkan oleh mesin itu tidak dapat melebihi ungkapan sebelah kanan
persamaan dalam rumus di atas. Ikhtiar manusia dapat menambah besar
amaximum dengan membuat konstruksi rangka mobil dengan memperbesar h.
Akan tetapi ikhtiar manusia dari segi konstruksi ini dibatasi Taqdir
Allah sebatas mobil itu masih dalam keadaan stabil, sebab jika h
diperbesar seenaknya maka mobil akan berjungkir balik, ibarat orang
ber-kop rol. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 1
Juni 1997 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|