| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Pada waktu Neil Armsrong menginjakkan kakinya di bulan, maka banyaklah
yang berlomba-lomba mangutip dan membacakan ayat:
Yama'syara lJinni walInsi Inistata'tum an Tanfudzuw min Aqtha-ri
sSamawati wa lArdhi faNfudzuw La- Tanfuzuwna Illa- bi Sulthanin (S. Ar
Rahman, 33). Hai para jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus
penjuru-penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, namun kamu tidak akan
mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (55:33).
S. Ar Rahman 33 tersebut dikemukakan berlatar belakang sikap apologi,
yaitu bermaksud membela diri ummat Islam dari keterbelakangannya di
bidang Iptek, jangan sampai ada tanggapan bahwa keterbelakangan ummat
Islam karena ajaran Al Quran. Sikap apologi yang demikian itu sifatnya
negatif, karena bukankah itu berarti menempatkan Al Quran dibawah isu
kemajuan Iptek?
Sikap apologi adalah suatu sikap dan gairah membela apa yang kita yakini
dalam bentuk lisan maupun tulisan. Maka posisi para apolog itu selalu
dalam keadaan yang defensif. Walaupun selamanya berada dalam keadaan
yang defensif, sikap apologi tidaklah selamanya negatif, melainkan dapat
pula positif, seperti jika Illa- bisulthanin dalam S. Ar Rahman 33,
persyaratan tentang kekuatan, energi, tegasnya persyaratan bahan bakar
difokuskan pada situasi krisis energi yang melanda peradaban ummat
manusia sekarang ini. Bukankah lebih baik jika persediaan bahan bakar
yang sudah menipis itu dipakai saja untuk aktivitas pembangunan di muka
bumi ini, ketimbang untuk mengarungi angkasa luar? Mufassir yang
memfokuskan pada krisis energi ini menempatkan Al Quran di atas isu
Iptek. Maka sikap apologi positif itu harus memenuhi kriteria: Al Quran
tidak diletakkan di bawah isu apapun juga dan membela salah pengertian
terhadap pemahaman Al Quran, baik yang datang
dari kalangan ummat Islam sendiri, maupun utamanya yang berasal dari
luar kalangan ummat Islam.
Bukankan telah tiba saatnya kita berupaya menggali Al Quran
sehingga sikap apologi positif yang defensif meningkat menjadi sikap
ofensif, yaitu proaktif. Yakni mencari ayat-ayat Al Quran untuk
mengoreksi Iptek. Berikut ini saya kemukakan sikap ofensif itu
dalam bidang ilmu falak.
Dalam istilah sehari-hari benda-benda yang kita lihat di atas bola
langit hanya dibedakan dalam: matahari, bulan dan bintang-bintang. Untuk
keperluan praktis dalam hal pelayaran dan pertanian beberapa dari
bintang itu diberi nama diri. Dalam ilmu falak bintang-bintang itu di
samping diberi nama diri juga diberikan pula nama jenis atau nama
golongan. Ada yang disebut dengan bintang-bintang tetap. Mengapa
dikatakan demikian, karena walaupun bintang-bintang itu
kelihatannya beredar mengelilingi bumi dilihat dari bumi ini,
bintang-bintang itu jaraknya tidak berubah-ubah antara satu dengan yang
lain di atas bola langit. Ada pula yang digolongkan dalam jenis
planet. Istilah ini diambil dari bahasa Yunani yang berarti musafir.
Mengapa disebut musafir, oleh karena bintang-bintang jenis planet itu
bergerak terhadap bintang-bintang tetap itu. Dilihat dari segi gerak
ini, kalau kita mau konsekwen, maka baik matahari maupun bulan tergolong
dalam planet, oleh karena kedua benda langit ini adalah musafir. Letak
kedunya bergeser, tidak tetap jaraknya terhadap bintang-bintang tetap.
Golongan yang ketiga disebut dengan galaxy yaitu gugus bintang-bintang
tetap. Ada pula gugus yang lebih besar, yaitu gugus yang
anggotanya terdiri atas galaxy dan disebut dengan super-galaxy atau
cluster.
Dengan berkembangnya ilmu falak ditambah pula lagi dengan
penggunaan instrumen yang canggih-canggih yang menopang ilmu falak itu
utamanya teropong bintang dan kamera untuk membuat foto, maka penggunaan
istilah bintang tetap itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Hasil
foto bintang-bintang tetap itu dilihat dari bumi pada bola langit dengan
instrumen yang sudah canggih, hanya dalam jangka waktu tahunan sudah
dapat dilihat bahwa letak bintang-bintang tetap itu tidak tetap lagi
jaraknya.
Maka dalam ilmu falak perlu dibongkar kriteria yang dipakai dalam
klasifikasi jenis bintang. Kita tentu tidak dapat lagi mempergunakan
gerak sebagai kriteria dalam klasifikasi penggolongan jenis bintang.
Maka di sinilah sikap ofensif yang ptoaktif itu diterapkan. Al Quran
memberikan kriteria yang lain sama sekali dalam klasifikasi jenis
bintang itu.
Dalam Al Quran bintang-bintang dibedakan dalam tiga jenis: kawkabun,
bentuk jama'nya kawakibun, najmun, bentuk jama'nya nujuwmun dan
buruwjun.
Adapun kawkabun adalah jenis bintang-bintang yang letaknya dekat dengan
bumi, seperti dalam S. Ashshaffat 6: Inna- Zayyanna- sSama-a
dDunya-biZiynati (ni)lKawa-kibi, sesungguhnya Kami hiasi langit yang
dekat dunia dengan hiasan kawakib. Kemudian dalam S. An Nur dijelaskan
bahwa kawkabun itu tidak mempunyai cahaya sendiri, ia bercahaya karena
memantulkan cahaya dari sebuah sumber cahaya. Dengarlah firman Allah
dalam S. An Nur 35: al Mishba-hu fiy Zuja-jatin azZuja-jatu Kaannaha-
Kawkabun, pelita di tengah kaca dan kaca itu ibarat kawkabun. Ayat itu
menggambarkan sebuah pelita yang dikelilingi gelas. Maka tentu permukaan
gelas itu memantulkan cahaya pelita, seperti kawkabun yang permukaannya
memantulkan cahaya matahari. Bahwa bumi bercahaya juga yaitu cahaya
pantulan dapat kita lihat di televisi hasil pemotretan dari pesawat
ulang-alik. Kriteria yang diberikan Al Quran pada jenis bintang Kawkab
adalah jaraknya yang dekat dan sifat fisiknya tidak bercahaya sendiri.
Bintang-bintang jenis kawkab ini adalah bintang-bintang yang menjadi
anggota tatasurya kita.
Allah berfirman dalam S. Al An'a-m 97 dan S. Ath Tha-riq 3: Wa Huwa
Lladziy Ja'ala Lakumu nNujuwma liTahtaduw biHa fiy Zhulumati lBarri
walBahri. An Najmu tsTsa-qibu. Dan Dialah yang menjadikan bagimu nujum
untuk menjadi pedoman dengannya dalam kegelapan malam baik di darat
maupun di laut. Najmun itu panas menyala.
Kriteria yang dipergunakan Al Quran dalam jenis bintang yang disebut
Najmun yaitu jarak yang jauh karena dapat dipakai sebagai pedoman dalam
kegelapan malam dan sifat fisiknya yang panas menyala, ibarat suluh api
atau obor yang menyala, (Syihabun tsaqib).
Jadi baik kawkabun maupun najmun kriteria dalam penggolongan
bintang-bintang itu bukanlah geraknya seperti cara lama, melainkan
jatak dan keadaan fifiknya.
Akan halnya istilah gugus bintang dengan nama jenis galaxy yang dalam
bahasa Al Quran disebut buruwjun, tidak ada permasalahan. Boleh tetap
dipakai galaxy, namun tentu lebih elok jika memakai istilah Al Quran
yaitu buruj. WaLlahu A'lamu bi shShawab.
*** Makassar, 22 Juni 1997 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|