|
(Oleh : A. Umar Said)
Jadi, apakah bisa dikatakan bahwa Bung Karno adalah seorang nasionalis
yang
Muslim dan berhaluan fikiran kiri? Ya, tetapi bukan hanya itu saja! Dari
sejarahnya sejak muda belia, nyatalah dengan jelas bahwa ia adalah
seorang
pejuang nasionalis yang tidak tanggung-tanggung. Dalam soal
ke-nasionalisme-an, Bung Karno adalah tokoh raksasa. Dan, sebagai
seorang
nasionalis revolusioner, perjuangannya adalah yang paling menonjol dalam
sejarah bangsa Indonesia sampai dewasa ini. Ia juga bukan seorang Muslim
yang sembarangan, yang pengetahuannya tentang Islam hanya
dangkal-dangkal
saja, atau hanya pura-pura menganut agama Islam. Ia adalah seorang haji,
yang pernah menyatakan kalau ia meninggal supaya mayatnya diselimuti
dengan
bendera Muhammadiyah. Ia juga seorang kepala negara yang revolusioner,
yang
berpandangan kiri dan tidak anti kepada marxisme dan tidak anti kepada
PKI.
Mengingat hiruk-pikuk tentang "sweeping" terhadap penerbitan
kiri dan
hingar-bingar tentang anti-komunisme yang akhir-akhir ini menjadi
"topik"
hangat dalam pers dan percakapan banyak orang, maka tulisan yang kali
ini
mencoba memberikan sekadar sumbangan bahan-bahan untuk pemikiran bersama
dalam perdebatan publik dewasa ini. Dan karena HUT ke-100 Bung Karno
akan
diperingati tidak lama lagi, maka penyajiannya juga diakomodasikan
dengan
peristiwa ini. Sebab, menampilkan kembali berbagai fikiran Bung Karno
dalam
konteks yang sekarang ini, mungkin bisa menjadi bahan referensi bagi
banyak
orang tentang arah yang perlu kita tempuh bersama sebagai bangsa yang
beradab.
Sebagai "pembuka" penyajian masalah, maka dikutip di sini
bagian-bagian
kecil pidato kenegaraan Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1960, yang
diambil dari koleksi "Di bawah Bendera Revolusi" jilid dua.
Keseluruhan
pidato ini agak panjang, dari halaman 395 sampai 435 (40 halaman), dan
merupakan kelanjutan dari pidatonya yang amat penting setahun
sebelumnya,
yaitu yang terkenal kemudian dengan Manifesto Politik (Manipol). Bagi
mereka
yang ingin mengetahui gagasan-gagasan besar Bung Karno, adalah perlu
sekali
untuk mempelajari isi kedua pidato ini, di samping pidato-pidatonya yang
lain. Sebab, dengan membaca karya-karya aslinya dan mendengarkan
pidato-pidatonyalah -yang dipadukan dengan memperhatikan
praktek-prakteknya - kita bisa menilai betapa pentingnya
ajaran-ajarannya
mengenai berbagai masalah besar bangsa.
AKIBAT PERANG DINGIN : KOMUNISTO-PHOBI
Bagian kecil pidatonya tahun 1960 itu adalah sebagai berikut:
" Beberapa tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan kita, maka
terjadilah di
luar negeri, - kemudian juga meniup di angkasa kita -, apa yang
dinamakan
"perang dingin". Perang dingin ini sangat memuncak pada
kira-kira tahun
1950, malah hampir-hampir saja memanas menjadi perang panas. Ia amat
menghambat pertumbuhan-pertumbuhan progresif berbagai negara. Tadinya,
segera sesudah selesainya Perang Dunia yang ke-II, aliran-aliran di
mana-mana mulailah berjalan pesat.
"Tetapi pada kira-kira tahun 1950, sebagai salah satu penjelmaan
daripada
perang dingin yang menghebat itu, aliran-aliran progresif mudah sekali
dicap
"Komunis". Segala apa saja yang menuju angan-angan baru dicap
"Komunis".
Anti-kolonialisme - Komunis. Anti exploitation de l'homme par
l'homme -
Komunis. Anti-feodalisme - Komunis. Anti kompromis - Komunis. Konsekwen
revolusioner - Komunis.
"Ini banyak sekali mempengaruhi fikiran orang-orang, terutama
sekali
fikirannya orang-orang yang memang jiwanya kintel. Dan ini pun terus
dipergunakan (diambil manfaatnya) oleh orang-orang Indonesia yang memang
jiwanya jiwa kapitalis, feodalis, federalis, kompromis, blandis, dan
lain-lain sebagainya.
"Dus : Orang-orang yang jiwanya negatif menjadilah menderita
penyakit "takut
kalau-kalau disebut kiri", "takut kalau-kalau disebut
Komunis". Kiri-phobi
dan komunisto-phobi membuat mereka menjadi konservatif dan reaksioner
dalam
soal-soal politik dan soal-soal pembangunan sosial-ekonomis. Dan,
orang-orang yang jiwanya memang objektif ingin menegakkan kapitalisme
dan
feodalisme, mengucapkan selamat datang kepada peng-capan kiri dan
peng-capan Komunis yang dipropagandakan oleh satu fihak daripada perang
dingin itu.
"Sampai sekarang masih saja ada orang-orang yang tidak bisa
berfikir secara
bebas apa yang baik bagi rakyat Indonesia dan apa keinginan Rakyat
Indonesia, melainkan à priori telah benci dan menentang segala apa saja
yang
mereka sangka adalah kiri dan adalah "Komunis".
"Dua sebab subjektif dan objektif itu membuat beberapa golongan
dari Rakyat
Indonesia menjadi konservatif dan reaksioner, anti-progresif dan
anti-revolusioner " (kutipan dari halaman 406 dan 407)..
Para pembaca yang budiman. Mohon dicatat bahwa pidato ini diucapkan 5
tahun
sebelum terjadinya peristiwa G30S, dan setahun sesudah diucapkannya
pidato
Manifesto Politik (Manipol) dan juga setahun sesudah Kongres PKI ke-6,
yang
resepsinya dihadiri oleh Bung Karno (tentang hal ini ada catatan
tersendiri.
Pen.). Waktu itu, Bung Karno sudah mengecam, memperingatkan, bahkan
"memarahi" orang-orang yang anti-Marxisme atau anti-Komunis.
Kalau dibaca
karya-karyanya atau didengar pidato-pidatonya, maka akan nyatalah bahwa
hampir dalam semua pidatonya itu tercermin keinginannya yang
menyala-nyala
(atau cita-citanya yang paling diidam-idamkannya), yaitu : tergalangnya
persatuan revolusioner dari seluruh potensi bangsa, termasuk golongan
komunis.
PERSATUAN REVOLUSIONER DAN GOTONG ROYONG
Hal yang demikian itu juga nampak jelas sekali dalam bagian lain
pidatonya
yang itu juga, yang berbunyi sebagai berikut:
"Di Indonesia ini memang telah ada ada tiga golongan-besar
"revolutionaire
krachten", yaitu Islam, Nasional, dan Komunis. Senang atau tidak
senang, ini
tidak bisa dibantah lagi! Dewa-dewa dari Kayanganpun tidak bisa
membantah
kenyataan ini! Jikalau benar-benar kita hendak melaksanakan Manifesto
Politik-USDEK, jikalau kita benar-benar setia kepada Revolusi, jikalau
benar-benar kita setia kepada jiwa Gotong Royong, jikalau benar-benar
kita
tidak kekanak-kanakan tetapi sedar benar-benar bahwa Gotong Royong,
Persatuan, Samenbundeling adalah keharusan dalam perjuangan anti
imperialisme dan kapitalisme, maka kita harus mewujudkan persatuan
antara
golongan Islam, golongan Nasional, dan golongan Komunis itu. Maka kita
tidak
boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nasionalisto-phobi, atau
Komunisto-phobi!
"Janganlah mengira bahwa saya ini orang yang sekarang ini memberi
"angin"
kepada sesuatu fihak saja. Tidak! Saya akan bersyukur kepada Tuhan kalau
saya mendapat predikat revolusioner. Revolusioner di masa dulu, dan
revolusioner di masa sekarang. Justru oleh karena saya revolusioner,
maka
saya ingin bangsaku menang. Dan justru oleh karena saya ingin
bangsaku
menang, maka dulu dan sekarang pun saya membanting tulang
mempersatukan
semua tenaga revolusioner, - Islamkah dia, Nasionalkah dia, Komuniskah
dia!
"Bukalah tulisan-tulisan saya dari zaman penjajahan. Bacalah
tulisan saya
panjang-lebar dalam majalah "Suluh Indonesia Muda" tahun 1926,
tahun
gawat-gawatnya perjoangan menentang Belanda. Di dalam tulisan itupun
saya
telah menganjurkan, dan membuktikan dapatnya, persatuan antara Islam,
Nasionalisme, dan Marxisme. Saya membuka topi kepada Saudara Haji
Muslich,
tokoh alim-ulama Islam yang terkemuka, yang menyatakan beberapa pekan
yang
lalu persetujuannya kepada persatuan Islam-Nasional-Komunis itu, oleh
karena
persatuan itu memang perlu, memang mungkin, memang dapat." (dikutip
dari
halaman 414, Di bawah Bendera Revolusi, jilid dua).
* * *
Dapatlah dimengerti, kiranya, bahwa ada orang-orang (terutama di
kalangan
muda) yang "kaget" atau termangu-mangu ketika membaca kutipan
di atas.
"Ungkapan" yang demikian itu sudah hilang, tidak pernah
terdengar lagi,
selama lebih dari 30 tahun!!! Dan, mungkin ada juga yang bertanya-tanya
dalam hati, apakah betul Bung Karno, sebagai Presiden, Kepala Negara dan
Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI pernah mengucapkan hal-hal yang
seperti itu? Dan, barangkali juga, ada yang bertanya-tanya mengapa
Bung
Karno sampai berbicara semacam itu.
Kalau memang betul ada orang-orang yang sampai mempertanyakannya, itulah
salah satu di antara bukti-bukti tentang betapa hebatnya
"pembrangusan"
suara Bung Karno selama puluhan tahun ini oleh Orde Baru/GOLKAR. Itulah
bukti juga bahwa bangsa Indonesia telah secara sengaja dibikin
"lupa" kepada
sejarahnya sendiri. Bahwa bangsa Indonesia (terutama generasi muda)
menjadi
tidak mengenal sejarah perjuangan Bung Karno adalah dosa besar
Orde
Baru/GOLKAR. Bahwa dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah hanya
disajikan sejarahnya secara superfisial atau sepotong-potong -
bahkan
dengan konotasi yang negatif - adalah sesuatu yang untuk selanjutnya di
kemudian hari harus dikoreksi, dirombak, atau disusun kembali.
SEGALA-GALAANYA UNTUK DAN DEMI RAKYAT!
Sekarang ini, dan untuk selanjutnya, bangsa kita berhak untuk mengenal
sejarah Bung Karno sebaik mungkin atau sebanyak mungkin. Oleh karena
itu,
buku-buku yang berisi karya-karya aslinya atau gagasan-gagasannya perlu
disebar-luaskan secara bebas dan seluas-luasnya. Di samping itu, perlu
dianjurkan atau didorong lahirnya berbagai tulisan tentang sejarah
perjuangannya, tentang jasa-jasanya kepada rakyat dan bangsa, dan juga
tentang kesalahan-kesalahannya. Dengan demikian, maka ada bahan atau
sarana
bagi rakyat dan bangsa untuk mengetahui bahwa rakyat Indonesia pernah
mempunyai seorang pemimpin yang besar dan patut dijadikan kebangggaan
rakyat. Juga, dengan demikian, rakyat kita tahu juga bahwa Bung Karno
telah
menjadi korban dari para pendiri sistem politik Orde Baru/GOLKAR.
Rakyat perlu dan berhak tahu, bahwa pengkhianatan para pendiri Orde
Baru/GOLKAR terhadap Bung Karno, pada hakekatnya adalah juga
pengkhianatan
terhadap rakyat. Sebab, sejarah sudah membuktikan, secara nyata pula,
bahwa
Bung Karno memang berjuang untuk kepentingan rakyat banyak, terutama
"rakyat" kecil. Kalau dibaca karya-karyanya dan
didengar pidato-pidatonya,
maka jelas sekali bahwa titik pusat perjuangannya adalah untuk
membebaskan
rakyat dari segala macam penindasan dan penghisapan. Oleh karena itulah,
sebagai seorang revolusioner yang ingin berjuang untuk kepentingan
rakyat
kecil, ia telah menciptakan Marhaenisme.
Marhaenisme mengangkat masalah penghisapan dan penidasan "rakyat
kecil"
yang terdiri dari kaum tani miskin, petani kecil, buruh miskin, pedagang
kecil - kaum melarat Indonesia - yang dilakukan oleh para kapitalis,
tuan-tanah, rentenir dan golongan-golongan penghisap lainnya. Ungkapan
yang
sering dipakai oleh Bung Karno, dan yang paling terkenal, adalah
"l'
exploitation de l'homme par l'homme" (penghisapan manusia oleh
manusia).
Marhaenisme, yang telah dilahirkannya dan dikembangkannya antara tahun
1930-1933 merupakan pemikiran-pemikiran kiri yang senafas dengan
Marxisme.
Karyanya ini, seperti banyak karyanya yang lain, menunjukkan
dengan jelas
bahwa baginya, kepentingan rakyat adalah tujuan akhir dari
segala-galanya.
Ketika dewasa ini kita sedang memperingati HUT ke-100 Bung Karno, perlu
sekali menyoroti masalah satunya, atau bersatunya, atau kesatuannya jiwa
Bung Karno dengan jiwa kerakyatan ini. Untuk itu, barangkali ada gunanya
untuk dikutip satu bagian kecil pidatonya tahun 1957, yang berbunyi
sebagai
berikut :
"Coba ingatkan kembali pergerakan kita dulu sebelum mencapai
kemerdekaan.
Dulu kita semua adalah "rakyati", dulu kita semua adalah
"volks". Api
pergerakan kita dulu itu kita ambil dari dapur apinya rakyat. Segala
fikiran
dan angan-angan kita dulu itu kita tujukan kepada kepentingan rakyat.
Tujuan
pergerakan kita dulu itu yalah masyarakat adil dan makmur bagi rakyat.
Segala apa-saja sebagai hasil penggabungan tenaga rakyat, dulu kita
pakai
sebagai alat perjuangan. Segenap kekuatan perjuangan kita dulu adalah
kekuatan rakyat. (Di bawah Bbendera Revolusi, halaman 285).
"Sebenarnya, semua dasar-dasar daripada perjuangan kita dahulu,
tetap
berlaku bagi zaman sekarang. Hanya, sekarang, dalam alam kemerdekaan ini
har
us ditujukan kepada hal-hal yang lebih kongkrit; ditujukan kepada
hal-hal
yang bersangkut-paut dengan penghidupan rakyat sehari-hari. Tetapi
dasar-dasarnya harus tetap. Kekuatan kita harus tetap bersumber kekuatan
rakyat. Api kita harus tetap apinya semangat rakyat. Pedoman kita harus
tetap kepentingan rakyat. Tujuan kita harus tetap masyarakat adil dan
makmur, masyarakat "rakyat untuk rakyat". Karakteristik
segenap
tindak-tanduk perjuangan kita harus tetap karakteristik rakyat, yaitu
karakteristik rakyat Indonesia sendiri dan karakteristik bangsa
Indonesia
sendiri" (Di bawah Bendera Revolusi, halaman 286).
PENGGULINGAN BUNG KARNO : PENGKHIANATAN THD RAKYAT
Itulah, Bung Karno! Karenanya, orang-orang yang anti Bung Karno (waktu
itu,
dan juga sekarang) tidak bisa menyerang Bung Karno dengan tuduhan bahwa
ia
membohongi rakyat, atau menindas rakyat, atau merugikan kepentingan
rakyat.
Bung Karno tidak bisa diserang dengan dalih bahwa apa yang ia ucapkan
adalah
berbeda dengan apa yang ia laksanakan. Justru sebaliknya, ia diserang
justru
karena ia menyuarakan hati nurani rakyat. Ia dimusuhi karena ia bersatu
dengan rakyat. Oleh karena itu, penggulingan Bung Karno oleh para
pendiri
Orde Batu/GOLKAR adalah sesungguhnya pengkhianatan terhadap Amanat
Penderitaan Rakyat.
Pengalaman selama Orde Baru lebih dari 32 tahun, yang
akibat-akibatnya
masih bisa disaksikan sampai sekarang, adalah buktinya. Dewasa ini
diperkirakan ada 40 juta orang yang menganggur dan setengah menganggur,
tetapi sebaliknya lapisan-lapisan tertentu masyarakat hidup dalam
kemewahan
yang asalnya adalah dari cara-cara yang haram atau tidak bermoral.
Selama
puluhan tahun selalu digembar-gemborkan bahwa Orde Baru adalah
"orde
pembangunan". Adalah kenyataan yang sama-sama kita saksikan dewasa
ini bahwa
Orde Baru/GOLKAR adalah justru orde perusakan secara besar-besaran :
semangat revolusioner bangsa sudah dipadamkan, nasionalisme patriotik
mengalami erosi besar-besaran, jiwa gotong-royong dimandulkan,
persatuan
antar-suku diporak-porandakan, kerukunan antar-agama dirusak.
Supaya lebih jelas bahwa penggulingan Bung Karno adalah pengkhianatan
terhadap Amanat Penderitaan Rakyat bisa juga kita lihat dari segi-segi
yang
lain, antara lain : banyak para "elite" yang bicara lantang
atas nama rakyat
dan demi rakyat tetapi sekaligus juga mencuri kekayaan negara secara
besar-besaran. Pelaku-pelaku berat di bidang kejahatan kriminal,
kejahatan
politik, kejahatan ekonomi kelas kakap, dan kejahatan kemanusiaan masih
bebas lenggang-kangkung saja, karena mereka bisa "membeli"
aparat-aparat
negara. Para pejabat pemerintah dan para politisi (termasuk sebagian
besar
para pimpinan partai dan anggota "dewan perwakilan rakyat")
sudah
mempersetankan missi mereka sebagai pengabdi kepentingan rakyat.
Kejujuran
sudah menjadi sifat yang langka. Ringkasnya, kehidupan moral sudah
mengalami
pembusukan secara besar-besaran.
AJARAN BUNG KARNO DIMUSUHI ORDE BARU
Sekarang makin jelas, bahwa ajaran-ajaran dan politik Bung Karno, yang
sudah
menjadi pedoman perjuangan rakyat dan bangsa selama puluhan tahun telah
lama
ditentang dan dirusak oleh Orde Baru, yang sebagian akibat-akibatnya
tergambar seperti di atas. Maka, sekarang makin terasalah adanya
kebutuhan
untuk mengisi kembali kekosongan spiritual bangsa dengan ajaran-ajaran
revolusioner dan kerakyatan Bung Karno. Sebab, ternyata, bahwa Orde Baru
selama 32 tahun tidak bisa - dan tidak mungkin !!! - menciptakan
pedoman
spiritual dan moral bagi rakyat dan bangsa. Bahkan sebaliknya, pedoman
yang
sudah ada pun telah dicampakkannya. Pancasila pun yang disajikan sebagai
"plagiat" selama puluhan tahun, telah diisi oleh Orde
Baru dengan
praktek-praktek yang justru bertentangan sama sekali dengan jiwa asli
Pancasilanya Bung Karno.
Kalau kita teliti karya dan sejarah Bung Karno, maka jelaslah bahwa
ajaran-ajaran atau gagasan-gagasan Bung Karno mengenai kehidupan bangsa
dan
negara adalah revolusioner dan kiri dan mengangkat kepentingan rakyat
sebagai panglima. Justru karena itulah maka amat penting untuk
menampilkan
kembali ajaran-ajarannya pada dewasa ini, demi kepentingan rakyat dan
kebaikan kehidupan bangsa sebagai keseluruhan. Menampilkan ajaran Bung
Karno
dewasa ini mungkin akan ada gunanya bagi para "elite" di
berbagai kalangan,
supaya mereka ingat kepada tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing
terhadap kepentingan rakyat. Mungkin ada gunanya juga untuk mengingatkan
"mereka" yang sedang "memerangi" buku-buku kiri dan
marxist, atau yang
mendirikan posko-posko anti-komunis, bahwa jalan yang mereka
tempuh adalah
jalan yang salah dan, juga, menyesatkan.
Tetapi, mengingat masih besarnya effek racun yang sudah dicekokkan oleh
Orde
Baru/GOLKAR selama puluhan tahun, bisalah dimengerti bahwa pekerjaan ini
tidak mudah, dan akan mengalami rintangan atau menghadapi perlawanan
dari
mereka-mereka yang ingin tetap meneruskan praktek-praktek rezim militer
Suharto dkk. Namun, mengingat akan besarnya kerusakan-kerusakan yang
telah
dibikin oleh Orde Baru/GOLKAR, maka mau tidak mau, rakyat dan
bangsa kita
perlu dibangkitkan kembali untuk bisa menempuh jalan yang benar. Dalam
rangka inilah penyebaran kembali ajaran-ajaran Bung Karno mungkin akan
bisa
memberikan sumbangan besar untuk pendidikan bangsa.
Kalau untuk tujuan yang luhur ini masih ada saja yang menentang -
melalui
berbagai cara dan bentuk-, maka hal yang demikian itu membuktikan bahwa
sisa-sisa fikiran dan praktek-praktek Orde Baru (yang telah membodohkan
banyak orang!) masih tetap meracuni benak mereka. Karenanya,
perjuangan
untuk melawan fikiran-fikiran terbelakang semacam ini perlu digelar
terus-menerus bersama-sama, demi pendidikan politik dan moral bagi
rakyat
dan demi peningkatan peradaban dan kebudayaan berfikir bangsa.
Paris, 14 Mei 2001
(Catatan : tulisan ini bebas untuk diteruskan kepada siapa saja, dan
juga
bebas untuk digunakan selayaknya.
Untuk hubungan dengan E-mail : kontak@club-internet. Fr )
|