|
(Oleh : A. Umar Said)
Judul ini menyangkut masalah besar!. Karena, isinya berkaitan erat
dengan
masalah nasional (dan juga internasional) yang telah mengakibatkan :
digulingkannya Presiden Sukarno, dibunuhnya jutaan orang tidak bersalah,
berkuasanya Orde Baru/GOLKAR selama lebih dari 32 tahun, kemunduran
kebudayaan berfikir secara beradab di Indoneia, kerusakan moral
besar-besaran di kalangan "atas", dibunuhnya demokrasi,
dimandulkannya
Pancasila, dan keterpurukan negara dan bangsa seperti yang sama-sama
kita
saksikan dewasa ini.
Sejarah Bung Karno dan sejarah PKI akan tetap menjadi masalah yang
penting
untuk terus direnungkan, dikaji, dan dibicarakan. Sebab sejak terjadinya
G30S dalam tahun 1965, banyak hal-hal yang masih gelap atau digelapkan,
baik
yang berkaitan dengan Bung Karno maupun PKI. Sekarang ini, makin banyak
orang yang makin yakin bahwa selama lebih dari 32 tahun, Orde
Baru/GOLKAR
beserta pendukung-pendukung setianya, telah menyajikan dua masalah ini
secara sefihak, secara tidak fair atau secara tidak jujur. Selama itu,
baik
Bung Karno maupun PKI telah dijadikan bulan-bulanan serangan oleh
"sejarah
versi resmi" Orde Baru. Dan selama puluhan tahun itu pula Orde
Baru/GOLKAR
melarang, mencegah, atau mematahkan, setiap usaha untuk menyajikan kedua
persoalan ini secara berbeda dengan "versi resmi" itu.
Begitu hebatnya serangan Orde Baru/GOLKAR lewat indoktrinasi yang
menyesatkan ini, yang dilakukan puluhan tahun secara intensif, permanen
dan
menyeluruh, sehingga citra Bung Karno dan PKI menjadilah serba negatif
di
benak banyak orang. Sekarang ini, setelah terbukti bahwa sistem politik
Orde
Baru adalah begitu buruk, dan setelah praktek-praktek para pendirinya
dan
para pendukung setianya ternyata jelas telah menimbulkan begitu banyak
kerusakan terhadap negara dan bangsa, banyak orang mulai bertanya-tanya
mengapa Bung Karno telah digulingkan dan mengapa pula PKI ditindas. Dan,
bahkan orang mulai berfikir, bukankah karena Bung Karno digulingkan dan
PKI
ditindas itulah, maka, sebagai akibatanya, keadaan negara dan bangsa
menjadi
kacau, ruwet, dan penuh kebobrokan seperti sekarang ini?.
AMANAT PENDERITAAN RAKYAT JANGAN DIKHIANATI
Sejarah perjuangan politik Bung Karno menunjukkan dengan jelas bahwa ia
sejak berusia duapuluhan tahun, sudah menampilkan diri sebagai seorang
nasionalis Islam yang kiri, seorang pejuang anti-penjajahan yang
revolusioner, yang menggunakan analisa marxis dalam memandang
persoalan-persoalan masyarakat dan perjuangan bangsa. Tulisannya yang
terkenal "Nasionalisme, Islam dan Marxisme" dalam majalah
Suluh Indonesia
Muda , ketika ia masih berumur 26 tahun, adalah bukti tentang
kecemerlangan
fikirannya. Dalam sejarah para perintis kemerdekaan kita, ia sangat
menonjol
sekali dalam hal ini.
Oleh karena itu, dapatlah kiranya dimengerti bahwa sebagai seorang
pemuda
revolusioner, ia menghargai semangat pembrontakan PKI dalam tahun 1926
melawan pemerintahan kolonial Belanda. Setelah menjadi kepala negara
pun,
dalam berbagai kesempatan ia juga telah menyebutkan betapa besar
pengorbanan
orang-orang yang dipenjarakan atau dibuang ke Tanah Merah (Boven Digul)
karena perjuangan mereka itu, demi Amanat Penderitaan Rakyat. Antara
lain ia
pernah berpesan sebagai berikut :
" Kita tidak bisa tidak menyelanggarakan masyarakat adil dan makmur
yang
saya namakan Amanat Penderitaan Rakyat, oleh karena penderitaan Rakyat
berpuluh-puluh tahun semua adalah perjuangan dan korbanan untuk mencapai
cita-cita masayarakat adil dan makmur itu! Amanat adalah suatu
titipan
daripada Rakyat. Amanat ini harus kita setiai. Amanat ini tidak
boleh kita
khianati, oleh siapapun juga yang menamakan dirinya patriot Indonesia,
pejuang Indonesia, Pengabdi Negara Republik Indonesia.
"Amanat Penderitaan Rakyat ini sudah tidak boleh kita ganggu gugat
lagi,
bahwa ia adalah satu kewajiban yang utama bagi kita. Ia tertulis
sebenarnya
di atas batu-batu nisan kuburannya pejuang-pejuang kita yang telah
mangkat.
Ia tertulis di dinding-dinding tembok penjara-penjara di mana
pemimpin-pemimpin kita meringkuk bertahun-tahun atau berpuluh-puluh
tahun.
Ia tertulis di pohon kayu di Boven Digul atau Tanah Tinggi Boven Digul.
Ia
tertulis di batu-batu yang di bawahnya terkuburlah pahlawan-pahlawan
Revolusi. Hal ini tidak boleh kita tawar-tawar lagi. Ini adalah
kewajiban
kita semua" (Dikutip dari buku J.K. Tumakaka "Peralihan
kekuasaan Soekarno,
Soeharto, Habibi", halaman 58, "Amanat Presiden pada
musyawarah dinas
Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan para Gubernur" ).
DUA KEKUATAN ANTI-KOLONIAL DAN ANTI-IMPERIALIS.
Dalam membaca sejarah PKI sejak dari lahirnya dalam tahun 1920 sampai
1965,
nyatalah bahwa dalam menghadapi pemerintahan kolonial Belanda dan
fasisme
Jepang, PKI merupakan salah satu di antara kekuatan yang bersikap paling
konsekwen. Kemudian, sesudah tahun 1949, PKI merupakan kekuatan
aktif dalam
menentang hasil-hasil Konferensi Meja Bundar (dengan Belanda), menentang
RIS, melawan perjanjian Mutual Security Act (dengan AS). Sampai
akhir 1959,
PKI juga memberikan sumbangan yang penting, dalam perjuangan nasional
melawan gerakan-gerakan separatis kontra-revolusioner yang dilakukan
oleh
Dewan Banteng, Dewan Garuda, Dewan Gajah, Dewan Manguni, dan
PRRI-Permesta.
Karena perjuangan nasional melawan berbagai gerakan kontra-revolusioner
inilah maka banyak anggota PKI beserta simpatisan-simpatisannya telah
dibunuhi atau ditangkapi secara besar-besaran di Sumatera, di
Kalimantan
atau Sulawesi. Pembunuhan terhadap para tahanan PKI di kamp Situjuh
(Sumatera Barat) oleh pasukan Dewan Banteng/PRRI adalah hanya sebagian
kecil
saja dari korban di kalangan PKI yang disebabkan oleh berbagai gerakan
kontra-revolusi itu Supaya lebih jelas : ketika partai Masyumi dan
PSI
secara terang-terangan berdiri di belakang pembrontakan
kontra-revolusioner
PRRI-Permesta (yang disokong CIA), maka PKI telah tampil sebagai
kekuatan
yang ikut aktif mempertahankan keselamatan Republik Indonesia.
Sejak ditetapkannya Manifesto Politik sebagai Haluan Negara oleh MPRS
(1959), PKI juga merupakan salah satu kekuatan pendukungnya yang utama,
seperti halnya dalam perjuangan "Ganyang Malaisia", dan
perjuangan untuk
merebut kembali Irian Barat. Singkatnya, sejarah perjuangan PKI adalah
sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.
Sejarah
ini diselingi oleh satu peristiwa, yang dinamakan peristiwa Madiun (ada
yang
menamakan "pembrontakan" Madiun), yang asal-usulnya atau
latar-belakang
sebenarnya masih tetap dipersoalkan oleh berbagai fihak.
Seiring dengan perkembangan situasi yang demikian itulah,
ketokohan Bung
Karno sebagai kepala negara yang menggenggam garis politik revolusioner
anti-imperialis makin menonjol juga. Politiknya untuk melikwidasi
sisa-sisa
kolonialisme Belanda berakhir dengan dibubarkannya Union dengan
Kerajaan
Belanda dalam tahun 1956. Konferensi Bandung (1955) telah menampilkannya
sebagai tokoh terkemuka internasional anti-imperialisme. Politiknya
tentang
hubungan dengan RRT dan permusuhan dengan Taiwan telah membikin marah
AS.
Sejak lahirnya RRT, Bung Karno memperlihatkan simpatinya yang besar
terhadapnya, dengan memperjuangkan keanggotaan RRT ke dalam PBB.
Dari berbagai dokumen dan analisa yang dibuat oleh ahli-ahli Barat
sendiri,
nyatalah sekarang bahwa Bung Karno telah dijadikan "sasaran
inceran" Perang
Dingin sejak permulaan tahun 50-an. Usaha untuk menggoyang pemerintahan
Sukarno menjadi lebih jelas lagi dengan adanya dukungan kekuatan asing
kepada gerakan-gerakan di daerah-daerah, sehingga SOB (Keadaan Negara
dalam
Bahaya) terpaksa diumumkan dalam tahun 1958. SOB inilah yang ternyata
digunakan oleh militer (TNI-AD) untuk memperkuat kedudukan mereka dalam
perpolitikan di Indonesia dan juga di bidang ekonomi (yang kemudian
makin
terus membesar, sampai sekarang!). Pertentangan antara sebagian golongan
pimpinan militer dan Bung Karno mulailah makin terasa sejak itu.
Singkatnya, dari perjalanan sejarah semasa periode itu maka jelaslah
bahwa
garis politik revolusioner Bung Karno makin lama makin mendapat dukungan
dari PKI yang sudah sejak lama juga merupakan kekuatan revolusioner
penentang imperialisme (terutama AS). Gabungan dua kekuatan revolusioner
ini
berhadapan dengan kekuatan imperialis yang bersekutu dengan kekuatan
kontra-revolusi dan anasir-anasir anti-Sukarno di dalamnegeri (termasuk
sebagian golongan Islam dan juga sebagian pimpinan militer).
Perjuangan untuk merebut Irian Barat dan juga perlawanan terhadap projek
politik Inggris "Malaysia" (waktu itu!), ditambah dengan
perang di Indo-Cina
dan kemudian dibentuknya poros Jakarta-Pnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang,
membikin makin "berbahayanya" garis politik Sukarno bagi
kepentingan
strategi global AS di kawasan Asia dan Asia Tenggara. Sebaliknya, Bung
Karno
yang makin dimusuhi oleh dunia Barat (dengan AS sebagai kepalanya),
makin
membutuhkan adanya sokongan yang kuat dari pendukung-pendukung
politiknya.
Di antara pendukung Bung Karno itu terdapatlah PKI yang selama ini
memang
sudah selalu secara aktif menyokong garis politik anti-imperialisnya.
PKI ADALAH YO SANAK YO KADANG ..
Dari itu semua, dapatlah kiranya dimengerti bahwa Bung Karno, sebagai
seorang pemimpin nasionalis revolusioner, melihat pada PKI sebagai
sekutunya yang konsekwen dalam melawan imperialisme dan meneruskan
revolusi
17 Agustus. Sesuai dengan gagasan-dasarnya sejak muda, maka ia
menganggap
perlunya disatukannya PKI dalam perjuangan bersama bangsa. Bahkan, lebih
dari itu. Bung Karno melihat pada PKI sebagai mitra perjuangan. Untuk
bisa
sama-sama menghayati fikiran-fikirannya tentang hal ini, maka perlulah
kita
membaca pidatonya di depan resepsi Kongres ke-6 PKI (1959) yang berjudul
"Yo sanak yo kadang, malah yen mati aku sing kélangan" (Ya
saudara, ya
keluarga, kalau mati saya ikut kehilangan). Bahkan, kalau kebetulan bisa
mendengarkan kasetnya, maka kita akan dapat benar-benar
"menikmati" (dan
menghormati) gagasan-gagasan besarnya.
Dalam pidatonya itu (yang makan waktu hampir satu jam) antara lain
dikatakannya :
"Ya, saudara-saudara, barangkali sayalah satu-satunya Presiden
sesuatu
negara di dunia ini, negara yang bukan dinamakan negara Sosialis,
yang
menghadiri satu Kongres Partai Komunis (tepuktangan lama). Nah, betapa
tidak
saudara-saudara! Betapa tidak hendak saya hadiri, kan saudara-saudara
juga
orang Indonesia, warganegara Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan
Indonesia, pejuang-pejuang menentang imperialisme yang membela
kemerdekaan
Indonesia ini (tepuktangan yang gemuruh).
"Saudara-saudara adalah utusan-utusan daripada sebagian Rakyat
Indonesia,
saudara-saudara adalah sama-sama orang-orang bangsa Indonesia. Malah
saya
akan berkata dalam bahasa Jawa, saudara-saudara itu "yo kadang, yo
sanak,
malah yen mati aku sing kelangan" (tepuktangan gemuruh lama)
(halaman 376,
Bintang Merah Nomor Istimewa Kongres Nasional ke-6 PKI,
September-Oktober
1959).
Ungkapan Bung Karno seperti tersebut di atas, pastilah disimpan sebagai
kenang-kenangan yang indah oleh banyak anggota-anggota PKI,
simpatisan-simpatisannya, dan juga oleh mereka yang walaupun non-PKI
tetapi
menghayati keagungan gagasannya tentang persatuan revolusioner bangsa,
yaitu
persatuan Nasakom. Dan pastilah mereka juga senang (dan bangga) ketika
membaca ucapan Bung Karno yang berikut:
"Dan tatkala saya mengadakan perjalanan beberapa hari yang lalu ke
Aceh,
diikuti oleh beberapa dutabesar .., dengan gembira saya melihat bahwa di
mana-mana tempat, baik di daerah Aceh, maupun di daerah Riau, maupun di
Kalimantan, PKI-lah salahsatu tenaga yang menyambut dengan baik
(tepuktangan
lama), menyambut dengan baik dan konsekwen kembali kita kepada
Undang-undang
Dasar 45, dan menyambut dengan baik persatuan nasional, menyelenggarakan
persatuan nasional itu dengan sehebat-hebatnya (tepuktangan gemuruh).
Oleh
karena itu, saudara-saudara, pantas saya mengucapkan penghargaan saya
kepada
Partai Komunis Indonesia di dalam hal ini;"
BUNG KARNO DAN PKI : API REVOLUSI
Pidato Bung Karno yang dimuat dalam Bintang Merah tahun 1959 tersebut
mengungkap banyak hal yang menarik, umpamanya : penjelasannya tentang
diri-pribadinya sendiri yang merupakan "campuran" antara 3
sifat, ja
nasionalis, ya sosialis, ya muslimin. Juga tentang filosofi
materialisme,
tentang materialisme historis, tentang sosialisme, tentang masyarakat
adil
dan makmur, tentang faktor keagamaan dalam masyarakat Indonesia.
Yang amat
menarik adalah satu bagian di mana ia ungkapkan persamaan antara dirinya
dengan PKI sebagai api revolusi, yang berbunyi :
"Saya berkata di hadapan khalayak ramai di Kutaraja itu, saya
merasa diri
saya sebagai sepotong kayu dalam satu gundukan kayu api-unggun, sepotong
kayu daripada ratusan atau ribuan potong kayu di dalam api-unggun besar
yang
sedang menyala-nyala. Saya menyumbang sedikit kepada nyalanya api-unggun
itu, tetapi sebaliknyapun saya dimakan oleh api-unggun itu,
saudara-saudara.
Menyumbang kepada api-unggun tetapi ,juga dimakan oleh api-unggun.
Dimakan
api-unggun. Tidakkah sebenarnya kita semua berasa demikian,
saudara-saudara?!
"Saudara-saudara, terutama sekali hai saudara-saudara dari PKI,
saudara-saudara masing-masing menyumbang kepada api-revolusi, tetapi
saudarapun dimakan oleh api revolusi itu. Dimakan dalam arti bahwa
saudara
ikut serta dalam dinamikanya revolusi ini habis-habisan, bahwa saudara
merasa diri saudara mendapat impetus, mendapat kekuatan tenaga, mendapat
penggerak jiwa daripada revolusi yang apinya sekarang sedang
berkobar-kobar
dan menyala-nyala itu;" (halaman 378).
Saudara-saudara pembaca. Ketika mendengarkan suara Bung Karno dari kaset
itu, maka penulis merenungkannya dengan rasa haru yang campur aduk.
Alangkah
bagusnya perumpamaan yang diambilnya, dan alangkah dalamnya makna pesan
yang
dilontarkannya. Dan ketika mengingat tindakan-tindakan para pendiri Orde
Baru/GOLKAR terhadap Bung Karno dan juga kepada PKI di masa yang lalu,
maka
muncullah kutukan dan hujatan dalam hati. Terlalu, api revolusi yang
begitu
indah itu telah dipadamkan!!! Lagi pula, oleh orang-orang yang
hanya patut
dicampakkan dalam keranjang-sampah sejarah bangsa! Apa yang mereka
lakukan
selama 32 tahun sudah membuktikannya. Dan, kerusakan-kerusakan di segala
bidang yang kita saksikan sekarang ini, adalah saksinya juga.
Bagian lain pidatonya yang bagus dan juga penting adalah yang menyoroti
betapa besarnya peran kaum buruh dan tani dalam perjuangan untuk
menciptakan
masyarakat adil dan makmur. Mari sama-sama kita dengar suara Bung Karno
tentang soal ini:
"Kita harus malahan membuat kaum buruh klasse bewust, sadar akan
klasnya
(tepuktangan). Oleh karena, justru di dalam penyelenggaraan masyarakat
adil
dan makmur kaum buruh dan kaum tanilah yang harus menjadi motor
(tepuktangan). Kaum buruh dan kaum tani soko guru, saudara-saudara, kaum
buruh dan kaum tani dalam masyarakat adil dan makmur, kaum buruh
dan kaum
tani yang jumlahnya 90% daripada Rakyat Indonesia. Mereka ini
sokoguru
daripada masyarakat adil dan makmur. Mereka ini sokoguru masyarakat
sosialis
à la Indonesia." (halaman 383).
* *
Dari berbagai pernyataan Bung Karno, seperti yang disajikan di atas
saja,
kita sudah bisa mendapat gambaran, bahwa Bung Karno sudah berjuang
puluhan
tahun demi kepentingan rakyat, demi kemerdekaan nasional, dan demi
persatuan
bangsa. Ia juga telah dengan gigih berjuang melawan imperialisme dan
neo-kolonialisme, bukan hanya untuk membela kepentingan rakyat Indonesia
saja, tetapi juga untuk kepentingan rakyat-rakyat Asia-Afrika dan rakyat
negeri-negeri lainnya. Dan untuk itulah maka ia mempunyai sikap
yang
bersahabat dengan PKI, yang mendukung politiknya yang revolusioner dan
anti-imperialis.
Karena itulah, maka sejarah akan membuktikan lebih jelas lagi kepada
rakyat
Indonesia bahwa yang melakukan pengkhianatan terhadap Republik Indonesia
bukanlah Bung Karno dan PKI, melainkan kontra-revolusi yang bernama ORDE
BARU/GOLKAR, yang disokong oleh kekuatan asing beserta sekutu-sekutunya
di
dalam negeri. Sekarang saja sudah terbukti bahwa kontra-revolusi
besar-besaran yang dikepalai Suharto dkk inilah yang telah merusak
Republik
kita selama lebih dari 32 tahun, dan yang juga telah mengkhianati
Amanat
Penderitaan Rakyat, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sejarah bangsa kita akan mencatat terus, bahwa kehancuran kekuatan
revolusioner yang mendukung Bung Karno dan PKI, bukanlah suatu
"kemenangan"
bangsa dan rakyat Indonesia, tetapi justru sebaliknya. Dihancurkannya
kepemimpinan Bung Karno dan dilumpuhkannya kekuatan pendukung utamanya
(PKI)
adalah suatu kerugian besar sekali bagi kehidupan bangsa secara
keseluruhan.
Kemenangan kekuatan bathil ini, terbukti hanya mendatangkan keburukan
secara
besar-besaran, dan, dalam jangka waktu yang amat panjang pula.
Sejarah akhir-akhir ini menunjukkan bahwa dengan disingkirkannya Bung
Karno
dan dilumpuhkannya PKI, maka perjuangan rakyat Indonesia menuju
masyarakat
adil dan makmur merasakan satu "kehilangan" yang amat besar.
Oleh karena itu
pantaslah kiranya kalau, selama ini, banyak orang mengatakan
kepada "roh"
Bung Karno, yang masih selalu hidup di kalbu mereka, "Bung Karno,
yo sanak
yo kadang, yen mati aku sing kélangan".
Paris, 16 Mei 2001
PS. Berhubung adanya urusan keluarga, dan juga untuk istirahat, maka
sampai
akhir Juni yad tulisan-tulisan akan dihentikan untuk sementara. Kecuali
kalau ada peristiwa atau persoalan-persoalan yang luar-biasa pentingnya,
maka tulisan-tulisan akan muncul kembali mulai permulaan Juli yad. Harap
maklum.
(Catatan : tulisan ini bebas untuk diteruskan kepada siapa saja, dan
juga
bebas untuk digunakan selayaknya.
Untuk hubungan dengan E-mail : kontak@club-internet. fr )
|