MENGAPA BUNG KARNO PERLU
KITA KENANG KEMBALI DEWASA INI


(Oleh : A. Umar Said)


Peringatan Seabad HUT Bung Karno makin mendekat juga! Sekarang ini, kita
semua masih belum bisa meramalkan bagaimana situasi negara dan bangsa kita,
ketika hari yang bersejarah itu diperingati nantinya. Sebab, ketika tulisan
ini dibuat, suasana di negeri kita sedang diliputi oleh pertentangan sengit
antara berbagai golongan politik dan permusuhan tajam antara beraneka-ragam
kelompok suku dan agama. Para anggota DPR dari berbagai fraksi atau partai
politik mengeluarkan ucapan-ucapan yang mencerminkan betapa rusaknya moral
politik di kalangan "elite", sedangkan di kalangan eksekutif juga banyak hal
yang dipersoalkan oleh opini publik.  Di kalangan judikatif, sisa-sisa
kerusakan berat yang dibuat oleh Orde Baru masih terus merupakan halangan
besar ditrapkannya hukum. Hiruk-pikuk sekitar perlu dijatuhkannya Presiden
Abdurahman Wahid atau tidak, telah membuka tabir bahwa masih banyak sekali
tokoh-tokoh berbagai golongan yang dihinggapi penyakit-peyakit parah yang
diwariskan oleh Orde Baru.

Begitu hebatnya kekacauan yang yang disebabkan oleh pertarungan  di antara
beraneka-ragam golongan dan kalangan "elite" itu, sehingga banyak orang
bertanya-tanya mengapa keadaan yang begitu parah ini bisa terjadi. Sebagian
orang membandingkan dengan situasi di bawah kepemimpinan Bung Karno, baik
selama sebelum kemerdekaan, selama revolusi 1945-1949, maupun setelah Bung
Karno menjadi kepala negara sampai 1965. Pada waktu itu, tidak pernah
terjadi permusuhan antar-golongan dan antar-agama yang begitu hebat seperti
sekarang ini. Bagi  mereka yang pernah mengalami zaman kepemimpinan Bung
Karno (yang jumlahnya masih banyak, walaupun kebanyakan sudah menginjak usia
lanjut) masih terkenang betapa bersatunya rakyat dan bangsa menghadapi
berbagai kesulitan, termasuk dalam menghadapi musuh-musuh dalamnegeri maupun
luarnegeri waktu itu.

Semangat perjuangan dan persatuan rakyat yang dibangun oleh Bung Karno dkk
sejak zaman kolonialisme Belanda, dapat terus berkobar  selama puluhan
tahun. Semangat berbakti kepada kepentingan rakyat, dan semangat bersedia
berkorban demi kepentingan tanahair tetap terus menyala di bawah
kepemimpinannya. Seluruh bangsa yang terdiri dari banyak suku merasa satu
dalam perjuangan, dan semangat untuk mengabdikan diri kepada kepentingan
bersama bukanlah omongkosong saja.  Semangat gotong-royong dalam menghadapi
berbagai kesukaran bangsa menjadi ciri utama pada periode itu. Kemewahan
kebendaaan bukanlah menjadi kebanggaan yang utama di kalangan masyarakat.
Korupsi adalah dianggap noda besar bagi opini publik. Jarang ada pejabat
yang jadi penjahat.

Banyak orang yang masih ingat, bahwa walaupun kehidupan waktu itu sulit
(yang disebabkan oleh berbagai faktor dalamnegeri dan intervensi subversif
kekuatan asing), tetapi rakyat merasa satu dengan kepemimpinan nasional Bung
Karno. Karena, baik Bung Karno sendiri maupun banyak pendukung-pendukung
politiknya mengutamakan kepentingan rakyat, tidak elitis, tidak korup, tidak
mengejar kemewahan bagi pribadi mereka masing-masing.


BEDANYA DENGAN  ZAMAN ORDE BARUNYA SUHARTO DKK

Ketika kita sekarang ini dihadapkan kepada begitu banyak persoalan rumit,
yang merupakan reruntuhan atau puing-puing kebobrokan yang ditinggalkan Orde
Baru, maka nampak sekalilah perbedaan besar antara zaman kepemimpinan Bung
Karno dan sesudahnya. Yang amat menyolok adalah perbedaan besar di bidang
sikap mental atau kehidupan moral para "tokoh" di berbagai kalangan (yang
kemudian juga berdampak besar kepada kehidupan masyarakat). Kerusakan moral
besar-besaran dan parah inilah merupakan salah satu di antara sejumlah
sumber utama bagi timbulnya berbagai persoalan besar yang dihadapi negara
dan bangsa kita dewasa ini. Sekarang, makin banyak orang yang yakin bahwa
Orde Baru telah membuat berbagai kesalahan parah di banyak bidang, tetapi,
masih banyak orang yang tidak melihat bahwa kerusakan yang paling besar yang
dibuat oleh Orde Baru adalah justru adalah di bidang moral ini.

Mohon, marilah, dengan hati jernih, bersama-sama kita renungkan tentang
besarnya kerusakan moral di negeri kita,  yang sekedar contohnya adalah
antara lain sebagai berikut:

- Sekarang makin jelas bagi banyak orang bahwa keluarga Presiden Suharto
telah menjadi pusat KKN yang besar-besaran, berjangka-lama, dan
bercabang-cabang seperti gurita. KKN keluarga Suharto telah menyeret
sederetan panjang sekali nama-nama penting tokoh-tokoh Orde Baru/GOLKAR,
baik di bidang eksekutif, legislaif dan judikatif maupun konglomerat hitam.
Bahwa kepala negara telah terjerumus - selama tempo begitu lama pula! -
dalam lembah yang begitu hina dan kotor, adalah merupakan noda besar dan
bangsa. Alangkah besar beda sejarah hidup Bung Karno dengan sejarah hidup
Suharto dkk.

- Kerusakan moral keluarga Suharto, telah mengakibatkan kerusakan moral
besar-besaran juga di seluruh jajaran kekuasaannya. Tidak salahlah kalau
opini dunia memandang Orde Baru adalah sistem politik (atau sistem
pemerintahan) yang luar biasa korupnya, dan bahkan menduduki tempat yang
paling buruk dalam daftar korupsi di dunia. Betapa tidak! Kalau Mahkamah
Agung, pengadilan negeri, kejaksaan, kepolisian dipenuhi oleh
pejabat-pejabat yang menjadi penjahat atau maling, maka pastilah hukum tidak
bisa ditrapkan dengan baik. Kalau para pegawai negeri yang penting-penting
sudah menjadi pemeras atau penipu rakyat (dalam segala bentuk dan cara),
maka pantaslah kalau banyak kalangan masyarakat pun ikut-ikutan merusak
kepentingan negara. Alangkah besarnya  perbedaan dengan  sikap aparat negara
di zaman kepemimpinan Bung Karno, ketika rasa pengabdian kepada kepentingan
rakyat terasa menonjol sekali waktu itu.

- Di zaman kepemimpinan Bung Karno, jarang sekali terdengar adanya
pertikaian antar-suku, atau permusuhan antar-agama, atau perbenturan politik
yang mengambil proporsi, bentuk atau skala seperti yang terjadi dewasa ini.
Pertikaian dan permusuhan saling bunuh yang memakan korban puluhan ribu jiwa
di berbagai daerah dewasa ini, dan terjadinya pengungsian penduduk sampai
satu juta orang di seluruh Indonesia, adalah suatu fenomena tentang
kemunduran besar dalam peradaban bangsa. Artinya, kerusakan moral yang parah
sekali. Sebabnya, adalah karena Orde Baru tidak memberikan pendidikan moral
toleransi dan kerukunan kepada bangsa, bahkan sebaliknya, merusaknya!

- Alangkah menyedihkannya, bahwa semangat perjuangan dan pengabdian kepada
rakyat yang telah dibangun oleh perintis-perintis kemerdekaan sejak Boedi
Oetomo, Sarekat Islam, Sumpah Pemuda dstnya, telah "dimatikan" selama Orde
Baru. Alangkah besarnya kerugian bagi bangsa bahwa apa yang telah dirajut
oleh Bung Karno sejak tahun 1926 sudah dirusak oleh Suharto dkk. Dan,
alangkah besarnya pula dosa para pendiri Orde Baru/GOLKAR, karena apa yang
sudah dikerjakan oleh Bung Karno sebagai Kepala Negara dan pemimpin bangsa
selama 20 tahun (antara 1945 sampai 1965) telah diporak-perandakan oleh Orde
Baru/GOLKAR selama 32 tahun. Sebagai akibatnya, adalah situasi yang seperti
kita saksikan bersama dewasa ini.


KEAGUNGAN KEPEMIMPINAN BUNG KARNO MAKIN TERASA

Sekarang, setelah bangsa kita mengalami masa Orde Baru dan sedang mewarisi
segala akibat buruk sistemnya, terasa sekali betapa besarnya keagungan
kepemimpinan Bung Karno dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin Indonesia
lainnya selama ini. Ia besar bukan karena diagung-agungkan oleh para
pengagumnya secara artisifial (buatan). Ia betul-betul besar, berkat
kepribadiannya yang memang besar, berkat ajaran-ajarannya yang cemerlang
baik mengenai masalah-masalah dalamnegeri, maupun yang berkaitan dengan
masalah-masalah internasional pada zamannya. Ia dicintai rakyat dan
dihormati di luarnegeri, karena gagasan-gagasannya, karena perjuangannya,
karena pengabdiannya kepada bangsa.

Sekarang, setelah bangsa kita dihadapkan kepada begitu banyaknya
kerusakan-kerusakan parah  yang disebabkan oleh peninggalan masa gelap Orde
Baru, nyata sekalilah kebenaran berbagai ajaran Bung Karno tentang
beraneka-ragam persoalan negara dan bangsa. Dengan membalik-balik lagi
buku-buku yang berisi karya-karyanya (yang asli), maka kelihatan memancar
kembali keagungan pemikiran-pemikirannya. Bukan hanya yang terungkap dalam
"Indonesia Menggugat", atau dalam "Lahirnya Pancasila" saja, melainkan juga
yang dituangkannya dalam teks pidato-pidatonya setiap tanggal 17 Agustus.
Manifesto politik (Manipol) Bung Karno dalam tahun 1959 adalah satu rentetan
berbagai gagasan-gagasannya yang besar untuk menjawab tantangan-tantangan
yang dihadapi bangsa dan negara waktu itu, baik secara nasional maupun
internasional  (mohon baca kembali : Dibawah Bendera Revolusi, jilid dua).

Sekarang, setelah jutaan orang yang tidak bersalah telah dibunuh secara
sewenang-wenang dalam tahun 1965/1966 oleh tindakan-tindakan para pendiri
Orde Baru/GOLKAR dan juga pemenjaraan ratusan ribu orang tidak bersalah
lainnya (harap catat : tanpa pengadilan!), maka terasa menjulang tinggi
pulalah keagungan kenegarawanan Bung Karno. Patut sekali kita catat bersama,
bahwa di bawah kepemimpinannya, para pendukung atau simpatisan pembrontakan
RMS, Kahar Muzakkar, Andi Azis, DI-TII, PRRI-Permesta tidak mengalami
perlakuan sekejam yang dialami oleh orang-orang (yang tidak bersalah
apapun!) yang dituduh atau dicap sembarangan sebagai "terindikasi"
tersangkut G-30S. Hanya sejumlah kecil pentolan-pentolan atau
gembong-gembong gerakan-gerakan pembrontakan itulah yang dijatuhi hukuman
setimpal atau menurut hukum. Dan ketika Masyumi dan PSI dinyatakan dilarang
pun, maka anggota-anggotanya juga tidak dipersekusi seperti yang dialami
para anggota atau simpatisan PKI. Padahal, sejarah sudah membuktikan bahwa
pembrontakan PRRI-Permesta (yang mendirikan pemerintahan tandingan, dengan
bantuan CIA) telah melakukan pengkhianatan terhadap Republik Indonesia
secara besar-besaran.


100 TAHUN UNTUK BAYAR UTANG LUARNEGERI

Sekarang, ketika banyak tokoh-tokoh Orde Baru/GOLKAR satu per satu mulai
antri dalam deretan orang-orang yang harus diperiksa kejahatan mereka karena
menjadi maling kekayaan negara dan rakyat, maka juga nyata sekalilah betapa
besar kerusakan moral di kalangan "elite"  yang telah menyeret negara dan
rakyat dalam jurang krisis ekonomi yang berkepanjangan dan parah sekali
dewasa ini.

Banyak pakar ekonomi Indonesia (dan asing) meramalkan bahwa kesulitan
ekonomi Indonesia tidak akan mudah dipecahkan dengan segera. Bahkan ada
pakar-pakar yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan waktu sekitar
100 tahun guna mengembalikan utang luarnegeri yang dewasa ini mencapai
sekitar 145 milyar dolar AS (bulan April 2001), atau setiap penduduk
mendapat beban utang Rp 10,5 juta. Luar biasa! Utang luarnegeri tidak
mendatangkan keuntungan bagi rakyat banyak. Utang luarnegeri yang sebesar
itu hanya menguntungkan sejumlah konglomerat hitam dan pejabat-pejabat korup
yang tidak bermoral. Adalah ketidak-adilan yang keterlaluan, kalau rakyat
(dan generasi yang akan datang) harus menanggung beban begitu berat,
sedangkan utang yang begitu besar itu hanyalah menguntungkan sejumlah kecil
orang-orang yang mempersetankan kepentingan negara dan bangsa.

Karena itu, baik juga kita renungkan hal yang berikut : Ketika Bung Karno
digulingkan, utang luarnegeri pemerintah RI adalah sekitar 2 milyar dolar
AS. Itu pun sebagian terbesar adalah untuk membiayai perlengkapan angkatan
perang, dan pengeluaran-pengeluaran yang ada sangkut-pautnya dengan
konfrontasi Malaysia dan pembebasan Irian Barat. Jadi, utang itu tidak
disebabkan oleh perbuatan-perbuatan kriminal atau tidak bermoral seperti
halnya yang dilakukan para "tokoh-tokoh" Orde Baru (baik sipil maupun
militer, termasuk para konglomerat hitam).

Selama puluhan tahun banyak tokoh Orde Baru/GOLKAR telah menikmati (melalui
berbagai cara yang tidak sah)  utang luarnegeri Republik Indonesia itu.
Cerita tentang adanya "kebocoran"  dana untuk anggaran pembangunan sebesar
30% setiap tahun sudah berkali-kali kita dengar selama ini. Korupsi, kolusi
dan nepotisme yang merajalela selama Orde Baru adalah  sudah sedemikian
parahnya sehingga sampai sekarang pun masih sulit untuk diberantas dengan
cepat dan secara tuntas. Kasus BLBI, kasus Bank Bali, kasus "larinya" Tommy,
hiruk-pikuk tentang Ginanjar dan Prayogo Pangestu, di "Nusakambangkan"-nya
Bob Hasan hanyalah secuwil saja dari segunung masalah KKN yang perlu
dibongkar terus.

Masalah korupsi berhubungan erat dengan masalah moral, sedangkan moral punya
pengaruh juga terhadap kehidupan politik. Korupsi dan kerusakan moral
politik inilah yang dewasa ini terasa sekali sedang melanda kalangan "elite"
negeri kita, yang termanifestasi, antara lain, dalam hiruk-pikuk tentang
perlunya Presiden Abdurahman Wahid turun dari kedudukannya sebagai kepala
negara. Sejarah telah mulai membuktikan,  bahwa para pendukung setia Orde
Baru adalah pada hakekatnya, atau pada intinya, golongan yang tidak mungkin
akan mendatangkan kebaikan apa pun bagi bangsa dan negara. Bahkan,
sebaliknya. Tentang hal ini, perkembangan situasi di kemudian hari pastilah
akan membuktikannya lebih jelas lagi.


HIDUPKAN KEMBALI AJARAN-AJARAN BUNG KARNO!

Kita semua selama ini telah menyaksikan bahwa sesudah Bung Karno
digulingkan, ternyata para pendiri Orde Baru/GOLKAR (dan juga
pendukung-pendukung setianya), tidak mampu menyajikan kepada bangsa kita
konsep-konsep besar di bidang pembangunan bangsa (nation building) dan juga
pendidikan watak bangsa (character building). Bahkan, gagasan-gagasan besar
Bung Karno dalam bidang ini telah diusahakan untuk dimatikan. Padahal justru
bidang inilah yang sejak puluhan tahun telah diusahakannya dengan susah
payah,  termasuk dengan darah dan air-mata oleh para perintis kemerdekaan
lainnya.

Ini wajar, sebab Orde Baru/GOLKAR yang dibangun dengan dasar-dasar moral
yang tidak luhur, tentu saja tidak mungkin melahirkan konsep-konsep besar
mengenai bangsa. Kalaupun sejumlah konsep di di bidang politik, ekonomi,
sosial dan kebudayaan telah diciptakan selama Orde Baru, maka ternyata dalam
praktek bahwa konsep-konsep itu hanya bertujuan untuk memperkokoh sistem
kekuasaan otoriter, dan bukan demi kepentingan rakyat banyak. (Untuk sekedar
menyegarkan ingatan kita bersama: Secara terus-menerus pernah dikumandangkan
semboyan-semboyan bagus seperti : Trilogi Pembangunan, Delapan Jalur
Pemerataan, membudayakan ideologi Pancasila, Eka Prasetya Pancakarsa,
mentrapkan "Demokrasi Pancasila secara konsekwen" dan segala macam semboyan
atau  berbagai "gerakan" lainnya).

Tetapi, pengalaman selama puluhan telah membuktikan bahwa Orde Baru bukan
saja telah mengebiri Pancasila, melainkan juga telah menyalahgunakannya
untuk melakukan praktek-praktek yang justru  bertentangan sama sekali dengan
jiwa atau tujuan Pancasila. Apa yang dilakukan oleh Orde Baru selama lebih
dari 32 tahun adalah bertolak-belakang dengan konsep-konsep besar Bung
Karno. Kalau kita baca kembali pidato-pidato Bung Karno, antara lain :
"Jalannya revolusi kita"  (Jarek), "Revolusi-Sosialisme Indonesia -Pimpinan
Nasional" (Resopim), "Tahun Kemenangan" (Takem), "Genta Suara Republik
Indonesia" (Gesuri), "Tahun Vivere Pericoloso" (Tavip), maka jelaslah bahwa
Orde Baru telah menentang ajaran-ajaran Bung Karno.

Kalau diperas, atau dirumuskan secara tajam, maka bisalah kiranya dikatakan
bahwa dengan menentang ajaran-ajaran Bung Karno ini, pada hakekatnya Orde
Baru telah mengkhianati kepentingan rakyat dan bangsa. Apa yang sedang
disaksikan oleh bangsa kita dewasa ini adalah bukti-bukti nyata dari akibat
parah pengkhianatan ini.

Oleh karena itulah, ketika sekarang ini bangsa dan negara kita sedang
kehilangan pedoman, dan sedang menghadapi kekosongan kepemimpinan moral,
maka perlu sekali ajaran-ajaran besar Bung Karno diangkat atau dikenang
kembali.  Ketika banyak orang di negeri kita sedang bingung atau putus asa
menghadapi situasi yang penuh pertentangan (agama, suku, ras, golongan
politik dll)  maka "jiwa" atau "saripati" ajaran Bung Karno masih tetap
berguna untuk dipakai sebagai pegangan bersama.

Ajaran-ajaran Bung Karno berguna untuk direnungkan bersama dimana-mana, baik
di Poso, Sampit, Bengkulu, Payakumbuh, Meulaboh, Medan, Banyuwangi,
Purwokerto, Garut, maupun di Menado atau di tempat-tempat lainnya. Mengenang
kembali dan menghayati sejarah perjuangan Bung Karno adalah salah satu cara
bagi bangsa kita untuk menemukan kembali jalan yang benar.


Paris, 30 April 2001

(Catatan : tulisan ini bebas untuk diteruskan kepada siapa saja dan juga
bebas untuk digunakan selayaknya.
Untuk hubungan  dengan E-mail : kontak@club-internet.fr    )

KE MENU UMAR SAID