SAPARDI DJOKO DAMONO
(Indonesian Man of Letters)
English version isn't available yet
Lahir di Solo, 20 Maret 1940. Setamat dari jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada pada tahun 1964, berturut-turut mengajar di IKIP Malang cabang Madiun, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang dan sejak tahun 1972 dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Sapardi pernah mengikuti kuliah ilmu-ilmu Humanitas di East-West Center Honolulu, Hawaii. Dia pernah pula menjadi anggota redaksi majalah Basis di Yogyakarta dan sejak 1971 ikut mengasuh majalah sastra Horison. Tahun 1976 diundang mengikuti Poetry Internationaldi Rotterdam dan kemudian menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta.
Selain menulis puisi, Sapardi banyak menulis esei, kritik sastra, artikel dan menterjemahkan berbagai karya asing. Kumpulan puisinya DukaMu Abadi (1969) dan kemudian menyusul Mata Pisau dan Aquarium yang mula-mula diterbitkan sendiri (tahun 1974). Karya terjemahannya antara lain Lelaki Tua dan Laut (Hemingway), Daisy Manis (Henry James), Puisi Brazilia Modern, Serpihan Sajak (George Seferis), Puisi Klasik Cina, Lirik Klasik Persia dll. Sebagai kritikus dia dipandang tajam. Hasil penelitiannya menghasilkan buku seperti Novel Indonesia Sebelum Perang dan Sosiologi Sastra.
Sajak-sajak Sapardi dikenal memiliki imaji yang jernih dan hidup, sebagai suasana dan pengalaman puitik yang disampaikan kepada kita secara hidup pula. Pun kita dibawa ke dalam pengalaman intuitif yang demikian bening.
Berikut ini beberapa sajak Sapardi yang menjadi favorit saya:
AKU INGIN (1989, soundtrack film Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho)
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
HUJAN BULAN JUNI (1989)
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu