Logo Oneweb
Catatan Filsafat

Nasionalisme dan Purnamodernisme
Coretan awal tentang nasionalisme dan purnamodernisme.

  1. Apa itu purnamodernisme?
    Negatif: melawan "modernisme"
    Apa itu "modernitas" (dilihat dari sudut pandang purnamodern):
    • "Subyek" adalah lambang identitas manusia.
    • Kepastian lebih penting dari kebenaran (skeptisisme)
    • Epistemologi sebagai "filsafat dasar" ("first philosophy")
    • Akal budi sebagai refleksi dari realitas.
    Reaktif: menghindar dari yang "modern"
    • Manusia tidak memiliki "identitas" yang mencerminkan "hakekat"-nya.
    • Akal budi tidak lain adalah bahasa, dan bahasa adalah alat untuk mempertahankan kekuasaan; maka perlu "dekonstruksi"
    • Semua teks adalah sastra-termasuk teks filosofis; filsafat perlu di - "deprofesionalisasi".
    • Tak ada teks yang ada "pengarangnya". Pembedaan antara bidang-bidang ilmiah untuk sebagian akibat birokrasi akademis (dan represif).
    Positif: pembentukan komunitas; etika politik; keadilan sosial; pengetahuan tidak lagi sebagai penguasaan. Alatnya: pragmatisme. Contohnya yang representatif : Richard Rorty.

  2. Penampakan modernitas pada abad ke-20

    Bentuk-bentuknya: fenomenologi; eksistensialisme; hermeneutik; filsafat analitik; strukturalisme - semua sudah tidak terasa relevan lagi. Strukturalisme berubah bentuknya menjadi "poststrukturalisme" dan dengan demikian postmodern.

    Tesis-tesis utama yang merupakan sifat "modernitas"; epistemologi tetap diharapkan memberi kepasitan; akal budi dipertahankan sebagai "alat" untuk berfilsafat; filsafat adalah universal.

  3. Pelopor-pelopor Purnamodernisme

    Abad ke-18: "Pencerahan" (= rasionalisme "sekuler"), dan "Romantik" (manusia tidak lagi mencari kebenaran tetapi menciptakannya). Kedua-duanya adalah "modern" sebagai "pendefinisi hakekat manusia" dan "purnamodern" sebab telah menolak sistem-sistem komphrehensif di bawah naungan agama.

    Abad ke-20: Dewey: pragmatisme; Heidegger: mengatasi metafisik; Wittgenstein: bahasa tidak ada "dasar"-nya. (ketiga-tiganya: pada unsur yang sudah lanjut, mereka waktu masih muda mulai sebagai metafisi) Kemudian: "poststrukturalisme".

  4. Purnamodernisme dan etika

    Richard Rorty: "ironisme" dan "liberalisme". Metafisik lama mendukung represi. Pengetahuan sama dengan kekuasaan, jadi supaya dipisahkan. Kaum "ironis" memperjuangkan kebebasan individual, bukan yang komuniter. Kaum "liberalis" memperjuangkan etika sosial dan politik - tapi mereka membutuhkan "ironi", untuk tetap bebas dari liberalisme yang "modern" gaya Habermas.

    Akhir-akhir ini muncullah kecenderungan dalam filsafat etika (dan teologi moral) untuk melepaskan asas-asas penuntun yang berasal dari teori.

    Pertama, ada buku oleh Albert R. Jonson dan Stephen Toulmin, The Abuse of Casuistry: A History of moral reasoning (1989): pendekatan "kasuistik" atau "taksonomis" (atau "prototipis"), mengganti pendekatan "geometris" yang berdasarkan asas-asas "abadi" (di dalam teori).

    Kedua, ada buku susulan dari "An Idea of Justice" (1971), oleh Johw Rawls, yakni: Political Liberalism: objek etika tidak lagi menyangkut apa yang baik dan apa yang jahat, melainkan proses dalam perundingan politik (oleh segala pihak ybs) dalam masyarakat pluralistis.

  5. Nasionalisme

    "Nasionalisme" sebagai dasar indentitas bangsa itu baru muncul abad ke-19, dan juga menjadi dasar kolonialisme. (Sebelumnya: kaum berkuasa yang saling memerangi, dengan tentara sewaan - entah dari mana mereka. Sebagaimana telah dibuktikan oleh sejarah, hampir semua perang terjadi dengan motivasi identitas nasional).

    Mula-mula identitas itu berdasarkan kesamaan etnis, atau kesamaan agama, dengan nilai-nilai yang umum untuk semua. Kini sudah muncul nasionalitas berdasarkan kesatuan administratif politik; singkatnya, dasar itu sendiri untuk "nasionalitas" sebagai identitas hanya dapat berdasarkan ancaman dari luar.

    "Kebebasan" politik muncul sebagai pembebasan oleh penjajah dalam bentuk negara dengan nasionalitasnya sendiri.

    Di Eropa, dan berbagai bagian lainnya di dunia, cita-cita "nasional" semakin lemah sebab tidak relevan lagi untuk realitas politik.

  6. Gambir-Yogya-1995, Suhendra.

Lihat siapa pengunjung situs ini.