Logo Oneweb
Catatan Filsafat

Sekelumit Biografi Walter Benjamin
Uraian ringkas tentang biografi Walter Benjamin dan tokoh dan pemikiran yang mempengaruhi pandangan filsafatnya.

The tradition of the oppressed teaches us that the 'state of emergency' in which we live is not the exception but the rule. We must attain to a conception of history that is in keeping with this insight. Then we shall clearly realize that it is our task to bring about a real state of emergency, and this will improve our position in the struggle against Fascism. One reason why Fascism has a chance is that in the name of progress its opponents treat it as a historical norm. The current amazement that the things we are experiencing are 'still' possible in the twentieth century is not philosophical. This amazement is not the beginning of knowledge--unless it is the knowledge that the view of history which gives rise to it is untenable.
--Walter Benjamin, Theses on the Phillosophy of History (Spring, 1940) diterjemahkan Harry Zohn.

Walter Benjamin adalah filsuf dan sastrawan besar keturunan Yahudi-Jerman lahir di Berlin, 15 Juni 1892 dan meninggal dalam usia 48 tahun, tepatnya 25 September 1940, dengan jalan bunuh diri. Benjamin dikenal sebagai sosok seorang yang eksentrik, pendiam, suka merenung, dan sensitif terhadap lingkungannya. Dalam berteman dengannya sebagaimana diceritakan oleh salah satu rekan dialognya, orang akan mengalami tiga rintangan, yakni kebutuhannya untuk menyendiri, keenganannya untuk berbicara politik dan kegemaarannya untuk menyimpan rahasia.
Semasa hidupnya Benjamin lebih dikenal sebagai seorang sastrawan dan budayawan ketimbang seorang filsuf. Pemikiran-pemikiran-nya banyak dipengaruhi oleh pemikir-pemikir berhaluan kiri (Marxisme), seperti Erns Bloch, Georg Lukacs muda, Bertolt Brecht, dan lingkaran protodekonstruksionisme di College de Sociologie di Paris, antara lain George Bataille, Pierre Klossowski, Roger Caillois dan Michel Leiris. Di samping itu ia juga dipengaruhi secara mendalam oleh tradisi Kabbalah: teks-teks keramat dari tradisi mistik Yahudi, khususnya tentang konsep penebusan perihal suatu pemulihan ke arah situasi harmoni primordial: Pohon Kehidupan.
Pengaruh Marxisme yang berbau mistis dalam pemikiran Benjamin memang berbeda dari rekan-rekan-nya yang tergabung dalam Institut Penelitian Sosial Frankfurt, semisal Adorno. Benjamin dikenal sebagai pemikir skizofrenik dengan pemikiran yang berwajah Janus, yaitu tanpa ketegasan sikap, tidak konsisten, dan bimbang di antara metafisika, mistik, materialisme Marxis. Apalagi bentuk dan corak tulisannya jauh dari kecenderungan sistematik, dan berganti-ganti arah. Ini terbaca dalam arah refleksi dan minatnya yang luar biasa beragam, luas, tapi mengagumkan, dari drama tragedi Jerman, Romantisisme, sejarah, bahasa, dan terjemahan, kritik seni, historiografi, filsafat hingga minat pada film, Paris, Baudelaire, Marxisme, dan cara mendongeng. Gaya tulisannya pun berkesan aneh di antara prosa, fragmen, aforisme dan kutipan. Satu-satunya karya Benjamin dalam bentuk buku yang berhasil ia selesaikan berjudul The Origin of German Tragic Drama. Sayangnya tesis pascadoktoral untuk mendapatkan wewenang mengajar (Habiliatonschrift) ini ditolak oleh Universitas Frankfurt dengan alasan tidak lazim alias aneh sebab berbau lirik dan terkesan pribadi. Sedang karya lainnya semua dibungkus dalam bentuk esai dan artikel dengan gaya jurnalistik dan akademis. Meski begitu terdapat corak mendasar dari seluruh refleksi dalam tulisan karya Benjamin, yaitu keprihatinan yang mendalam atas luka-luka yang diderita manusia akibat modernisasi. Sebagai keturunan Yahudi, maka motif-motif ketersingkiran dan pengasingan menjadi warna dasar pemikirannya. Benjamin merindukan emansipasi umat manusia dari nasib alamiah yang membelenggunya dalam dinding-dinding struktur sosial yang menghimpitnya. Ia berusaha untuk menggabungkan suatu kritik atas modernitas kapitalis dengan suatu harapan akan perubahan sosial dalam coraknya yang "apokaliptis". Kerinduannya untuk dapat melampaui modernitas kapitalis menggiringnya condong kepada bidang seni sebagai penyelesaian krisis sosial melalui apa yang disebutnya sebagai "estetika penyelamatan", suatu konsep hasil inspirasi dari konsep kunci Lukacs, "totalitas" dan "utopia" dari Bloch.

Suhendra
Sebelumnya dimuat di Newsletter KUNCI No. 5, April 2000


Lihat siapa pengunjung situs ini.