Logo Oneweb
Catatan Filsafat

Walter Benjamin (1892-1940)
Teori Ingatan dan Sejarah Masa Lalu Manusia
Abstrak: Sejarah sebagai suatu Ingatan tentang dan dari sebuah masa lalu tidaklah tanpa masalah untuk dikaitkan dengan praktek hidup masa kini. Bisa jadi mungkin, ingatan yang serupa itu akan sekaligus menjadi masalah untuk penafsiran hidup masa datang. Lain halnya jika saja yang dilihat dan dialami manusia dalam kehidupan ini adalah serba indah, baik dan benar, sehingga suasana harmonis sungguh-sungguh dirasakan oleh setiap orang. Kalaupun ada yang seperti halnya demikian, maka tidak akan ada lagi yang disebut sejarah. Hidup tanpa sejarah seperti itulah yang dalam bahasa tertentu disebut sebagai hidup firdaus.

A. Sosok Walter Benjamin

Walter benjamin dikenal sebagai seorang sastrawan dan filsuf berkebangsaan Jerman keturunan Yahudi. Ia lahir pada tanggal 15 Juni 1892 di Berlin. Ketika lahir Berlin masih merupakan kota yang menginjak sedang berkembang menjadi kota metropolitan. Ayahnya, Emil Benjamin adalah seorang pedagang barang-barang antik. Benjamin berasal dari keturunan Yahudi murni, meski memeluk agama Katholik, satu hal yang tak lazim saat itu. Ia memperoleh pendidikan yang tergolong maju pada zamannya, yakni di Gymnasium Friedrich Wilhelm yang tampak amat elitis di kota Thuringa. Benjamin meninggal pada tanggal 25 September 1940, di sebuah hotel di Port Bou, Spanyol. Kematiannya disebabkan oleh karena terlalu banyak memasukkan morfin dalam dosis ke dalam tubuhnya. Singkatnya, laki-laki yang "baru" berusia 48 tahun, juga yang dikenal sebagai seorang sastrawan dan filsuf gigih serta otentik ini mati dengan cara bunuh diri yang tak terkatakan. Apakah cara kematian Benjamin ini ada kaitannya dengan kecenderungan khas dari zaman romantik? Dalam kesepian dan menjelang ajalnya ia pernah mengatakan seperti demikian:

Konflik-konflik yang ditimbulkan oleh modernitas berhadapan dengan bakat-bakat kreatif manusia mentransendir batas-batas kekuatan manusia. Dapat dimengerti jika manusia menjadi lelah dan mencabut nyawanya sendiri. Modernitas mesti berdiri di bawah tanda bunuh diri yang terlihat dalam tindakan heroik itu, suatu tanda yang tidak menerima cara berpikir manapun yang memusuhinya …
Kematiannya yang tragis itu merupakan lembaran terakhir dari riwayat hidupnya yang dihiasi dengan kegagalan dan ketidakberuntungan, mulai dari penolakan Habiltatonschrift karya pascadoktoral yang harus ia pertahankan untuk mendapatkan wewenang mengajar, dan kesulitan-kesulitan mengintegrasikan pandangannya ke dalam Institut Penelitian Sosial Frankfurt.

Mengenang kisah bunuh diri Benjamin yang tragis demikian, mungkin saja menjadi sulit untuk membayangkan kebahagiaan yang bersinar di masa kecil Benjamin. Itulah kenapa kehidupan mengenai dirinya amat sedikit diketahui oleh banyak orang.

Dalam riwayat hidup yang ditulisnya sendiri, ia banyak bertutur tentang kegembiraan-kegembiraan yang dialaminya di rumah orangtuanya. Tapi meski ia menulis kebahagiaan-kebahagiaan di masa kecilnya, ia tidak dapat menyembunyikan bayang-bayang Benjamin dewasa di balik potret masa kecilnya. Dari potret itu tampak ada kesan bahwa dia adalah seorang bocah yang teramat sensitif terhadap lingkungannya, suka merenung (bakat filsuf!), kesepian, dan terasing dari sekitarnya. Di kemudian hari, seorang rekan dialognya mengungkapkan bahwa orang yang berteman dengan Benjamin akan menghadapi tiga kesulitan. Kesulitan pertama berhubung dengan kebutuhannya untuk menyendiri. Kedua, yaitu keenganannya untuk berbicara mengenai politik. Ketiga, yakni kesukaannya untuk menyimpan rahasia.

Memahami warna pemikiran Benjamin tidak akan utuh tanpa mengetahui hubungan-hubungannya dengan pemikir-pemikir lain, khususnya yang tergabung dalam Institur Frankfurt.

Pertaman-tama, motif pemikiran Benjamin sejalan dengan motif-motif yang menyemangati pemikiran Ernst Bloch dan Georg Lukacs muda, dalam arti bahwa ketiganya berusaha untuk menggabungkan suatu kritik atas modernitas kapitalis dengan adanya suatu harapan akan perubahan sosial secara "apokaliptis" (masa depan). Ketiga-tiganya amat rindu untuk berusaha mentransfer modernitas kapitalis. Adapun sikap ini oleh Lukacs sendiri disebutnya "anti-kapitalis romantis": suatu pengaruh filsafat Marxis dengan warna mistik dan gnostis. Hal ini bolah dikatakan bahwa Benjamin sendiri merupakan pemikir yang bersiteguh pada Marxisme. Juga ketiga-ketiganya menitikberatkan seni sebagai solusi dari krisis sosial. Benjamin membaca dan dipengaruhi oleh karya-karya dua tokoh ini. Sebagai ganti konsep kunci "totalitas" milik Lukacs dan "utopia"-nya Bloch, Benjamin menemukan bagi dirinya sebuah konsep "penyelamatan".

Pengaruh yang lebih mendalam lagi diterima dari seorang sastrawan, yaitu Bertolt Brecht. Brecht sendiri adalah rekan dialog yang dikenal Benjamin dalam upaya proletariat seni di Moskwa. Drama-drama yang dtampilkan oleh Brecht bersifat "epik" dan tidak "esoteris", tapi justru "eksoteris" dalam arti dialamatkan kepada publik luas, dan memiliki "muatan politis". Pada tahap kematangannya, yang kemudian menimbulkan kontroversi dengan Adorno, Benjamin menyakini bahwa penyelamatan melalui karya seni harus dilakukan secara eksoteris dan bukan sekedar untuk kelompok terbatas saja. Secara politis, ia kemudian sebagaimana Brecht mendukung juga berdirinya Soviet sebagai pimpinan gerakan proletar sedunia. Dalam horison demikian ini, pemikirannya tampak optimis terhadap perubahan sosial yang berarti. Akhirnya, kita tak dapat juga mengabaikan pengaruh keempat yang berasal dari orang-orang yang bisa disebut tergabung dalam lingkungan "proto-dekonstruksionisme" di College de Sociologie di Paris, seperti George Battaile, Pierre Klossowski, Roger Caillois, Michel Leiris, di mana Benjamin sendiri adalah salah satu anggota dari kelompok tersebut.

Memang pemikiran Benjamin bukan hanya tidak sistematis, tapi juga berganti-ganti arah. Ia tidak hanya memberikan sumbangan atau peninggalan dalam bidang sastra dan kebudayaan, tapi juga teologi, khususnya teologi politik. Begitu juga pengaruh pemikirannya meluas setelah periode PD II. Implikasi dari karyanya meninggalkan perdebatan panjang tentang seorang figur aneh yang dihormati, semisal perdebatan Benjamin dengan Adorno. Akhirnya, toh Adorno sendiri mengakui kebenaran pemikiran Benjamin. Hanya sayangnya, pengakuan Adorno setelah ia mendapat kabar meninggalnya Benjamin karena bunuh diri. Tindakan bunuh diri Benjamin oleh Adorno dinilai sebagai sebuah tindakan atas dasar kondisi-kondisi objektif.

B. Perjalanan Singkat dan Beberapa Karya

Karya-karya awal Benjamin cenderung bergerak ke arah interest yang "sophisticated" dalam persoalan teologi. Artikelnya yang pertama mengomentari novel Goethe, The Ellective Affinities. Disertasi doktoralnya di universitas Frankfurt berjudul The Origin of German Tragedic Drama. Disertasinya itu berisi kritik penuh kemarahannya atas para intelektual yang menjauhi politik dalam melihat atau membahas drama-drama abad ke-17. Karya ini merupakan pernyataan teoritis yang komphrehensif, yang mana segera membawanya untuk memasuki pemamahan-pemahaman budaya yang lebih bersifat Marxistis. Tapi konsekuensinya ia dan pemikiran-pemikirannya, secara perlahan-lahan dikurangi oleh universitas. Keberatan universitas tampak terlihat dengan tidak lagi diberikannya peluang bagi perkembangan pemikirannya.

Lalu ia sendiri keluar dan memulai kehidupan jurnalistiknya di tahun 1925. Antara tahun 1925-1933, ia akrab dengan Brecht dan intelektual kiri lainnya. Yakni terutama setelah kemenangan atas pihak NAZI, Benjamin cukup lama tinggal di tempat peristirahatan Brecht di Denmark, sehingga pengaruh dramawan Jerman ini memang tampak amat dominan. Saat ini pun ia juga merupakan salah satu tokoh pemikir kritis yang penting dalam merintis berdirinya Institut Penelitian Sosial Frankfurt, sebelum ia sendiri akhirnya berangkat ke Prancis untuk meneruskan perjuangan hidupnya. Di sana, ia menerbitkan beberapa karya besarnya. Yang pertama, The Present Social Situation of The French Writer. Dalam karya pertama ini ia menganalisa kemajuan intelektual dari budaya avant garde ke arah pengorganisasian dan keterlibatan politik. Lalu yang kedua, The Work of Art in The Age of Mechanical Reproduction. Di sini ia menekankan ketidakterpisahan 'art' dari lingkungan perkembangan teknologi dari kelas-kelas sosial. Menurutnya, gagasan dan budaya tidak terlepas dari sejarah. Di samping itu, ia sempat membuat artikel tentang Baudelaire judulnya: "On Some Motives in Baudelaire" yang mengintegrasikan pemahaman Benjamin tentang kelas, teknologi, dan kebudayaan ke dalam suatu kritik yang lebih luas terhadap fasisisme dan ideologi reaksioner lainnya. Adapun karya Benjamin yang terakhir, Thesis on The Philosophy of History. Dalam karya terakhir inilah pokok pembahasa utama makalah saya yang sekaligus saya anggap dan nilai paling penting dari keseluruhan karya Benjamin. Secara keseluruhan pemikiran-pemikiran Benjamin yang tertuang dalam satu karya berjudul Illuminations dengan editor Hannah Arendt secara khusus berbicara mengenai filsafat sejarah yang memang amat sulit dipahami oleh sebab uraianya terbagi menjadi beberapa tesis yang notabene sulit dimengerti sekaligus kepadatannya, ditambah dengan metafor-metafor dan sarat dengan bahasa yang simbolis yang nota bene amat kaya maknanya. Adapun tesis-tesis yang terbagi tersebut berjumlah 18 dengan dua tambahan (A,B) dan satu bagian mengenai politik-teologis.

Ada dua ide pokok yang dibahas dalam makalah ini, yaitu tentang pemikiran Benjamin mengenai apa yang dinamakan "Masa lalu dan Ingatan manusia", yang nantinya memiliki implikasi yang dalam dan luas pada wilayah atau kajian mengenai teologi-politis.

C. Kritik Benjamin atas Historisisme

Bagi orang-orang yang "biasa-biasa saja" sejarah bukanlah sekedar merupakan bilangan tahun, waktu dan rangkaian kejadian. Tepatnya, sejarah mau diletakkan sebagai pengalaman yang akan dikenang terus menerus. Orang pun amat sadar bahwa sejarah tidak pernah berhenti, tapi terulang terus secara teratur, dan sesungguhnya tidak pernah baru. Namun sejarah yang selau dikenang ini bukanlah sejarah yang penuh dengan romantika yang manis. Tapi, apa yang selalu membayangi orang adalah "ingatan akan penderitaan" - Memoria Passionis.

Namun demikian menurut Benjamin, saat ini manusia modern cenderung lupa akan masa lampau sejarahnya, terutama sejarah yang suram, penderitaan generasi terdahulu. Dengan kata lain, manusia cenderung hidup dalam sebuah amnesia (baca: penyakit lupa). Juga lagi kata Benjamin dengan congkak, manusia kini merajut dan menikmati hidup sejahtera yang mana sesungguhnya tidak akan pernah ada tanpa penderitaan dan perjuangan generasi terdahulu. Dengan mengabaikan atau lupa terhadap masa lampau sejarahnya, manusia hanya akan cenderung menjadi seperti robot, yakni seorang mahluk yang intelegens, tapi tanpa pathos dan moral-Metz.

Paham atau pemikiran Benjamin demikian muncul dari refleksi dirinya atas sejarah kehidupan manusia dalam bentuk kritik dirinya terhadap paham historisisme, yang juga secara khusus ia kenakan kepada diri Horkheimer (juga aliran Frankfurt). Menurut Horkheimer, sejarah manusia adalah tertutup-closed. Artinya, sejarah kemanusiaan masa lalu sudah tertutup di masa lalu dan tidak memiliki relevansi apa pun dengan sejarah masa kini. Masa lalu adalah masa lalu. Bahkan bagi Horkheimer, ide tentang tuhan atau hidup sesudah kematian ataupun semua ide metafisis lainnya tidak lain adalah sisa-sisa pemikiran primitif. Tapi hal demikian oleh Benjamin ditolak dengan tajam dan konsisten. Keberatan kritis Benjamin adalah jika sejarah manusia masa lampau itu tertutup, bagaimana nasib orang yang tertindas, pejuang-pejuang kemanusiaan yang mati tak bersalah - the innocent victim yang lenyap ditelan kesuraman sejarah? Apakah manusia ini akan lenyap, hancur, lebur tak berbekas apapun? Jika demikian ini artinya para penindas yang congkak itu tetap akan dinyatakan "kalah" tersebut tidak ada atau memiliki kesempatan untuk dibel nasibnya, sebab tidak ada realitas di dunia lain yang mampu menampung mereka ini. Sejarah mereka habis di masa lalu.

Juga ini hampir senada dengan paham historisisme yang dikritik Benjamin. Yakni anggapan bahwa sejarah adalah segala-galanya. Semboyan historisisme adalah bahwa "hanyalah sejarah-lah yang sesungguhnya dapat menerangkan, siapakah sesungguhnya manusia itu". Jadi pengetahuan dan perasaan manusia itu dapat diketahui dari dan dalam sejarah. Dan hanya dengan sejarah dan "pen-sejarahan" juga sajalah, manusia dapat memahami dan mengenal problem hidupnya.

Singkatnya historisisme adalah kesadaran atau pemikiran yang mengedepankan sejarah sedemikian rupa sehingga ia mengabaikan dan menganggap kurang perlu apa yang bukan sejarah, apa yang tidak terjadi dalam sejarah dan apa yang berada di luar sejarah.

Tambahan juga menurut pemikiran ini, sejarah itu unik dan khas. Jadi masa lalu tidak dapat dikaitkan dengan masa depan. Historisisme memusatkan dirinya pada kesejahteraan masa lalu demi masa lalu itu sendiri. Bagi mereka tegas-tegas melihat kenyataan atau pengetahuan masa lalu tidak dapat dipakai untuk memahami, apalagi menyelesaikan masalah-masalah masa kini.

Lain halnya dengan Benjamin. Menurutnya karena ketidakperdulian akan arti masa lalu terhadap masa kini itulah, historisisme jatuh pada upaya mendegradasikan sejarah sekedar sebagai kumpulan barang antik, obyek dan sarana yang menyenangkan dan membuat nikmat para sejarahwan atau semata-mata sebagai data historis; sesuatu yang netral dan telah berlalu. Justru kata Benjamin, masa lalu dan masa kini memiliki hubungan sekaligus berada dalam sebuah konstelasi, bukan demi memiliki dirinya sendiri. Masa lalu memiliki potensi sejarah di masa kini dan masa mendatang. Singkatnya, masa lalu sendiri memiliki arti bagi masa kini. Nah bagi Benjamin, manusia kini selalu harus mampu merajut relasi yang bermakna dengan pergulatan historis masa lalu dalam wujud sikap solidaritas, yakni kita berjalan maju dalam sejarah dengan "muka menghadap masa lalu dan punggung membelakangi masa depan".

D. Kritik Benjamin terhadap Paham Perkembangan dan Kemajuan

Ciri-ciri masyarakat modern adalah kemajuan. Istilah kemajuan ini telah banyak menjanjikan banyak hal bagi masyarakat modern yang nota bene ternyata percaya bahwa kemajuanlah satu-satunya yang dapat membawa pada kebahagiaan dan kesempurnaan. Tapi lain bagi Benjamin, justru "janji" dan "kepercayaan" tersebut menyimpan bencana. Benjamin berusaha mendekostruksi atau membongkar impian-impian orang modern tersebut. Baginya, kemajuan yang selama ini ada hanya sebatas pada wilayah dan aspek yang amat sempit, yakni teknik yang melulu kuantitatif. Kemajuan atau kenaikan kuantitatif ini dijadikans satu-satunya totalitas, yang akhirnya menjadi ukuran bagi kemajuan dan perkembangan manusia dan masyarakat selanjutnya (baca: masyarakat teknologis). Pendeknya, totalitas teknis dan kuantitatif ini merupakan semacam otoritas yang menentukan dan menilai tindakan manusia dan masyarakat selanjutnya. Akibatnya tumpul-lah kemampuan kualitatif manusia dalam menilai apa yang baik dan apa yang tidak baik dalam perkembangan yang dicapainya selama ini. Pada akhirnya timbul suatu krisis moral. Malangnya, satu-satunya moralitas bagi mereka adalah teknologi itu sendiri. Sejalan dengan itu akan timbul akibat serius manakala moralitas teknologis itu menjadi sistem politik yang absolut: teknokrasi. Hal ini dapat dilihat dalam suatu rezim pemerintah yang menggunakan pendekatan represif dalam mengatur hubungan kehidupan manusia satu dengan lainnya karena hanya mengandalkan perolehan kuantitatif. Kenapa Benjamin pesimis terhadap perkembangan teknologi?

Dengan masuk pada kritiknya terhadap filsafat barat, dikatakan bahwa teori kemajuan tidak memiliki arah yang sifatnya teleologis yang mengandaikan sejarah berada sebagai perkembangan yang tanpa akhir dan tak dapat dihentikan. Juga katanya, teori kemajuan ini memikirkan waktu sebagai yang homogen dan kosong. Hal ini baginya akan berakibat langsung bagi kejadian sejarah. Bagaimana bisa terjadi seperti demikian?

Menurutnya karena kehomogenan itulah, sejarah berada dalam keadaan berhenti alias tidak melahirkan sesuatu yang khas dan baru. Dan oleh sebab kekosongan itu pulalah, sejarah tidak mampu memahami isi dari peristiwa-peristiwa tertentu. Jika memang terlihat adanya kemajuan, ataupun kebaharuan itu sesungguhnya bersifat semu, tanpa kualitas, jadi hanya sekedar merupakan pengulangan dari yang lama. Dengan demikian apakah artinya hidup atau sejarah jikalau sesungguhnya tidak terjadi apa-apa dalah hidup dan sejarah ini, kecuali perjalanan yang tanpa henti, di mana yang terjadi hanyalah pengulangan tanpa kebaharuan yang tanpa arti? Pertanyaan ini oleh Benjamin adalah tanda bencana. Maksudnya bukan bencana yang dapat dilihat secara umum, yakni bahwa akan terjadi pada satu titik, saat atau keadaan tertentu dalam sejarah. Tapi bencana itu akan terjadi setiap saat. Dan hal ini menurutnya dapat dihentikan. Kata Benjamin secara metaforis neraka itu tidak terjadi kelak, tapi justru di saat kini-setiap saat dalam kehidupan ini. Di sinilah Benjamin mulai berpikir tentang apa yang disebutnya sebagai "meledakkan dan mematahkan kontinuitas sejarah" atau "mendiamkan waktu".Oleh Benjamin secara metaforis dikatakan seperti halnya berikut:

Masyarakat modern ini tak dapat hidup tanpa arloji. Bagi mereka, arloji itu memiliki beragam fungsi. Tanpa arloji, orang tidak dapat memfantasikan apa-apa. Fungsi arloji bagi mereka dipakai sebagai alat mengukur prestasi dan produksi serta peningkatannya. Juga memudahkan orang untuk mengatur hidupnya dalam waktu, justru karena sistem waktu yang diciptakannya adalah sistem waktu yang berdasarkan pada pandangan waktunya yang homogen dan kosong. Dari jam ke jam, orang dibawa kepada suatu kebaharuan tapi kepada pengulangan yang tanpa isi.

Benjamin sendiri lalu mengingatkan bahwa arloji ini bukan merupakan produk alami yang tak dapat diubah, tapi adalah buatan manusia yang secara teoritis orang dapat "menghancurkan" arloji itu. Tapi secara praksis adalah hampir muskil melakukan itu. Jika demikian, memang ada sebuah kekuasaan yang tak dapat diganggu gugat. Lalu, siapa dan bagaimana "menghancurkan"-nya?

Menurut Benjamin manusia sendiri tidak akan mampu untuk melakukan itu. Ini artinya bahwa dibutuhkannya suatu kekuatan khusus, yakni semacam "kekuatan mesianis" untuk menopang manusia itu sendiri. Hal ini tampak dalam pemikirannya yang memberikan posisi yang serius atas metafor "penghancuran waktu arloji" dengan penghentian matahari oleh Tuhan, sebagaimana dituturkan dalam Kitab Yosua 10, 12-14:

Lalu Yosua berbicara kepada Tuhan pada hari Tuhan menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel, ia berkata ia di hadapan orang Israel: "Matahari, berhentilah di atas Gebeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!" Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukanlah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu mapun kemudian, bahwa Tuhan mendengarkan permohonan seorang manusia secara demkian, sebab yang berperang untuk orang Israel adalah Tuhan.
Kisah di atas terlihat bahwa Tuhan menghentikan gerakan matahari untuk membantu umatnya yang tertindas oleh orang-orang Amori. Orang Amori memang menang, sebab waktu berjalan tanpa henti seperti biasanya. Waktu semacam itulah yang menyebabkan kekalahan orang Israel. Jika waktu macam demikian diledakkan, dihentikan maka terjadilah pembebasan buat Israel yang tertindas dan tanpa kemungkinan itu. Itulah pemikiran mistik (baca: mesianis) Benjamin tampak kentara. Namun mungkinkah kekuatan khusus yang adalah Tuhan ini dimungkinkan dapat hadir dalam sejarah manusia yang sekular ini?

Menurut Benjamin ini dapat tercipta jika masa lalu dan masa kini diletakkan dan dikaitkan dalam satu kesatuan konstelasi. Hubungan inilah yang akan menghentikan dan menghancurkan kontinuitas waktu yang homogen dan kosong. Di situ akan terjadi apa yang disebut oleh Benjamin "Dialektik dalam keadaan berhenti". Setelah masa kini menjadi kekinian yang memiliki isi dan arti karena kaitannya dengan masa lalu. Inilah yang menjadikan sejarah berjalan kembali dengan kualitasnya yang baru.

Nampak kesejajaran dan sama pentingnya antara masa lalu dan masa kini. Masa lalu merupakan masa yang belum selesai. Justru masa lalu menyimpan suatu potensi akan harapan dan tuntutan yang mesti dituntaskan pada masa kini. Juga inspirasi dan daya kekuatan bagi masa kini, khususnya bagi mereka yang menderita dan tertindas. Inilah yang dimaksud Benjamin dengan masa lalu. Jadi maksud Benjamin sendiri bukan berarti bahwa masa kini tidak memiliki arti sama sekali, tapi justru masa lalu menjadi tempat untuk membangun kembali sejarah. Pandangannya ini kemudian membawanya pada optimisme akan masa depannya yang lebih konkret tentang kebahagiaan. Baginya, kebahagiaan itu seharusnya dapat dinikmati dalam udara yang telah kita hirup sehari-hari. Kebahagiaan itu seharusnya ada dalam pergaulan kita dengan manusia-manusia yang telah hidup dan berada bersama kita. Jadi apa yang dinamakan kebahagiaan bukan merupakan sesuatu yang tidak jelas adanya, kosong, tapi justru merupakan gambaran yang ditentukan oleh kegagalan dan ketidaksempatan untuk meraih kebahagiaan di masa lalu. Dan ini tentu harus dipenuhi dan terjadi pada masa depan.

Bagi Benjamin kebahagiaan yang belum tuntas ini merupakan sebuah keinginan positif manusia, sebagaimana daya dan kerelaan untuk berkorban demi suatu cita-cita, baik yang positif maupun negatif, sebagaimana kebencian dan rasa iri terhadap mereka yang ikut menggagalkan kebahagiaan yang mereka cita-citakan. Benjamin sendiri mengatakan seperti demikian:

… kebencian dan kerelaan berkorban ini dibesarkan oleh gambaran leluhur yang tertindas, bukan oleh cita-cita ideal dari cucu yang terbebaskan.
Dengan begitu terjadi apa yang disebut oleh Benjamin dengan "penyelamatan masa lalu", yang juga berarti penjungkirbalikkan secara revolusioner masa sekarang dengan iringan pecah pula "saat mesianis". Secara metaforis manusia bagaikan harimau yang melompat ke masa lalu. Suatu lompatan ke masa depan yang menghancurkan struktur kekuasaan masa sekarang.

E. Refleksi terhadap Ingatan Masa Lalu Manusia

Benjamin mulai dengan pertanyaan tentang bagaimana sejarah masa kini dapat memasukkan masa lalau sebagai bagian dari dirinya, jika memang ia memiliki potensi dan harapan besar? Bagaimana kita mengenal masa lalu bagi mereka yang tidak meninggalkan jejak, atau dokumen atau warisan apa pun?

Menurutnya, ingatan-Erinnerung adalah sumber pengetahuan masa lampau. Dengan bertolak pada pengalaman keseharian manusia yang paling biasa, terhadap pengalaman masa lalu, secara spontan orang dituntut untuk menggunakan ingatannya lebih daripada pikiran dan pengetahuannya. Secara epistemologis pun ini juga telah dipikirkan oleh Plato dan Hegel.

Bagi Plato, anamnesis adalah pengertian pokok untuk menerangkan proses pengetahuan manusia. Perjumpaan dengan kejadian dan ciptaan yang partikular, manusia diingatkan kembali akan idea abadi yang universal sebagai potensi aslinya, yang dulu dikenalnya. Dengan demikian, proses belajar dan pengetahuan manusia itu hanyalah sekedar "mengingat kembali apa yang dilupakannya"

Bagi Hegel, hal semacam ini dikembangkan dalam filsafat sejarah-nya. Ingatan olehnya dihubungkan dengan peristiwa sejarah manusia, artinya sebagai tempat untuk mewujudkan ingatan itu menjadi kenyataan di masa depan. Juga ingatan merupakan proses penyadaran dari tahap pra-kesadaran, manusia dibawa pada kepenuhan dirinya. Ini artinya ia akan meraih secara penuh kebebasan dalam sejarah manusia secara nyata. Di sini nampak jelas perbedaan refleksi ingatan pada Plato dan Hegel. Bagi Plato adalah kesempurnaan akan pengetahuan. Bagi Hegel, kebebasan-lah yang menjadi tujuan dari proses penyadaran dalam sejarah manusia.

Namun lain halnya bagi Benjamin. Ia merefleksikan ingatan secara lebih khas, meski ia bertolak dari kedua tradisi tersebut, baik sebagai pengetahuan maupun sejarah. Mengapa tampak lebih khas? Tentu kita masih ingat akan keterlibatan dirinya pada lingkungan aliran Frankfurt, yang memiliki ciri "sinisme" dan pesimisme terhadap filsafat yang berkembang sampai saat itu, oleh sebab pengalaman konkret mereka, baik sebagai keturunan Yahudi maupun sebagai orang yang menderita di bawah rezim NAZI. Bagi pengikut sekolah Frankfurt, peristiwa pembantaian dan pemusnahan orang keturunan Yahudi merupakan pengalaman yang menghancurkan peradaban manusia.

Sikap dan semangat optimisme manusia modern yang merasa dirnya beradab dan yakin akan kemampuan akal budinya itulah dirinya yang melatarbelakangi refleksi ingatan Benjamin. Mungkin di antara para pangikut sekolah Frankfurt, Benjamin termasuk orang yang paling sinis terhadap filsafat waktu itu.

Oleh sebab kemandekan rasionalitas, ketertindasan manusia sebagai subyek pengetahuan, dan situasi penindasan brutal dan berdarah di bawah rezim NAZI itulah yang melahirkan refleksi epistemologis bagi Benjamin tentang ingatan.

Kendati nyatanya akal budi manusia tidak mampu untuk mencegah terjadinya kekejaman yang terjadi di bawah rezim NAZI, khususnya yang menimpa dirinya, Benjamin masih melihat adanya kemampuan manusia yang lain, yakni kemampuan mendengar, mengamati, merasakan, dan mengingat.

Ada perbedaan khas sejarah dan ingatan berdasarkan ilmu dengan pemahaman Benjamin. Baginya, sejarah bukan ilmu tentang masa lampau, tapi ingatan akan masa lampau. Apa yang dipastikan oleh ilmu belum tentu merupakan kepastian bagi ingatan. Sehingga ingatan itu selalu dapat merubah apa yang telah ditetapkan oleh ilmu. Juga dengan penderitaan di masa lalu yang nota bene sesungguhnya justru menyimpan sesuatu yang masih harus dituntaskan di masa depan, sehingga ia bukan merupakan suatu peristiwa an sich yang sudah selesai oleh karena telah terjadi sebagaimana dikatakan oleh ilmu. Pendeknya adalah memahami sejarah dengan ingatan berarti memahami sejarah sebagai sesuatu yang memiliki relevansinya bagi subjek yang mengingatnya di masa kini. Hal ini bagi orang yang kalah, menderita dan tertindas yang nota bene tidak memiliki alternatif masa depan, justru ingatan menjadi sumber pengetahuan dalam mewujudkan cita-cita yang belum tuntas di masa lalu. Di sini sekaligus menjadi terbukan pula bagi adanya "penyelamatan". Penyelamatan ini telah termuat di masa lalu: bagaimana yang kalah dapat menang, yang menderita dapat bahagia, atau pun bagaimana yang mati dapat hidup? Harus diakui pemahaman demikian menjadi bersifat teologis yang nota bene ingatan sesungguhnya menjadi ciri khas tindakan religius orang Yahudi. Bagi mereka, harapan masa depan dapat terjadi dengan cara meningat apa yang telah terjadi di masa lalu. Mereka percaya akan kedatangan Mesias yang kelak dapat membebaskan mereka.

Benjamin tak dapa disangkal layaknya sebagai seorang Nabi yang mencoba untuk meramalkan sesuatu di masa depan. Hanya isi ramalannya bukan tentang masa depan, tapi tentang masa lalu dan berasal dari masa lalu. Ia mengkomunikasikan sesuatu bagi masa kini di mana isi dari hasil komunikasinya itu hanya dapat dimengerti dengan cara menafsirkan kembali masa lalu.

Catatan Kaki

[1] Lih. Susan-Buck-Morss, The Origin of Negative Dialectics, (Sussex: The Harvester Press, 1977), hlm. 162-3

[2] Ibid., hlm. 146
[3] Lih. dalam Martin Jay, The Dialectical Imagination (London: Heinemann, 1973) yang dapat menjelaskan konteks historis yang lebih luas, yakni aliran frankfurt dan Institut Penelitian Sosial Frankfurt.
[4] Lih. dalam Richard Wolin, Walter Benjamin, An Aesthetic of Redemption (New York, Columbia Univ. Press, 1982) hlm. 14.
[5] ibid., hlm. 16.
[6] "Motif politis Brecht sendiri, yakni ia mendukung Uni Soviet dan Marxisme-Leninisme. Dukungan atau keberpihakan ini ditentang keras oleh Adorno, dan tidak sesuai dengan pendirian Institut yang pada waktu itu dipimpin oleh Max Horkheimer sebagai Direktur dalam pengungsian ke New York. Oleh sebab itu masalah-masalah metodis dan politis tersebut, Benjamin tidak pernah dapat terintegrasi secara penuh dalam Institut Penelitan Sosial Frankfurt, dan tetap berada di lingkaran luar".
[7] Lih. dalam Buck-Morss, op.cit. hlm. 145 dan 150.
[8] Lih. dalam Martin Jay, hlm. 21. Dikatakan sebuah catatan penting bahwa metode yang dilakukan benjamin memiliki gemanya dalam dekostruksionisme. Dalam esainya tentang Benjamin, J. Derrida mengakui kesejajaran pikirannya dengan Benjamin.
[9] Lih. dalam W. Schulze, Einfuhrung in die neuere Geschichte (Stutgart: 1991), hlm. 227-229.
[10] F. Jaeger/J. Rusen, Geschichte das Historismus, (Munchen 1992), hlm. 5
[11] lih. dalam W. Benjamin, Illuminations, Hannah Arendt (Ed.); Trans. Harry Zohn (New York: Harcourt, Nrace and World, 1968), hlm. 47-51.
[12] ibid., hlm. 48.
[13] ibid., hlm. 258-260.
[14] ibid., hlm. 52-58.
[15] ibid., hlm. 211-215
[16] ibid., hlm. 251.
[17] ibid., hlm. 258.
[18] Contoh dari saat mesianis itu adalah Revolusi Perancis, yang menghancurkan kontinuitas sejarah ciptaan sistem feodalisme absolut sekaligus menghidupkan kembali Roma dengan sistem republikannya. Bagi Robespiere keyakinian dari revolusi Perancis adalah pemenuhan sejarah cita-cita republik Roma di masa lampau.
[19] ibid., hlm. 258 dst-nya.

Daftar Pustaka
Wiggershauss, Rolf., The Frankfurt School: Its History, Theories and Political Significance; trans. Michael Roberston (Polity Press and Massachusetts Institute of Technology, 1994), khususnya hlm. 52, 69, 92, 94, 98, 160, 163-41, dan 191-218.
Benjamin, Walter., Illuminations, Hannah Arendt (ed.); Trans. Harry Zohn (New York: Harcourt, Brace and Wold, 1968).
Jay, Martin., The Dialectical Imagination, (London: Heinemann, 1973).
Wolin, Richard., Walter Benjamin: An Aesthetic of Redemption (New York, Columbia Univ. Press, 1982).
Morss, Susan Buck., The Origin of Negative Dialectics (Sussex: The Harvester Press, 1977).

Kentungan-Gambir/okt'96-Juli'98
Suhendra

Lihat siapa pengunjung situs ini.