Logo Oneweb
Catatan Fotografi

Senarai Fotografi


Riuh Suara Rakyat
Pameran Pewarta Foto Indonesia (PFI) bertajuk Suara Rakyat adalah gelar terbesar keduanya setelah Dari Lengser sampai Semanggi, Desember tahun lalu. Acara akbar ini berlangsung di Hotel Sahid Jaya, 12-22 Agustus 1999.
Dalam deretan karya puluhan fotografer itu, suara-suara rakyat seakan menggema di seputar saat-saat menjelang Pemilu 1999. Dari suasana kenekadan para pendukung partai untuk memanjat risiko setinggi apa pun, hingga kekonyolan dalam hura hura kampanye yang kerap kali justru menyindir dirinya sendiri.
Para pewarta foto tampak terfokus pada peristiwa-peristiwa yang bersuara riuh. Sementara peristiwa lukisan nasib rakyat miskin, jeritan para pengungsi di Aceh, Ambon, dan Sambas, serta para pelajar yang keleleran di saat para politisi berkampanye tentang masa depan yang cerah, tak terekam.
Beberapa foto yang seharusnya mampu memanfaatkan momen penting berkaitan dengan kondisi KPU misalnya, juga terabaikan. Salah satunya, foto berjudul Polisi Menghalau Massa PRD karya Purwanta BS, yang terjadi tepat di depan KPU, tak merekam gambar yang mestinya bisa menjelaskan bahwa teriakan massa PRD merupakan reaksi terhadap kacau balaunya kerja KPU. Namun begitu, karya para juru potret media massa Indonesia itu tak mengurangi arti sebagai sebuah rekaman sejarah.(dikki)

Foto dari Angkasa
Mari kita bicara angka-angka. Di usianya yang mencapai 63 tahun, Presiden B.J. Habibie yang suka koleksi miniatur pesawat terbang itu memang suka terbang. Dia pernah berada di ketinggian terbang antara 12.500 dan 16.400 meter, dengan kecepatan jelajah rata-rata 330 ribu meter per jam, dan 71 kali penerbangan Gulstream G IV-SPPK/NZK. Penerbangannya itu melintasi lima benua dalam 1.050 jam 5 menit jam terbang, dalam kurun waktu empat tahun lebih.
Apa yang dihasilkan dari penerbangannya adalah sekitar 178 foto hasil pemotretan kamera Leica yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sejak 25 Juni-3 Juli ini. Foto-foto dalam pameran Pesona, Cahaya, Kecepatan, Waktu, dan Ruang Angkasa itu merekam awan dalam ragam perspektif, bumi tampak dari angkasa, bangunan-bangunan tinggi dan besar di berbagai negara, dan ragam lanskap lingkungan.
Karena sebagian besar diambil dari dalam pesawat terbang, maka tidaklah heran kalau banyak foto yang menampakkan ujung sayap pesawat. Dominan pula foto horison pada waktu senja. Itulah hobi dan selera presiden ini. Jelas berbeda misalnya dengan Presiden Soekarno dulu yang lebih suka lukisan-lukisan natural, figur perempuan, dan keromantisan. (one)

Potret Anak Bernada Datar
Anak dalam segala tingkah polah dan nasibnya selalu menarik untuk diangkat sebagai objek fotografi. Keluguan, ketertindasan, dan kesederhanaan mereka justru menjadi daya tarik yang hidup. Namun tak mudah merekam denyut kehidupan mereka dalam bingkai-bingkai fotografi.
Upaya itulah yang hendak dicapai Padri Nadeak dan Imelda Stefanny lewat sederetan foto mereka yang dipamerkan di Galeri Centre Culturel France, Salemba, Jakarta. Khalayak ramai bisa menyaksikannya selama 9-24 Februari ini.
Dengan mengusung tajuk Potret Anak, kedua fotografer dari Institut Kesenian Jakarta ini tampak punya ide besar. Sayang tema itu terlalu luas dan kabur maknanya. Yang mereka sajikan adalah keping-keping pengalaman anak di Indonesia. Baik anak jalanan, anak kampung, anak pantai, maupun anak-anak di penjara.
Deretan foto-foto yang ditampilkan cenderung bungkam atas tangis dan derita yang konon hendak mereka ungkapkan. Padahal pilihan foto hitam putih yang menjanjikan penonjolan bentuk itu cukup akomodatif atas ide dasarnya. Namun nada yang keluar datar-datar saja. (one)

Lihat siapa pengunjung situs ini.