Media itu punya daya magis sendiri-sendiri, namun tak semua seniman mampu menemukannya. Baik itu cerpen koran, komposisi seriosa, maupun film alternatif. Namun ketiganya coba ditimbang oleh Dewan Kesenian Jakarta. Inilah hasilnya.
"Media has it's own magic," kata kartunis Dwi Koendoro. Media itu punya daya magisnya sendiri-sendiri. Setiap media kemudian berusaha keras menunjukkan daya magisnya itu dalam berbagai teknik dan gaya. Di situlah kekuatan yang membedakannya antara media yang satu dengan media yang lain.
Cerita pendek tidaklah sama dengan komposisi lagu seriosa dan tidaklah sama dengan film alternatif. Ketiga jenis media inilah yang dinilai dan diberi penghargaan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada Jumat malam (19/3) lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Ada tiga jenis karya yang diangkat dalam Pengumuman dan Penyerahan Hasil Lomba Cerita Pendek Terbaik Indonesia, Lomba Pembuatan Film/Video Alternatif, dan Sayembara Komposisi Lagu Seriosa. Puluhan cerpen, film, dan lagu ini ditinjau dalam rentang waktu tahun 1998.
Meski salah satu alasan penyelenggaraan program ini romantis juga. "Tahun 1970-an fungsi Dewan Kesenian Jakarta adalah melahirkan seniman-seniman profesional. Tahun itu pula seriosa begitu sangat terkenal, mengapa sekarang tidak dilombakan. Juga munculnya cerpen-cerpen di surat kabar sekarang ini," kata Kabid Umum DKJ, M. Sulebar, dalam pidato sambutannya. Hasilnya, ada optimisme dalam dunia kesenian kita sebenarnya.
CERPEN KORAN Sapardi Djoko Damono yang malam itu mengumumkan pemenang cerita pendek terbaik, membacakan Catatan Ringkas Sehabis Membaca Cerita Pendek di Koran 1998 sebagai pertanggungjawaban dewan juri. Sapardi memaparkan fenomena maraknya cerita-cerita pendek Indonesia di berbagai media cetak. Bukan di majalah-majalah sastra yang jumlahnya terbatas, tapi di surat-surat kabar.
"Di koran cerita pendek sebaiknya merasa mendapat penghargaan karena sudah diberi ruang secukupnya, meskipun kadang-kadang harus gusur menggusur dengan berita Piala Dunia, demonstrasi mahasiswa, dan iklan," kata ahli sastra ini.
Namun ada risiko besar dari kehadiran cerpen di koran. Cerpen pun berjalan dalam logika koran. Kehangatan menjadi tuntutannya pula. Mengutip istilah Ezra Pound, Sapardi menyebutnya cerita dan sastra pada umumnya adalah "berita yang tetap bertahan sebagai berita." Cerpen, dengan demikian, menjadi berita pula. Hangat, penting, mendesak, dan larut dalam arus emosi massa.
Padahal karya sastra diharapkan menjadi lebih dari sekadar dokumen sejarah. Mampu memberi perenungan dan membuat orang berjarak dalam waktu dan ruang terhadap peristiwanya. Namun di tengah banjir cerpen koran itu, masih ada kemauan cerpenis untuk mengembangkan stilistik dan tematik karyanya.
Dengan dasar itulah terpilih setidaknya 24 nominasi cerpen karya sederet sastrawan seperti Putu Wijaya, Gus Tf Sakai, Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Kuntowijoyo, dan Radhar Panca Dahana. Dan Pagi Jumat Bersama Amuk karya Taufik Ikram Jamil yang dimuat dalam harian Haluan Padang terpilih menjadi pemenangnya. Sebagai bonus, malam itu cerpen itu dibacakan oleh Adi Kurdi pada bagian akhir acara.
LAGU SERIOSA Keriuhan karya sastra tak seperti yang terjadi di dunia lagu seriosa. Ada sedikit pesimisme yang terungkap dari pertanggungjawaban dewan juri. Meski karya yang masuk cukup banyak, ada 53 komposisi dan yang layak nilai 33 karya, karya-karya itu tak cukup menggembirakan.
"Dalam catatan dewan juri disebut bahwa 'tidak ada hal-hal baru', namun saya sebagai orang tua ingin menyatakan 'belum ada hal-hal baru dan inovatif'," kata Alfred Simanjuntak setengah bercanda.
Alfred yang anggota dewan juri bersama Chatarina Leimana sebagai ketuanya, malam itu mengumumkan para pemenangnya. Terpilih malam lima pemenang, Gadis Italia karya Waluyo (Harapan III), Berdiri Aku karya Haris Wahyudi (Harapan I), Nyanyian Suto untuk Fatimah karya M. Agus Susanto (Juara III), Doa karya Bersan Arsori (Juara II), dan Juara I diraih Waluyo dengan komposisi Doa.
Komposisi-komposisi yang diikutkan lomba itu bahan-bahannya diambil dari karya "sastrawan-sastrawan besar" (istilahnya Alfred) seperti Sitor Situmorang, Amir Hamzah, Rendra, dan Chairil Anwar. Sayang belum banyak kemajuan dalam bentuk komposisi, dalam arti masih kaku terikat bentuk-bentuk lama yang sudah ada.
FILM ALTERNATIF Yang paling ditunggu-tunggu dalam acara malam itu adalah pengumuman pemenang lomba film/video alternatif. Puluhan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta dan mahasiswa kampus lain memenuhi sebagian besar kursi Graha Bhakti Budaya TIM malam itu. Mereka adalah peserta dan kawan-kawannya yang menjadi pendukung.
Setelah lama menunggu akhirnya pengumuman itu dibacakan oleh anggota dewan juri Dwi Koendoro, yang mewakili ketua yang berhalangan hadir , Marselli Soemarno. Malam itu yang terpilih menjadi pemenang dari 10 nominasi adalah Pertanyaan Uang karya Rika Hariati (Juara III), Tekno Barata karya Beni Susanto (Juara II), dan Trutur karya Hanung Bramantyo (Juara I).
Dewan juri mengajukan kriteria orisinalitas pengungkapan sebagai yang utama. Kemudian barulah menimbang gagasan yang dibungkus oleh tema dan hal-hal teknis lainnya. Satu catatan para dewan juri adalah masih banyak peserta yang memiliki kelemahan mendasar dalam sinematografi.
Intinya, meminjam istilah Dwi Koendoro, masih kurangnya daya magis sebuah media digali, sehingga kelebihannya sebagai media yang khusus tak tampak. Ini pula yang mendasari banyak cerpen yang ada di koran dan komposisi lagu seriosa yang diciptakan tak sampai pada puncak maksimal sebagai karya seni.
Karya maestro tentulah menjadi impian Dewan Kesenian Jakarta dan acara-acara semacam ini adalah ruang-ruang yang diharapkan bisa meluas menghargai ragam karya yang muncul. Namun dengan tak tersentuhnya daya magis medianya sendiri, tampaknya para seniman akan masih terus bergerak di tataran permukaan. Kapan kita menyelam dan menemukan mutiara karya seni Indonesia kalau begitu? (iwan)
Trutur dan Kemiripan Film Alternatif
Ada gerundelan tak sedap di sela-sela hadirin yang ada di TIM malam itu. Kata "KKN" dan "plagiat" menyeruak. Yang jadi sasaran, tentu saja, karya-karya pemenang malam itu. Terutama pada pemenang lomba film/video alternatif. Iri? Mungkin saja.
"Saya lihat film Trutur itu mirip sama film Cermin Dibelah Dua yang muncul tahun lalu," kata seorang mahasiswa yang hadir malam itu. Film Trutur yang meraih juara pertama itu diputar mengiringi pembacaan cerpen terbaik dan tiga karya komponis pemenang.
Trutur berkisahnya mengenai seorang anak yang mengintip ibunya mandi dan mendapat hukuman dari ayahnya. Hingga dewasa dan bercinta dengan seorang gadis, dia mengalami goncangan kejiwaan. Kenikmatan atas penyiksaan dan paranoia terhadap citra ibunya sendiri.
Dengan mengambil lokasi syuting di Parang Tritis, Yogyakarta, sutradara Hanung mengaku mendapat ilham tak sengaja tentang film itu. Ide dasarnya justru dari pengalaman pribadinya sendiri. Dengan dibantu Sanggar Kanvas Yogyakarta, maka diproduksilah Trutur oleh Sanggar Sinema '97.
Namun mengenai kemiripan karya itu disanggah oleh Hanung. "Tidak. Saya tidak pernah menonton film-film yang dilombakan tahun lalu. Kecuali Revolution of Hope," kata mahasiswa IKJ semester tiga ini sambil menyebut pemenang lomba film pendek tahun 1998 lalu.
Namun suara-suara tentang kemiripan Trutur dengan Cermin Dibelah Dua yang menjadi nominasi tahun lalu taklah selesai. Bisa jadi kecemburuan pemula memicunya. Namun sebagai karya awal, dewan juri cukup mengahargai karya-karya yang tecipta ini dengan segala kelemahannya.
"Mereka masih melihat film itu kayak sinetron. Wajar karena mereka selama ini dipojokkan dengan pandangan dan pikiran yang sempit," kata Dwi Koen. Namun ajang festival dan lomba-lomba semacam ini, menurut Dwi Koen harus diperbanyak dan diperluas untuk menampung gagasan-gagasan yang ada. Seperti juga pendapat yang diberikan Garin Nugroho yang gayanya banyak mewarnai film-film nominasi lomba ini. Namun kalau ada "kemiripan" itu bagaimana? (iwan)