Si Cepot di tangan Asep Sunarya punya banyak kelebihan. Malah ia bisa "dimanusiakan" dalam Asep Show. Namun Cepot punya saing lain di Indosiar. Keduanya lumayan buat menunggu beduk berbuka.
Jam menunjukkan pukul 17.30 WIB. Arie bersama temannya, Ujang, menghambur ke ruang tengah rumahnya, di kawasan Jl Tamansari, Bandung. Mereka baru pulang main tak karuan.
"Asep Show, Asep Show.., di TPI!" ujar Arie, bocah kelas empat SD. Serta-merta ia merebut remote control di tangan kakak perempuannya, yang asyik menonton sinetron Doaku Harapanku di chanel RCTI.
Bapaknya mendukung, kendati ibu dan kakak perempuannya tadi, cemberut. "Tapi lagi iklan. Pindahkan ke Indosiar dulu. Di sana ada Cafe Si Cepot," saran sang bapak. "Ya, ya, ya..," jawab Arie.
PERSAINGAN DUA CEPOT Maka tampillah adegan Cepot arahan Asep Taruna. Si Cepot dalam bentuk wayang golek bermuka merah dan berbaju hitam itu mempelesetkan lagu Takdir-nya Dessy Ratnasari. "Taksi... memang kejam" senandungnya. Adegan ini muncul dalam episode "Sopir Taksi Bermasalah" di Indosiar pada Rabu (6/1) sore lalu.
Sekarang cobalah pindah ke stasiun Televisi Pendidikan Indonesia. Di hari yang sama di TPI, Si Cepot versi Asep Sunandar Sunarya juga mengocok perut pemirsa lewat banyolannya di bengkel mobil bersama Komeng dkk. Pada penutup episode itu, Si Cepot memberi petuah. "Harga diri seseorang tidak dilihat dari kekayaan. Tetapi dari tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT."
Acara Asep Show dan Cafe Si Cepot sepintas seperti setali dua uang. Tapi Cepot di TPI beda dengan Cepot di Indosiar. Di Indosiar Si Cepot nampak berkumis dan berjenggot, di TPI tidak.
Dalangnya, jelas beda pula. Di TPI Asep Sunandar Sunarya, sedangkan di Indosiar Asep Taruna. Keduanya sama-sama orang Sunda (Bandung), namun tidak bersaudara. Mereka hanya berteman akrab. Adakah persaingan di keduanya?
Sejak awal puasa di Bulan Ramadhan ini, TPI dan Indosiar menyuguhkan pemirsanya dengan kedua acara Si Cepot itu. TPI memang mendahului menayangkan Cepot sejak tahun lalu. Sedangkan Indosiar Baru Ramadhan kali ini menampilkan Cepot dengan dalang Asep Taruna.
"Banyak orang gandrung pada Asep Show," kata Agoeng Widagdo dari bagian Riset TPI. Namun kemunculan Cepot tandingan di Indosiar cukup mengganggu. Walhasil, iklan Asep Show di TPI diembel-embeli "Ini yang asli, lho!"
Sebagai pendatang baru, Cafe Si Cepot memang masih kalah pamor dibanding Asep Show. "Cafe Si Cepot ratingnya tidak begitu bagus," kata M. Andi, staf Litbang Indosiar. Tapi dalang Asep Taruna optimis pada ujungnya program dia yang akan lebih tinggi ratingnya. "Lihat saja nanti," katanya.
Selain karena program baru, mungkin penonton juga melihat siapa dulu dalang di balik wayang itu. Bagi penggemar wayang golek, nama Asep Sunarya sudah menjadi jaminan mutu. Sunarya sudah sering siaran di stasiun RRI Bandung dan memproduksi banyak kaset rekaman wayang. Wajarlah bila banyak pemirsa berpaling ke sana.
Di TPI Si Cepot secara bergantian dalam setiap episodenya, guyon bersama para pelawak berbagai kelompok, dengan setting berbeda. Peran Si Cepot di sini nampak lebih menonjol di tengah para pelawak yang dihadirkannya. Maka, paket acara ini sebenarnya ada embel-embelnya: Asep Show Plus (pelawak)! Tampaknya penampilan Cepot di Asep Show terkesan lebih interaktif. Kendati Asep Taruna pun sebenarnya memiliki kemampuan yang serupa.
Sesungguhnya, penampilan Cepot di Indosiar tak kalah greget. Malah nuansa agamanya lebih menonjol. Setiap episode, Deddy Mizwar memandu cara dengan berdialog ala Cafe Selayang Pandang--nya Wimar Witoelar. Di situ dihadirkan pula pelawak seperti Cholik, sebagai 'nara sumber' dan bintang tamu.
Ada juga dialog dan ceramah singkat agama dari seorang ustadz pada televisi kecil di cafe itu. Pada dasarnya, Cafe Si Cepot nampak lebih lengkap, sayangnya daya pikat Si Cepot kurang menonjol. Seringkali, malah, terlibas oleh banyolan Cici Tegal dan sosok Dedy Mizwar. "Saya memang belum begitu dekat dengan Deddy Mizwar," kilah asep Taruna.
Uniknya, sebagai dalang, duo Asep itu tidak menampakkan diri. Ia menjaga posisinya seperti saat tampil di panggung pagelaran wayang golek umumnya. Ia lebih banyak menyembunyikan diri di bawah sosok Si Cepot. Layaknya tokoh di belakang layar. Tidak seperti Ria Enes saat menenteng si Susan. Jadinya, Si Cepot seperti hidup dengan sendirinya dengan ruang geraknya terbatas.
KEMBALI MENGGURUI Ini memanglah tayangan acara yang bersifat komedi dakwah. Ada banyolan konyol, nasihat mendidik, dan siraman rohani yang bisa merangsang keimanan dan ketakwaan. Dengan supel, Si Cepot berinteraksi dengan pelawak, artis sinetron dan ustad. Kritik sosial, juga kerap muncul. Acara ini terasa menyegarkan orang yang lagi puasa di ujung hari menjelang buka.
Penonton seperti Arie dan Ujang lewat kedua acara itu, secara tidak langsung mendapat siraman rohani dalam kemasan komedi. "Ini adalah mini drama komedi yang ringan dan aktual," kata Humas Indosiar, Andreas Ambessa.
Menonton Si Cepot memang banyak cengengesannya, tapi sering muncul kata-kata bijak dan nasihat yang membuat pemirsa termenung. Inilah sebuah siasat mengusik keengganan sementara orang untuk mendengar ceramah agama yang disampaikan secara monolog atau konvensional.
Dengan tampilnya sosok Cepot semacam ini, peran wayang seperti ditengarai Victoria M. Clara nampaknya perlu ditimbang ulang. Vicoria dalam bukunya Dalang di Balik Wayang (1987) menggariskan pergeseran peran dalang pada masa Orde Baru "...bahwa dalang, yang dahulu menganggap dirinya sendiri sebagai guru masyarakat, sekarang justru menyebut drinya sendiri sebagai seniman; sementara itu kaum elit baru, berbeda dari kaum tradisional, justru sekarang tertarik pertama-tama dan terutama terhadap peranan dalang sebagai guru," tulisnya.
Sekarang dalang lewat karakter wayang semacam Cepot kembali menjadi guru meski dalam kemasan komedi. Terlepas dari persaingan dua stasiun televisi itu, lawakan selama setengah jam menjelang adzan Maghrib ini pun, meninggalkan sebuah renungan dari Si Cepot, agar manusia insyaf. (asep/one)
Cepot dan Hilangnya Petruk-Gareng
Asep Show di TPI kini menjadi plus karena menghadirkan barisan pelawak secara bergantian pada setiap episodenya. Kepiawaian dalang kondang Asep Sunarya dalam memainkan golek Si Cepot masih kritis dan humoris. Sekali-sekali, di tangannya, Si Cepot menjadi seorang bijak.
Namun bersamaan dengan itu, kini, terasa sekali ada yang hilang. Sebagai 'makhluk' dari dunia wayang ia tampil sendirian menghadapi sejumlah orang. Seperti sayur tanpa garam. Asep Show Plus pun menjadi agak minus.
Apanya yang kurang? Raibnya Petruk dan Gareng. Cepot dalam pakem wayang golek Sunda memang bagian dari punakawan. Di Jawa Tengah dia dikenal sebagai Bagong yang bersaudara dengan Petruk dan Gareng. Ketiganya merupakan anak-anak Semar yang selalu mendampingi para satria, seperti Pandawa, dan selalu muncul di masa-masa kritis dengan nasehat-nasehat bijaknya.
Sekarang kedua saudara kandungnya itu memilih tidak tampil sama-sama. Sebabnya dalang yang memainkannya berpaling ke lain stasiun televisi. Asep Sunarya berpisah dengan Asep Taruna (45), padahal yang belakangan inilah sang dalang yang memainkan Petruk dan Gareng. Dua Asep ini sebenarnya pasangan serasi. Keduanya sama-sama raja guyon dan memiliki kreasi tinggi di dunia wayang golek.
Pada Ramadhan kali ini, Asep Taruna dikontrak Indosiar, memainkan Cepot dalam Cafe Si Cepot, bersama Deddy Mizwar dan Cici Tegal. Program ini ada kemiripan dan ditayangkan pada jam yang sama, pukul 17.30. Tapi kemasannya agak berbeda. "Cafe Si Cepot tidak terlalu banyak membadut. Tapi lebih ke dakwah," kata Asep Taruna.
Perpisahan itu bukan karena hubungan kedua dalang tersebut retak. Asep Taruna rupanya jengkel pada pihak tertentu yang mengecilkan kontribusinya di Asep Show. "Saya tidak mau lagi dianggap buntut sapi, tapi ingin jadi kepala ayam," tegasnya kepada ADIL.
Sayangnya komentar dari Asep Sunarya sendiri sejauh ini belum bisa dihubungi. Namun perpisahan keduanya tentulah sedikit banyak telah membingungkan pemirsa atas dua tayangan yang nyaris serupa itu. Cepot memang tokoh tradisional tanpa pemilikan. Jadi siapa pun boleh-boleh saja memainkannya, bukan. (asep)