Logo Oneweb
Catatan Hiburan

Makassar Arts Forum:
Gerak Meninggalkan Pusat
Ratusan seniman menggelar karyanya di Ujungpandang. Ada upaya menggali budaya metropolitan Makassar dan meninggalkan pusat-pusat budaya yang ada.

Menggunakan baju bodo berwarna merah muda dengan sarung sabbe bergaris cokelat, Mak Coppong yang berusia 78 tahun itu dengan lincah memperagakan tari Pakkarena. Mpu tari dari kampung Kampili, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu, Minggu (5/9) malam, tampil bersama dengan Mak Cammana (70 tahun) yang hadir lewat taburan vokal rebana ala daerah Tinambung, Kabupaten Polmas. Seni tari tradisional, merupakan warna dari acara pembukaan Makassar Arts Forum '99 (MAF), yang pembukaannya dilakukan oleh Gubernur Sulsel, H. Z.A. Palaguna, di Monumen Mandala, Ujungpandang.

Pagelaran seni yang berlangsung dari tanggal 5-12 September 1999 ini menampilkan aneka program, seperti tari, teater, musik, pameran foto seni pertunjukan dan 'Makassar Tempo Doeloe', festival film Indonesia dan internasional, dan lain-lain. Selain itu ada diskusi budaya yang melibatkan para seniman dan pakar dari berbagai bangsa.

Untuk rangkaian acara seni pertunjukan MAF '99, mengambil lokasi di Monumen Mandala, Gedung Sociteit, dan Benteng Fort Rotterdam. Sedang untuk pameran seni rupa dilaksanakan di lobi beberapa hotel di Ujungpandang. Acara diskusi budaya yang acaranya berlangsung dari tanggal 7-12 September dilaksanakan di Aula Benteng Ford Rotterdam.

Jumlah keseluruhan peserta yang ikut dalam MAF '99 ini menurut Direktur Pelaksananya, Andi Ilhmasyah Mattalata, sebanyak 340 orang. Yang masing-masing terbagi ke dalam grup tari sebanyak 24 grup, musik 14 grup, teater 10 grup, dan seni rupa 10 orang. Selain itu, MAF '99 juga diikuti oleh 3 koreografer tari dari Los Angeles --Erica Rebollar, Carol Mc Dowell-- dan Sen Hea ha, koreografer kelahiran Korea Selatan yang menetap di Los Angeles.

Kurator MAF '99 Halim H.D. menyatakan bahwa pelaksanaan MAF '99 merupakan arena pengujian bagi kalangan seniman dari luar Ujungpandang, khususnya Jakarta dan Jawa. Sejauh mana perhatian kepada dunianya dan sesama rekannya di daerah lain untuk saling berbagai pengalaman. ''Karena selama ini kita terus dikungkung oleh sentralisasi budaya,'' katanya.

Pusat-pusat kebudayaan seakan hanya ada di Yogyakarta, Bandung, Bali, dan Jakarta. Lebih spesifik lagi, hanya ada di Taman Ismail Mazuki dan Gedung Kesenian Jakarta. Akibatnya, seniman-seniman di luar 'pusat' itu tak berpengalaman untuk terus mempertahankan kelangsungan kegiatannya.

Halim berharap agar MAF dapat menjadi awal loncatan bagi seniman Ujungpandang untuk memasuki percaturan seni yang global. ''Seperti perupa-perupa di Batu, Malang, Jawa Timur, yang aktif berkeliling daerah dan membuat jaringan untuk memperkenalkan hasil karyanya, kata Halim memberi contoh.

Menurut Halim, gagasan MAF berawal dari diskusi kecil-kecilan dengan seniman-seniman dan aktivis-aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat dari Makassar pada saat pagelaran Makassar Dance Festival, Juni lalu. Saat itu Halim datang bersama beberapa grup tari dan teater.

Dari diskusi kecil itulah kemudian muncul gagasan untuk melaksanakan pameran seni rupa. Nyatanya, di belakang hari para aktivis seni dari cabang kesenian lain ingin bergabung. Acara yang semula dirancang sederhana itu akhirnya makin besar setelah keterlibatan berbagai komponen masyarakat seperti dari LSM dan industri pariwisata lewat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Makassar dipilih, menurut Halim, di samping antusiasme dari kelompok-kelompok masyarakat sendiri untuk melaksanakan kegiatan ini, juga karena alasan historis. ''Secara historis di Makassar ada perspektif egalitarian, walaupun pernah dikooptasi oleh kerajaan-kerajaan,'' jelasnya.

Makassar memang punya sejarah panjang. Nama itu merupakan sebutan bagi Kerajaan Gowa-Tallo, yakni Kesultanan Makassar. Sejak awalnya telah berciri metropolitan, dengan bandar niaga yang berkembang pesat sejak awal abad ke-16. Antropolog Hildred Gertz bahkan menyebutnya sebagai salah satu kota "Super Budaya Metropolitan Indonesia" di abad XX. Dan kini, denyut nadi metropolitannya kembali hendak dipacu oleh para seniman ini.

Meski sebuah peristiwa budaya, toh MAF tak lepas dari isu politik. Acara ini dikaitkan dengan upaya menarik simpati terhadap pencalonan Habibie. Menanggapi hal itu, Halim yang kelahiran Banten, Jawa Barat ini, menyatakan itu sebagai kerangka berpikir normal.

Selama Orde Baru kegiatan-kegiatan kebudayaan kadang dikait-kaitkan dengan masalah politik dan hal itu masih terbawa-bawa sampai sekarang. "Ini merupakan cultural psichology masyarakat kita yang selalu curiga terhadap peristiwa-peristiwa budaya. Di MAF '99, kami betul-betul berjalan independen, tidak terkait dengan muatan-muatan dari elite-elite politik," bantahnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Direktur Pelaksana Andi Ilhamsyah Mattalata. "MAF '99 ini betul-betul murni dari kegiatan rekan-rekan seniman, LSM, dan pihak industri pariwisata untuk mengangkat kesenian Sulawesi Selatan. Sama sekali kami bukan tunggangan elite politik tertentu," kata Ketua PHRI Sulsel ini.

Ia kemudian merinci dana-dana yang masuk ke panitia yang jumlahnya sebesar Rp 125 juta dari anggaran proposal sebesar Rp 930 juta. Bantuan itu dari Pemda Tk I Sulsel, Pemda Kotamadya Ujungpandang, Forum Komunikasi dan Informasi (FIK) LSM, Yayasan Samudera Indonesia (Yasindo), PT Gowa Makassar Tourism Development Corporation (GMTDC), PHRI, dan PT Telkom. "Sama sekali tidak ada sumbangan dana dari partai-partai maupun person elite politik," tegas Ilham.

Setelah MAF ini, menurut Halim, pentas serupa kembali akan dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia. Rencananya dalam bulan Juni tahun 2000, juga akan berlangsung pentas seni di Manado, selanjutnya bulan Juli di Palu. "Jadi MAF '99 ini sebagai pijakan awal untuk terus bergulirnya forum serupa. Jadi tidak terpatok di satu tempat saja," katanya.

Senada dengan Halim, Koreografer dari Solo, Eko Supriyanto yang tiga pekan sebelum pertunjukan telah hadir di Makassar, mengungkapkan keinginannya agar pentas-pentas serupa dapat dilaksanakan secara rutin dan bergiliran di beberapa daerah di Indonesia. "Setidaknya kita saling membagi pengalaman dan mengetahui lebih jauh budaya daerah masing-masing," kata Eko. (ocha)

Instalasi di Simpul Sejarah

Ada sebuah bangunan putih berbentuk kura yang telungkup di tepi laut. Seakan hendak terjun ke segara di tepi jantung kota Ujungpandang itu. Letaknya tak jauh dari pelabuhan Soekarno-Hatta. Bangunan itu adalah simpul sejarah dan kebudayaan Makassar. Namanya Benteng Ujungpandang. Sejak dulu-dulunya sudah menjadi benteng. Pertama dibangun oleh Raja Gowa X Tunipalangga Ulaweng di tahun 1545 dengan rumah-rumah tinggi tradisional Makassar.

Lalu benteng yang awalnya berbentuk empat persegi dengan 6 buah bastion itu, kemudian diubah Belanda. Bastionnya diganti dengan yang berbentuk runcing dari bahan andesit dan batu bata. Keseluruhan bangunan yang berjumlah 15 buah berarsitektur Eropa gaya Gotik. Cornelis Spelman sempat mengubah namanya menjadi Fort Rotterdam. Kini dia menjadi salah satu ajang FAM '99.

Pada siang hari tak ada pertunjukan, yang terlihat hanya aktivitas pegawai benteng dan arkeolog. Hanya sesekali terdengar suara jeritan perempuan yang tengah latihan untuk pementasan malamnya. Barulah, pada malam harinya suasana betul-betul berbeda. Barisan pedagang kaki lima, mulai dari penjual kacang goreng hingga penjual pakaian berjejer di Jl. Penghibur, depan benteng itu.

Di depan benteng terdapat dua karya instalasi. Instalasi yang tepat berada di gerbang pintu masuk bernama 'Instalasi Piramida Angin'. Instalasi itu terbuat dari puluhan potong bambu berbentuk piramida dan aksesoris kaleng dan botol minuman serta baki dari anyaman. Sementara di atasnya dibuat kincir angin.

Sedang instalasi lainnya dibuat di tepi pantai dan diberi nama 'Instalasi Kegelisahan Lingga dan Yoni dari Sebuah Negeri'. Bangunannya berbentuk kapal pinisi beratap lumbung padi. Seakan sebuah lumbung padi ditabrak kapal pinisi di atas menhir berbentuk Mandala.

Di beberapa sudut halaman dalam benteng terdapat penjual aksesoris dengan penerangan seadanya. Panggung Prosenium berada tepat di tengah-tengahnya, berukuran 11 x 16 m. Panggung tradisional yang terbuat dari atap nipah yang ditopang bambu. Dengan kapasitas lighting 20.000 W, panggung itu cukup sederhana untuk mementaskan karya dari berbagai negeri. (ocha)


Lihat siapa pengunjung situs ini.