Logo Oneweb
Catatan Hiburan

Festival Kesenian Yogyakarta
Titik Nol Gerakan Budaya
FKY XI di Yogyakarta menawarkan gerakan budaya di pembuka milenium baru. Lebih segar dengan visi dan manajemen barunya.

Ada peristiwa yang luput dari pantauan banyak orang pada hari H pencoblosan, 7 Juni 1999, di Yogyakarta. Setelah sejak pagi semua orang sibuk memasuki bilik-bilik pencoblosan tanda gambar, penduduk Yogya pada sore harinya tumpah ruah di perempatan Tugu, di utara Jalan Malioboro yang legendaris.

Mereka berkerumun di sekitar poros landmark kota bermakna filosofis ini. Mereka berdiri tertib mengelilingi Tugu yang terhias lampu-lampu dan di seputar lingkarannya telah berdiri panggung kayu dengan segala macam aksesori dan sound system.

Di panggung itulah serangkaian hiburan rakyat dan pidato digelar. Ada tari tradisional Angguk Putri, aksi nyentrik pantomimer Jemek Supardi dan ragam tari kontemporer, serta pidato salah seorang tokoh yang ikut meramaikan bursa calon presiden di negeri ini, Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Usai acara pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta XI (FKY IX) yang akan berlangsung sebulan itu, layaknya kampanye, massa lalu konvoi ke Alun-alun Utara, melewati Stasiun Tugu dan Jalan Malioboro. Mereka pawai sambil memukul kentongan bambu dengan irama ritmis dan semanak.

"Provokator" dari ini semua adalah komponis musik kontemporer Yogya, Sapto Rahardjo. Ketua Umum FKY IX ini menawarkan konsep dan visi segar bagi festival yang selama ini telah terjebak dalam rutinitas yang dingin dan selalu memancing perseteruan sengit antarseniman. Sementara raja monolog Butet Kertaredjasa malam itu menjadi koordinator lapangan yang memandu jalannya acara bersama penyiar radio Geronimo dan TVRI Yogya, Lusi Laksita.

KONSEP BARU Komponis yang juga Sekjen Asosiasi Komponis Indonesia (AKI) Sapto Rahardjo terbilang berhasil meyakinkan banyak kalangan dan bahkan Gubernur DIY, untuk tetap membuka festival kesenian ini pada tanggal 7 Juni 1999, yang kita tahu merupakan hari yang genting.

"Ini bagian dari konsep FKY yang coba saya sosialisasikan. Itu bukan ideologi politik," aku seniman berambut kelabu ini. "Sebetulnya pada saat itu kan rakyat memilih untuk menentukan kehidupan yang lebih baik lagi. Nah, pada saat orang selesai memilih itulah kita berada dalam titik nol. Jadi maksudnya bagaimana ini memotivasi supaya ada suatu gerakan budaya," lanjutnya.

Ketika dikejar lebih jauh tentang konsep 'gerakan budaya' ini, Sapto menambahkan, "Itu suatu bentuk penyadaran. Orang berbuat sesuatu untuk masa depan yang lebih baik dalam bentuk simbol." Sapto menunjukkan bahwa inilah saatnya budaya menjawab krisis yang dihadapi bangsa, setelah secara ekonomi dan politik gagal menemukan jawaban yang memuaskan.

MANAJEMEN BARU Tak hanya itu. Sapto juga mengubah pola manajemen FKY selama ini. Menurut Sapto, konsep itu digalinya dari studi yang telah ia lakukan dari berbagai event festival di Perancis, di antaranya di kota Greoux, festival di Arles di Perancis Selatan dan Festival Interceltique de Lorient di Perancis Barat yang melibatkan seluruh penduduk kota itu. Salah satu bentuk manajemen baru itu adalah dengan dibuatnya sistem manajemen yang masing-masing kegiatannya dikoordinir oleh manajer produksi dan manajemen artistik yang otonom, termasuk juga dalam penggalian dananya.

Selain itu FKY XI ini juga diposisikan sebagai rangkaian yang tidak terlepas dengan FKY berikutnya pada tahun 2000 besok. "Ini berarti kerja FKY XI ini adalah melaksanakan festival sekaligus membuat studi. Oleh karena itu panitia pelaksana membentuk tim penelitian dan pengembangan, yang anggotanya terdiri dari para ahli seni, organizer, serta pakar-pakar bidang kebudayaan, ekonomi, hukum serta bidang-bidang lain yang terkait. Hasil penelitian inilah yang akan digunakan sebagai panduan bagi pelaksanaan FKY XII nanti," kata Sapto menegaskan.

Segala kebaruan festival ini bahkan menarik minat berbagai seniman yang mungkin selama ini tak begitu peduli dengan ada tidaknya acara ini untuk turut terlibat. "FKY kali ini tampak lebih menjanjikan dan tertata baik karena baru kali ini FKY diketuai oleh seniman yang memiliki mimpi. Keberanian untuk bermimpi dari ketua penyelenggara event semacam ini merupakan modal yang sangat bagus," kata aktor terkenal Butet Kertaredjasa.

Butet menyayangkan mengapa gagasan semacam ini tidak muncul dari Dewan Kesenian Yogyakarta sendiri. "Dewan Kesenian selama ini terlalu terikat dengan kaidah-kaidah birokratis yang beku dan mandek, sehingga tidak mampu menggunakan pola manajemen modern semacam yang digunakan Sapto," pujinya.

Momen penting yang berbarengan dengan penyelenggaraan FKY XI ini, di samping pemilu, adalah bergeraknya dunia menuju ke Milenium III pada tahun 2000 nanti. Meskipun Sapto tidak memberikan rumusan yang cukup jelas tentang pentingnya momen itu, selain menyebutnya "sedang dan akan melewati tahap-tahap perubahan".

Rumusan yang agak lebih jelas tentang hal ini malah dimunculkan oleh Sri Sultan dalam pidato penyambutannya. "Pada abad 21 akan terlihat tanda-tanda, bahwa dimensi budaya sama pentingnya dengan teknologi," ungkap Hamengkubuwono X. (yudi a.t.)

Underground di Kampung Blangkon

Dulu orang menunggu FKY untuk menonton dangdutan, tarian tradisional, atau kesenian serius yang kadang susah dimengerti. Tapi FKY XI tidak demikian. Ragam bentuk ekspresi seni semacam musik-musik underground, musik jalanan, dan seni multimedia berbasis teknologi komputer dalam mengolah bunyi yang dipadukan dengan grafis, klip video, dan performing art juga diberi tempat.

Bahkan seni multimedia menjadi satu rangkaian dalam prosesi pembukaan yang berlangsung dari Tugu sampai Keraton Yogyakarta. Tentang hal ini, Sapto mengatakan, "Saya ingin menjawab gejala. Karena menurut saya, kita sekarang berakrab-akrab dengan teknologi, adalah suatu keharusan."

Meskipun Sapto juga segera menambahkan bahwa kolaborasi seni dengan teknologi itu tidak hanya bisa berlangsung di seni multimedia. Karena, "Semua (kesenian) juga akan dihubungkan dengan apa yang disebut teknologi maju itu," kata seniman yang doyan memainkan MIDI berbasis suara instrumen gamelan ini.

Dalam rangkaian materi FKY kali ini, tercantum agenda Jumenengan Rakyat Underground yang menyertakan beberapa kelompok musik underground (ragam versi metal dan punk) dari beberapa kota besar di Jawa. Juga ada diskusi musik ini di trotoar Seni Sono Jl. Malioboro yang menghadirkan pembicara Krishna Sucker Head (pemusik underground), Sapto Rahardjo, dan Remy Silado. Sementara itu musisi-musisi jalanan juga mendapatkan tempat dalam agenda FKY, di samping kesenian-kesenian standar yang selama ini memang sudah terakomodasi di festival ini.

Dan semua itu, yang tradisionil dan modern, yang tua dan yang muda, yang Timur dan Barat, berbaur di sana. FKY XI kali ini mencoba membuka pintu bagi kehadiran babakan baru peradaban manusia di Milenium III. FKY, tampaknya kemudian menjadi pasar perbincangan yang riuh dan akrab. Semoga saja. (yudi a.t. dan hatta)


Lihat siapa pengunjung situs ini.