Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) menghadirkan beberapa pertunjukan yang melawan pakem dam bebas tafsir. Mereka hendak menjawab, adakah batas kebebasan, khususnya dalam berkesenian?
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang ingin atau tidak ingin dilakukannya dalam hidup. Tapi, apakah kebebasan ini ada batasnya? Itulah pertanyaan yang menjadi inspirasi berbagai acara yang digelar dalam kegiatan Pendidikan Agama dan Susila Teruna Indonesia (PASTI) VI, yang berlangsung pada 13-18 Juli lalu, di kompleks Kuil Myogan-ji, Mega Mendung, Jawa Barat.
Sebuah ajang pembinaan dan kreasi anak muda Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun oleh Yayasan Pandita Sabha Budha Dharma Indonesia ini, dikemas dengan kesenian. Eksotika Karmawibhangga Indonesia sebagai salah satu organ yang menjalankan kerja seni menggelar Exotic Millenium Art Festival. Beragam bentuk kesenian difestivalkan, mulai dari wayang, musik pop hingga teater, pantomim, dan drama tari dari berbagai eksotis, yang seakan menjawab pertanyaan tadi: batas kebebasan adalah masih adanya tempat bagi demokrasi!
Wayang Acapella-nya Hadi Sujiwo Tejo yang bertitel Pembakaran Sinta misalnya, tak lagi berdiri sendiri. Di sana ada musik mulut, teater, tari, humor-humor cerdas khas dalang (yang menonjok siapa saja), paduan vokal sejumlah penyanyi acapella sampai berhamburannya mereka ke tengah pentas wayang. Serta pembelaan Tejo terhadap Rahwana yang justru menculik Sinta --istri Rama-- ke negerinya Alengka.
Alasannya tak lagi bersandar pada adagium formal di mana Sinta telah menjadi istri sah Sri Rama, tapi karena Rama tak bisa mendidik Sinta. Keinginan Sinta yang begitu saja ingin dituruti Rama untuk memiliki kidang kencana menunjukkan bahwa godaan macam itu sangat memungkinkan Rama berbuat apa saja, termasuk korupsi untuk menuruti segala keinginan permaisurinya. Sementara Rahwana di samping tidak mau si Sinta menderita di balik kungkungan Rama, juga mengguyurnya dengan rasa cinta. Ketika dibawa ke Alengka, Rahwana tak menyentuhnya, melainkan menunggunya sampai Sinta sendiri mencintainya.
Begitu pula dengan wayang Nggremeng-nya Slamet Gundono. Sebuah pembaruan dari Wayang Jemblung Banyumasan dan daerah pantai utara Jawa Tengah. Pentas ini menekankan diri pada ekspresi gerak serta olah vokal, dan dalang lebih berperan sebagai pendongeng atas lakon yang dibawakannya. Sejumlah musisi mulut menirukan bebunyian berbagai alat musik.
Namun Wayang Nggremeng yang berarti 'tidak jelas tapi jelas atau jelas tapi tidak jelas' itu membawakan lakon secara utuh tanpa pretensi. Sehingga semangat demokrasi ada di sini, bahkan dari berbagai sudut sekalipun.
Pun pada pertunjukan-pertunjukan yang lain. Benderang Genderang-nya Cilay, penari kontemporer asal Minang ini mengeksplorasi alat musik tradisional Minang yang kaya akan bunyi perkusi, seruling, serta vokal penyanyinya yang magis. Diiringi musik-musik aneka ritme; kadang kontemplatif dan kadang dinamis.
Lalu, sebuah pemanggungan Amerta oleh EKI yang mengisahkan Roro Mendut, gadis penjual rokok yang menjadi rebutan para pria dari beragam kedudukan; mulai dari rakyat jelata hingga pejabat kerajaan. Kisah yang kaya tafsir ini dibalut dalam drama tari yang diiringi gerak tari balet dan tradisi serta iringan musik yang digarap secara khusus.
Nah, dari keseluruhan pementasan ini cukup terasa bahwa iklim demokrasi dalam kesenian memang berpotensi tumbuh dan berkembang. Dan, kebebasan pada akhirnya akan terus menggelinding tanpa mengusik ekspresi kebebasan yang lain, selama hak-hak berdemokrasi terhormati. ''Saya merasa bahwa pentas kesenian ternyata dapat membebaskan,'' kata seorang penonton yang sengaja datang dari Surabaya kepada ADIL. Sebuah acara 'ritual' keagamaan ternyata bisa bersanding dengan estetika kesenian. Atau, itukah eksplorasi estetika Budha? (dikki nursa)