Logo Oneweb
Catatan Musik

Memukaunya George, Dinginnya Penonton
George Benson tampil di Indonesia. Masih tetap memukau dengan warna jazz dan improvisasi musik yang kental. Sayang, penonton tampak kurang antusias.

Sebuah konser yang dingin. Begitu mungkin kalimat yang pas untuk mengomentari satu setengah jam pertunjukan musisi dan penyanyi kelas dunia, George Benson. Sekitar 1.600 penonton yang memenuhi ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (12/8) lalu, tampak begitu dingin menyaksikan aksi panggung musisi gaek berkulit hitam itu. Harga tiket yang relatif mahal, Rp 150 ribu-Rp 350 ribu, terasa jadi mubazir karena sambutan penonton yang jauh dari antusias.

Padahal, George yang tampil bersama Thomas Rax Hall (keyboard), Stanley Banks (bass gitar), Michael Phillip O'Neil (gitar), Dannis Rosales Saucedo (perkusi), Michael White (drum), dan David Jay Witham (piano), sudah berusaha membangun komunikasi dengan para penonton. Sayangnya sudah terlambat, sebab pada awalnya George tidak mencoba untuk beramah tamah dengan penonton, misalnya dengan mengucapkan apa kabar atau sekadar basa-basi lainnya.

Komunikasi yang dibangun mereka tak mendapat balasan. Misalnya pada lagu Greatest Love of All. Lagu top ini dinyanyikan dengan improvisasi apik oleh George. Para penonton tampak menikmatinya. Namun, ketika Stanley Banks mengajak penonton untuk melambaikan tangan sambil mendengarkan lagu, hanya sedikit penonton menanggapi.

OLDIES Bisa jadi kondisi ini tercipta karena mereka yang menyaksikan konser George ini, kebanyakan berusia 40 tahun ke atas, sesuai dengan lagu-lagunya yang memang cenderung oldies. Kalaupun ada yang terbilang muda, jumlahnya tak banyak. Jadi, wajar jika mereka tampak anteng di tempat duduknya masing-masing. Mereka baru mau bergoyang dan berdiri di dua lagu terakhir, Give Me The Night dan On Broad Way. Itu pun setelah diajak oleh musisi pengiring penyanyi peraih delapan Grammy Awards ini.

Namun, tak semuanya bisa disalahkan pada penonton. Sebanyak 16 lagu yang dilantunkan malam itu memang kurang akrab di telinga penonton. Terbukti, pada saat George menyanyikan lagu-lagu yang asing di telinga, penonton diam saja. Paling, hanya satu dua orang yang ikut bersenandung. Tetapi, pada lagu-lagu seperti Greatest Love of All, Nothing's Gonna Change My Love For You, Along and Winding Road, Unforgettable, atau Kisses in the Moonlight, penonton bisa ikut bernyanyi.

Di luar itu semua, musisi gaek yang meraih Grammy Award pertama lewat album Breezin (1976) ini tampil begitu memukau. Meski sudah berusia 56 tahun, ia masih sanggup tampil prima lengkap dengan aksi gitarnya, improvisasi suara dan nada, serta goyang pinggul khas George. Bukan hanya itu, penyanyi yang telah menelurkan 65 album ini, mampu membuat penonton tertawa dengan joke-joke kecilnya. Misalnya saja, saat menyanyikan lagu Unforgettable, ia sengaja membuat suaranya mirip Natalie Cole dan Nat King Cole.

Sebenarnya baru pada lagu ketiga penonton mulai sedikit 'panas' meskipun tetap setia duduk di bangkunya. Untungnya, George dan joke-joke-nya bisa mencairkan kekakuan penonton. Berkat keahlian improvisasi dan eksplorasi lagu plus alunan musik warna jazz yang masih kental, lengkap sudah penampilan George malam itu.

Di tangan George, lagu semacam Along and Winding Road yang aslinya dinyanyikan Beatles, bisa menjadi sebuah lagu jazz yang amat manis. Atau, pada lagu Unforgettable yang begitu sentimentil dinyanyikan Natalie dan Nat King Cole, justru terasa 'hangat' dibawakan George. Apalagi ditambah aksi panggung yang mengundang tawa.

RANGKAIAN TUR Konser kedua di Indonesia, sebelumnya tahun 1992, dari penyanyi yang baru mengeluarkan album Standing Together ini, adalah dalam rangka melengkapi 39 turnya ke berbagai negara sekaligus mempromosikan albumnya. Hingga kini, ia telah melakukan 18 kali show termasuk di Amerika, Singapura, Kuala Lumpur, Korea, dan Indonesia.

Namun, menurut Pieter Basuki, boss Buena Produktama, promotor konser ini, George sempat agak kecewa karena penjualan tiket di Indonesia berjalan amat lambat. Soalnya, hingga Senin (9/8), tiket yang terjual baru mencapai 70 persen. Meskipun akhirnya sold out, namun, antusiasme penonton di sini tidak seperti di negara-negara lainnya. Di Australia, misalnya, tiket bisa sold out hanya dalam waktu dua jam.

Namun, seperti biasanya sebuah konser musik, pasti ada saja kekurangannya. Meskipun yang tampil musisi kelas dunia semacam George, jadwal pertunjukan tetap saja molor satu jam. Selain itu, di awal pertunjukan, sound system terdengar kurang beres. Maka, suara George yang mengalun lembut dan musiknya jadi pecah.

Untungnya, penonton tak banyak ribut atau berkomentar padahal sudah disuguhi jadwal yang telat. Tapi, berkat penampilan George yang masih memukau, penonton yang membayar mahal untuk sebuah tiket, tampak puas. Bahkan ada yang berkomentar, ''Lagunya tidak ruwet, mudah diikuti, dan enak didengar di kuping.''(laksmi)

Penyanyi dengan Profesionalisme Tinggi

Predikat sebagai penyanyi jazz rasanya memang layak disandang oleh George Benson. Gitaris sekaligus vokalis andal kelahiran Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, 22 Maret 1943 ini, sejak awal kariernya sudah akrab dengan lagu-lagu berirama jazz.

Ia pun konsisten berada di jalur musik ini dan pernah beberapa kali bekerja sama dan melakukan jam sesion dengan para musisi jazz terkenal, seperti Earl Klugh, Miles Davis, Herbie Hancock, dan Joe Farrel. Karena itu tidak salah jika kemudian ia masuk dalam jajaran musisi jazz terkenal 'produksi' Detroit, gudangnya musisi dan penyanyi jazz kaliber dunia.

George mengawali kariernya dengan bermain gitar dan menyanyi di bar-bar lokal yang memutar musik-musik R&B di Pittsburgh. Pria berkulit hitam ini juga aktif memimpin kelompok jazz kuartet keliling kota dan sering tampil solo di beberapa kota diiringi grup band tertentu.

Kariernya semakin berkembang setelah ia mencetak single pertamanya It Should Have Been Me. Demi kelanjutan kariernya, George hijrah ke New York tepat saat berusia 20 tahun. Dua tahun kemudian, ia berhasil menempatkan dirinya sebagai gitaris jazz terkenal. Perlahan-lahan ia mulai menapaki panggung kesuksesan dan mengantarkannya menjadi musisi jazz dunia.

Dengan dukungan dan kerja barengnya dengan Wes Montgomery, Brother Jack MC Duff, dan Herbie Hancock, lagu-lagu yang dimainkannya menjadi kaya nuansa pop dan classic light. Saat Montgomery meninggal tahun 1969, ia diprediksikan bakal menjadi penerus gaya musik Montgomery.

Sepanjang tahun 1960-an, George sibuk bermain untuk Motown Record dan rekaman dengan para penyanyi pop masa itu. Namun, cinta pertamanya tetap pada jazz. Itu terbukti lewat album Detroit's George Benson Swings, and Swings, and Swings, yang menunjukkan gaya khas musisi ini.

Setelah mengguncang dunia dengan This Masquerade dari album Breezin (1976), ia menggarap album The other Side of Abbey Road yang berisi lagu-lagu The Beatles. Profesionalismenya yang tinggi dan sikap sopannya menjadikan penyanyi yang ngetop lewat lagu Nothing's Gonna Change My Love For You ini, sebagai salah satu musisi Detroit yang paling dihormati oleh para penggemar dan musisi berkelas lainnya.(laksmi)


Lihat siapa pengunjung situs ini.