SETELAH lama terkukung dalam adat dan tradisi, musik dol Bengkulu akhirnya kini mulai bernafas lega dan lebih ekspresif. Itulah yang tampak dalam pementasan komposisi Rentak Bebuai dari kelompok Sanggar Mayangsari dari Bengkulu dalam Pameran dan Pagelaran Seni Budaya Bengkulu di pelataran Pasar Seni Jaya Ancol, Jakarta, 28-30 Desember 2001.
Di sana, ada 12 pemain yang setiap orangnya memainkan satu jenis alat perkusi. Dalam tradisi, instrumen utamanya adalah dol, sebuah gendang besar seperti bedug yang ada di mesid-mesjid. Selain itu ada pula tasa, rebana kecil yang dipukul dengan rotan. Namun, di luar itu, Sanggar Mayangsari mengimbuhkan sejumlah instrumen lain, seperti alat tiup serunai, piring, ketok bambu, rebana, dan dol kecil.
Selama ini, masyarakat hanya bisa menyaksikan kesenian tradisional ini hanya pada perayaan Tabot di kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, yang berlangsung setiap tahun dan jatuh pada 1 Muharram Hijriyah. Perayaan ini dulunya merupakan bagian dari upaya penyebaran agama Islam di tanah Sumatera melalui kesenian. Perayaannya sendiri merupakan peringatan atas wafatnya putra Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein, di padang Karabela dalam sebuah peperangan.
Pada upacara Tabot, digelarlah musik dol yang dimainkan para keluarga tabot, keluarga yang secara turun termurun memelihara tradisi ini. Saat ini ada sekitar 17 keluarga tabot yang masih eksis, seperti Tabot Berkas, Tabot Bangsal, Tabot Pondok Besi, Tabot Kebun Ros, Tabot Malabero, Tabot Penurunan, dan Tabot Anggut. Nama-nama keluarga ini berkaitan dengan nama wilayah tempat mereka menetap. Pada upacara itu, para keluarga tabot akan memainkan musik tabotnya dalam sebuah kompetisi.
Bertahun-tahun lamanya, kesenian ini menjadi musik eksklusif upacara Tabot saja. "Dol itu tidak boleh dipukul kecuali dalam Tabot," kata Syukri Ramzan, pelatih dan penata musik di Sanggar Mayangsari. Namun, belakangan, sejumlah seniman alam yang umumnya belajar musik secara otodidak, meninggalkan tradisi ini dan memindahkannya ke lapangan kesenian, lapangan yang memberi ruang lebih luas untuk berekspresi. Sejumlah sanggar kesenian di Bengkulu dalam lima tahun terakhir ini telah pula membentuk kelompok-kelompok musik dol.
Musik dol dikembangkan, baik dengan penambahan sejumlah instrumen musiknya maupun komposisinya. Syukri Ramzan, misalnya, menggubah Rentak Bebuai dengan diilhami lagu rakyat setempat, Bebuai. Syukri juga menciptakan sejumlah komposisi lain, seperti Retak Gempa yang melukiskan suasana Bengkulu setelah gempa bumi melanda kota itu pada pertengahan 2000 lalu, Gering yang melukiskan ketakutan, dan Beruji Dol yang menggamparkan pertarungan antarkelompok tabot.
"Kami tidak bermaksud meninggalkan tradisi, tapi seni pertunjukannya yang kami angkat," kata Syukri. Kelompok musik dol Sanggar Mayasari ini rajin mementaskan karya-karyanya di sejumlah panggung, seperti Festival Musik Tradisi Anak Seindonesia di TIM Jakarta dan Singapore Zapun Festival di Singapura.
Dalam acara di Pasar Seni ini juga ditampilkan sejumlah pentas seni tradisional, seperti tari Mai Munen dan musik Setulungan Bumei Pat Petulai dari Rejanglebong, tari Elang Begendang Bina Seni Sekundang dan Tanggok Sanggar Putri Suto dari Bengkulu Utara, dan sejumlah lagu-lagu daerah, seperti Teringek.
Acara yang digelar dengan biaya Rp 200 juta oleh pemerintah Bengkulu ini dimaksudkan untuk memperkenalkan kesenian dan produk Bengkulu untuk menarik wisatawan dan para investor. Acara ini juga memamerkan sejumlah produk khas Bengkulu, seperti kerajinan, batu akik, kopi, dan makanan khasnya. "Masyarakat sangat antusias dengan acara ini, terbukti dari banyaknya pengunjung dan larisnya produk yang dipamerkan," kata Haji Usmaryan, Asisten Ekonomi Keuangan dan Perbankan Pemda Bengkulu yang menjadi ketua panitia acara ini. l. iwank