Duabelas gitaris rock berduel. Raungan gitar elektrik, petikan melodi, dan ragam gaya muncul. Ini rock, bung, Rock!
Bisakah Anda bayangkan bila dua belas gitaris rock kondang berduel di satu panggung? Roh musik rock yang mendekam di senar dan jemari mereka menyibak keluar bagai bah. Maka bersiap-siaplah pada lengkingan melodi, cabikan grip, dan raungan yang khas musik cadas ini memecahkan gendang telinga.
Itulah yang terjadi di Jimbani Cafe, kawasan Kemang, Jakarta, pada Kamis malam (1/4) lalu. Duabelas gitaris yang sudah cukup terkenal, seperti Eet Syahrani, Pay, dan Sangkan, unjuk kesaktiannya di hadapan penonton yang memadati ruang sempit kafe.
Acara bertajuk Guitar Conference '99 yang dikoordinir Mozaik Communications ini maunya mementaskan sebuah duel 14 pendekar gitar di satu panggung. Acara ini juga sebagai ajang promosi kaset Gitar Klinik produksi Rotorcorp, lembaga yang memang peduli dengan musik rock Indonesia dan berkehendak mengangkatnya ke publik dunia.
Gitar Klinik sendiri merupakan kompilasi 14 lagu yang dibawakan para gitarisnya sendiri. Latar belakang mereka umumnya memang musik rock, namun pada perkembangannya, ada beragam aliran yang menjadi pilihan. Maka terbitlah pelangi 14 gaya bermusik dan bergitar dalam satu album. Nah, maunya 14 gitaris itulah yang hendak diduel di panggung. Sayang dua pemainnya tak bisa hadir, Bey Gosh (Grup Getah) telah wafat sebelum albumnya sendiri diluncurkan, sedang Irvan Sembiring (Grup Rotor) sedang ke luar negeri.
Meski begitu, permainan 12 penggaruk senar rock sebenarnya sudah cukup memekakkan telinga penonton yang datang malam itu. Pun permainan yang dibawakan luar biasa ingar, menghentak, dan cepat. Namun malam itu tidak seperti lazimnya pentas rock yang dikerubuti para penggemar yang berdesakan dan kadang sampai ricuh. Seluruh pertunjukan berjalan sopan. Tak ada jeritan histeris meningkahi raungan suara gitar berdaya tinggi atau luapan emosi pada idolanya.
Bisa jadi karena tiket yang terbilang cukup mahal, 30-40 ribu rupiah, dan ruang yang lebih sempit telah mengubah suasana pentas rock umumnya. Pentolan musik underground dari kelompok Sucker Head, Krisna J. Sadrach, juga menyayangkan harga tiket yang dianggap terlalu tinggi itu. "Maunya sih yang datang juga para fans dan anak-anak sekolah yang ngefans rock," katanya. Padahal bagi mereka harga tiket itu jelas jauh dari jangkauan kocek mereka, apalagi di masa krisis macam sekarang.
Josef H. Wenas dari Mozaik membenarkan hal ini. "Masalahnya dananya tak mencukupi," katanya. Itu pula sebabnya mengapa promosi, iklan, dan publikasi untuk acara yang sebenarnya tergolong unik dan besar ini tidak gencar. Hal yang tak sepadan sebenarnya bila dibandingkan kualitas musisi yang tampil. Alasan lain adalah, "Ini yang pertama," kata Wenas. Meski begitu pihak Mozaik sebagai penyelenggara ingin serius menggarapnya. "Makanya kita namakan Guitar Conference '99 dengan harapan nantinya ada Guitar Conference 2000 dan seterusnya," lanjutnya.
Apa pun ganjalan di belakang peristiwa ini, pentasnya sendiri tetaplah luar biasa. Di atas panggung yang tak seberapa tinggi, sehingga para penonton yang berdiri berdesakan di tepi panggung praktis menghalangi pandangan penonton di belakangnya, satu per satu para gitaris tampil. Mereka unjuk kepiawaian, baik teknik maupun penghayatan musiknya.
Masing-masing musisi membawakan lagunya dari album Gitar Klinik plus ruang-ruang improvisasi. Tarian Si Bambi Edo Widiz meliuk-liuk dengan beat-beat yang mengajak menari. Si Krewil dari Rully bermain dengan kecepatan dan lengking gitar. Sementara 27 Ace Hole Ace J. bermain dalam ketukan-ketukan cepat rock 'n roll yang diwarnai liukan gitarnya yang riuh dan tinggi.
Blok M-Lebak Blues Pp yang dibawakan Sangkan dan Peter ternyata tak semudah judulnya. Blues yang dibawakan ternyata tidaklah semelodius yang disangka. Dalam tembang '94 Akhir Kiki Rajawali asyik menjentik senar nilon dan berpindah ke gitar elektrik. Hasilnya melodi klasik dan gesekan gitar yang cepat terangkum dalam ketukan ringan dan sederhana.
Lalu Kebelet-nya Ezra Simanjuntak tak memberi awalan apa pun. Sedininya langsung melengkingkan nada-nada yang cepat dan tinggi seakan tak tertahankan, namun diakhiri liukan manis tembang Sunda. Dan dalam Ke Rumah Kak Butet, Pay santai dan melodius memainkan dawai-dawainya.
Hallo Joey Jay Andry Franzzy bergulir sederhana dan melodius. Sesekali dia bermain dalam ruang yang berlagu meningkahi selipan-selipan permainan jari yang cepat dengan latar efek suara tangis bayi. Sementara Harap Maklum Dik, Dadamu Indah DD Crow memang nakal memainkan musiknya. Tempo yang riang, lincah, dan terkadang jazzy tampil. Kemudian Transcultural Echoes on 33 Strings-nya Iwan Hasan tampil dengan progresif metal, pertemuan arus-arus musik kontemporer, nuansa gending Bali, dan latar klasik yang melodius. Dia mengandalkan kelebihan setiap instrumen dan menyisipkan petikan gitar uniknya, 21 strings harp guitar.
Puncaknya adalah gitaris paling senior di antara yang tampil: Eet. Zep-170 Volt yang mestinya dibawakan Zahedi Riza Sjahranie tidak dimainkannya. Di panggung, gitaris yang biasa dipanggil Eet ini malah asyik berimprovisasi. Tentu masih dalam kekentalan warna heavy metal-nya. Dan karena Irvan tak tampil, maka trash metal Swett Dream Reza tak sempat terdengar malam itu.
Tapi duel sesungguhnya justru terjadi pada jam session. Dua atau tiga gitaris tampil bersama. Mereka saling membaca kemauan 'lawan'-nya, membalas permainan lawannya, memberi kesempatan yang lain bermain, unjuk solo, dan menggemuruhkan permainan bersama menuju puncak untuk mengakhiri duel mereka.
Uniknya, malam itu tak cuma sekadar diisi tontonan menarik para gitaris, tapi ada pula sela-sela dialog singkat. "Edo, saya mau tanya tentang tangan Anda. Bagaimana bisa Anda memindah-mindahkannya, karena biasanya grip-grip rock itu simpel tapi progresif," tanya seorang remaja dengan antusias.
Maka Edo Widiz, mantan gitaris grup Voodoo itu, pun dengan senang hati menjawab. Dia bicara tentang grip-grip gitar musik flamenco, klasik, dan rock. Juga perpindahan nada E-F-G ke nada-nada minor dan seterusnya. Selain Edo para gitaris lain yang hadir pun punya kesempatan untuk diajak berdialog sebenarnya, sayang tak semua kesempatan diambil.
Inilah kesempatan langka berdialog dan menyaksikan kepiawaian para gitaris yang rata-rata masih muda itu mencabik-cabik gitarnya. Pada malam itu rock seakan tak pernah mati, meski negeri ini nyaris bangkrut. (kurniawan)
Gitar dengan 21 Senar
Terkadang alat musik mampu menyumbang nada dan warna suara yang menarik dengan kelebihannya. Di tangan yang piawai dia bisa menjadi andalan. Itulah sebabnya mengapa ada musisi-musisi yang sengaja memodifikasi alat musik atau bahkan menciptakan jenis alat baru. Salah satunya adalah Iwan Hasan.
Pengalaman gitaris grup Dicus kala studi di Willamete University, Oregon, Amerika Serikat, ini membawanya berkenalan dengan gurunya, John Doan. Doan yang menguasai musik klasik ini mengenalkan satu jenis gitar modifikasi. Instrumen yang mengawinkan gitar dan harpa menjadi instrumen baru bernama 21 strings harp guitar ini memang langka. Konon instrumen bersenar 21 ini hanya ada tiga di dunia. Salah satunya adalah yang dibawa Iwan dan dimainkan di pentas Guitar Conference '99.
Tampaknya Iwan memilih jalur kontemporer sebagaimana tampak dalam tembang Transcultural Echoes on 33 Strings yang dibawakannya. "Saya suka rock jazz, tapi komposisi ini progressive rock saya rasa," katanya menunjukkan elemen rock yang muncul dalam karyanya. "Namun speed dan melodi baur di dalamnya," katanya mengenai pertemuan musik klasik melodius yang dipelajarinya dan kekhasan gitar elektrik bertempo cepat yang dimasukkannya.
Penonton umumnya terperangah menyaksikan gitar ganjil miliknya. "Busyet," kata seorang penonton. Sementara, yang lain sibuk menggeleng-geleng ketika Iwan unjuk kebolehannya memainkan alat aneh itu. (kurniawan)