Tiga perkusionis, Harry Roesli, Djaduk Ferianto, dan I Gusti Kompyang Raka, menggelar tiga karya mutakhir mereka. Tampilannya yang segar, kocak, dan kritis meneriakkan keburaman Indonesia dengan blek dan meja.
Pertunjukan musik The Millennial Percussion Mini Festival di Gedung Kesenian Jakarta, 30-31 Juli lalu, itu agak tidak biasa. Yang tampil, Apologi Batas karya Harry Roesli dan Depot Seni Kreasi Bandung (DKSB), Meja (Agak) Hijau-nya Djaduk, dan Detak Revolusi Menentang Selaras (DRMS) karya I Gusti Kompyang Raka. Pertunjukan ini sebagai awalan penyelenggaraan Festival Perkusi Internasional Sacred Rhythm, The Millennial Percusion for Unison di Bali, 29 Desember 1999-3 Januari 2000 mendatang.
DENGAN BATAS Ketimbang mendengar alunan musik, malam itu penonton malah disuguhi semacam repertoar musik. Tengoklah panggung Apologi Batas yang mirip pentas teater. Ada sebuah layar monitor yang memvisualisasikan suasana kotor dan kumuh di pinggiran kali, bak-bak sampah yang tak terurus, rel kereta api, dan tubuh-tubuh kurus para gelandangan dan anak-anak telantar.
Ada sebuah dipan. Di atasnya dua orang sedang bercanda, tertawa-tawa, dan saling memijit. Lalu ada pula dua tumpukan blek setinggi badan yang disusun memanjang. Blek itu jadi semacam batas yang membagi menjadi dua ruang panggung.
Kemudian muncul Soni, bocah 7 tahun, yang mengamen dengan lagu-lagu bertema kesedihan dan keresahan di pinggiran gubuk-gubuk kumuh. Para penghuni rumah-rumah reot itu merasa terhibur dan tak membiarkan pengamen cilik tersebut pergi.
Tiba-tiba layar monitor menampilkan adegan sadis. Serentak dengan itu seorang di dipan meregang ajal. Lehernya digorok dan kepalanya dipalu. Adegan-adegan itu merasuk dalam permainan musik blek. Blek-blek itu dipukul dan ditendang, bahkan tumpukannya dirubuhkan secara kasar, memunculkan suara gedombrengan. "Batas" imajiner dari blek tersusun itu roboh.
Itulah, menurut Harry Roesli, kalau batasnya dicabut, semuanya jadi biadab. ''Dalam kebebasan ada batas, dalam demokrasi juga ada batas. Semua punya batas. Tapi ketika batas itu kita buat sendiri kadang-kadang batas memakan kita sendiri,'' katanya. Tembok blek yang tadinya dibangun sebagai batas diambrukkan, dan kacaulah keadaannya.
Sebagaimana Indonesia kini, para elite politik kita ternyata berjalan tanpa batas, meski mereka sebetulnya telah membuat batas-batas. Mereka menjadi seenaknya, tak mencerminkan sebagai pengabdi bangsa dan rakyatnya, tapi malah memakannya. Sebab itu, yang harus menjadi batas (utama) adalah moral. Seperti kata Nabi, ''Kalau makan jangan sampai kenyang,'' kutip Harry.
SKENARIO PENGUASA Sementara Djaduk dalam Meja (Agak) Hijau memilih kenong (nama sebuah instrumen gamelan) untuk memotret sebuah peristiwa penting namun sarat rekayasa politik bernama ''proses peradilan Soeharto''.
Berbusana jas hujan ponco, Djaduk (berperan sebagai panitera dan hakim) dan para musisi Kua Etnika berdiri mengelilingi meja. Mereka memfungsikan meja kayu sebagai instrumen yang melahirkan musik yang indah ketika papan atas meja itu ramai-ramai dipukul. Sebuah kursi kosong di tengah panggung menjadi pusat perhatian. Inilah simbol tokoh pesakitan sebagai Terdakwa (suara diisi Butet), seorang mantan presiden yang orang Jawa.
Penuntut umum (Purwanta) menyampaikan dakwaannya dengan musik saron kecil yang biasa dimainkan anak-anak. Efek suara bertalu-talu itulah yang kemudian digambarkan Djaduk sebagai ketidakjelasan dakwaan. Sikap yang sama disampaikan pembela (Partiman), berupa untaian bunyi yang menjadi bagian dari permainan.
Mereka semua sebenarnya telah jadi komoditi yang seia senada. ''Ya sudahlah tawar menawar itu nanti di luar saja,'' kata hakim. Lalu, pukulan-pukulan ritme tiba-tiba menjadi samar tapi seragam.
Majelis hakim bertingkah aneh saat menanyai terdakwa, seolah memaksa agar bilang saja tak bersalah lalu selesai. Tapi, terdakwa malah merasa perlu diadili agar dirinya terlepas dari dosa-dosanya, dan tidak menjadi korban baru dari ketidakadilan. Nah, ketika rasa percaya diri majelis hakim kembali, tiba-tiba datang utusan dari presiden memerintahkan agar sidang dihentikan atau tetap dilangsungkan dengan putusan bebas. Peradilan itu berakhir menggantung.
Djaduk mencoba memotret peradilan yang masih jauh dari independen. ''Saya hanya memberikan warning, karena perubahan tak bisa ujuk-ujuk,'' kata Djaduk. Paling tidak, ada satu perenungan.
Memindahkan sebuah ''persidangan'' ke GKJ memang tak sulit bagi Djaduk. Apalagi, Butet yang jago menirukan suara Andi M. Ghalib, Habibie, dan Soeharto, itu ikut mematangkan repertoar pengadilan itu.
MASIH MENENTANG Fenomena kekerasan dan rekayasa politik penuh tipu daya terefleksi dalam DRMS yang radikal sekaligus massif. Diawali bunyi gamelan Bali yang dinamis, sejumlah penari disertai seorang pedanda (pendeta) mengambil posisi di pusat panggung untuk menari dan memuncratkan air suci kepada 25 pemusik. Di belakang, sebuah pura kecil berdiri dengan asap dupa yang harum.
Ritme yang jelas dan dinamis dari gamelan Bali yang menghentak-hentak makin menunjukkan bahwa DRMS adalah simbol pemberontakan batin orang Bali atas terjadinya dekadensi nilai-nilai moral. Budaya kekerasan dan rekayasa politik telah melahirkan nausea (rasa muak dan jenuh). Sementara panggilan nurani tetap menuntut harus setia pada nilai-nilai konvensional. Maka, ''Kami menentang keselarasan, meninggalkan nilai-nilai tradisi,'' kata Raka.
Di ujung pentas ini, dengan lancar masuklah Harry dan Djaduk yang nimbrung ke dalam repertoar Raka. Keberadaan blek-blek memfasilitasi mereka bisa masuk ke DRMS. Begitu juga Soni, pemusik jalanan. Lantas, blek-blek milik Harry (yang berakhir berantakan), kentongan dan saron-nya Djaduk berpadu dengan gamelan Bali-nya Raka membuat efek keserentakan yang ritmis.
Jadilah, kolaborasi ini semacam kritik estetis bermata dua. Di satu pihak musisi mengekspresikan rasionalitasnya dalam karyanya untuk refleksi publik. Sementara di lain pihak mereka pun reflektif, menghindari esoterisme yang membuat karyanya kebal dari kritik. (dikki nursa)
Kang Harry dan Djaduk, Blek dan Meja
Kang Harry terpaku mendengar bunyi-bunyian blek kosong di suatu tempat di Bandung. Suara breng... itu membuatnya berpikir bahwa blek sebenarnya bisa menjadi medium musik perkusi. Bahkan, benda apapun, katanya, juga bisa berefek suara perkusif. Dari sana, dosen komposisi musik IKIP Bandung ini, mengeksplorasinya sendirian lalu berniat merealisasikannya.
Ide yang bersarang di kepalanya puluhan tahun silam tersebut makin menarik minatnya untuk menunjukkan bahwa suara-suara blek ternyata menggambarkan kondisi masyarakat kita. Kacau dan bising. Lalu, ia akan memotret kekacauan dalam kebisingan itu. Dan, niatan itu baru terwujud ketika ia harus mengawali festival perkusi mini di GKJ pekan lalu.
Sementara Djaduk, mendapat ide menjadikan meja sebagai medium musik perkusi setahun lalu. Saat itu, ia sebagai saksi meringankan korban Timur Angin, anak Seno Gumira Adjidarma. Beberapa kali bersaksi di pengadilan itulah membuatnya tahu sedikit soal bagaimana pengadilan mengadili pencari keadilan.
Pemusik asal Yogyakarta ini pun akhirnya tahu betapa pengadilan sering mengabaikan keadilan. Lembaga pemutus benar-tidaknya suatu kasus (atau yang terlibat) itu, ternyata masih terkooptasi oleh kekuasaan. Keputusan akan sangat tergantung pada kepentingan siapa dan untuk apa? Bukan untuk kebenaran.
Sebab itu, kata Djaduk, ketukan palu hakim di meja hijau itu mengubah warna mejanya sendiri menjadi (agak) hijau. Karena, ketukan-ketukan yang berlaku kadang nyaring keras, kadang setengah berbunyi, dan kadang tak bersuara sama sekali. Sebuah keputusan tak lagi dapat dipercaya oleh kesamarannya, atau bahkan, oleh keseragamannya mengikuti irama kekuasaan.
Nah, dari situ muncullah karya pertama musik perkusi (meja) ala Djaduk yang menawarkan keindahan bunyi sekaligus membuka kedok ketidakadilan pengadilan. Makanya Djaduk dalam repertoarnya berani memaparkan tidak akan diadilinya Soeharto secara yuridis. Dan benar, akhirnya kasus Soeharto akan diselesaikan secara politis. (dikki)