Konser musik biasanya meriah, tapi Slamet Abdul Sjukur justru menyajikannya hening; cocok untuk bermeditasi. Tak mudah memahami empat komposisi yang dipertunjukkan dengan karunding dan instrumen sederhana lain ini.
Bawang kok diiris nganggo udel
sepatune ojo disemir trasi
ndang uwis kono, dienggo kupluk
mentiang-mentiung, geger mambu mercon...
DOR!
(Bawang kok diiris pakai pusar
sepatunya jangan disemir trasi
sudah sana cepat, peci dipakai
meliuk-liuk, punggung bau petasan...
DOR!).
Suara wanita yang diselipkan secara semena dalam bunyi karunding atau genggong bambu. Ini sejenis alat musik tiup khas Jawa Timur terbuat dari bambu. Hanya dari sepotong buluh kecil sepanjang 20 cm dengan sebagian terpotong setengah saja, suara itu muncul. Suara yang halus, pelan, lalu agak cepat seperti bercakap, seperti melamun, lalu mendadak: DOR! wang pok dung teng bleng.
Ketika karunding terus berbunyi, tiba-tiba wanita tersebut mengambil sepatu buat mikrofon dan belajar membaca:
tawang
klampok
dung banteng
jumbleng
dor dor
sepatune jebol
sambel
bawang
templekke geger
bene
kepiyer.
Humoris, santai, mengalun, agak serius. Itulah konser musik Wangi karya Slamet Abdul Sjukur di Erasmus Huis, Rabu (21/4). Konser yang mengandalkan suara mulut dari tenggorokan, desah isak perempuan, tari, karunding, piano, dan gambang itu menyentuh dinding-dinding ruang yang biasa dipakai tempat pentas musik klasik.
KOMPOSISI. Seorang lelaki bercambang itu bersama lelaki pelontos duduk berdampingan di sebuah panggung yang bertata letak sederhana. Di depannya ada sebuah meja dengan dua mikrofon serta segelas air jeruk di atasnya. Keduanya, Slamet Abdul Sjukur dan Subur Sukirman, bermusik mulut. Mereka mengeksplorasinya dengan apik dan terampil, hingga mengeluarkan ragam vibrasi suara.
Ada empat komposisi yang dimainkan. Komposisi pertama, Uwek-uwek (1992), terasa aneh karena alat musik yang dipakainya cuma mulut. Memasukkan jari ke dalam mulut, lantas berputar-putar di situ. Namun dari lubang mulut itulah ada banyak bunyi-bunyian yang bisa digali dari mulut yang membuat penasaran.
Komposisi kedua, Gelandangan (1998) untuk karunding dan suara wanita. Seperti halnya Uwek-uwek, karya ini berawal dari keisengan: ingin melihat suara tenggorokan dari bawah, bukan yang sudah dirias dengan kata-kata. Apakah suara manusia dapat bebas dari bayangan penonton sendiri? Sementara karunding bertanya apakah dapat berbicara banyak pada daya khayal kita?
Cuma dengan sebilah bambu kecil, Slamet memainkannya secara sempurna. Bambu itu mengeluarkan denyur asosiasi-asosiasi rintihan dan desahan. Kemudian disambung dengan suara seperti engahan perempuan saat persetubuhan. Engahan itu memicu erotisme dan kegemasan. Ada kesan jorok, ada kesan kegundahan liar yang sublim.
Di sini adegan wanita dan karunding terus bersautan, bergantian dan kadang bersamaan. Bermula dari suara merdu, marah, bersahabat. Karunding berbunyi "Ha... lo... Halo! ... Halo?". Lalu disahuti lembut oleh suara wanita berbunyi "ah" lembut, lalu mengisak sambil menarik nafas dengan mulut, "Ah... ah!" Suara wanita itu makin merangsang bagai disentuh betul tubuhnya. Instrumen terbuat dari bambu itu sepertinya benar-benar membawa suara wanita itu mendesah, mengisak, memikat.
Komposisi ketiga, Yu-Taha (1997). Komposisi yang dikerjakan Slamet selama 19 bulan dan biasa disebutnya "melodi jarak". Lagunya bergerak sebatas tangga nada buatan sendiri, yaitu tangga nada yang berpusat pada interval 3 yang didahului dan diikuti interval 2 yang terasa mirip pelog dan slendro. Ada pula unsur tempo, yaitu ritme yang terjadi dari perbedaan tempo 5:6:7.
Setiap nada diperlakukan seperti rumah-rumah dalam pemandangan di pegunungan, ada yang dekat, jauh, atau jauh sekali. Nada-nada itu tidak sekadar diuntai dalam melodi yang naik turun, tetapi lebih dipentingkan jauh-dekatnya. Bunyi yang lembut terasa lebih jauh dari pada bunyi yang kuat.
Bagian pause (jeda) adalah bagian penting dari karya ini. Karena dalam jeda tersebut kekosongan menyimpan hening berlapis-lapis. Seorang pianis yang memainkannya dituntut menjaga kesinambungan, memiliki ketepatan tuntutan dan kecermatan rasa, perhitungan bunyi untuk mengungkapkan nuansa yang berbeda. Dan Iswargia S. Sudarno yang memainkannya cukup apik. Ada desakan yang tak tersimpan dalam pause. Kekosongan itu seakan sebuah ritual kecil.
Komposisi keempat adalah Wangi untuk gender pelog-slendro dan koreografi. Seorang penari ditampilkan. Bila kekosongan pada Yu-Taha menjadi titik tolak perhitungan antarbunyi, pada karya ini Slamet membiarkan penari mengalun sendiri tanpa suara. Penari itu meliuk erotis. Kelembutan meniti saat nafsunya beranjak naik. Dan terbakar. Puncaknya tubuh penari itu jatuh menggelepar di panggung.
Mengiringi getaran itu, Slamet menabuh gambang pelog dan slendro pelan-pelan. Napas dan dengusan yang lepas dari penari menyeruak ke kalbu pentas. Juju Masunah, si penari, bukannya tak mampu meminimalisasi emosinya. Tapi gambang yang ditabuh Slamet mengantar dirinya ke puncak. Di puncaknya keharuan menggelayut. Itulah simbolisasi wangi berpendar.
MEDITASI. Slamet berupaya mengembangkan konsep musik minimaks yang bertujuan mendapatkan efek musikal yang kuat dari materi sonor yang paling kecil. Kali ini ia membawa penonton ke alam yang dikehendakinya, keheningan.
Kejenuhan dan kebingungan tetap saja ada. Tapi rata-rata penonton ingin larut bermeditasi. ''Saya bingung dengan konser ini, tapi rasanya saya ikut merenungkan problem kemanusiaan,'' komentar seorang penonton.
Apalagi dalam komposisi keempat, penonton serasa benar-benar diajak bermeditasi melalui musiknya. Gerak tari, menurut Slamet, sebagai musik yang tampak, terlihat, menampakkan miniatur dunia.
Bagian pertama dari tarian yang dimainkan Juju Masunah menunjukkan hadirnya kesepian manusia. Bagian kedua mulai muncul adanya rasa kegelisahan, ketakutan, kemarahan, kesenangan, keengganan. Kemudian pada gerak tari berikutnya unsur rasa yang saling berhadapan, suka-duka, gembira-sedih dan seterusnya, hadir mewarnai kembang kehidupan, mengikuti irama musik gambang.
Semua komposisi musik yang dihadirkan Slamet dalam konsernya kali ini memang lebih terasa hening ketimbang kesan yang melekat pada kata "konser" yang wah meriah.
Persoalannya apakah komposisi itu mengada-ada atau memang menjadi sesuatu yang dibutuhkan. Slamet menyerahkan penilaiannya pada penonton. Namun beberapa penonton yang ditemui ADIL mengatakan bahwa komposisi karya Slamet tersebut memang tepat sebagai musik meditasi.
Dalam konser paduan musik-vokal-tari dengan tajuk Wangi itu menjadi sesuatu yang dibutuhkan di kala orang memang harus berintrospeksi. "Saya kira konser macam ini tepat sebagai sarana kontemplasi di saat negeri ini gamang," kata beberapa penonton kepada ADIL. (dikki nursa)
Slamet Abdul Sjukur: Musik Kontemporer Saya
+ Apakah musik Anda ini bisa disebut kontemporer?
- Ya.
+ Apa parameternya?
- Sebenarnya istilah kontemporer itu suudah punya konvensi yang khusus, yaitu yang timbul dari musik yang serius. Cirinya, yang tidak ada pada zaman-zaman sebelumnya. Kedua, setiap musik yang pada zamannya juga disebut kontemporer. Nah, musik saya masuk dalam ciri tersebut, ya berarti termasuk musik kontemporer.
+ Biasanya musik kontemporer itu komunikatif, bagaimana dengan musik Anda?
- Kalau ada penonton yang bingung ya luumrah. Karena jarak tafsir antara saya dengan penonton tentu ada. Tapi saya kan selalu merasa berkewajiban untuk mendekati penonton. Soalnya seringkali penonton memang tidak mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mendengarkan musik yang serba bagai.
+ Tapi tampaknya publik mengerti dengan menyaksikan musik Anda, mereka merasakan perenungannya di tengah gamangnya bangsa ini?
- Tentu saja musik saya bisa dikaitkan dengan kondisi kini di mana bangsa ini lagi gamang. Cuma saja yang Anda sebut perenungan itu saya lakukan sebelum secara sadar masyarakat itu berani mengadakan perubahan. Jadi malah situasi sosial itu buat saya ketinggalan zaman.
+ Lalu apa hubungan musik Anda dengan sifat kontemporer yang mendobrak?
- Ada sifat mendobraknya, tapi saya kallau berbicara mendobrak atau mengadakan suatu pembaruan, tidak terbatas pada permasalahan sosial atau politik. Di dalam musik itu sendiri banyak hal-hal yang perlu dikembangkan. Misalnya musik saya yang pakai suara uwek-uwek, itu kan sebelumnya tidak ada musik seperti itu. Makanya, dalam pertunjukan saya itu ada tari yang sendirian dan musik yang sendirian pula.
+ Bagaimana ceritanya hingga Anda menggunakan karunding?
- Itu kebetulan saja. Dua tahun lalu adda festival musik tradisi seluruh Indonesia di Surabaya, di sana ada bazar yang menjual beberapa macam alat musik termasuk karunding. Lalu saya beli saja karunding. Akhirnya saya tertarik, dan saya tahu apa yang bisa saya lakukan semaksimal mungkin alat ini. (dikki)