Logo Oneweb
Catatan Musik

Jazz yang Akrab, Bersahabat, dan Kekeluargaan
Sebuah pertunjukan jazz kembali digelar untuk menyambut JakJazz. Penuh suasana akrab dan bersahabat.

Malam itu, suasana di Tamansari --sebuah tempat di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang-- tak tampak seperti biasanya. Taman yang terletak di antara lapangan golf dan sebuah hotel serta dikelilingi oleh beberapa kafe itu, lebih sering kelihatan sepi dari kunjungan orang. Namun, Sabtu (28/8) malam itu, Tamansari berubah bak pasar malam.

Di tempat itu, berjejer deretan bangku-bangku panjang ditambah kursi warna merah putih untuk kapasitas 600-700 orang. Di barisan depan dibangun sebuah panggung sederhana yang sangat rendah berukuran 6 x 7 meter dengan lampu sorot yang tak begitu banyak. Di tanah seluas 1.500 meter persegi itulah sebuah pertunjukan musik bertajuk Jazz Merah Putih '99 digelar.

Acara yang dimotori oleh Ireng Maulana Associates dan Lippo Karawaci ini digelar sejak Jumat-Minggu (27-29/8). Selama tiga hari berturut-turut, penonton disuguhi sebuah pertunjukan bernuansa akrab dan penuh kekeluargaan. Bagaimana tidak, sembari menonton aksi Bill Saragih di panggung Tamansari, penonton bisa tetap menikmati makanan atau tetap asyik ngobrol di bawah tenda-tenda yang tersedia.

Suasana kekeluargaan yang dihadirkan begitu menonjol dan cukup menunjang untuk sebuah pertunjukan jazz --jenis musik yang konon rumit dan sulit dipahami awam. Tapi, memang konsep itulah yang ingin dimunculkan dalam acara yang berlangsung cukup semarak dan meriah ini. ''Kami ingin menciptakan suasana demikian dalam Jazz Merah Putih, supaya terasa akrab antara penonton dengan musisi,'' kata Ireng Maulana.

Dikatakan 'kekeluargaan', karena nyatanya memang lebih banyak keluarga (ayah, ibu beserta anak-anaknya) yang menonton daripada pasangan muda-mudi. Tiket seharga Rp 25 ribu tampaknya bukan lagi barang mahal bagi para keluarga yang ingin mencari hiburan dengan menikmati musik jazz.

Lokasi yang jauh pun rasanya tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menyaksikan acara yang mampu melahirkan suasana bersahabat ini. Bayangkan, untuk mencapai tempat itu, mereka harus menempuh perjalanan sepanjang 40 km dari jantung kota Jakarta.

''Saya khusus datang ke sini bersama keluarga untuk melihat pertunjukan ini,'' tutur Hadi, pengusaha yang tinggal di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, yang malam itu datang bersama anak dan istrinya. Bisa dibilang, mereka yang datang betul-betul para penggemar jazz yang mau bersusah payah menempuh jarak yang jauh dan datang untuk menikmati pertunjukan jazz.

Bagi panitia, memang target itulah yang ingin dicapai. Sebab, kata Ireng, selama ini amat sulit untuk bisa menampung antusiasme penggemar jazz selain dengan mengadakan pertunjukan semacam itu. ''Jadi, kami pun tidak menargetkan banyak-banyak. Takut yang datang justru bukan para penggemar,'' papar adik kandung Kiboud Maulana ini.

SUGUHAN MUSIK Yang istimewa, para pengunjung tidak hanya bisa menikmati pertunjukan di satu lokasi. Mereka juga bisa datang ke tempat lain, seperti di lapangan golf, Country Club, hotel, Lippo Supermal, atau bahkan di pinggir jalan depan Tamansari. Seperti Sabtu sore itu, sebelum masuk ke Tamansari, penonton disuguhi 'musik selamat datang' di pinggir jalan utama menuju Tamansari.

Alunan musik dari Dixie Fantasy, sebuah grup band dengan warna country-jazz, seolah menyapa para pengunjung termasuk para pejalan kaki dan pengendara mobil yang lewat di depannya. Trik ini cukup menarik. Paling tidak, untuk menarik perhatian dan membuat penasaran orang untuk menontonnya. Beberapa buah lagu terdengar cukup akrab di telinga para pengunjung sehingga mereka tak segan-segan untuk menyanyi bersama dan memberikan applause meriah. Misalnya, pada lagu The Masquarade atau Country Road Take Me Home-nya John Danver.

Pemandangan yang sama juga terlihat saat penyanyi jazz kawakan Margie Segers tampil di lantai dasar Lippo Supermal. Para penonton yang hadir meminta Margie untuk menyanyikan tembang Come With Me Now! milik Tania Maria. Tanpa banyak komentar, Margie mendendangkan lagu tersebut dengan penuh keceriaan yang kemudian diikuti oleh para penonton.

Tampaknya, suasana akrab dan bersahabat yang diciptakan dalam Jazz Merah Putih ini, betul-betul dapat tercipta. Tentu saja itu tak terlepas dari para pengisi acara sendiri. Bill Saragih, misalnya, yang tampil bersama tiga keponakannya pada hari Jumat (27/8). Meskipun berganti-ganti saksofon atau flute dan ditambah menyanyi, ia masih menyempatkan diri untuk membanyol.

Komentar dan cerita lucu musisi gaek ini membuat suasana menjadi meriah, segar, dan tentu saja lucu. Penampilan Bill yang malam itu sempat melantunkan tembang What a Wonderful World dan Unforgetable-nya Nat King Cole, benar-benar mampu memuaskan penonton. Ia tidak hanya menyanyi dan bermain musik, tapi juga menghadirkan hiburan yang mengasyikkan.

Penampilan Kiboud Maulana dan kelompoknya yang tampil Sabtu (28/8) malam, juga tak jauh berbeda. Menyuguhkan warna blues yang kental, Kiboud mampu membuat suasana malam itu penuh keceriaan. Apalagi, saat penyanyi Iskandar naik ke atas panggung dan menyanyikan tembang-tembang lawas milik John Mayal dan Gary Moore, penonton benar-benar terhibur.

Bahkan, penampilan mereka selama satu setengah jam, masih terasa kurang bagi penonton yang malam itu tampak amat puas. Mereka terus meminta Kiboud dan Iskandar untuk memainkan nomor-nomor 'cantik' milik Gary Moore. Tembang Still Got the Blues-nya Gary Moore pun dilantunkan Iskandar demi memenuhi permintaan penonton.

Itulah Jazz Merah Putih. Bukan pertunjukan serius dan kaku yang dihadirkan. Melainkan, sebuah pertunjukan penuh keakraban dan kekeluargaan. Penonton pun serasa tak lagi berjarak dengan para pengisi acara karena sebagian besar dari mereka begitu komunikatif dan akrab dengan penonton. Jadi, tidak ada kesan kaku dan dingin seperti yang kerap muncul hampir di kebanyakan pertunjukan jazz.

SUKSES Bukan hanya penampilan Bill, Kiboud, Iskandar, dan Margie saja yang mampu menghidupkan suasana menjadi begitu meriah. Duet Tohpati dan Budjana yang apik, Sabtu malam itu, mampu mengundang sambutan manis dari penonton. Banyak yang meminta kedua gitaris muda itu untuk tampil terus. Sayang, waktu tak mengizinkan karena mereka harus bergantian dengan Idang Rasjidi dan Quintet-nya yang tampil tak kalah menarik.

Masih banyak lagi musisi dan penyanyi lain yang ikut memeriahkan acara yang disebut Ireng sebagai pra-JakJazz itu. Ada Ermy Kullit, Embong Rahardjo, Tamam Husein dan Warna, termasuk Ireng Maulana. Penonton juga bisa menikmati penampilan Peace Acapella dan Lemonade Acapella yang melantunkan beberapa lagu dalam warna jazz.

Melihat antusiasme penonton, pra-JakJazz semacam ini --seperti dulu juga digelar di Kafe Tenda Semanggi-- mengisyaratkan jazz makin disambut baik. Konsep Ireng untuk membawa jazz ke arah entertainment (hiburan) yang akrab dan tidak rumit itu mulai menunjukkan hasilnya. Artinya, bukan tidak mungkin JakJazz '99 yang rencananya akan diadakan November tahun ini bisa meraih sukses. (laksmi)

Ireng Maulana: Persiapannya Hanya Dua Minggu

Saya pikir ini sebuah gagasan yang bagus, membuat pertunjukan jazz di sebuah lokasi yang jauh dari Jakarta. Saya melihat Lippo Karawaci sangat pas dijadikan tempat. Tempat ini sudah disebut sebagai Kota Jazz karena sering mengadakan acara-acara jazz. Mereka punya banyak tempat yang bisa dijadikan lokasi pertunjukan.

Saya punya ide kebetulan nyambung dengan manajemen Lippo pimpinan Yopie Rusli. Itu sebulan lalu, tapi persiapannya sendiri hanya dua minggu. Untung bisa selesai, meskipun saya harus turun tangan sendiri. Saya tidak keberatan ikut mengangkat bangku dan mengatur tempat asal acara bisa berlangsung.

Acara ini memang disebut pra-JakJazz. Sebelumnya di Kafe Tenda Semanggi. Kedua, di sini. Yang ketiga, namanya Charity Jazz, rencananya akhir September nanti. Itu untuk melihat seberapa besar animo penonton dan menjaga kesinambungan supaya tidak kosong acara-acara jazz.

Bagi saya sendiri, Jazz Merah Putih adalah pembuka jalan untuk beberapa ide. Saya pengin punya Yayasan JakJazz, punya sekolah jazz, bikin kaset dan CD orang-orang jazz, bikin kafe jazz yang punya link dengan perpustakaan, buletin, dan museum jazz.

Kesempatan itu sangat terbuka di Kota Jazz ini. Makanya, kalau ini sukses bukan tak mungkin JakJazz akan digelar di tempat ini. Ada shuttle bus yang khusus ke sini, mereka punya korporat dan Bank Lippo yang bisa dijadikan media promosi dan pemasaran. (laksmi)


Lihat siapa pengunjung situs ini.